
..."Dari banyaknya insan di dunia, mengapa dirimu yang aku sangka." -Runa & Vanya....
.........
Vanya dan Runa berjalan menuju ke kelas, bel masuk telah berbunyi. Untungnya tadi mereka sempat mengisi perut mereka, meski makanan mereka harus terbuang setengah.
"Runa, gue rasa lo kali ini harus egois deh." Vanya berkata dengan serius.
Alis Runa bertaut. "Egois? Maksudnya?" tanya Runa.
"Iya lo harus egois kali ini, gue rasa Kania bukan cewek baik-baik. kak Shaka sama Kania makin ke sini makin deket, gue rasa Kania mau buat hubungan lo sama kak Shaka renggang deh." Tuturnya panjang lebar.
"Ya kan karena kak Kania sakit Van,"
"Astaga Run! Lo masih mikir dia sakit apa gak? Sekarang gue tanya deh, lo mau makin lama mereka berdua deket? Gak kan, ayo lo harus egois untuk kali ini aja. Lo bisa lakuin apapun buat kak Shaka balik kayak dulu lagi."
Runa hanya terdiam, matanya menatap satu sisi. "Runa lo dengerin gue kan?" Vanya memiringkan kepala, menatap Runa dan menatap ke arah mana Runa tatap.
Tak jauh dari sana, Shaka dan Kania berjalan. Tak tau kedua remaja itu ingin kemana, Shaka memang terlihat seperti biasa aja, datar dan tanpa ekspresi.
Namun, berbeda halnya dengan Kania, gadis itu tak henti-hentinya berceloteh sambil memeluk lengan Shaka dengan manjanya.
Dengan sigap Vanya menutup mata Runa. "Gak usah dilihat, bayangkan mereka berdua hama." Vanya ber desis, ia menatap Shaka dan Kania dengan jengah.
...
Seperti yang di ucapkan Vanya tadi siang, Runa memutuskan untuk melakukan apa yang Vanya sarankan, gadis itu sedari tadi terduduk di atas sofa.
Penyakit maag nya kembali kambuh untuk malam ini, mana dia berada di rumah sendiri, Bang Arfan juga masih kerja, lalu Bunda dan Ayah juga sama mereka sama-sama kerja.
Menatap ke arah jam dinding, masih jam 7 malam. Tangannya menggapai ponsel miliknya yang ada di atas meja, lalu mencari kontak seseorang.
Berkali-kali ia menghela napas gugupnya. "Oke Runa! Vanya bener, kamu harus egois! Kamu gak mau kan kalau kak Kania ambil kak Shaka? Oke gak papa, kak Shaka gak gigit kok." Hingga suara di sebrang terdengar.
"Halo?"
"Halo kak, kak Shaka lagi sibuk gak malam ini?" tanya Runa, sambil mengigit ujung kukunya.
"Gak juga, tapi ini mau ke rumahnya Kania, dia katanya mau di temenin. Papa nya gak ada di rumah, ada apa Run?"
"Kak, bisa bantu aku gak? Maag aku kambuh malam ini, em di rumah juga gak ada orang, mau minum obat tapi obatnya habis. Kamu bicara belikan gak di apotek?"
Runa dapat merasakan helaan napas berkali-kali dari arah sebrang, "kalau gak bisa gak--"
"Oke, aku ke sana sekarang. Kamu udah makan belum? Biar sekalian aku cari makan buat kamu," ucap Shaka.
"Belum sih, sekalian titip ya kak."
"Oke! Aku berangkat ke sana sekarang, kamu di rumah aja, jangan kemana-mana. Aku tutup ya panggilan nya," Shaka langsung mematikan panggilan sepihak.
Senyum sumringah terpapar pada raut wajah Runa. Dalam hati Runa mengucapkan beribu mata Terima kasih pada Vanya. Sambil menunggu Vanya datang Runa mengistirahatkan tubuhnya sejenak.
Tak perlu waktu lama, handphone Runa berdering. Shaka memberikan pesan bahwa cowok itu sudah berada di depan rumah.
"Masuk kak," gadis itu mempersilakan Shaka masuk ke dalam rumah, tak melupakan untuk tak menutup pintu. Sebelum shaka datang Runa telah meminta izin pada Bunda, dan syukurnya Bunda memberikan izin.
"Kamu duduk sini aja, biar aku yang siapkan." Shaka dengan telaten menyiapkan semuanya, lalu memberikan sepiring nasi goreng yang dia beli di depan komplek.
"Nasi nya dimakan, kalau udah selesai obatnya di minum."
"Gak, aku mau temenin kamu di sini sampai keadaan kamu membaik. Di makan nasi goreng nya." balas Shaka.
Runa kembali tersenyum, semoga aja ucapan Shaka beneran terjadi, namun senyum itu tak bertahan lama. Dua detik kemudian, Shaka pamit izin untuk menemui Kania, katanya cewek itu lagi ada masalah di rumahnya.
"Runa, aku minta maaf ya, aku harus ke rumah Kania malam ini. Kamu di makan ya nasi goreng nya, jangan lupa obatnya di minum biar cepat sembuh." Shaka mengecup singkat surai Runa, lalu melengos pergi.
Moodnya seketika hancur begitu saja, memilih untuk naik ke atas tanpa memperdulikan nasi goreng pemberian Shaka. Memilih untuk melanjutkan merebahkan dirinya ke kasur.
"Hai Van, ada apa?" Tadinya Runa ingin tidur, namun tak jadi akibat Vanya menelpon nya dengan ber-vidio call.
"Gimana berhasil gak?"
Mengulum bibirnya ke dalam, Runa menggeleng kecil. "Gak, kak Shaka ke rumah kak Kania, baru saja."
Vanya mendengus sebal. "Gila! Pacarnya sakit juga, masih mikirin orang lain, gue bingung deh sama pikiran tuh orang. Lo juga, ayolah Na! Tegas gitu kek, jangan mau kalah sama kutu kupret itu." saran Vanya.
"Van, kenapa kita ditakdirkan buat mengejar padahal kodrat kita di kejar." dengan tatapan yang sendu kedua gadis yang lagi di masa di mabuk asmara itu, kini saling tatap di layar ponsel mereka masing-masing.
Vanya mengangguk setuju. "Gue juga gitu, kenapa dari banyaknya manusia di dunia ini, bahkan dari banyaknya cowok di dunia ini. Kenapa harus kak Rasya yang gue kejar?"
"Tadi pagi Ayah bilang ke aku. Kalau cowok udah bermain kasar, baik dalam ucapan ataupun perilaku, langsung tinggalkan, gak usah di pertahankan." Runa berkata sambil mengingat-ingat perkataan sang Ayah.
"Lo kenapa masih mau bertahan, di saat kak Shaka udah beda. Dia udah berubah Run, dia gak kayak dulu, bahkan gak hanya gue yang ngerasain itu, inti Alastair juga. Bahkan gue berpikir kalau keluarga kak Shaka ngerasa begitu juga." Vanya menatap Runa dari layar ponsel, cewek itu merasa kasihan pada sahabat satu-satunya, mengapa masih bertahan padahal tak bisa di pertahankan.
"Aku cuma mau kak Shaka bisa lupain masa lalu nya, aku cuma mau kak Shaka gak berada di lubang masa lalu, aku juga gak mau kak Shaka berada di dalam titik penyesalan di hari itu." Jelas Runa.
"Meski aku gak tau masa lalu kak Shaka gimana? Tapi aku cuma mau tiga itu aja," tambah Runa.
Vanya menatap Runa tak percaya, cewek itu hampir saja menitihkan air matanya. "Niat lo terlalu baik Na! Sampai-sampai lo disakiti kayak gini."
"Bunda selalu ajarin aku Van, kalau orang jahat gak boleh di balas dengan kejahatan," Runa tersenyum menahan air matanya yang hampir jatuh.
"Lo boleh nangis kok, lo boleh nangis sekarang. Gue tau Na, lo udah gak kuat! Ayo nangis! Gak papa kok, ayo gue bakal siap jadi pendengar buat lo."
Pertahanan Runa runtuh di depan sahabatnya, padahal Runa selalu berusaha untuk terlihat baik-baik saja di depan Vanya, selalu terlihat seperti tak ada masalah.
"Na, kalau emang gak bisa di pertahankan gak usah lo tahan. Biar kak Shaka cari kebahagiaan sendiri dengan acara yang dia mau." Vanya memberikan masukan. "Kalau lo begini, yang ada lo nya yang tersakiti, bukan hati doang, melainkan juga mental lo." sambung Vanya.
Cewek berambut pendek sebahu itu tau dan mengerti atas apa niat Runa, tapi apakah Runa juga memikirkan dirinya bagaimana?
Vanya menoleh ke belakang ternyata ada sang Mama yang tengah membawa sekotak makanan. "Mama?"
"Nih makanan kamu udah sampai, kamu pesen makanan dari luar? Vanya, kamu baru aja makan loh!" tegur sang Mama.
"Laper lagi Ma, lagian bagi-bagi rejeki juga ke ojol nya," balas Vanya menyengir.
Wanita itu hanya bisa menggelengkan kepala. "Kamu lagi apa?" menatap ke layar ponsel milik Vanya. "Runa, ya ampun sayang. Gimana kabarnya?"
Runa tersenyum manis. "Alhamdulillah baik tante, tante sendiri gimana?"
"Tentu baik dong, kapan mau main ke sini, tante kangen tau sama kue buatan Bunda kamu."
"Iya Tan nanti kalau ada waktu Runa bakal main ke sana, nanti Runa bilang ke Bunda buat kirim roti ke rumah." seru nya.
"Gak usah, tante cuma becanda aja. Yaudah gih lanjut lagi curhatnya, Mama gak mau ganggu." Denada melangkah pergi membiarkan dua gadis yang tengah dimabuk asmara, melanjutkan curhat mereka.