Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Keributan pagi hari



Suara ayam berkokok terdengar, yang artinya pagi hari telah tiba. Hari baru telah dimulai, dengan seragam yang melekat pas pada tubuh mungilnya.


Runa berjalan menuju balkon, gadis itu perlahan membuka pintu.


Menghirup udara pagi yang masih begitu segar. "Selamat pagi dunia!" perlahan Runa buang pelan-pelan.


Runa tersenyum menatap luar, beberapa motor telah berlalu-lalang. Memulai aktivitas mereka masing-masing.


Tak ingin berlama-lama, Runa kembali masuk dan menyambar tas lalu turun ke bawah. Ternyata sudah ada bunda sedang memasak.


"Selamat pagi bunda!"


"Selamat lagi sayang, aduh makin cantiknya. Pasti jemput Shaka ya?" bisa aja bunda godanya.


"Kan Runa cantik bunda, ih gak tuh bukan karena kak Shaka kok." malu-malu kocheng.


"Oh iya, aku bantu ya bun masaknya. Sini," sebelum itu Runa mengambil celemek agar pakaiannya tak kotor.


Sarapan telah siap, bertepatan dengan kehadiran bang Arfan yang udah rapi. "Pagi bunda, pagi adik gue yang jelek." Runa langsung menatap Arfan, tuh kan di ulangi lagi.


"Pagi Abang ku jelek," Runa juga gak mau kalah dong.


Arfan mendelik tak terima. "Heh mulut lo!"


"Lha kenapa kan bener? Abang bilang Runa jelek, berarti abang juga jelek. Orang kita sedarah," balas Runa santai.


"Karepmu lah, capek gue."


"Dih bilang aja, abang kalah debat kan sama Runa." ejek Runa.


"Pagi-pagi ya, kalian berdua ribut aja, udah sekarang kita sarapan dulu biar gak telat nantinya." lerai Bunda.


"Gue antar lo berangkatnya," ujar Arfan memasukan sesuap nasi ke dalam mulut.


"Bang kayaknya gak usah deh, aku dijemput temen soalnya." ujarnya.


"Sapa?" raut wajah Arfan berubah drastis.


"Temen Runa, dia bilang bakal jemput aku jadi abang berangkat duluan gak papa,"


"Gue tanya siapa yang jemput lo," terlihat sedikit berbeda.


Karena dari kecil Ayah Bima dan bang Arfan selalu menjaga Runa dan cukup memperketat pertemanan Runa, alasannya ya takut salah jalur.


Banyak sekali anak jaman sekarang yang salah pergaulan, bahkan ingin viral dengan cara menjatuhkan harga diri mereka dengan melakukan trend yang cukup membuat malu orang.


Dan hal itulah yang ayah Bima tak inginkan, takut nantinya malah kenapa-napa, lebih baik dicegah dari sekarang. Walaupun begitu Runa masih tak masalah untuk bermain dengan syarat menjaga dirinya baik-baik.


Bunda yang mengetahui jika terjadi peperangan di pagi hari, langsung mengalihkan topik. "Berantem nya lanjut nanti ya, gak baik berantem depan makanan. Ayo makan lagi, udah Runa nanti bilang aja ke temen kamu, kalau jadi jemput biar abang langsung berangkat kalau gak jadi biar sekalian abang antar." jelas Bunda.


Runa mengangguk mengerti, segera dirinya memberi pesan ke Shaka apakah cowok itu jadi menjemputnya?


...Es batu 🧊...


^^^Aruna^^^


^^^Pagi..^^^


^^^Kak Shaka jadi jemput aku gak pagi ini?^^^


Setelah mengirimkan pesan itu pada Shaka, Runa melanjutkan kembali sarapannya, begitupun dengan bunda dan Arfan.


"Lo yakin temen lo jemput? Biar gue antar aja, biar lo gak telat nantinya. Udah jam segini juga, buruan gue antar." Arfan dan Runa dari tadi masih ribut Arfan yang memaksa Runa untuk diantar olehnya, dan Runa yang tak mau membuat Shaka menunggu.


"Gak usah bang, lagian masih 45 menit lagi kok, tenang aja. Aman. Mungkin temen ku masih dijalan, abang berangkat aja kan abang ada kelas pagi," ucap Runa.


Ketika Arfan ingin pamit handphone Runa bergetar, dengan buru-buru gadis itu membukanya, ternyata Shaka tak bisa menjemputnya ada urusan katanya.


...Es batu 🧊...


Es batu 🧊


Maaf na, aku ada urusan sama anak2 pagi ini ga bisa jemput dulu ya..


^^^Aruna^^^


"Bang, Runa bareng hehe," ucapnya diakhiri kekehan.


"Temen lo?" tanya Arfan.


"Gak bisa jemput, dia ada urusan soalnya. Jadi Runa diantar abang ya, bunda Runa pamit sekolah dulu ya, bunda jangan kerja dulu, baru balik kemarin hari ini istirahat aja ya. Assalamu'alaikum bunda," tak lupa menyalami tangan Bunda Yuna dan mengecup kedua pipinya, begitupun dengan Arfan.


"Waalaikumsalam, Hati-hati ya! Jangan ngebut-ngebut bang bawa mobilnya." Dan diacungi jempol sama Arfan.


"Siap bunda!"


…


"Aku masuk dulu ya bang, abang hati-hati ke kampusnya, jangan bolos lagi," ucap Runa mengingatkan kejadian beberapa bulan yang lalu dimana Arfan ketahuan bolos oleh Runa.


"Lo jago bener bikin gue takut aja, udah sana masuk biar gak dihukum lagi kayak waktu itu. Belajar yang rajin biar bisa kalahin gue, biar dapat beasiswa juga," ucap Arfan.


"Iya bang, pasti Runa bakal rajin kok, aku masuk duluan ya, bye bang!" tak lupa menyalami tangan Arfan.


Sementara di lain tempat, tepatnya di gudang sekolah, semuanya berkumpul keadaan yang semula nya hening menjadi ricuh.


Evan -anggota Alastair adik kelas Shaka datang dengan nafas tersengal-sengal. Membuat semuanya menatapnya heran.


"Bang Shaka! Gawat!" Teriak Evan heboh.


Shaka yang lagi santai langsung menegakkan badannya, menatap Evan dengan serius. "Ada apa?"


"Entar gue nafas dulu," cowok itu mengatur nafasnya dirasa telah stabil Evan melanjutkan ucapannya. "Asep masuk rumah sakit gara-gara berantem sama anak Gundala."


"Kok bisa?" sekarang giliran Rayn yang bertanya.


"Gue gak tau masalahnya apa, yang penting sekarang Asep masuk rumah sakit dan dirawat, katanya sih sempet pingsan." jelas Evan yang membuat anak-anak semakin berfikir.


Ada masalah apa? Gak mungkin anggota Alastair akan menyerang terlebih dahulu sebelum dipancing. Kayaknya ada yang gak beres.


"Dirawat dimana?" Rasya yang dari tadi menyimak bertanya.


"Kalau gak salah, rumah sakit kasih ibu tadi pihak sananya telpon gue. Keluarganya gak bisa dihubungi semua."


"Kita ke sana nih?" tanya Tara.


"Cabut," perintah Shaka yang di angguki sebagian anak. Tak semua karena ada sebagian ulangan dan tak bisa bolos kelas.


…


Sepuluh motor berjejer rapi, semuanya melepaskan helm dan masuk ke dalam rumah sakit, mereka semua menjadi pusat perhatian rumah sakit.


Dengan pakaian yang tak rapi, serta jaket yang bergambar lambang mereka serta wajah. tampan yang membuat semua orang terpukau.


"Maaf Sus, saya mau tanya. Pasien bernama Asep Bargatara ada di ruangan mana ya?" Tanya Ismail -Anggota inti Alastair angkatan 19.


"Sebentar ya mas saya cek sebentar," ucap suster. "Ada di ruangan Kamboja ya mas lantai dua nomor 274" jelas suster itu.


Semuanya langsung berlari menuju ruang rawat Asep, setelah cukup lama mereka mencari tempat yang dituju, mereka telah berdiri di ruang Kamboja nomor 247.


Perlahan pintu terbuka, di atas brankar ada Asep yang sedang di periksa oleh suster.


"Obatnya jangan lupa diminum ya, sama perbannya jangan lupa diganti juga. Saya permisi dulu," pesan suster tersebut.


"Bang Shaka?" kening Asep berkerut baru mengetahui ternyata Shaka dan yang lain menunggu Asep diluar.


"Gimana keadaan lo?" tanya Shaka.


"Puji Tuhan, gak papa udah membaik juga."


"Kok lo bisa dikeroyok anak Gundala?" Gaga bertanya, wakil Alastair angkatan 19.


"Lo gak cari masalah duluan kan?" Shaka dengan nada datarnya membuat anak-anak was-was.


Rasya dan Ismail yang mengetahui jika ada suatu hal yang tak beres langsung mengambil alih. "Nanti aja ceritanya, mending lo makan nih bubur."