Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Galang yang baik hati



Dengan senyum yang terbit di bibir mungil gadis itu, Runa menatap ke arah cermin. Di rasa semuanya telah siap, gadis itu turun ke bawah untuk sarapan.


Sebelum turun, Runa pergi ke kamar Arfan. Untuk mengecek apakah abangnya sudah bangun atau belum.


"Bang Arfan," panggil Runa, gadis itu menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Bang Arfan udah bangun belum?" tanyanya sekali lagi.


Matanya tertuju pada kasur, gadis itu mengangguk kecil. Kembali menutup pintu dan turun ke bawah. Mengoleskan roti coklat serta menuangkan susu ke dalam gelas.


Runa melaksanakan sarapannya. Selesai dengan sarapan Runa bangkit dari kursi dan pergi keluar. Runa berjalan buru-buru menghampiri seseorang yang telah menunggunya sedari tadi.


"Pagi kak, maaf tunggu lama." ucap Runa.


"Hm, gak masalah," ucap Shaka memberikan helm berwarna hitam itu kepada Runa.


"Nyokap lo mana?"


"Belum balik, masih di Jogja." ujar Runa.


Shaka mengulurkan tangannya membantu Runa naik ke atas motor, setelah dirasa Runa aman perlahan motor Shaka meninggalkan pekarangan rumah Runa.



Runa baru saja memasuki kelas, tak banyak anak hanya beberapa. Sambil menunggu Vanya datang, Runa menyempatkan dirinya untuk belajar sedikit, karena nanti setelah istirahat ulangan Sosiologi akan di mulai.


"Pagi-pagi udah rajin amat lo," cetus Vanya yang baru saja masuk.


"Harus rajin dong, gimana udah belajar?" tanya Runa yang masih fokus dengan bukunya.


"Gue? Belajar?" tunjuk Vanya. "Ya gak lah, semalem gue maraton film, ntar aja waktu istirahat gue belajar." ujar Vanya, santai.


"Lo tadi dianter siapa?"


"Kak Shaka, kenapa?"


"Cie yang dianter kak Shaka. Tukeran yok Run, lo jadi gue, gue jadi lo." Tawar Vanya.


"Sulit banget sih, dapatin hatinya kak Rasya, baru di ajak ngobrol juga. Udah kabur orangnya." Vanya mendesah kecewa, hampir satu minggu ini dirinya mencoba untuk PDKT dengan Rasya.


Bukannya di jawab malah di tinggal.


Runa terkekeh pelan, gadis itu mengusap punggung Vanya, mencoba memberi semangat. "Gak boleh patah semangat, coba aja dulu, nanti kalau gak bisa baru bilang sulit."


Vanya mendengus kesal. "Lo enak, gak ada angin gak ada hujan. Kak Shaka nembak lo, lha gue? Boro-boro di tembak, sapa aja kagak!"


Runa hanya bisa menggelengkan kepalanya, kembali membaca beberapa bab untuk ulangan nanti, sedangkan Vanya dia melanjutkan tidurnya.


Di kelas 11 IPA 4, Shaka baru saja masuk ternyata semuanya sudah berkumpul tinggal Arthur doang. Palingan kalau gak telat ya godain cewek dulu.


"PAGI BRADERR!" teriak Arthur di ambang pintu.


Arthur masuk dengan langkah gagahnya, melupakan kejadian sedetik nya yang membuat semua anak beristigfar. Cowok itu duduk di samping Tara.


"Eh anjir, lo udah ngerjain tugas Fisika belum?" tanya Bram pada Arthur.


Kening Arthur berkerut, cowok itu berpikir sejenak. "Ye gimana sih, Arthur lo tanyain. Mana ada dia ngerjain tugas." Arthur yang di tanya, malah Rayn yang jawab.


"Lha iya goblok, ngapain gue tanya lu!"


"Emang ada tugas?" Mohon maaf nih ya, otak Arthur masih belum terkoneksi jadi mohon di pahami.


"Ada," sahut semuanya.


"Apa?"


"Fisika,"


"Fisika?" Arthur mencoba berpikir, apa iya ada PR? cowok itu menoleh ke samping, dimana Tara yang sibuk menyalin sesuatu.


Sekian detik kemudian cowok itu tersadar, buru-buru mengambil buku fisika dan menyalin jawaban tentunya.


Arthur menarik buku yang di pegang Tara. "Heh! Main tarik-tarik aja lo, sini. Gue belum selese! Tur!" Tara menarik kembali buku milik Rasya itu.


"Gue duluan!"


"Gak ada, gantian. Lo udah selesai kan, jadi gue yang pinjam!"


Terjadilah tarik-tarikan diantara keduanya, hal itu membuat Rasya melotot kan matanya, punten, buku dia yang di tarik.


"Kalau mau tarik-tarikan, jangan buku gue yang jadi korban!" Rasya tak masalah dengan harga bukunya, cuma yang jadi masalah itu kenapa harus bukunya yang jadi korban?


"Lo berdua ribut aja, ngerjain bareng-bareng gitu kek." Cetus Bram, cowok itu mengerjakan tugas dengan santai, lebih tepatnya menyalin jawaban.


"Yan, lo udah?" tanya Arthur, keduanya sudah selesai ribut.


"Udah, liat Rasya." ucap Rayn yang duduk berhadapan dengan Rasya dan Shaka.


Rasya itu kalau di Alastair, jika bukan sebagai tukang memberi jawaban, meskipun gak sering.


Hanya beberapa tugas aja. sesuai mood sih lebih tepatnya. Atau gak ya sebagai bendahara Alastair.


Shaka hanya menatap temannya yang sedari tadi Ribut, cowok itu tak ingin ikutan dalam obrolan kelimanya.


...


Jam istirahat akan berbunyi 10 menit lagi, Runa baru saja selesai dari kamar mandi, gadis itu melangkahkan kakinya kembali ke kelas.


"Runa!" Runa yang merasa terpanggil langsung menghentikan langkah kakinya, gadis itu memutar badannya ke belakang.


"Iya bu, ada apa?" tanya gadis itu.


"Bisa bantu ibu? tolong kamu fotokopi kertas ulangan di depan, soalnya fotokopi di tata usaha gak bisa dipakai." jelas Bu Nisa.


Runa tersenyum dan mengangguk, dengan senang hati dirinya membantu gurunya ini. "Bisa bu,"


"Ini, buat ulangan nanti. Kamu fotokopi 35 kali ya, ini uangnya." ujar Bu Nisa, memberikan dua lembar kertas yang berisi ulangan dan tak lupa uangnya.


Runa menerima gadis itu pamit keluar, menuju ke fotokopi depan. Setelah diperbolehkan keluar oleh pak Jaka -satpam Trisatya.


Runa mendesah kecewa, ketika tempat fotokopi nya tutup. Gadis itu menoleh ke kanan, ke kiri. Mencoba mencari tempat foto kopi yang lain.


"Yah, tempatnya tutup, fotokopi yang lainnya dimana?" gumam Runa.


"Hai, sorry lo lagi cari tukang fotokopi?" tanya cowok itu.


Runa menoleh ke kanan. "Em, iya lagi cari. Tapi tempatnya tutup."


Cowok itu mengangguk paham. "Mau gue anterin gak ke fotokopi depan, soalnya gue juga lagi cari tempat fotokopi buat cetak foto." tawar cowok itu kembali.


"Ah gak usah, gak papa kok. Aku balik aja," tolak Runa secara halus.


Cowok itu melirik ke arah kertas yang dibawa oleh Runa. "Yakin? Buat ulangan kan, gak papa gue anterin aja, sekalian di depan sana."


"Gak usah, aku balik aja. Gak papa kok."


"Lo yakin? Masa iya lo jauh-jauh ke sini, pulang-pulang bawa tangan hampa," ucapnya.


"oh iya, gue Galang anak SMA Putra Tiga. Dan tenang aja gue gak ngapa-ngapain lagian ini jalan raya, kalau gue lakuin hal yang aneh-aneh ke lo, lo bisa teriak." ucap cowok itu memperkenalkan dirinya.


Runa menatap sekeliling, emang benar dia di dekat jalan raya, tapi ada takutnya juga sih. Runa menepis pikiran negatifnya, benar juga kata Galang, masa dia jauh-jauh gak bawa apa-apa.


Mana ulangannya habis istirahat, dan sekarang jam sudah istirahat tiba.


"Gimana?" tanya Galang kembali.


Runa mengangguk. "Boleh, tapi beneran gak ngapa-ngapain aku kan?"


Cowok itu terkekeh, "kalau gue ngapa-ngapain lo, kenapa gak dari tadi. Udah yuk naik, butuh habis ini kan ulangannya?"


"Iya butuh habis gini," Runa perlahan naik ke atas motor Galang, cewek itu berdoa agar tak terjadi apa-apa.


"Lo anak pindahan?" tanya Galang.


"Iya baru 3 bulan setengah."


Galang mengangguk paham, cowok itu melajukan motornya. Hingga sampai di depan toko fotokopi "Pak Surya" yang tertulis di papan kayu.


"Ada yang bisa dibantu mas, mbak nya?" tanya bapak pria baya tersebut.


"Ini pak, mau fotokopi 35 lembar ya." ujar Runa seraya memberikan kertas lembaran.


"Iya mbak, mas nya?"


"Ini pak, saya mau cetak foto ukurannya 3x4," ucap Galang, sambil memberikan flashdisk.



Jam istirahat telah berbunyi sepuluh menit yang lalu, Vanya, cewek itu mondar-mandir mencari keberadaan Runa. Karena tadi Runa hanya izin ke kamar mandi.


Namun sampai sekarang, Runa belum kembali lagi. Hal itu membuat Vanya khawatir, takut Runa kenapa-napa. Sudah tiga kali Vanya bolak-balik ke kamar mandi.


"Nih bocah kemana sih? Masa iya dia ngebo di kamar mandi? Udah setengah jam dia gak balik lagi, mana bentar lagi ulangan Sosiologi." gumam cewek berambut pendek tersebut.


Vanya mencoba menanyai ke. beberapa anak. "Eh liat Runa gak?"


"Sorry, gak lihat."


"Lihat Runa gak?"


"Gak lihat tuh, maaf ya."


"Lo lihat Runa gak, atau gak ketemu dia gitu?" tanya Vanya.


"Runa? Oh tadi lihat sih di kamar mandi, terus kalau gak salah dipanggil sama Bu Nisa, terus gak tau kemana." jelas cewek berjilbab itu.


Vanya mengangguk paham, "Oh oke, thanks ya." Langsung saja Vanya pergi mencari Bu Nisa.


"Assalamu'alaikum Bu," tak lupa Vanya menyalami gurunya.


"Waalaikumsalam, Vanya. Ada apa nak?"


"Em, bu lihat Runa tidak? Tadi katanya Runa ibu panggil ya?"


"Nah itu, ibu juga nunggu Runa dari tadi. Tapi belum datang juga, coba kamu tunggu di gerbang, ibu ada urusan sebentar. Kalau sudah sampai, nanti bilang aja ke Runa suruh taruh dimeja ibu ya." pesan Bu Nisa.


"Iya Bu, nanti saya sampaikan ke Runa nya." Setelah itu Vanya pergi ek gerbang, menunggu kedatangan Runa sahabatnya.


"Eh neng Vanya, ada ape neng? Ada yang ditunggu ya?" tanya pak Jaka.


"Iya pak nunggu Runa, Bapak lihat Runa gak?"


"Lho tadi kan keluar buat izin fotokopi ya? Iya fotokopi, terus bapak gak tau tuh udah balik apa belum." ujar pak Jaka.


"Gitu ya pak, Vanya nungguin Runa aja deh kalau gitu."


"Monggo neng, bapak ke pos dulu ya," pamit pak Jaka.


Runa dan Galang baru saja menyelesaikan tugasnya, keduanya kembali ke motor setelah selesai membayar semuanya.


"Makasih ya, nanti waktu di sekolah uang nya bakal ku ganti, uang ku ke tinggalan soalnya." Runa cukup tak enak.


Uang yang di kasih Bu Nisa kurang untuk membayar fotokopi, oleh karena itu Galang lah yang menambahi untuk membayar uang fotokopi.


"Haha, gak masalah eh nama lo Aruna?" tanya Galang menatap sekolah badge nama.


"Iya, aku Runa." senyum manis tak luput dari bibir Runa.


"Tenang aja, cuma lima ribu doang, gak masalah. Udah gak usah lo balikin."