Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Malming



Kemungkinan besar episode kedepannya bakal aku buat kalian naik darah, jadi buat yang gak bisa sabar boleh pergi karena di episode ini adalah puncak permasalahan mereka.


...


Runa baru saja memasuki rumah, setelah bimbel tadi Runa langsung memutuskan untuk balik ke rumah, tanpa kemana-mana terlebih dahulu.


Tadi Runa sempat mampir sebentar ke toko Bunda buat ambil kunci, Runa lupa membawa kunci untuk tadi pagi, alhasil dirinya harus mampir sebentar ke toko.


Runa menghempaskan tubuhnya ke atas sofa, helaan napas beberapa kali terdengar. Hari ini cukup melelahkan baginya, lelah dengan pelajaran serta lelah dengan permasalahan.


"Kapan masalah ini kelar?" gumam Runa sambil menatap langit plafon, pertanyaan itu selalu berputar di kepala.


Lantas dia mengubah posisinya menjadi duduk, karena tak ingin berlama-lama melamun tak jelas di ruang tamu, Runa memutuskan untuk pergi ke atas sekalian mandi, badannya sudah meminta untuk berendam.


Mungkin dengan berendam beberapa menit, bisa membuat pikiran Runa menjadi fresh.


Di lain tempat, Shaka baru saja menyelesaikan ritual mandinya. Melangkah ke dapur untuk mengisi perut yang sedari tadi sudah berbunyi.


"Kabar kak Runa gimana?" Ale datang dari ruang keluarga, cewek itu menuangkan susu ke dalam gelas, sambil melirik sekilas ke arah Shaka.


"Mana gue tau,"


Ale hanya mengangguk paham. "Gue lupa, lo berdua masih berantem ya? Aduh, kapan selesainya kalau .... lo pentingin cewek lain yang asal usul nya belum jelas." Ale melanjutkan ucapannya yang menggantung tadi.


Shaka hanya memutar bola mata jengah. "Bang, Bang, kapan lo mau cerita ke kak Runa? Sampai kak Runa tau dari mulut orang lain lagi?" tanya Ale kembali, dia mendengus sebal ketika pertanyaannya di acuhkan begitu saja oleh Shaka.


"Lo tuh kalau dikasih masukan dengerin kek, kalau lo gak bisa buat melakukannya, sekiranya lo bisa buat denger!" Ale seketika menjadi kesal. "Gue ngomong tuh sama lo! Gak hargain banget jadi orang." lanjut Ale.


"Hem terus?"


Ale mengepal kedua telapak tangannya dengan erat, menahan emosi yang sedari tadi memendam di dalam hati. "Sialan lo! Sumpah lo makin ke sini makin berubah tau gak? Gue do'ain deh semoga hubungan lo sama kak Runa cepetan membaik, sebelum masalah baru datang lagi." Setelah berkata demikian Ale memilih naik ke atas.


"Bangsat banget, punya Abang satu keras kepala nya gak ketulungan. Lo kenapa sih Bang, makin kesini makin berubah," Ale masuk ke dalam kamar dengan hatinya yang gundah, perasaan kesal, marah dan sedih semuanya bercampur aduk menjadi satu.


...


Gadis itu memandangi pantulan dirinya sendiri di depan cermin. Gadis itu memakai pakaian kaos lengan panjang polos serta celana joker hitam tak melupakan jaket rajut berwarna coklat. Rambut panjangnya dia cepol begitu saja dan membiarkan beberapa anak rambut yang berjatuhan.


Malam ini, ia putuskan untuk keluar rumah. Memilih untuk menghirup udara segar di malam hari, mencoba untuk menikmati malam minggu yang biasanya berdua menjadi sendiri.


Ia mengambil sling bag berwarna hitam, dan memakai sepatu sandal berwarna putih. Ia memandang kembali dirinya di depan cermin, di rasa semuanya pas, Runa memutuskan untuk turun ke bawah.


Sesampainya di bawah, Runa melihat Arfan yang lagi santai di ruang tamu dengan se-toples cemilan. Melangkah kan kaki mendekat, Runa mengulurkan tangannya ke Arfan, sambil meminta izin untuk keluar.


Arfan mendongak, alisnya berkerut menatap penampilan Runa dari atas sampai bawah, lalu berkomentar. "Mau kemana lo? Rapi amat, mau kencan ya lo sama Shaka?" tunjuk Arfan.


"Gak, Runa mau keluar sebentar ke depan." jawab Runa sejujurnya.


Berdecak sebal. "Elah, jujur aja kali kalau mau malmingan sama Shaka."


"Gak Bang, Runa mau keluar sendiri." ujar Runa dengan sejujur-jujurnya.


"Punya pacar, jalannya sendiri gimana sih? Ya udah sana keluar, awas pulang malam-malam, gue kunci lo di depan rumah." Kata Arfan.


"Jahat amat jadi Abang!" sahut Runa.


"Biarin, ntar viral gue dapat duit." gurau Arfan. "Udah sana, mau gue antar gak keluar nya?" mumpung Arfan lagi santai juga.


"Gak usah, cuma depan doang kok. Runa pamit ya, assalamu'alaikum!" tak lupa mengecup singkat punggung tangan Arfan, Runa melangkah kakinya keluar.


"Yok bisa sendiri!" memberikan semangat pada diri nya sendiri adalah hal yang Runa lakukan setiap saat. Kalau bukan diri kita sendiri yang beri semangat lantas siapa?


...


Di sebuah cafe yang cukup ramai, seorang lelaki dengan kemeja putih nya tengah sibuk menatap tumpukan berkas yang sudah lama tidak dia pegang.


"Kepala gue pecah lama-lama!" katanya ber desis. Sedangkan cowok di depannya tertawa kecil.


"Sortir aja dulu, kerjain setengah. Besok lanjut lagi." saran lelaki itu.


"Kalau pun bisa gue juga mau gitu, tapi masalahnya ini harus selesai besok."


"Lagian lo juga aneh, udah punya kerjaan kelayapan mulu jadi bocah." Sahut nya kembali.


"Menikmati masa remaja." katanya bergurau. "Udah Ger, gue udah kerjain setengahnya, setengah lagi lo yang urus gue mau keluar bentar. Cari angin," ujar nya sambil menepuk tumpukan berkas.


"Entar gue kerjain." balas Geri.


"Awas aja kalau lo lupa, gue potong gaji lo!" tunjuk lelaki itu, membuat Geri tertawa.


"Mainnya potong gaji nih, ya santai aja Lang. Gue kerjain ini, tapi setelah kerjaan gue kelar dulu. Udah sana keluar cari angin, sekalian cariin cewe buat gue." Geri terkekeh pelan, melihat ekspresi Galang yang berubah dalam sekejap.


"Ya gue bantu doa aja, semoga aja ada yang mau sama cowok yang kelakuan nya kayak lo." Galang langsung berlari keluar dari ruangannya sambil tertawa ngakak.


"Sialan lo!" umpat Geri.


...


Runa berada di sebuah taman yang tak jauh dari rumah, tepat sekali di depan taman ada sebuah cafe, mungkin saja baru di buka, karena Runa baru melihatnya hari ini.


"Matcha latte nya satu ya," ujar Runa pada western, gadis itu berdiri sambil menunggu pesanannya.


"Rame banget," manik mata itu mengelilingi setiap sudut cafe, bukan hanya karena malam ini malam minggu namun, tempatnya juga sangat instagramable sekali.


Tak lama minuman Runa datang, gadis itu tersenyum lalu membayarnya. Runa memilih untuk duduk di luar, akibat didalam cukup banyak orang. Menatap padatnya jalan yang ramai, suara klakson bersahutan di temani dengan suara ramai dari orang-orang yang berlalu lalang.


"Sendiri aja neng," cetus seseorang yang reflek membuat Runa menoleh ke samping.


"Galang?" Lagi-lagi dirinya bertemu dengan cowok itu.


"Boleh duduk gak nih?" tanya Galang.


Runa mengangguk cepat lantas mempersilahkan Galang duduk di sampingnya. "Eh boleh kok, duduk aja." ujarnya memberikan izin. "Kok kamu ada disini?"


"Niat gue tadi mau pulang, tapi gue mampir bentar ke minimarket depan, eh pas mau balik pulang ngelihat lo di sini." jelas Galang, membuat Runa mengangguk mengerti.


"Lo kenapa? Diam merenung kayak banyak beban hidup aja. Sini cerita sama gue, mungkin bisa gue bantu." Galang berkata sambil tertawa kecil.


"Gak, lagi nikmatin jalanan malam."


"Ya, ya, ya. Btw kok lo sendiri sih? Pacar lo mana?" tanya Galang, sedetik kemudian lelaki itu sadar dengan ucapannya dan langsung meminta maaf pada Runa. "Maksud gue, kok tumben aja sendiri gitu."


"Santai aja, gak usah takut gitu. Gak, aku cuma mau jalan-jalan bentar buat menenangkan pikiran dan hati." seru Runa.


"Ya ampun kasihan banget temen gue, ya udah, karena gue di sini. Gimana kalau gue temenin lo ngobrol? Sekalian sharing cerita?" tawar Galang.


Kedua remaja itu memutuskan untuk berbagi cerita, mulai dari sekolah hingga cerita absurd yang tak masuk akal. Sesekali mereka tertawa bersama. Kadang yang tak berstatus lebih mengasikkan daripada yang berstatus.


Hingga pertanyaan Runa tiba, berhasil membuat Galang yang tadinya ingin bercerita terhenti. Pertanyaan yang sudah dari lama Runa pendam dalam diri.


"Galang," Runa memanggil lelaki itu tiba-tiba.


Galang menoleh ke samping, sambil mengangkat sebelah alisnya. "Ada apa?"


"Aku boleh minta tolong gak?" tanya Runa sambil melilitkan kedua jari telunjuk dengan ragu-ragu.


"Boleh, selagi gue bisa bantu lo. Gue bantu, lo mau minta tolong apa?" Galang bertanya balik.


Gadis itu terdiam seketika, berkali-kali mencoba mengatur napasnya. "Aku boleh minta tolong buat ..... kamu ceritakan masa lalu kak Shaka gak?" pertanyaan yang berhasil Runa pendam dalam beberapa bulan terakhir.