Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Perhatian Shaka



TIDAK MENERIMA TANGGUNG JAWAB JIKA KALIAN KESAL!! SEKIAN TERIMA GAJI 🙏


...


Shaka hanya bisa menatap kepergian teman-temannya, lelaki itu menatap kelima inti Alastair yang duduk berdampingan dengan Vanya Runa.


Tangan Shaka seketika mencegah Kania. "Lo mau kemana?" Tanya Shaka, mencegah Kania pergi.


"Sa, kayaknya ucapan mereka bener deh, lebih baik aku pergi aja, aku gak mau buat kalian berantem kayak gini." ujar Kania, bersiap-siap untuk pergi.


"Gak ini bukan salah lo, udah duduk aja." Pintah Shaka, dia menarik Kania untuk duduk kembali.


Kania hanya terdiam sambil menundukkan. "Tapi ucapan mereka bener, aku pergi aja gak papa."


"Gak usah dengerin omongan mereka! Lo gak salah," kata Shaka sedikit membentak.


Kania lantas memasang wajah melasnya, menatap manik Shaka dalam-dalam. "Maafin aku ya, gara-gara aku kalian jadi berantem." Tuturnya.


Shaka berdecak sebal. "Ini bukan salah lo dan berhenti buat salahin diri lo!" Shaka berucap dengan menekan setiap perkataan nya.


Vanya dan Runa lagi asik mengobrol, mereka reflek menoleh ke samping ketika keduanya merasa bahwa ada seseorang yang duduk di samping tempat duduk mereka.


"Loh kalian?" Runa menatap Rasya, Tara, Rayn, Bram dan Arthur dengan ekspresi bingung nya. "Kok kesini?" Tanya Runa.


"Mau ganti suasana aje, di sana udah bosen soalnya." jawab Bram, lelaki itu duduk di depan Runa pas.


"Iya, sana panas bener, makanya pindah sini, adem." Arthur menyahuti, cowok play boy cap badak itu duduk di samping Runa pas, lalu memakan makanan pesanannya yang baru saja datang.


"Tapi untungnya kagak sepanas omongan tetangga." Ujar Tara yang membuat mereka semua tertawa.


Vanya yang mengerti ikutan tertawa, cewek itu menatap Rasya yang duduk tepat di depan bangkunya. Seketika Vanya menjadi patung saja, cewek itu hanya terdiam sambil menatap Rasya dengan kagum.


Tak dapat berkata apa-apa, jujur kekesalannya pada Shaka dan Kania telah tergantikan dengan wajah tampan nan memesona milik Rasya.


"Tatap aja terus, awas tuh mata lepas." Arthur memang tak mengerti suasana saja. Lelaki itu tertawa ngakak melihat ekspresi Vanya yang langsung berubah kesal.


"Nyebelin lo kak!" ujarnya dengan sebal.


Arthur hanya tertawa saja. "Lagian lo liatin Rasya udah kayak liat apa aja, tenang aja Rasya gak bakal ilang kok. Kalau pun iya, gue yakin! Pasti penculiknya bakal terkena mental break down duluan." Sahut Arthur.


"Jangankan mental break down, gue yakin pas liat muka Rasya tuh penculik udah sujud depannya." Tara ikutan menanggapi sambil memakan soto pesanannya.


Runa hanya menggelengkan kepalanya pelan, gadis itu hanya mendengarkan saja. Matanya menatap sekeliling kantin, hingga tak sengaja menabrak sepasang mata yang menatapnya tajam.


Shaka, cowok itu menatap meja Runa dan Vanya dengan tatapan tajam bak elang. Dengan cepat Runa langsung memutuskan kontak mata, bukannya apa-apa, tatapan Shaka benar-benar menyeramkan.


"Runa, gue boleh tanya sesuatu." Rayn bertanya tiba-tiba membuat yang lain sama-sama menatap Rayn juga.


Runa menjawab dengan mengangguk kecil sambil meneguk air putih miliknya. "Boleh kak, tanya aja." Katanya.


"Seberapa dekatnya lo sama Galang? Maksudnya gini, seberapa sering kalian berdua ketemu dan seberapa dekat kalian berdua?" Tanya Rayn, inti Alastair bersamaan menatap Runa begitupun dengan Vanya.


"Lumayan deket, kalau ketemu aku gak tau berapa karena kita ketemuan nya juga gak janjian." Jawab Runa seadanya.


"Maksud lo, lo sama Galang ketemuan nya gak sengaja gitu?" Giliran cowok blasteran itu yang bertanya, yang dibalas anggukan cepat dari Runa.


"Terus Shaka tau gak?" Tara cowok paling absurd itu bertanya.


"Pertanyaan lo bisa gak yang lebih signifikan gitu? Ya mana ada Tara! Orang mereka berdua aja masih ribut, gimana sih lo." Sahut Bram.


"Kayak gak tau Shaka aja sih lo," Arthur menyahut.


Tara menjentikkan jarinya. "Nah itu maksud gue makanya kalau ngomong dengerin dulu."


Rayn dan Rasya yang mendengarkan balasan Runa bernapas lega. "Syukur kalau gitu, tapi lo ingat, Shaka dan Galang masih dendam sampai detik ini, gue cuma mau ingetin lo buat hati-hati." Rasya memberikan peringatan.


"Iya kak, tenang aja, Runa masih ingat soal itu." Meskipun Runa tak tau kejadian persisnya seperti apa, dan hal apa yang membuat kedua geng itu memiliki dendam satu sama lain.


Yang hanya Runa tau adalah, Galang dan Shaka tak memiliki hubungan yang baik. Terbukti dari kejadian waktu itu.


"Btw kak, gue mau tanya dong. Em Kania anak pindahan mana?" entah mengapa Vanya merasakan penasaran yang tiba-tiba pada gadis pindahan itu.


"Katanya sih pindahan Bandung," Jawaban itu berasal dari mulut Bram.


"Oh Bandung," gumamnya berkata. "Sorry aja nih, tapi kenapa gue ngerasa ada yang aneh ya?" batin Vanya bertanya-tanya.


...


Shaka melangkahkan kakinya terburu-buru ke UKS, cowok itu baru mendapatkan info jika Kania tak sadarkan diri akibat asma nya yang kambuh.


Saat asik tengah berkumpul dengan anggota Alastair lainnya, salah satu anggota Alastair menghampiri Shaka dan memberitahu jika Kania tak sadarkan diri di UKS.


Bagus sekali bukan?


"Bang Shaka," Shaka serta kelima temannya mendongakkan kepala, menatap cowok itu dengan mengangkat sebelah alisnya. "Bang, kak Kania pingsan di kamar mandi tadi, katanya sih gara-gara kekurangan oksigen." Jelas cowok bernama Iqbal tersebut.


Shaka langsung bangkit dari tempat duduknya, Laki-laki itu berlari meninggalkan Warjok dengan langkah yang terburu-buru.


"Lo serius Bal?" Tanya Tara.


"Iya Bang, duarius malah, tadi gue yang bawa kak Kania ke UKS sama anak-anak yang lainnya juga." Tutur Iqbal.


"Kok Shaka makin aneh sih? Dia makin kesini makin peduli sama Kania, padahal yang kita kenal, Shaka paling benci buat deket sama cewek kecuali sama yang dia kenal." Kata Arthur terheran-heran, kadang nih Arthur mikir sendiri gitu kok bisa ya Shaka jadi aneh begini.


"Sama, gue juga mikir gitu, awalnya gue seneng banget akibat Shaka udah perlahan lupain masa lalunya, tapi kok makin ke sini makin gak bener gitu." Sahut Rayn, lelaki itu berpendapat dengan ujaran Arthur.


"Namanya juga Shaka, kalau gak nyesel duluan mana mau dia berubah." Pernyataan itu berasal dari bibir Rasya. "Do'ain aja moga buruan cepet sadar sama kesalahan nya, bukannya menyelesaikan masalah terlebih dahulu, malah mentingin cewek yang asal usulnya belum jelas." Rasya lantas beranjak pergi dari Warjok memilih untuk ke kantor perusahaan adalah tujuannya.


"Gue duluan, ada rapat sore ini." pamitnya pergi.


"Yang jadi CEO mah beda anjir!" Sahut Tara, walaupun begitu tak ayal jika dalam hati dirinya merasa bangga pada sahabatnya itu.


Jarang-jarang loh, anak seusia Rasya memilih untuk berbisnis dan menjadi pengusaha muda apalagi menjadi CEO bukanlah pekerjaan yang cukup mudah bagi anak seusianya.


"Beban negara berkomentar," ujar Bram membuat Tara mendengus sebal. Kalau dia beban negara lantas Bram di sebut apa?


Pintu UKS perlahan terbuka, Shaka melangkah mendekati brankar, dimana Kania masih tak sadarkan diri. Menarik kursi itu lantas Shaka menaruhnya tepat di samping Kania.


"Buruan sadar ya." perasaan apa yang tiba-tiba memasukinya, Shaka merasakan sakit yang kembali dia rasa, melihat Kania seperti ini membuat perasaanya dilanda kekhawatiran yang paling dalam di hidupnya.


Tak lama, Kania menggeliat pelan, gadis itu perlahan membuka mata, sambil menatap sekitar, ruangan putih? Apa dirinya berada di UKS?


"Kan, lo udah sadar?" Shaka menahan lengan gadis itu, menyuruhnya untuk tetap berbaring saja. "Jangan gerak dulu, lo baru sadar."


"Sa, aku dimana?" tanya Kania dengan lirih.


"Lo ada di UKS." Jawab Shaka. "Lo butuh sesuatu gak?" tanya Shaka.


Kania hanya mengangguk kecil. "Minta minum dong, haus."


Dengan sigap Shaka memberikan botol minum miliknya, membantu Kania mengubah posisinya dari tidur menjadi duduk. "Pelan-pelan,"


"Makasih,"


"Sama-sama, Kan. Kok lo bisa ke kunci di dalam kamar mandi, dan sejak kapan lo punya penyakit Asma? Terus kenapa lo gak bilang ke gue," Shaka menyerang Kania dengan berbagai pertanyaan.


"Aku gak tau Sa, tadi waktu aku ke kamar mandi tiba-tiba pas mau keluar pintunya udah ke kunci aja." jawab Kania. "Kalau punya Asma udah lama, udah dari SD." lanjut Kania kembali.


"Kenapa lo gak bilang ke gue?! Kalau lo kenapa-napa gimana? Lo tau penyakit Asma itu bukan penyakit biasa," Shaka berkata dengan nada kurang suka nya.


"Ya aku gak mau repotin kamu terus, udah cukup kemarin kamu bantu aku." ujar Kania.


"Ya gak bisa gitu dong! Kalau lo kenapa-napa, gue juga yang khawatir Kan. Please kalau lo butuh sesuatu lo bilang ke gue, kalau lo merasa sakit lo ngomong ke gue, bukan diem!" tutur Shaka dengan mimik wajah khawatir nya.


"Tapi Sa---" belum sempat Kania melanjutkan ucapannya, Shaka dengan cepat memotong pembicaraan Kania.


"Gak ada kata tapi!" potong Shaka dengan cepat.


"Sa, udah ya, please aku gak mau kalau aku semakin di benci sama anak-anak," Kania berkata dengan lirih nya. "Udah cukup masalah kemarin aku di benci sama mereka, aku gak mau mereka makin benci aku dengan kita deket gini."


"Buat apa lo mikir mereka? Buat apa juga lo peduliin omongan mereka? Biarin aja, gak usah lo denger, bayangkan kalau ucapan mereka itu cuma angin lewat." jelas Shaka.


"Makasih ya Sa, kamu selalu ada disaat aku kesusahan, kamu selalu ada disaat aku rapuh dan gak bisa apa-apa. Di sekolah ini, cuma kamu aja yang mau berteman sama aku, iya lupa, aku kan pembawa masalah di dunia ini." ujar Kania dengan tertawa.


"Lo bukan pembawa masalah, lo hanya terlahir dari keluarga yang salah, lo hanya kurang beruntung di dunia ini."


Seketika tangisan Kania terdengar, membuat Shaka kembali panik. "Kan, lo gak papa kan?"


"Gak papa kok, aku cuma seneng aja, akhirnya ada orang yang peduli sama aku." kata Kania. "Sa, boleh peluk gak?" tanya Kania dengan pelan.


Shaka hanya tertawa, cowok itu menarik Kania ke dalam dekapannya. "Di dunia ini, banyak kok yang peduli dan sayang sama lo, cuma lo aja yang gak tau." ujar Shaka, sambil mengelus surai Kania dengan lembut.


Sedangkan Kania hanya tersenyum kecil, gadis itu menyandarkan kepalanya pada dada bidang Shaka. Senyuman Kania perlahan berubah menjadi senyuman yang begitu aneh, bahkan seperti sulit diartikan.


Tanpa keduanya sadari, ada seseorang yang sudah cukup lama berdiri dibalik pintu UKS, mendengar semua pembicaraan Shaka dan Kania.


Runa, dia meremas erat ujung rok dengan erat, menahan air mata yang siap kapan saja jatuh. Lemah, Runa benar-benar lemah. Niatnya ke UKS untuk meminta obat maag, karena penyakit nya kambuh, namun semuanya berhenti ketika Runa tak sengaja mendengarkan percakapan seseorang dari dalam.


Saat ingin masuk dan berkata 'permisi' niatnya tak jadi, ketika mendapatkan Shaka dan Kania yang asik mengobrol di dalam sana. Seketika sakit maag nya hilang begitu saja, tergantikan dengan sakit di dada.


"Yang punya masalah di sini siapa sih? Aku atau kamu, kenapa setiap aku minta penjelasan sama kamu, kamu menghindar?" gumam Runa, semakin rumit saja hubungannya ini.