Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Awal mula



Malam harinya Runa memutuskan untuk mampir ke supermarket, ada barang yang harus dia beli, serta beberapa titipan Bunda.


Sampai supermarket gadis itu mengambil keranjang dan langsung mencari barang yang di tuju, tak perlu waktu lama Runa menemukan semua barang yang dia perlukan.


"Totalnya 150 ribu ya mbak," ujar mbak-mbak kasir.


Runa mengangguk kecil, gadis itu memberikan dua lembar uang merah kepada mbak-mbak kasir. Selesai dengan belanjaannya gadis itu langsung memutuskan untuk balik ke rumah.


Sesekali Runa mengelus kedua lengannya akibat angin malam yang menusuk tulang-tulang. Jalan juga makin ke sini makin sepi, membuat gadis itu berkomat-kamit dalam hati, semoga saja tak ada yang mengganggunya.


Runa menoleh ke kanan ke kiri, memastikan tak ada motor ataupun mobil yang melaju, dirasa aman, gadis itu melangkahkan kakinya untuk menyebrang.


Saat dia ingin menyebrang dari arah kanan, motor datang dengan kecepatan di atas rata-rata, dan tanpa sengaja menyerempet tubuh mungilnya itu.


"Shh aw.." ringis Runa, ketika pantatnya menyentuh aspal.


Motor yang tak sengaja menabraknya berhenti mendadak, berjarak 2 meter dari Runa. Seseorang di balik helm full face nya itu langsung menghentikan motornya dan berlari membantu seseorang yang dia tabrak.


"Lo gak papa?" Dengan suara beratnya, orang itu mengulurkan tangannya, membantu Runa berdiri.


"I-iya gak papa." Runa menerima uluran tangan dan berdiri, lalu Runa menatap kedua tangannya, pantas saja perih, orang kedua telapak tangannya memerah.


"Tangan lo luka, tunggu sini." ujar cowok itu, lalu pergi meninggalkan Runa yang terduduk di halte bus.


"Tangan lo," Runa mengulurkan tangannya dan membiarkan cowok itu mengobati telapak tangannya dengan memberikan hansaplat.


"Makasih ya, udah-" ujar Runa terhenti, mengetahui siapa sosok yang membantunya, matanya membulat sempurna.


Shaka?


Dia shaka, sosok yang Runa tabrak tadi pagi dia tabrak. Dan sekarang mereka bertemu kembali dengan kejadian seperti ini.


"Lo?" Tunjuk Shaka padanya, Runa dalam hati berdoa agar seseorang yang ada di depannya ini tak mengenalinya.


"Please, gak kenal! Gak kenal!" Batin Runa menjerit.


"Yang nabrak gue tadi pagi?" Ujar Shaka kembali, Runa mengumpat dalam hati, ternyata benar ucapan Vanya. Bahwa pikiran cowok di depannya ini tajam sekali.


"I-iya, aku yang nabrak kamu t-tadi pagi, maaf ya." Runa berucap dengan gugup, gadis itu tersenyum ke arah Shaka, meski terpaksa.


"Hm, gue anter." Perintah Shaka, cowok itu kembali memakai helm full face nya.


"Anter aku balik?" Beo Runa, entah mengapa seketika otaknya menjadi lambat.


"Hm, ayo." Ajak Shaka, menarik pergelangan Runa dan membawanya ke motor.


"Bentar," Cegah Runa. Membuat Shaka menghentikan langkah nya, Shaka berbalik badan lalu membuka kaca helmnya.


"Kenapa?"


"Belanjaan aku mana?" Runa menatap kedua tangannya, bukannya tadi belanjaannya dia bawa? Dan sekarang belanjaanya ada dimana?.


Runa menoleh ke kanan ke kiri, mencari kresek berisikan belanjaannya. Shaka pun sama, cowok itu melangkah mendekati kresek putih yang tak jauh darinya.


"Nih." Shaka memberikan kresek putih berisikan belanjaan pada Runa.


"Makasih," Runa kembali mengecek isi belanjaannya, takutnya ada yang rusak akibat terjatuh, dan benar saja. Ada beberapa makanan yang rusak, membuatnya mendesah pelan.


"Yah robek," Gumam Runa yang masih terdengar jelas ditelinga Shaka.


Shaka itu pendengarannya tajam bangeet, meski kita hanya bergumam tapi masih ajanterdengar jelas ditelinga cowok itu. Kadang anak-anak heran sih, se-tajam apakah telinga Shaka? Apakah setajam silet.


"Gue ganti?" Tanya Shaka, karenanya belanjaan gadis di depannya ini rusak, dan dia juga harus bertanggung jawab.


Runa menggeleng cepat. "E-enggak usah, gak papa." Tolak Runa.


"Yakin?" Tanya Shaka sekali lagi.


"I-iya gak usah, gak papa."


"Oh," balas Shaka singkat. "Gue antar balik," lanjut nya, sebelum naik ke atas motor cowok itu melepaskan jaket miliknya dan menempelkan di kedua pundak Runa.


Runa tersenyum dalam hati, ayo Runa jangan baper dong! Masa gini aja kamu baper! Gak boleh, kamu gak boleh baper!


Runa menggeleng pelan, gadis itu naik ke atas motor Shaka dengan memegang kedua ujung jaket. Aroma minta begitu menusuk rongga hidungnya.


"Rumah lo mana?" tanya Shaka.


"Perumahan Timur Besar, nanti dipertigaan belok kanan ya." Shaka mengangguk mengerti, cowok itu menjalankan motor dengan normal.


Siapa sangka bahwa pertemuan kedua kalinya ini adalah kisah keduanya di mulai.


...


"Makasih ya, udah di antar." ujar Runa dengan tulus.


"Gak masalah, gue balik." Setelah mengucapkan kata itu Shaka menjalankan motornya dan pergi meninggalkan Runa.


"Iya ati-ati, eh jaket kamu ketinggalan!" Teriak Runa. "Yah ketinggalan, gimana dong?" Gumamnya sambil memegang jaket Shaka.


"Besok aku balikin aja deh," Batin Runa, lalu masuk ke dalam.


"Assalamu'alaikum, Runa pulang!" Ucap Runa ketika memasuki rumah.


"Waalikumsalam, kok baru pulang. Bunda tungguin juga," ujar Bunda.


"Maaf Bun, ada kendala di jalan tadi hehe." Tak lupa Runa menyalami tangan sang Bunda.


"Belanjaannya kamu taruh di dapur, Bunda mau tutup pintu." Bunda pergi meninggalkan Runa.


"Oke," Gadis itu melangkahkan kakinya ke dapur, menata beberapa barang yang tadi dia beli di supermarket.


"Baru pulang lo? Gue kira udah di kamar," ujar Bang Arfan sambil menuangkan air ke dalam gelas.


"Iya baru pulang." Balas Runa. "Aku naik dulu ya bang, udah ngantuk." Pamitnya kepada Arfan.


"Tunggu!" Cegah Arfan, cowok itu berjalan ke Runa. "Ini jaket siapa?" Tunjuk Arfan ke jaket yang ada di pergelangan tangan Runa.


"Cie, yang udah ada cowok." Goda Arfan.


Runa meggeleng cepat, lantas berkata. "Ih bukan!"


"Terus? Gak mungkin kan lo mau kasih ke gue, ini jaket kelihatan mahal banget. Punya siapa? Nyuri ya lo?! Ngaku!" Tuduh Arfan.


"Heh! Enak aja nyuri," seru Runa.


"Terus punya siapa? Lo ada cowok ya? Ngaku!"


"Pacar aja gak punya gimana sih, ini itu punya temen Runa, tadi gak sengaja ketinggalan." Tutur Runa.


"Oh," Arfan manggut-manggut paham. "Yaudah, sana istirahat, besok lo sekolah kan?"


Runa mengangguk pelan, gadis itu memeluk Arfan sekilas dan naik ke atas, hari ini cukup melelahkan baginya, Runa sudah tak sabar untuk mengistirahatkan dirinya.


...


Shaka mengeliat pelan, cowok itu mendengus kesal, tidurnya harus terganggu akibat pintu kamarnya sedari tadi di gedor.


"BANG! BANGUN, UDAH PAGI!"


"LO NIAT SEKOLAH GAK SIH? UDAH JAM SEGINI NGEBO MULU SIH LO!" Teriak Ale dari luar.


Shaka mengumpat dalam hati, cowok itu menutup kedua telinganya dengan bantal, bukannya semakin mereda suara Ale makin besar. Membuat Shaka mau tak mau terbangun.


"Apa sih ganggu aja?!" Kesal Shaka.


Shaka berdecak sebal. "Iya-iya, udah sana pergi lo." Usir Shaka sambil mendorong tubuh Ale untuk pergi.


"Awas lo kalau gak turun!" Tunjuk Ale.


"Iya! Udah sono, pergi!"


...


Keadaan sekolah sudah terlihat ramai, Runa berjalan menyusuri lorong sambil bersenandung kecil, sesekali menjawab sapaan dari anak-anak. Hingga sampai di depan kelas IPS 5.


"Pagi Na!" Sapa teman sekelas Runa.


Runa tersenyum manis, lalu menjawab sapaan temannya. "Pagi!"


"Vanya belum datang ya? Tumben banget," gumamnya seraya melirik ke arah jam dinding. Sambil nungguin Vanya datang, Runa memilih untuk membaca novel yang dia bawa.


"Selamat pagi Runaaa!" Yang ditunggu akhirnya datang juga, Vanya duduk di samping Runa cewek itu memberikan sekotak susu coklat.


...


Di lain tempat, tepatnya di gudang sekolah. Kelima cowok sedang duduk santai, melupakan bel yang telah berbunyi setengah jam yang lalu.


Mereka adalah Shaka, Rayn, Arthur, Tara dan Bram. Rasya tak ikut alasannya dia tak ingin bolos kelas, sudah cukup banyak sekali dia bolos akibat ulah mereka berlima.


Kata Arthur : "kalau satunya bolos, semua harus bolos, dan kalau salah satu dari kita kena hukuman, semua harus kena hukuman juga."


"Gue denger-denger Galang udah keluar dari penjara ya?" Bram memulai aksi per-gosipan, gak gosip gak afdol.


Arthur menegakkan tubuhnya. "Emang iya Sa?" Tanya Arthur pada Shaka.


"Gak tau," balas Shaka singkat.


"Wah kalau emang bener-bener keluar, perang Dunia ke tujuh bakal di mulai sih." Kata Tara.


Rayn yang berada di samping Tara langsung menyenggol Tara. Tara yang sadar dengan ucapannya lantas meminta maaf. "S-sorry Sa,"


"Gak masalah, lagian kita gak bakal serang duluan, kalau mereka gak serang kita dulu." Ujar Shaka.


"Bener tuh kata Shaka, kita do'ain aja yang baik-baik, semoga buruan tobat dia nya." Seru Rayn.


"Semoga aja sih," Saut yang lain.


...


Bel istirahat tiba, Runa dan Vanya berjalan menuju ke kantin sekalian mau kasih jaket yang kemarin ketinggalan. Saat mau jalan ke kantin, Runa berpapasan dengan Shaka yang bersama kelima teman-temannya.


"Kak Shaka," panggil Runa.


Shaka menghentikan langkahnya. Cowok itu mengangkat satu alisnya. "I-ini kak jaket kamu, kemarin ketinggalan." Ujar Runa menyodorkan tote bag berisikan jaket Shaka.


Shaka mengangguk lalu menerima tote bag itu. "Makasih,"


"Pantesan pagi ini lo gak pakai jaket, ternyata di pinjemin dong, Sa kabarin ya kalau udah jadian!" Goda Bram.


"Bener, jangan lupa traktirannya! Lumayan ya gak?" Ujar Arthur tak tau malu.


Tara langsung menonyor Arthur. "Ye gak tau malu lo!"


"Enak aja, gini-gini gue masih tau diri kali!" Kata Arthur.


"Lo berdua gak di kelas, gak di sini ribut mulu. Udah tuh tinggal Shaka." Rayn menunjuk Shaka yang telah pergi, kapan perginya?


"Lha kapan perginya?" Heran Vanya.


Runa hanya mengangkat bahu tak tau. "Gak tau," Dia juga tak melihatnya.


"Masa bodo lah, yuk kantin!" Vanya langsung menarik Runa ke kantin.


...


Bel pulang telah berbunyi, Shaka dan kelima sahabatnya berjalan beriringan menuju parkiran motor, walau sudah jam pulang tiba, tak membuat sekolah sepi.


Mereka malah berdiri di sepanjang koridor untuk menatap keenam most wanted kebanggan Trisatya. Keadaan menjadi hening seketika, tapi semua tak bertahan lama, pujian itu malah semakin heboh.


"Hai Sa, kamu mau pulang ya?" Tanya cewek itu.


"Hm,"


"Sa, aku boleh bareng gak sama kamu, supir aku gak bisa jemput soalnya." Ujarnya kembali.


"Gak bisa, gue sibuk. Minta aja sama yang lain," Setelah berkata seperti itu Shaka pergi meninggalkan koridor kelas, membuat anak-anak mendesah kecewa.


"Ih kok pergi sih, kan lagi enak-enak lihat drama live gitu."


"Iya, padahal kan mereka cocok banget, Sama-sama pinter, sama-sama most wanted lagi."


"Bangett! Gue ship mereka sih, kalau jadian wah gila, gak bayangin gue gimana populernya mereka."


Dan masih banyak lagi ucapan kekecewaan mereka.


"Sama gue aja gimana Tan?" Arthur memulai aksinya dengan tebar pesona.


"Gak mau," Tolak Tania.


Dia Tania, lebih tepatnya Tania Anastasia, most wanted girl nya Trisatya sekaligus anak kebanggan sekolah, memiliki sifat yang ramah, baik, cantik pula.


Tania juga anak wakil kepala sekolah, sudah hampir dua tahun Tania mengejar-ngejar Shaka, entah harus memakai cara apa lagi untuk membuat Shaka jatuh hati pada Tania.


Anak-anak bilang mereka berdua cocok, memang cocok sekali, sama-sama most wanted sekolah, pintar, terus anak terpandang lagi. Yang satu anak wakil kepala sekolah, yang satu lagi anak penyumbang terbesar se-Trisatya.


Lain tempat, Runa sedang menunggu bus datang, gadis itu harus naik bus akibat handphone miliknya mati, akibat semalam tak dia cas, dan bodohnya dia lupa membawa power bank.


"Masih lama kah?" Gumam Runa, sudah setengah jam lebih dia menunggu bus lewat, sampai sekarang masih aja tak ada yang datang satupun.


Karena tak mau menunggu lama lagi, Runa memutuskan jalan sampai ujung jalan untuk naik angkutan umum. Runa menghela nafas leganya, akhirnya yang ditunggu sedari tadi datang juga. Runa pun naik ke dalam angkutan.


...


Keadaan basecamp begitu ramai, semakin malam semakin pula ramainya. Shaka baru saja datang ke basecamp, cowok itu mendudukkan dirinya di samping Rasya, yang sedari tadi sibuk dengan ponsel nya.


Semuanya sudah datang, tinggal menunggu Bram saja yang belum, tak berapa lama Bram datang dengan suara khasnya.


"WOI BRADERR!" Teriak Bram diambang pintu yang membuat sebagian orang kaget.


"BERISIK BABI!" Umpat Rayn, cowok itu ingin minum namun tak jadi akibat ulah Bram.


"Salam kek, apa gitu, ini main teriak-teriak." Saut Tara.


Bram malah cengengesan. "Maaf, maaf khilaf!"


"Wih bawa martabak nih, bagi dong." Dengan tak tau malunya Arthur merampas empat kresek berisikan martabak manis dan asin.


"Heh biadap! Main ambil aja lo, sini bayar dulu." Bram mengulurkan tangannya pada Arthur. Arthur langsung merogoh saku celana dan memberikannya pada Bram.


"Apaan anjir! Dua ribu, lo pikir gue tukang parkir hah!" Kesal Bram.


"Gak papa Bram, sekali-sekali sedekah kek, lo kan gak pernah sedekah tuh nah ini buat sedekah, biar rejeki lo gak seret," Ujar Arthur lalu memakan martabak itu bersama yang lain.


Bram mengumpat, meski begitu uang tadi dia masukkan ke dalam saku celananya. Lumayan, lalu mereka lanjutkan dengan bermain uno.


....