
Runa berdiri di tepi jalan menunggu lampu hijau berubah menjadi merah, sebelum ia menyebrang.
Sesekali ia melirik jam pada pergelangan tangannya, yang sudah menunjukkan pukul 5 sore, lalu kembali menatap ke arah lampu jalanan yang tak kunjung berubah juga.
Dengan perasaan senang, Runa menatap jalanan yang ramai akan orang-orang yang baru saja pulang dari kerjanya.
Gadis berkemeja putih dengan celana kainnya menatap kembali ke arah lampu yang kini telah berganti berwarna merah.
Menoleh ke kanan dan ke kiri sekilas, memastikan jika tak ada motor ataupun mobil yang melaju kencang. Dirasa telah aman, ia melangkahkan kaki kecilnya melewati zebra cross.
Sebelum ke halte bis, Runa terlebih dahulu memutuskan untuk pergi ke minimarket terdekat.
Udara sore kali ini cukup membuat nya kehausan, sore ini Rama kembali tak bisa menjemputnya bukan karena lelaki itu tak bisa.
Namun, Runa lah yang meminta agar Rama memberikan kesempatan kepada dirinya untuk kembali sendiri, Runa ingin merasakan saja sehari penuh tanpa perintah dari Rama.
Masuk ke dalam minimarket, kakinya langsung melangkah ke lemari pendingin, yang berisikan berbagai jenis minuman. Mengambil salah satu minuman kemasan, Runa kembali melangkah ke kasir.
"Makasih,"
Kembali menyebrangi jalanan, Runa berjalan di atas trotoar. Memerlukan waktu beberapa menit untuk dia sampai di halte bis.
Seketika Runa menghentikan langkahnya, dengan cepat dia menoleh ke belakang. Menatap sekitar dengan aneh, Runa dapat merasakan ada seseorang yang mengikuti nya dari belakang.
Namun, ketika melihat nya Runa tak mendapatkan sosok mencurigakan di sana, bahkan terlihat seperti normal normal saja. Semua orang terlihat santai dan berjalan seperti biasanya.
Apakah kebetulan saja?
Atau memang, benar-benar ada yang mengikutinya dari belakang?
Runa menggelengkan kepalanya berulang kali, mencoba untuk tak berpikir negatif. Mungkin saja itu hanya perasaannya saja, atau tidak dirinya sedang kecapekan.
"Salah kira mungkin," gumam Runa seraya menggeleng pelan.
Tak ingin membuang waktu nya lama lama, Runa kembali berbalik menghadap ke depan, dan melanjutkan langkahnya yang terpotong untuk segera sampai ke halte bis.
Sedikit mempercepat langkahnya, saat bis itu hampir saja meninggalkan dirinya. Menghela napas lega, untung saja dirinya tak tertinggal bis.
Sebetulnya Runa bisa saja untuk menelpon pak Bejo, menyuruh pria itu menjemputnya.
Cuma karena tadi Bunda bilang bahwa Pak Bejo sedang menjemput Jihan dan Arfan, Runa mengurungkan diri untuk meminta jemputan.
Menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, menatap jalanan luar yang ramai akan pengendara motor dan mobil.
...
Shaka melangkah masuk ke dalam perusahaan, lelaki itu bersama dengan Leo baru saja menyelesaikan rapat kerja di salah satu perusahaan.
Kini mereka kembali ke perusahaan untuk melanjutkan kerjanya yang tertinggal.
"Setelah ini kamu boleh pulang Leo," suruh Shaka.
Leo mengernyitkan dahi. "Tapi Tuan," Leo tak mungkin balik duluan ke rumah, sedangkan Shaka harus mengurus semuanya.
"Tak masalah, kamu balik saja dulu. Saya bisa balik sendiri, orang tua mu pasti menunggumu di rumah." ulang Shaka kembali, lelaki itu tau jika Leo sedang ada masalah dengan orang tuanya.
Untuk itu Shaka hanya ingin Leo menyelesaikan dulu masalah pribadinya, sebelum masalah itu semakin besar.
Leo menatap Shaka, atasannya yang berusia lebih muda dari dirinya. Sosok yang sangat berarti dalam diri Leo.
"Baik Tuan!" Leo mengangguk patuh. Pria itu membungkukkan badannya hormat dan berpamitan pergi.
"Semoga cepat selesai," Shaka menepuk pundak Leo berkali-kali, memberikan pria itu semangat.
"Terima kasih! Saya pamit terlebih dahulu, anda tidak masalah kan saya tinggal?"
"Nggak masalah, ayo segera balik dan tuntaskan masalah kamu terlebih dahulu!" Shaka mempersilahkan Leo untuk balik segera.
Leo mengangguk, lantas berlari keluar perusahaan meninggalkan Shaka sediri di kantor. Shaka tersenyum, melanjutkan langkah kakinya untuk memasuki lift.
Belum sempat tangannya memencet tombol, seorang pria dengan pakaian OB mendatangi nya, dan memberikan se-kertas map coklat polos.
"Maaf Tuan,"
Alis Shaka terangkat sebelah. "Ada apa?" tanya nya pada pria di hadapannya.
Pria itu menundukkan kepala, tangannya merogoh isi tas, setelah menemukannya, pria itu langsung memberikan map itu pada Shaka.
"Ini Tuan, tadi waktu di depan ada orang yang kasih ini ke saya. Katanya buat anda," jelas pria itu.
Shaka menerima pemberian lelaki di hadapannya dengan raut kebingungan, setelah itu menganggukkan kepala.
Pria di hadapannya pun pergi, Shaka kembali menatap map coklat itu dengan raut wajah yang amat kebingungan.
"Surat perjanjian? Atau..." Shaka berkata menggantung. "Entahlah!" memilih segera masuk ke dalam lift dan naik ke atas.
Di dalam lift, Shaka menatapi map yang ada di tangannya, hingga dirinya sampai di depan ruangan, duduk di sofa, Shaka perlahan membuka kertas itu.
Rahangnya mengeras seketika, napasnya memburu naik turun. Membanting map itu Shaka kembali berlari keluar ruangan, dengan raut wajah marah.
"Brengsek!" umpat Shaka kasar, tangannya menggenggam erat stir dengan kasar.
...
Keesokan harinya, Runa kembali berangkat ke kantor. Menuruni satu persatu anak tangga dengan suasana hati yang senang, dan langsung berjalan menuju meja makan.
Di sana sudah ada semuanya, tinggal Runa saja yang tertinggal. "Selama pagi semua," sapa nya dengan riang. Menarik salah satu kursi lalu mendudukinya.
"Udah seneng aja dek, apa apa tumben banget. Biasanya juga cemberut," tanya Ayah Bima, yang duduk di kursi khusus untuk dirinya. Di umurnya yang terbilang tak muda lagi, pria itu masih terlihat muda dan bugar.
Runa membuka mulut nya, ingin menjawab pertanyaan dari Bima, namun belum juga dirinya mengatakan Arfan lebih dulu menjawabnya.
"Biasa Yah! Awal bulan, dapat gajian dia. Makanya seneng," sahut Arfan diakhiri tawa khasnya.
"Eh enggak!" Runa mengerucutkan bibirnya kesal.
Bunda Yuna datang dan langsung melerai keduanya, mereka pun melaksanakan sarapan pagi dengan tenang, ditemani suara sendok garpu yang bersautan serta suara detak jam dinding.
Runa memakan sarapannya dan meneguk susu hingga tandas, gadis itu segera bangkit dari kursi.
"Bunda Ayah, Runa berangkat sekarang ya! Ada rapat pagi soalnya," tak lupa menyalami tangan Yuna dan Bima bergantian.
"Pagi-pagi gini?" heran Arfan dan dibalas anggukan oleh Runa.
"Yaudah diantar pak Bejo aja, tuh udah di luar kayaknya." terdengar suara mobil yang baru saja tiba.
Runa mengangguk, memeluk Arfan dan Jihan singkat dan berjalan keluar rumah.
"Pagi Pak," sapa Runa dengan senyum manisnya.
Pak Bejo yang sudah ready di depan membalas sapaan Runa. "Pagi Neng! Berangkat sekarang?" dibalas anggukan kecil dari Runa.
"Mari Neng," Pak Bejo membukakan pintu tengah dan mempersilahkan Runa masuk.
"Makasih pak," mobil yang Runa tumpangi perlahan mulai meninggalkan pekarangan rumah.
...
Jam pulang kantor telah tiba, membuat sebagian karyawan mulai perlahan meninggalkan kantor dan pulang ke rumah mereka masing-masing.
"Kak Lia! Runa balik duluan ya. Semangat!" pamitnya pada Lia.
"Iya Runa, kamu hati-hati ya di jalan!" Lia melambaikan tangannya juga.
Seperti kemarin, pulangnya Runa kembali naik bis. Berdiri di tepi jalan, Runa menunggu lampu merah sebelum dia menyebrang. Melewati jalanan kemarin, Runa kembali merasakan keanehan.
Aneh, benar-benar aneh. Runa merasa bahwa ada orang yang sedang mengikutinya sekarang. Namun ketika berbalik ke belakang semuanya nampak normal. Tak ada yang mencurigakan.
Melangkah kan kakinya kembali, Runa kembali menghentikan langkah kakinya sejenak. Menoleh ke belakang lagi untuk mengeceknya, tapi tetap saja semuanya aman dan normal.
Apa ini hanya perasaannya saja?
"Perasaan kamu aja kali," gumam Runa yang tak ingin memikirkan kembali.
Melanjutkan langkahnya, kali ini dirinya berjalan sedikit cepat, instingnya mengatakan bahwa memang benar ada orang yang sedang mengikutinya.
Sedikit bernapas lega, saat Runa tiba di halte bis yang cukup ramai orang.
Kembali menoleh ke kanan dan kiri, mencoba membuktikan bahwa apakah benar dirinya sedang diikuti oleh seseorang.
Tak ada
Runa tak mendapatkan sosok yang mencurigakan disini. Kemudian ia berbaris dengan rapi, untuk bisa masuk ke dalam bis.
Tak lama gilirannya pun tiba, saat kakinya menginjak anak tangga pertama. Seseorang datang dengan tiba-tiba dan langsung menarik Runa dari sana, tanpa peringatan.
Sosok itu menarik Runa menjauh, membawa Runa pergi tanpa orang-orang di sekitarnya tau.
...
Konflik sedang berjalan, tungguin aja.. Bentar lagi masalah mereka bakalan selesai, cuma gak tau kapan :)