
Lumayan lama Runa dan Vanya berdiri mengantre bakso, dan berbuah hasil. Mereka berhasil mendapatkan semangkok bakso, dan itu adalah bakso terakhir.
Runa dan Vanya berjalan mencari tempat duduk, sangking asiknya dengan mencari tempat duduk. Seseorang tak sengaja menabrak pundak Runa lumayan keras, alhasil nampan dan mangkok berisikan bakso itu terjatuh di atas lantai.
Pyar
"Punya mata gak sih? lihat-lihat dong kalau jalan itu, lihat nih baju gue jadi kena kan?!" katanya membentak yang berhasil membuat satu kantin menatap mereka bertiga.
Vanya dan Runa cepat-cepat mendongakkan kepala, menatap siapa sosok yang tadi Runa tabrak. Tepatnya orang yang ada di depannya ini.
"Kak Tania?" kening keduanya sama-sama berkerut, tanda tanya mulai bermunculan pada benak Runa dan Vanya.
"Oh lo ternyata, pacarnya Shaka? Cewek yang berhasil meluluhkan hati seorang Arshaka Virendra Aldebaran." Ujar Tania, gadis itu Tania, pasti kalian kenal siapa sosok wanita ini.
"Gue mau lo ganti rugi sekarang, lo lihat kan baju gue jadi kotor sekarang. Dan semua itu karena lo." Tunjuk Tania.
Vanya berdecih. "Sorry yang gue lihat lo yang nabrak temen gue, dan bukan temen gue yang nabrak lo. Jadi temen gue gak salah." Bela Vanya.
Tanya tertawa. "Gak salah? buktinya baju gue kotor kan?" ujar Tania dengan suara yang masih biasa saja.
"Heh, lo pikir gue buta? jelas-jelas lo kok yang nabrak Runa, tanggung jawab dari mana gue tanya?" tanya Runa dengan lantang, cewek itu ingin menguji seberapa besar kesabaran yang Tania miliki.
Vanya itu sama kayak Shaka dan teman-temannya, mereka ingin membongkar kedok dari seorang Tania Anastasia.
"Jelas temen lo tanggung jawab lah, nih lihat baju gue yang mahal ini. Jadi kotor gini!" kali ini suara Tania sedikit lebih kencang. Membuat semua anak semakin penasaran.
Lumayan lah ya, ada tontonan gratis.
"Van udah," cegah Runa, dia merogoh saku dan mengambil sebuah sapu tangan, yang selalu Runa bawa ke mana-mana, lalu memberikan pada Tania.
"Maaf kak, aku tadi gak sengaja. Aku emang gak bisa ganti seragam kakak, tapi buat bersihin nodanya mungkin bisa pakai ini." Runa memberikan sapu tangan miliknya pada Tania.
Bukannya diambil, malah Tania tepis kasar begitu saja. "Jangan sentuh seragam gue sama sapu tangan murahan milik lo!" remeh Tania yang berhasil membuat satu kantin bisik-bisik.
"Dengerin gue ya, sapu tangan lo itu gak bakal bisa hilangin noda ini di baju gue. Dan lo harus tau, seragam ini itu seragam kesayangan gue. Dan lo rusakin gitu aja hah!" teriak Tania murka.
Runa menundukkan kepala. "M-maaf kak, aku gak bermaksud."
"Apa gue gak denger?" tanya Tania.
"M-maaf kak-" belum juga Runa melanjutkan perkataannya namun harus terpotong oleh tamparan keras dari Tania langsung.
Plak
"Maaf? Lo pikir dengan maaf, bisa bikin baju gue kayak semula. Lo itu bocah miskin yang beruntung buat bisa masuk ke sekolah ini, gak usah banyak belagu deh jadi orang. Jijik gue lihat lo." Tania membuang semua kekesalannya pada Runa.
Runa terdiam sambil memegang pipinya yang terkena tamparan barusan. Panas, perih dan kebas, semuanya menjadi satu.
"Gila ya lo! Cuma karena Runa gak sengaja tumpahin kuah bakso ke seragam lo, lo tampar dia?!" Vanya menatap kesal Tania, namun dalam hati dia tersenyum, sifat Tania segera terbuka.
"Lo gak papa?" Runa hanya mengangguk pelan, masih dengan memegangi pipinya.
"Emang dia salah, biar dia sadar kalau dia salah." ujar Tania yang masih merasa bahwa dirinya masih menang.
Tania ingin memberikan sebuah tamparan pada Vanya, belum juga mengenai Vanya tangannya di tahan seseorang.
"Kalau mau bully, jangan bully adik kelas, udah gitu pakai ngomongin kaya miskin." Perkataan itu berhasil membuat satu kantin sunyi, Vanya dan Runa hanya bisa terdiam di tempat.
Cowok itu adalah Shaka, mencekal pergelangan tangan Tania yang hampir saja menampar Vanya.
"Shaka?" Tania menatap Shaka tak percaya.
Shaka hanya mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa? kaget lihat gue ada disini, kaget karena lo gak jadi bully adik kelas lagi?" menatap remeh ke arah Tania.
"Tania Anastasia, cewek cantik, anak wakil kepala sekolah, kebanggan sekolah, memiliki sifat yang cukup menjadi teladan bagi seluruh SMA Trisatya."
"Lihat lah! Sosok yang lo semua bangga-banggain kini malah menindas adik kelas, hanya karena kuah bakso. Memalukan sekali bukan?" senyum miring, tercetak jelas pada bibir Shaka.
"Shaka, b-bukan gitu?" ujar Tania terbata-bata.
"Apa? mau bilang kalau semuanya gak bener? mau bilang kalau aku bisa jelasin, haha. Lo pikir gue apa? Lo lihat, lihat sekarang, Anak-anak pada tau sifat asli lo."
Tania langsung menoleh ke belakang, benar, mereka semua menatapnya dengan berbagai ekspresi. Dan tak jarang terdengar bisikan tentang nya. "Gak! Semuanya gak bener! Lo semua salah paham," bantah Tania dengan cepat.
Rasya yang sedari tadi diam, berkata. "Gak bener gimana? Semua bukti udah ada, atau mau di lihatin pakai CCTV?"
Arthur dan Bram sama-sama ikutan. "Udah ngaku aja neng kalau salah. Mending lo sekarang pergi deh sebelum nama lo makin di ucapin sama anak-anak."
Tara menyahut. "Sana-sana buruan pergi, sebelum lo malu nantinya." kata Tara diakhiri kekehan.
Rayn tersenyum. "Udah Tan, pergi gih. Gue tau lo malu. Udah sana."
Tania mengeram kesal, kenapa dirinya jadi terpojok kan gini? Menghentakkan kakinya kesal, lantas Tania memilih pergi dari kantin.
Shaka dan yang lainnya tersenyum menang. Jadi tadi saat Shaka dan teman-teman ingin masuk ke kantin, dihebohkan dengan keributan Tania dengan Runa dan Vanya.
Di sana Shaka memilih diam terlebih dahulu, ingin melihat apa yang akan dilakukan Tania selanjutnya. Tangannya mengepal kuat, dimana dirinya melihat Tania yang menampar Runa dan menghina gadisnya.
Namun dalam hati Shaka bersorak gembira, akhirnya terbongkar juga semuanya. Shaka tak perlu membuang tenaga ekstra untuk membongkar semuanya.
Shaka memutar badannya, menatap ke arah Runa yang sedari tadi menundukkan kepala. "Lo gak papa?" tanya Shaka dengan lembut.
Runa hanya mengangguk kecil, dirinya tak berani untuk mengangkat kepala. Pasalnya, dirinya menjadi tontonan massal anak-anak Trisatya.
Dengan cepat Shaka menari Runa dan membawanya pergi, cowok itu tau jika Runa risih menjadi bahan tontonan anak-anak. "Tolong, lo bereskan semuanya." perintah Shaka.
"Woke! Balik balik balik ke meja kalian semua," usir Arthur dan Tara pada anak-anak yang masih bergerombol.
Shaka menarik Runa ke UKS, cowok itu menyuruh Runa untuk duduk di atas brankar. Shaka pamit sebentar untuk mengambil baskom berisikan air dan tak lupa handuk.
"Sakit gak?" sebenarnya gak usah ditanya lagi, Shaka tau itu sakit. Terlihat dari pipi Runa yang begitu merah, karena kulit Runa yang putih mulus menjadikan tamparan itu terlihat jelas.
Runa hanya mengangguk kecil. Shaka menghela napas pelan, lalu mengobati luka Runa dengan pelan-pelan, sesekali meniupnya agar tak terasa begitu nyeri.