Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Galang Runa



..."Buat apa pamer kebaikan? Mending simpan sendiri, biar yang tau hanya kita dan Tuhan." -Galang Prayuda....


.........


Hari hari berikutnya Runa lakukan seperti hari sebelumnya, mengajak Shaka mengobrol walau tak ada hasil, bermain bersama Vanya dan cukup sering menghabiskan waktu berdua bersama Galang.


Seperti sepulang sekolah, Runa berjalan dari halte ke rumah. Sebelum sampai rumah, dia memutuskan diri untuk pergi ke supermarket membeli es krim, siang ini cukup panas sampai menyengat kulit.


Mengambil beberapa es krim lalu membayarnya ke kasir dan melangkah keluar. Langkah kakinya berjalan melewati taman, tak jauh dari tempatnya berdiri, Runa menatap gadis kecil yang tengah duduk sambil mengelap keringat nya.


Mata Runa kembali menatap se katung es krim di tangan kirinya, dengan inisiatif, Runa berjalan menghampiri gadis kecil itu. Mungkin umurnya 7 tahun.


"Haii!" sapa Runa pada gadis itu, terlihat jika dia tengah menatap Runa dengan ekspresi bingung.


"Kamu lagi apa? Kok gak cari tempat yang dingin buat neduh?" tanya Runa, sambil mengusap surai panjang rambut gadis kecil.


"Kakak siapa?" masih terlihat kebingungan di bola matanya.


Runa tersenyum, mengulurkan tangan pada gadis kecil. "Aku Aruna, bisa kamu panggil kak Runa. Nama kamu siapa?"


"Aku Salsa kak," ujarnya memperkenalkan diri, dengan senyum manisnya dia membalas uluran tangan dari Runa.


"Nama yang bagus, kamu lagi jualan apa?" manik mata miliknya menatap sekotak kardus berisikan beberapa makanan kecil serta mainan.


"Jualan mainan kak, kakak mau beli gak? Dari pagi belum ada yang beli sama sekali." katanya mengadu, membuat Runa merasa kasihan, hatinya ter cubit melihat gadis kecil seperti ini harus bisa menafkahi dirinya sendiri.


"Orang tua kamu mana?"


"Udah gak ada, tuh aku sama adik." tunjuk Salsa pada bocah kecil berusia 5 tahun yang tertidur di bawah pohon beralaskan kardus bekas.


Runa meringis dalam hati, ya Tuhan. Gadis berusaha 7 tahun harus bekerja dan memberi nafkah pada dirinya sendiri serta adiknya. Sekarang Runa merasa, bahwa memang hidup akan terus berputar. Dan Runa merasa bahwa hidupnya kini jauh lebih baik daripada orang di luaran sana.


"Ya Allah maafin Runa yang kurang bersyukur," batinnya meminta maaf.


"Boleh kakak beli semuanya?" tanya Runa membuat gadis di depannya menatapnya gembira.


"Kakak serius?" tanya Salsa tak percaya.


"Iya, kakak beli semuanya, kamu hitung semuanya berapa ya. Kakak mau ke supermarket sana bentar buat ambil uang,"


Salsa tersenyum manis gadis itu mengangguk cepat. "Iya kak." Runa bangkit dari tempat duduknya, sebelumnya memberikan es krim yang dia beli pada gadis kecil, kembali lagi ke supermarket untuk mengambil uangnya dalam ATM.


"Gak papa, rejeki bisa di cari lagi. Tapi kebaikan gak bakal bisa terulang dua kali." gumam Runa.


Tak perlu lama-lama, Runa kembali dengan sekantong kresek berisikan jajanan ringan. "Udah semuanya?" Salsa hanya mengangguk. "Oke, semuanya berapa?"


"Gak tau,"


Runa tersenyum maklum, gadis itu menghitung semuanya dan sesekali bertanya berapa harga mainan itu. "Ini semua kakak beli, dan ini uangnya." Runa memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu.


"Tapi ini uangnya kebanyakan."


Mengusap lembut surai gadis kecil. "Gak papa, uangnya bisa kamu simpan nanti baut keperluan yang lain. Dan kamu gak usah jualan lagi,"


"Makasih ya kak!" pekiknya yang reflek memeluk Runa.


Runa membalas pelukan Salsa, lalu mengurai pelukan. "Oh iya, Salsa udah makan belum?" hanya gelengan yang Runa dapatkan.


"Ini buat kamu ya, sama buat adik kamu. Dimakan ya?" Runa memberikan kresek tadi yang berisikan beberapa roti, cemilan serta air.


Salsa tersenyum dia juga memberikan sekantong plastik berisikan kacang goreng yang sudah dibungkus kecil-kecil. "Makasih ya kak, Salsa juga kasih ini buat kakak." ujarnya.


"Makasih cantik, di makan ya rotinya. Kakak pamit dulu ya, keburu sore takutnya. Kamu sehat-sehat ya!" Melangkah menjauh meninggal tempat itu, Runa menenteng satu kresek berisikan mainan.


"DUARRRR!!"


"Akhh..." Runa mengumpat dalam hati, lalu menoleh ke samping dimana sekarang tengah berdiri seorang laki-laki dengan wajah tanpa dosanya.


"GALANGGGG!" pekik Runa kesal. "Jago banget buat orang kaget!"


"Lagian lo juga, gue lihat dari jauh, bawa kresek segede gaban gini. Lo mau ngapain? Mau pindahan lo?" Galang tertawa ngakak menatap ekspresi wajah Runa yang berubah menjadi masam.


"Ya gak lah!"


"Terus ngapain? Ini apaan?" Mengambil alih kresek itu dari tangan Runa. "Mainan, buat apaan lo? Sebanyak ini lagi," tanya Galang terheran-heran. "Gak mungkin kan lo main ginian?" sambungnya.


"Ya kali main begitu."


"Terus ini buat apaan?"


"Baik banget hati lo Na," batin Galang dalam hati. "Sampai-sampai hati lo terluka," lanjutnya.


"Terus sekarang, mau lo apa kan mainan nya?" Tanya Galang lagi.


"Gak tau aku juga bingung." balas Runa sambil mendudukkan diri di salah satu tempat duduk.


Kedua nya sama-sama diam, Galang tengah asik berpikir, lalu menjentikkan jari. "Gimana kalau kita bagi aja?" saran Galang.


Memiringkan kepalanya sejenak untuk menatap Galang, Runa kembali menegakkan tubuhnya. "Bagi kemana?"


"Lo tunggu gue di sini ya, bentar aja." Galang memilih pergi sebentar membuat Runa menatap nya bingung.


"Mau kemana ya?" tanya Runa pada dirinya. Memilih untuk memainkan ponsel.


"Naik yuk!" menatap Galang dengan bingung. "Buruan! Panas nih," sambungnya.


"Mau kemana?"


"Udah naik dulu, sini. Ntar lo tau sendiri tempatnya, nih helmnya lo pakai dulu." Mengambil alih kresek berisikan beberapa mainan.


"Kamu gak nyulik aku kan?" Runa memicingkan matanya, menatap Galang dengan tatapan curiga.


"Ya Allah, kalau pun gue mau culik lo, kenapa gak dari tadi gue bekap terus gue jual?" kesal Galang, dirinya seperti orang jahat saja. "Ambigu banget pertanyaan lo."


Runa menyengir lebar. "Kali aja gitu, mau culik aku."


"Ngadi-ngadi nih bocah, udah naik buruan. Keburu sore lo." pintah Galang, seraya membantu Runa naik.


"Iya, sabar dulu."


...


Menatap bangunan di depannya dengan bingung, Runa berkali-kali menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sambil menatap sekitar yang ramai akan anak-anak bermain.


"Kita ngapain di sini." tanya Runa pada Galang.


Galang menoleh. "Yang lo lihat?"


"Panti asuhan," jawabnya. "Jaya Bakti." sambung Runa setelah membaca nama tempat ini.


"Masuk yuk," Galang menarik lengan Runa untuk mengajaknya masuk ke dalam. Runa tersenyum manis, ketika segerombolan anak-anak berlari menghampiri Galang dan memeluk cowok itu.


"KAK GALANGGG!" pekik mereka dengan gembira.


"Haii! Sayang, gimana kabarnya?"


"BAIK DONGGG!" balas mereka dengan gembira.


"Kak Galang kita kangen tau sama kakak, kok kakak jadi jarang ke sini?" tanya salah satu bocah laki-laki.


"Maaf ya, kak Galang sibuk sama pekerjaan jadi jarang ke sini. Eh iya, kak Galang bawa hadiah loh buat kalian, pada mau gak?" mereka mengangguk kompak.


"Sebelumnya kenalin ini namanya kak Runa," ujar Galang seraya memperkenalkan Runa pada mereka semua.


"Hai semua, aku Runa. Salam kenal!!" Runa memperkenalkan diri sambil melambaikan tangan dan tentunya senyuman itu tak pernah luntur dari bibir mungilnya.


"Kak luna cantik." dengan suara cadel nya bocah berusia 5 tahun itu memuji Runa.


"Kamu juga cantik," kata Runa balik. "Ini kakak bawa hadiah buat kalian semua," menaruh se katung kresek dan menjajarkan nya di depan mereka.


"Bari yang rapi ya," suruh Galang.


Dalam hati Runa tersenyum, manik matanya tak berhenti menatap kegiatan Galang yang dari tadi bermain bersama anak-anak. Runa sampai berpikir ini beneran Galang? Cowok yang waktu itu pernah membuatnya dan Shaka celaka.


Ternyata dugaan Runa selama ini benar, Galang memang baik. Hanya saja kelakuan nya yang membuat sebagian besar orang menatapnya dengan tatapan aneh, dan menyebutnya jahat. Padahal yang terlihat, Galang baik sekali, selalu menolong orang, dan berbagi dengan sesama.


"Makasih ya Lang, udah bawa aku ke mereka semua." seru Runa setelah sampai di depan rumah.


"Sama-sama, gue yang makasih banyak sama lo. Karena lo mau gue ajak ke sana."


"Sama-sama, kamu emang udah sering ya main ke sana?"


"Lumayan sih, udah 3 bulan ini." balas Galang.


"Ternyata bener dugaan aku, kalau kamu itu orang yang baik. Kenapa kamu tutupin semuanya?" heran Runa.


"Buat apa pamer kebaikan? Mending simpan sendiri, biar yang tau hanya kita dan Tuhan." jawab Galang dengan bijak.