
Pagi ini, sesuai dengan janjinya pada Runa. Shaka akan mengajak Runa untuk pergi ke dokter kandungan, dan memastikan bahwa anaknya akan baik-baik saja.
Mereka berdua juga sudah memberi kabar pada yang lainnya serta teman-teman terdekat, tak dapat mereka pungkiri jika mereka turut bahagia.
Setelah bersiap-siap, Shaka dan Runa berangkat ke rumah sakit. Di dalam mobil Shaka tak henti-hentinya mengoceh panjang lebar, mengajak sang buah hati berbicara, meski dirinya tau jika tak ada balasan.
Runa tersenyum melihatnya, ia hanya melihat interaksi Shaka dan memilih sebagai pendengar.
Tak lama mobil yang mereka tumpangi tiba di depan rumah sakit, rumah sakit Aldebaran. Yaitu rumah sakit keluarganya. Menggandeng tangan Runa keduanya berjalan masuk ke dalam.
Setelah cukup lama menunggu, kini giliran Runa masuk untuk diperiksa.
Shaka membantu Runa untuk berbaring di atas brankar, kemudian dokter itu pun mulai mengecek keadaan janinnya.
Shaka membantu Runa untuk duduk setelah selesai pengecekan, keduanya melangkah ke meja dokter itu sambil mendengar penjelasannya.
"Kandungan bayi sangat sehat, detak jantungnya juga normal tadi. Setelah ini akan saya berikan vitamin, jangan banyak melakukan aktivitas berat dulu, begadang dan banyak istirahat. Karena keadaan si ibu yang cukup lemah," jelas dokter itu sambil menuliskan resep obat.
"Untuk yang lainnya tak ada masalah kan?" tanya Shaka.
"Syukurnya tidak ada," balas dokter itu, yang berhasil membuat keduanya lega.
...
Shaka mengajak Runa ke supermarket, setelah mengecek ke dokter kandungan. Mereka mampir ke supermarket untuk membeli beberapa bahan makanan yang mulai habis.
Sembari membeli beberapa obat dan vitamin yang sudah di tulis dokter tadi untuk Runa, tak lupa juga membeli beberapa susu bumil.
Berjalan menyusuri satu per satu lorong, mereka berpencar untuk mencari barang yang mereka perlukan. Tepatnya membagi tugas.
Runa mengambil beberapa bahan makanan yang mereka butuhkan, sementara itu Shaka membeli vitamin dan keperluan Runa. Tak lama Shaka datang dengan tangan yang penuh akan susu bumil.
"By, ini buat siapa?" tanya Runa keheranan.
"Buat kamu," balas Shaka singkat.
"Sebanyak iini?" Runa menunjuk troli yang penuh dengan kotak susu bumil, entah berapa banyak Shaka membelinya yang terpenting susu itu mengalahkan bahan makanan.
"Gak papa buat stok kamu," kata Shaka dengan santai, baginya tak masalah untuk membeli sebanyak ini karena yang terpenting Runa dan bayinya sehat.
"Tapi kan gak sebanyak ini,"
"Biar gak bosen. Semuanya udah kan? Sekarang kita bayar," Shaka mengambil alih troli itu, lalu membawanya ke kasir.
Runa sendiri hanya bisa mengelus dada sambil menggelengkan kepalanya tak mengerti, mencoba memaklumi kelakuan Shaka.
Selesai membayar semuanya, Shaka mengajak Runa ke mall yang ada di sebrang. Sekalian jalan-jalan dan mencari makan siang.
...
Runa sedang terduduk di atas ayunan, menatap langit yang terlihat mendung. Sepertinya hujan akan tiba, tapi tak membuatnya untuk bangkit dan pergi.
"Kayaknya bakalan hujan," gumam Runa yang masih setia di sana.
"Sejak kapan kamu disitu?" tanya Runa tanpa menoleh ke belakang.
"Sejak kamu ngelamun," balas Shaka yang perlahan menghampirinya.
"Kenapa gak masuk masuk ke dalam aja? Bentar lagi hujan," tanya Shaka sembari merapikan anak rambut yang menutupi wajah cantiknya.
"Gak papa, mau liat hujan." kata Runa.
Shaka tersenyum simpul. "Ada yang kamu pikirkan?" tebak Shaka seakan mengerti dengan apa yang Runa pikirkan.
Sebenarnya Shaka tau apa yang tengah Runa lakukan, baik yang terlihat atau tidak, bahkan tanpa gadis itu jelaskan.
"Enggak ada, cuma lagi capek aja. Mau istirahat,"
"Yaudah istirahat, yuk masuk bentar lagi hujan!" ajak Shaka, dan menggendong Runa ala Koala lalu mengajaknya masuk ke dalam.
"Susu sama vitaminnya udah diminum kan?" tanya Shaka memastikan.
"Vitaminnya udah, susu nya belum." ungkap Runa.
"Kenapa belum," Shaka melayangkan tatapan tajamnya, menatap Runa tak suka. Dirinya tak marah hanya kesal saja.
"Enggak mau, eneg tau. Mau muntah," ungkap Runa sambil menutup mulutnya.
Shaka menutup matanya, sambil mengatur napas. "Kamu mau makan apa? Biar perutnya ke isi?"
Beberapa hari terakhir memang nafsu makan Runa berkurang dari biasanya, yang tadinya banyak kini hanya sedikit, meski nyemil nya tak berkurang tapi tetap saja hal itu membuat Shaka tak suka.
"Enggak ada, gak mau apa-apa. Kamu mandi sana aku siapin makan malam buat kamu," Runa berdiri dan meninggalkan Shaka.
"Hm," Shaka bergumam. Mencoba memaklumi tingkah Runa yang berubah-ubah. Mungkin saja karena hamil.
Beberapa menit kemudian, Shaka turun ke bawah dengan kaos hitam dan celana pendek berwarna senada. Melihat Runa yang masih sibuk memasak, membuat Shaka geleng-geleng kepala.
Pasalnya Shaka selalu melarang Runa untuk bekerja terlalu berat, tapi semuanya kembali ke awal. Runa tak mau dan menolak. Bagi gadis itu selagi dirinya bisa mengapa tidak?
Tak lama Runa datang dengan sepiring makanan untuk Shaka. Ia tak makan, hanya menemani Shaka saja.
"Kok satu?"
"Aku gak lapar, masih kenyang." ungkap Runa, membuat Shaka mendesah kasar.
"Makan, sesendok aja. Biar perutnya ke isi," ujar Shaka mencoba membujuk Runa untuk makan.
Dengan terpaksa Runa menerima dan memakannya. Akibat Shaka terus menyuapi nya, tanpa sadar Runa menghabiskannya. Melihat itu membuat Shaka tersenyum.
"Gak papa, aku makan buah aja." ujar Shaka tertawa, rencananya berhasil untuk membuat Runa makan malam.
Runa mendengus pelan. "Nyebelin!"