Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Gagal



Updatenya dobel ya!


Kue bikin mereka pun jadi, sekarang mereka sedang menunggu kue nya matang. Vanya tengah bersantai di sofa ruang tamu, menatap layar yang menayangkan serial drama.


Dengan cemilan di sampingnya ia fokus menatap TV, mulutnya tak berhenti ia sumpal dengan makanan.


Runa sendiri sedang naik ke atas, untuk mengambil pakaian yang sudah kering. Selesai mengambil seluruh pakaian, dan dipastikan tak ada yang tertinggal.


Runa turun ke bawah dan masuk ke dalam ruang cuci, di sana tersedia tempat untuk seterika.


Melipat satu persatu baju, dan dirinya susun di atas rak untuk nantinya Runa bawa ke dalam kamar. Seketika ia menghentikan aktivitasnya saat mencium bau yang rasanya sudah tak asing lagi di indra penciuman nya.


"Astaga gosong!" Runa berlari turun keluar kamar dan turun ke bawah, sebelum itu Runa terlebih dahulu mematikan setrika.


"Vanya!" Runa ber desis pelan, melihat Vanya yang berusaha mematikan oven.


"Tunggu sebentar!" Runa menyalakan akat penyedot asap dan mulai membuka oven, saat dibuka asap putih menerpa wajah mereka.


Dapat dilihat sekarang, jika kue bikinan mereka gosong. Meski hanya setengah, karena sebagian lagi kuenya sudah jadi di panggang dan itu milik Runa. Sedangkan yang gosong ini menjadi milik Vanya.


Menghela napas sabar, Runa menatap penampilan kue yang awalnya indah kini menjadi hitam putih. Kuenya belang.


"Na," cicit Vanya pelan.


"Sorry," Vanya tersenyum meringis.


Mengangguk pelan, dan tersenyum maklum. "Gak papa, nanti kita coba lagi."


"Hah?" Vanya melongo tak percaya. "L-lo gak marah? Nih rumah jadi bau asap gara-gara gosong loh,"


Runa mengangguk kecil, mencoba untuk meyakinkan Vanya bahwa tak mengapa. "Gak papa Van, lagian kan cuma coba-coba,"


"Lo yang gak papa, suami lo yang kenapa-napa. Ntar gue suruh ganti lagi,"


"Gak sampai segitunya juga kali. Nanti kalo kak Shaka marahin kamu, bilang ke aku!" ujar Runa. "Gak udah dipikirin lagi, kita pesan makanan di luar aja." Runa berucap sambil menarik Vanya untuk kembali ke ruang tamu.


"Na, beneran nih?"


"Iya Vanya, tuh kamu pesan mau makan apa. Aku mau ngecek ke atas dulu,"


Meninggalkan Vanya di bawah, Runa naik ke atas untuk mengecek kembali apakah sudah mematikan setrika atau belum?


Bernapas lega, Runa menutup kembali pintu kamar dan masuk ke dalam kamar sebentar. "Kamu udah pesan makanannya kan?" tanya Runa sembari menuruni anak tangga.


"Udan kok, nih hape lo." Vanya mengembalikan ponsel Runa pada pemiliknya.


"Sebentar deh Van aku masih bingung. Kok bisa kamu lupa kalo kita masih panggang kue, emang kamu ngapain?" tanya Runa penasaran, bukannya Vanya tadi duduk santai di ruang tamu?


"Tadi gue kebelet ke belakang, yaudah gue ke kamar mandi. Eh pas balik udah asap gede, sorry ya. Kue nya jadi gagal deh,"


"Gagal coba lagi dong. Dulu aku juga gitu kok, jadi gak ada usaha yang gak mungkin!" kata Runa dengan tegas.


Vanya merentangkan kedua tangan, dan mereka saling berpelukan. "Na, misalnya kalo kita punya anak barengan gimana ya? Seru deh kayaknya," sahut Vanya tiba-tiba.


"Semoga aja sih, nanti anak kita jadi temenan deh kayak kita kayak kak Shaka sama kak Rasya juga." balas Runa.


...


Shaka baru saja menyelesaikan makan siangnya bersama Leo, mereka baru saja selesai karena tadi ada rapat dadak yang membuat mereka telat untuk makan siang.


Melirik jam yang menunjukkan pukul 15.37 yang artinya masih 3 jam lagi untuk Shaka pulang ke rumah.


Entah mengapa baru ditinggal beberapa jam begini, sudah membuatnya rindu pada istri kecilnya itu.


Menatap layar ponselnya yang berisi fotonya dengan Runa saat mereka sedang berlibur berdua, membuat segaris senyum di bibirnya terlihat.


Tanpa terasa, jam pulang kantor telah tiba. Melihat jam yang sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam, membuat Shaka bersiap-siap untuk balik ke rumah.


"Selama sore Tuan!" sapa Leo.


"Sore Leo, saya pamit terlebih dahulu. Kamu juga jika semuanya udah selesai langsung pulang. Nanti untuk laporannya langsung kirim saya lewat email!" Shaka berucap sambil melepaskan jas.


Leo mengangguk. "Baik Tuan,"


"Bagus," balas nya singkat. Lantas melangkah keluar kantor dan masuk ke dalam mobil.


Menjalankan mobil dengan kecepatan sedang, sampai di rumah. Shaka langsung melangkah masuk ke dalam dengan langkah panjangnya.


"Assalamu'alaikum sayang!"


"Waalaikumsalam By, aku di dapur!" balas Runa sedikit teriak.


Runa sedikit terkejut tak kala Shaka datang dan langsung memeluknya dari belakang. "Kamu masak apa?" tanya Shaka sambil mengigit gemas daun telinga Runa.


"Byy!"


Shaka tertawa dan mulai melepaskan pelukan. "Kamu mandi sana, bajunya udah aku siapin di atas kasur!" ujarnya pada Shaka.


"Bentar mau minum dulu," Shaka melangkah ke meja untuk mengambil air, tapi terhenti saat melihat sekotak toples kue.


"Ini kue apa?" tanya Shaka sambil mengangkat toples kue itu.


Runa menghentikan aktivitasnya sebentar, dan menoleh ke belakang. "Oh itu, kue nya Vanya."


"Kue Vanya? Kok ada disini?"


Runa terkekeh pelan, lalu mulai menceritakan kronologi yang terjadi. Dimana Vanya kembali melakukan kesalahannya untuk kesekian kalinya.


"Karena itu, kue nya aku tuker sama punya aku yang gak gosong."


Shaka tersenyum mendengar cerita yang Runa lontarkan barusan. "Baik banget sih, sini peluk dulu." Shaka menarik Runa dan membawanya ke dalam pelukan.


...


Makan malam baru saja mereka selesaikan, Runa kini berdiri di balkon kamar. Sembari menatap langit yang bertepatan dengan banyaknya bintang bintang.


Sambil menunggu Shaka yang keluar entah urusan apa, yang penting cowok itu telah izin padanya tadi.


"Sayang!" panggil Shaka yang baru tiba. Dengan membawa kantong kecil, Shaka mengeluarkan isi dari kantong itu.


"Es krim!" pekik Runa girang. "Mau satu,"


Shaka memberikan satu buah es krim untuk Runa dan satu lagi untuknya. Menikmati es krim keduanya duduk di kursi kayu, sambil menatap bintang.


"By," panggil Runa pelan.


Cowok itu masih fokus pada es krim nya. "Hm?"


"Kalo seandainya kita dikasih amanah buat punya anak, kamu mau anak berapa?" hanya pertanyaan itulah yang tersisa di otaknya.


"Terserah! Mau banyak atau sedikit. Mau perempuan atau laki, itu suatu udah diatur, tugas kita cuma merawat dan mendidik!" balas Shaka tanpa melupakan nada bijaknya.


"Emangnya kamu mau berapa?" tanya Shaka balik.


"Dua, cewek sama cowok. Biar gak rebutan,"


Shaka tertawa. "Kita berdoa aja, kalau dapatnya banyak berarti rejeki."