Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Balik Jakarta



Runa sudah menyiapkan segala hal untuk balik ke Jakarta siang ini. Sehabis mengurus surat izin asrama Runa kembali ke dalam kamar dan mengangkat tas keluar asrama.


"Biar ku bantu," Rama mengambil alih koper berukuran sedang dari tangan Runa. Dirinya juga ikutan ke Jakarta, dan akan memastikan bahwa Runa baik-baik saja.


Padahal semalam Runa sudah bilang kalau tak mengapa jika dirinya pulang sendiri di Jakarta. Namun semuanya kembali ke awal, Rama tak suka dibantah apalagi perintah nya ditolak mentah-mentah.


"Kamu beneran ikut Ram? Aku nggak enak loh kalau kamu harus bolos cuma karena aku," ujar Runa tak enak.


"Gak terima penolakan," tegas Rama sambil memasukkan koper ke dalam bagasi.


"Keberangkatannya jam berapa?" tanya Rama. Yang sibuk dengan memasang seat belt.


"Jam 12 siang," jawab Runa membuat Rama mengangguk paham.


Selanjutnya tak ada pembicaraan diantara ke-dua pasangan, Sama-sama saling diam. Rama yang sibuk dengan jalanan dan Runa yang sibuk dengan jalanan luar.


"Kamu balik ke Jakarta ngapain?" tanya Rama, memecahkan keheningan.


"Mau pulang aja sih, udah lama gak ketemu Bunda. Sama sekalian mau reuni sama anak-anak," jelas Runa.


Gigi Rama bergemeletuk mendengar ucapan Runa. "Berarti kamu bakal ketemu cowok itu lagi?" tanya Rama dengan nada tak suka.


Rama memang sudah tau tentang masa lalu Runa, dan hubungan apa yang pernah mereka lakukan dulu.


"Udah mantan Ram,"


"Kamu bisa bilang mantan, cuma bisa aja kan kalau kamu masih sayang sama dia." Rama berkata dengan nada menyindir.


Memutar bola mata malas. Selalu saja begini, kalau Runa ingin balik akan ada saja keributan diantara mereka berdua.


"Kita udah gak ada apa-apa Ram," ujar Runa. "Udahlah aku gak mau ribut sama kamu," sambung Runa dan memilih menatap ke arah luar.


Di rumah sakit sendiri, keadaan Lea sudah membaik. Setelah dirawat seharian penuh, dia diizinkan untuk pulang.


"Sini Pa biar Shaka yang bawa," Shaka mengambil alih tas hitam berisikan beberapa pakai Lea.


Hari ini Ale tak ikut menjemput Lea pulang, akibatnya di sekolah ada pelajaran tambahan, yang membuat Ale harus mengikutinya.


Al mengangkat tubuh Lea untuk duduk di samping supir, sedangkan Shaka memasukkan kursi roda di bagasi belakang. Setelah itu mobil Alphard berwarna hitam perlahan meninggalkan rumah sakit.


"Jemput Ale sekalian," suruh Lea pada Al.


"Keadaan Mama gimana?" tanya Ale ketika sudah masuk ke dalam mobil.


"Udah baikan, gimana sekolah kamu lancar kan?" tanya Lea.


"Paling juga cari masalah," bukan Ale yang menjawab melainkan Shaka.


"Kalau itu mah lo yang ada," sahut Ale.


Lea dan Al sama-sama menggelengkan kepala, melihat tingkah laku kedua putra-putri mereka. Tak ada hari tanpa ribut.


...


Runa dan Rama baru saja tiba di bandara Soekarno-hatta, selesai mengambil koper mereka berjalan keluar. Di sana sudah ada pak Bejo selaku supir milik kak Jihan.


"Sini neng biar bapak bantu," Pak Bejo dengan sigap membantu menaruh barang bawaan Runa ke dalam mobil.


"Cuma supir," bisik Runa pada Rama. Supir saja dicemburuin, dasar Rama!


Rama membukakan pintu untuk Runa masuk, sedangkan pak Bejo hanya menggelengkan kepala. Namanya juga anak muda. Di rasa semuanya sudah aman, Pak Bejo mulai menjalankan mobil.


Padat nya jalanan kota dipenuhi oleh suara klakson yang bersautan, ditambah dengan bisingnya orang-orang yang pada protes semakin membuat suasana semakin panas.


Runa menghela napas panjang, gadis dengan dress code putih serta rambut yang dia cepol bebas menatap ke arah luar jendela.


Satu sisi dia kesal akibat orang-orang tak mematuhi lalu lintas, namun di sisi lain dirinya juga kesal akibat tak sampai-sampai.


"Masih lama kah?" tanya Runa dalam hati.


Mengambil sebotol air putih lalu meneguk nya hingga tandas, dikata marah tak bisa karena dirinya tau bagaimana padatnya kota ini. Ditambah juga dirinya baru saja pulang dari bandara.


"Masih sama kayak dulu," ungkapnya kembali. Flashback masa lalu seakan berputar kembali di kepala, satu persatu kisah yang terukir kini terlihat jelas dipikirkan nya.


"Pak Bejo masih lama ya?" tanya Runa pada Bak Bejo supir yang selalu mengantarkan jemput nya ketika berada di Jakarta.


"Iya neng masih lama," jawab Pak Bejo.


Menghela napas sejenak. "Ram," Runa menatap sang pacar sekilas. "Aku sama dia udah gak ada apa-apa kok,"


Rama memicingkan matanya. "Yakin?"


"Ram come on! Aku males berantem," Runa menghela napas lelah, lelah dengan sifat Rama yang seperti ini. Kadang Runa ingin jika Rama menjadi nakal saja, ketimbang menjadi pencemburu.


"Maaf," Runa mengangguk singkat sebagai balasan.


"Tidur aja nanti kalau udah sampai aku bangunin," Rama menarik Runa ke dalam dekapan, menyandarkan di dada bidangnya. "Kamu pasti capek," sambung Rama. Tangannya mengusap lembut punggung Runa.


Runa mengangguk setuju, tubuhnya sudah cukup lelah hari ini, mana tadi di pesawat hanya beristirahat sebentar. "Nanti bangunin ya," pesan Runa pada Rama.


...


"Oh iya Bang, kamu jadi ke acara reuni sama temen-temen?" tanya Lea pada Shaka.


Shaka yang mendapat pertanyaan langsung menoleh. "Gak Ma, Shaka batalin aja, Shaka mau di rumah aja sekalian mau jaga Mama."


"Halah lambemu, jaga Mama. Bilang aja kalau lo nggak bisa move on dari mantan," cibir Ale dengan menekankan kata mantan.


Shaka mendelik tajam, menatap Ale yang sama-sama menatap ke arah nya juga, dengan tatapan yang siap-siap mengajak ribut.


"Sudah-sudah," lerai Lea. Lebih baik melerai terlebih dahulu sebelum perang antara adik dan kakak terjadi. "Nggak usah kamu batalin, Mama nggak papa kok. Lagian kan ada Ale sama ada Papa kamu,"


"Tuh bener. Ikutan gih," sahut Ale dengan cepat. "Sekalian Bang, tp depan mantan." Ale menepuk pundak Shaka dua kali, sambil menaik turunkan alis menggoda.


Harga diri Shaka sudah tak ada artinya lagi di depan Ale, rasanya Shaka ingin menenggelamkan kepala adik tak ada akhlak nya itu ke dalam sungai Amazon.


"Nyamber mulu tuh mulut, yang tanya siapa yang jawab siapa." sungut Shaka.


Ale menyengir tanpa dosa. "Gue wakilkan," ujar nya.


"Bunda!" pekik Runa, sedikit berlari dia menghampiri sang Bunda yang sedang menyapu halaman.


"Jangan lari-lari Na!" tegur Rama.


"Sayang," Yuna dengan sigap memeluk tubuh mungil Runa, keduanya sama-sama melepas rindu.


Mereka kembali harus berjarak, akibatnya Bunda balik lagi ke Jakarta dan Runa memilih untuk melanjutkan kuliah, dengan mengambil jurusan sastra di salah satu universitas yang berada di Jogja.


"Bunda apa kabar?"


"Baik alhamdulillah, gimana kabar kamu baik-baik aja kan?" tanya Yuna sambil merapikan anak rambut ke belakang telinga.


"Baik dong," jawab Runa dengan girang.


"Kesini sama siapa?" tanya Bunda Yuna, sambil menatap sosok lelaki di belakang Runa. "Rama!"


"Tante," Rama dengan senyum manisnya menyalami tangan Yuna, serta membalas pelukan wanita berbalut hijab yang menutupi kepala.


"Bunda kira kamu kesini sendiri," ujar Bunda yang dapat gelengan dari ke-dua nya.


"Haduhhh ada apa nih rame amat," ujar Arfan baru saja keluar rumah.


"Abang!" pekik Runa dan beralih memeluk Arfan. Runa benar-benar merindukan Arfan, sudah hampir setengah tahun ini Arfan tak menengok nya di Jogja.


Dulu saat Runa masih SMA, Arfan selalu bolak-balik ke Jakarta-Jogja setiap dua minggu sekali. Namun sekarang tak bisa, akibat lelaki itu memiliki pekerjaan ditambah lagi dengan mempersiapkan acara lamaran waktu itu.


"Ditunggu juga di Jogja, malah batal," Runa mencabik bibirnya sebal.


Dirinya sudah sangat exited waktu Arfan memberi kabar akan ke Jogja, namun nyatanya tak jadi. Katanya ada sesuatu hal yang harus Abangnya itu lakukan sampai-sampai membatalkan keberangkatan.


Arfan menyengir. "Ada urusan gue,"


"Urusan? Paling juga rebahan," semprot Runa. Membuat Bunda dan Rama yang menjadi penonton tertawa.


Mendengus kesal, ribut dengan Runa tak akan ada habisnya. "Ram, kesini juga lo!" Arfan dan Rama saling berpelukan sekilas.


"Jangan ribut dong gak enak tuh dilihatin. Sekarang kita masuk ke dalam, udah sore. Kalian pasti capek dan perlu istirahat," Bunda menggiring mereka bertiga untuk masuk ke dalam.


"Biar gue bantu," Arfan membantu mengangkat tas Runa masuk ke dalam.


Untuk Arfan sendiri, dia sudah tau lebih dahulu Rama seperti apa. Sebelum Runa kenal dengan lelaki berdarah campuran itu, Arfan terlebih dahulu lah yang sudah tau.


Kini Arfan malah senang, karena Runa bisa melupakan lelaki di masa lalu nya. Dan Arfan berharap jika Runa akan bahagia nantinya, tentu dengan lelaki yang tepat.