
Hari ini adalah hari paling bersejarah bagi Runa. Dimana hari ini seluruh keluarga nya akan datang mengunjungi Runa.
Tepat sekali, hari ini acara kelulusan telah tiba. Setelah lama berjuang untuk lulus, tiba juga hari yang Runa nantikan.
Siapa yang tak senang jika lulus? Rasanya seperti lega, tak ada lagi beban yang berat yang menumpuk.
Menatap dirinya di pantulan cermin, sedikit mengoleskan wajahnya dengan make up tipis, dibantu juga oleh kak Jihan.
"Cantik banget," puji kak Jihan. Yang sama-sama menatap Runa dari pantulan cermin.
"Makasih kak," Runa tersipu malu.
"Yuk keluar, udah ditunggu sama yang lain." kak Jihan menggandeng Runa keluar kamar.
Hari ini rasa syukur Runa panjatkan, karena hari ini dirinya masih dikasih waktu untuk bisa berkumpul dengan orang-orang tersayang.
"MasyaAllah cantik banget putri Bunda," puji Bunda.
"Kita berangkat sekarang. Bentar lagi acaranya mau dimulai," Rama menggandeng Runa tak melupakan sikap posesif nya itu. Yang lain hanya bisa menggeleng kan kepala.
Di tempat lain, sebuah mobil terhenti di depan pintu utama perusahaan Aldebaran Group.
Seorang pria berjas hitam berjalan tergesa-gesa, membukakan pintu sebelah kiri.
Memberikan hormat dan mempersilahkan Tuan mudanya untuk keluar.
Penyambutan di pagi hari terdengar, para karyawan dan staf berjejer rapi memberikan salam hormat pada sang atasan.
"Selamat pagi Tuan."
"Pagi pak."
"Selamat pagi pak."
Dan masih banyak lagi sapaan yang mereka lontarkan pada CEO. Arshaka Virendra Aldebaran.
Shaka mengangguk sekilas sebagai balasan, setelah itu menyuruh mereka kembali ke tempat masing-masing. Dan mengerjakan kembali tugas mereka.
"Leo jadwal saya hari ini?" tanyanya pada sang sekertaris.
Leo, selaku sang sekertaris menjawab. "Pagi ini akan ada rapat dengan dewan perwakilan Mahardika Grup. Lalu siang nanti akan ada pertemuan dengan Tuan Artaphernes Laksamana, membahas tentang kontrak kerja." Leo menjelaskan dengan tegas.
Shaka mengangguk paham. Melangkah masuk ke dalam lift untuk naik ke lantai 12, tepat ruangannya berada.
Pintu lift terbuka, dengan langkah tegas Shaka berjalan masuk ke dalam ruangan.
"Leo saya ingin kamu kembali membuka lowongan, saya mau ini selesai besok. Bisa?" perintah Shaka yang duduk di atas sofa.
Leo mengangguk hormat. "Baik Tuan, saya akan segera mengerjakan." Leo melangkah mundur lalu berpamitan pergi.
Shaka bangkit dari sofa, dan duduk di kursi. Menyandarkan tubuhnya sambil menatap luar jendela.
Bangunan pencakar langit terlihat sangat jelas bahkan Shaka dapat melihat orang-orang yang berlalu lalang dari atas sana.
"Masih satu jam lagi," ujarnya melirik sekilas ke layar ponsel. Asik menatap ke luar jendela, hingga satu notif pesan terdengar membuka Shaka segera membukanya.
...Vanya...
| Selamat pagi Tuan Shaka yang terhormat!
| Mau kasih info aja nih. Hari ini kelulusan Runa. Lo gak ada niatan gitu buat kasih surprise? Atau gak ucapan selamat???
Bagaimana bisa dia memberikan ucapan selamat, sedangkan nomornya Runa saja sirinya tak punya?
"Nih cewek bodoh apa gimana sih?" heran Shaka. "Bisa-bisanya Rasya suka," sambung Shaka tertawa geli.
...
Acara kelulusan telah usai, Ruan telah menerima piagam kelulusan. Sebelum kembali ke rumah, mereka memutuskan untuk mengabadikan momen dengan berfoto bersama.
Satu
Dua
Tiga
Cekrek
Rama yang menjadi tukang potretnya kali ini. Bergantian dengan yang lainnya juga tentunya. "Lagi lagi," Rama memberi instruksi.
Rama memang pintar dalam segala hal, buktinya potret yang cowok itu ambil selalu bagus dan yang terpenting tak pernah mengecewakan.
"Selamat sayang, akhirnya perjuangan kamu yang begadang tiap malam. Sekarang terbalaskan sudah," Rama memeluk Runa singkat.
"Makasih Ram. Aku mau ucapin makasih ke kamu. Kalau nggak ada kamu mungkin aku bakal akhiran lulus nya," ungkap Runa mulut mungilnya tersenyum manis.
"Selamat sayang atas kelulusan kamu, semoga dengan ini kamu bisa memanfaatkan dengan baik ilmu yang selama ini kamu terima," ujar Bunda Yuna, dengan bangga.
Siapa yang tidak senang ketika anaknya menjadi sarjana? Apalagi itu adalah cita-cita yang diinginkan.
Ditambah lagi menjadi siswa dengan nilai yang cukup memuaskan, semakin membuat bangga.
"Makasih Bunda, jangan nangis dong. Nanti Runa ikutan nangis," dengan segera Runa menghapus air mata Yuna.
"Nggak, Bunda nangis bahagia. Karena akhirnya kamu bisa lulus juga,"
"Selamat untuk putri Ayah, Ayah bangga punya kamu!" Ayah menarik Runa ke dalam dekapan.
"Terus sama Arfan gak bangga gitu?" cetus Arfan, cemburu.
Runa yang tadinya ingin menangis, kini tak jadi akibat ucapan Arfan. "Hahaha kasihan," ledek Runa.
"Kurang ajar tuh mulut," tunjuk Arfan.
"Btw selamat buat princess gue tersayang. Akhirnya lo bisa buktiin ke gue kalau lo pantes buat dapat beasiswa itu," Arfan sampai tak bisa berkata apa-apa lagi, sangking bangganya dengan Runa.
"Ingat dek, jangan sombong. Belajar bukan karena nilainya, tapi karena ilmunya. Semoga dengan lo lulus kuliah ini, ilmu yang lo dapat bisa berguna dimasa yang akan datang!" tegas Arfan.
"Iyaa Abang pasti, makasih ya udah datang kesini. Walaupun Runa masih kesel sama yang kemarin," balas Runa.
Yang masih mengingat kegiatan semalam, dimana barang milik Runa tak sengaja dirusak oleh Abangnya yang satu ini.
"Iye iye, besok gue ganti." Tapi kalau ingat, sambung Arfan dalam hati.
"Yaudah yuk pulang. Udah sore juga," ajak Arfan. Sambil menggiring yang lainnya untuk masuk ke dalam mobil.
...
...Kelulusan Runa...