Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Tanggung jawab Shaka



Setelah liburan satu minggu ini, cukup membuat kedua pasangan itu merasa senang. Tak menyangka bahwa sudah satu minggu mereka menjalani bahtera rumah tangga.


Kini saatnya mereka menyambut kembali kerjaan mereka masing-masing. Dengan memakai kemeja mereka masing-masing keduanya siap untuk berangkat ke kantor.


Bukan, tepatnya Runa lah yang siap terlebih dahulu. Karena Shaka masih sibuk memasang dasinya di depan kaca.


Shaka mengerutkan dahinya, melirik Runa dari arah kaca. "Kamu mau kemana sayang?" tanya Shaka, sembari merapikan dasinya.


"Kerja," balas Runa singkat.


Memasukkan beberapa berkas ke dalam tas kerja Shaka. Mendengar jawaban yang terlontar dari mulut istrinya itu membuat Shaka terkekeh kecil.


Berbalik badan, dan mencegah Runa untuk melakukannya lagi. "Sebentar!" cegah Shaka.


Runa terpaksa menghentikan aktivitasnya, gadis itu mendongakkan kepala menatap Shaka bingung. "Ada apa?"


"Sini duduk dulu," suruh nya, menarik Runa untuk duduk di atas sofa.


"Mulai hari ini, aku gak kasih izin kamu untuk kerja." tegas Shaka.


"Loh kok gitu?" protes Runa. "Kalau kamu larang aku kerja, gimana sama kontrak nya?"


Shaka kembali tertawa kecil. "Kamu lupa siapa atasannya?" tanya Shaka seraya menaik-turunkan alisnya.


Terdiam cukup lama, Runa menepuk jidatnya lupa. "Hehe lupa," Runa menyengir.


"Mulai hari ini, tugas kamu hanya menjaga rumah dan nggak lebih. Untuk mencari uang, biar aku yang cari. Karena selesai mengucapkan ijab kabul kemarin, tanggung jawab Ayah udah ganti sama aku!" tutur Shaka sambil merapikan anak rambut Runa ke belakang telinga.


"Paham?" tanya Shaka kembali.


Runa mengangguk mengerti. "Paham,"


"Jadi mulai hari ini aku gak kerja lagi?" cicit Runa pelan.


"Kerja, di rumah. Kalau di kantor itu kerjaan aku!" sahut Shaka. "Sekarang turun yuk! Sarapan, kamu udah bikin kan?"


"Sudah, ada di bawah." Membalas genggaman tangan Shaka, keduanya menuruni anak tangga untuk ke meja makan.


"Makasih sayang,"


"Sama-sama, oh iya by. Kalau aku keluar berdua sama Vanya boleh gak?" tanya Runa sambil memakan sarapannya.


"Boleh," singkat Shaka. "Cuma harus diantar sama Pak Budi ya?" lanjut Shaka.


Pak Budi adalah sopir mereka yang baru saja bekerja beberapa hari kemarin, dan tugasnya adalah untuk mengantarkan Runa kemanapun gadis itu mau.


Runa mengacungkan jempolnya setuju.


Sarapan pagi telah usai, Shaka bersiap-siap untuk berangkat ke kantor, diantar Runa hingga depan pintu. Keduanya berpisah untuk beberapa waktu ke depan.


"Aku berangkat dulu, kalo ada apa-apa langsung kabari aku. Jangan sampai lupa!" kata Shaka mengingatkan. Sambil memeluk Runa dan mengecupnya singkat.


"Iya hati-hati jalannya,"


Shaka mengangguk, lalu berjalan memasuki mobil. Pagi ini, Shaka tak dijemput Leo untuk ke kantor. Karena pria itu sedang mengurus beberapa laporan kerja akibat Suaka tak masuk beberapa hari kemarin.


Melambaikan tangannya ketika mobil Shaka mulai meninggalkan rumah. Masuk ke dalam tak kala mobil Shaka yang mulai tak terlihat.


...


Saat ini Runa tak tau mau melakukan apa. Karena gadis itu baru saja menyelesaikan tugas rumahnya. Menyandarkan tubuhnya pada sofa, menatap TV yang menayangkan sebuah serial drama.


"Kenapa aku gak ajak Vanya aja kesini, kan kak Shaka udah kasih izin." Runa mulai menyalakan ponselnya dan mencoba menghubungi Vanya.


Runa ingin mengajak sahabatnya itu untuk membuat kue bersama. Telah lama mereka tak berdua bersama, apalagi untuk membuat sesuatu rasanya sudah jarang lagi.


...Vanya...


^^^Vanyaaaa, ayo kita bikin kue bareng|^^^


|Ayoo di rumah lo ya? Sekalian mau numpang hihi


^^^Oke gak masalah aku tunggu|^^^


|Yaudah jam 11 an gue ke sana, lagi ada kelas nih


Sambil menunggu kedatangan Vanya, Runa memutuskan untuk bangkit dari rebahan dan berjalan ke arah dapur. Mulai menyiapkan bahan-bahan yang mereka butuhkan untuk membuat kue.


Di kantor, Shaka baru saja menyelesaikan beberapa laporan untuk bekerja sama dengan perusahaan yang ada di China.


Dari awal ia memasuki kantor, tak sedikit yang mengucapkan selamat atas pernikahan Shaka dan Runa. Dan tak sedikit juga yang merasa patah hati, karena mereka tak bisa mengagumi Shaka.


Meski begitu mereka bahagia karena atasan mereka berhasil menikahi salah satu teman mereka, yaitu Runa.


"Selamat Tuan atas pernikahan anda dengan Runa," Leo tersenyum tulus. Tak dapat dipungkiri sekertaris itu juga merasa senang.


Menepuk pundak Leo beberapa kali, Shaka berkata. "Makasih Leo, saya juga ucapkan makasih atas kerja keras kamu satu minggu ini."


"Terima kasih kembali, itu sudah menjadi tanggung jawab saya,"


"Baiklah, dan untuk bonusnya. Akan saya naikkan gaji kamu bulan depan," katanya pada Leo.


...


Jam telah menunjukkan pukul 11 siang, Runa sedang duduk di atas kursi teras. Sembari menunggu kedatangan Vanya yang sebentar lagi akan tiba.


Tak berapa lama, suara mobil berhenti terdengar. Membuat Runa bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu gerbang.


Benar, di sana Vanya berdiri. Usai memarkirkan mobilnya dengan tepat, perempuan dengan rambut pendeknya berlari menghampiri Runa.


"Runaaa!" pekik Vanya.


Mereka saling berpelukan, melepas kerinduan.


Vanya sedikit menguraikan pelukan. "Kabar lo baik kan?"


"Baik kok alhamdulillah, yuk masuk!" ajak Runa.


Melihat Runa yang semangat dan tersenyum seperti ini, membuat Vanya tersenyum lega. Akhirnya, tiba saatnya Runa bahagia dengan pilihannya. "Gue lupa, nih gue bawain minuman buat lo." Vanya menyerahkan papper bag berisikan beberapa minuman.


"Makasih Vanya, sebenarnya gak usah repot-repot tau." Runa menerima bingkisan dari Vanya, dan menaruhnya ke atas meja.


"Santai aja kali, lagian tadi gak sengaja lewat sih. Sekalian deh dibeli," jelas perempuan itu.


"Btw bikin sekarang apa gimana?" Rasanya Vanya tak sabar untuk membikin sesuatu, meski dirinya tau jika nanti tak akan berjalan lancar.


"Sekarang juga boleh, nanti juga gak masalah. Biar kamu istirahat dulu gitu," tutur Runa.


"Gak usah deh sekarang aja. Mumpung gue masih semangat!" Vanya menyengir.


Mereka berdua pun memulai aksi mereka di dalam dapur, dimulai dengan memakai celemek dan mulai menuangkan satu persatu bahan ke dalam wadah.


"Gue mau minta maaf dulu deh, takut kayak kemarin!" ungkap Vanya sambil mengaduk bahan.


Runa terkekeh. "Hahahaha, bisa aja kamu Van. Oh iya ngomong-ngomong soal kamu sama kak Rasya gimana?"


"Ya begitulah. Kadang ribut kadang baikan, kadang baikan kadang ribut. Bingung gue," balasnya.


"Katanya kak Rasya mau lamar kamu ya? Itu gimana ceritanya,"


"Sebenarnya sih iya, mau lamar gue. Cuma gegara nyokap yang kasih syarat aneh jadinya gagal,"


Runa menautkan alisnya. "Aneh? Maksudnya?"


"Gue harus lulus dulu, baru boleh nikah. Lo tau kan kalau gue harus ngulang skripsi akibatnya salah, jadinya gue batal di lamar sama Rasya," jelas Vanya membuat Runa manggut-manggut paham.


Syarat mutlak dari sang Mama membuatnya harus berjuang untuk menyelesaikan skripsi. Karena Vanya telat kuliah jadinya begini, jadinya begini.


"Malah bagus dong Van. Berarti Mama kamu mau kamu yang terbaik, dengan ini kamu bisa belajar gimana caranya membagi waktu dengan baik dan sebagainya." kata Runa sedikit menasihati.


Bergumam singkat. "Iya sih, cuma gue mau tanya deh sama lo. Lo ngerjain skripsi berapa lama sih? Gue setahun kagak selesai-selesai anjir!"


"Berapa ya?" Runa mencoba mengingat-ingat. "Kalau gak salah 8 bulanan deh, atau kurang ya? Nggak tau sih, segituan pokoknya." imbuh Runa.