
"Shaka," panggil Lea, wanita itu sedari tadi menatap Shaka yang terlihat tak baik-baik saja.
Shaka menoleh. "Iya ma?"
"Kamu kenapa?" tanya Lea khawatir, wanita itu mengelap keringat yang ada di pelipis Shaka. "Kamu gak papa kan nak?" tanyanya kembali.
Shaka mengangguk kecil, cowok itu tersenyum. "Shaka gak papa ma, mama tenang aja." ujarnya sambil mengecup punggung tangan Lea.
Lea terkekeh singkat. "Mama kenal kamu itu gak sehari dua hari, mama kenal kamu 17 tahun, bahkan lebih. Mama tau ada yang ganggu pikiran kamu kan," ujar Lea.
"Gak ada ma, Shaka gak papa." ujar Shaka,
"Mama mau bicara sama kamu," ujar Lea, wanita itu duduk di meja makan. Diikuti sama Shaka yang duduk di sampingnya.
"Kamu mimpikan dia?" tanya Lea dengan lembut. Shaka hanya terdiam, cowok itu tak menjawab apapun ucapan Lea.
Lea mengangguk paham, wanita itu mengelus kepala Shaka dengan sayang. "Bang, mama tau melupakan orang yang kita sayang itu susah. Apalagi cinta pertama, susah banget."
"Tapi apa susah ya, buat buka hati kamu sama orang lain. Sama Runa tepatnya," lanjutnya kembali.
"Ma-mama tau dari mana?" tanya Shaka bingung, mengapa mama nya bisa mengetahui.
Lea tersenyum. "Gak usah tau, mama tau dari mana. Mama hanya mau kamu lupain dia, apa sih yang ngebuat kamu gak bisa lupain dia?" tanya Lea.
Shaka menggeleng lemah. "Gak tau ma, susah."
"Gak ada yang susah nak, kamu tinggal lupakan dia, dan buka lembaran baru. Kamu mau berdiri diam disini. Gak ngapa-ngapain? Gak kan, kamu pasti bisa, mama tau itu." ujar Lea, memberikan pengertian.
"Gak bisa ma, kalau pun Shaka bisa. Udah dari lama Shaka bakal lakuin, tapi apa hasilnya? Gak ada, setiap Shaka mau buka hati mimpi itu kembali terus." Shaka telah berusaha semampunya, namun apa boleh buat? mimpi itu kembali lagi.
"Gak ada yang bisa di dunia ini. Coba, caranya kamu coba semampu kamu, sebisa kamu, lawan semuanya. Kamu mau Runa pindah ke orang lain? Mama tau, Runa tulus sama kamu, dia sayang sama kamu, mama tau itu semua dari mana? dari matanya, Runa begitu sayang dan tulus sama kamu." mengapa Lea berucap seperti itu? dia ingin Shaka mengubah pola pikirnya secepatnya. Sebelum penyesalan tiba.
"Sekarang yang harus kamu lakuin adalah, bilang ke Runa, jujur ke dia. Kalau kamu masih belum sayang sama dia, bicara apa adanya. Tanpa kebohongan sedikit pun," ujar Lea.
"Mama selalu ajarin kamu tiga hal kan, makasih, meminta tolong dan.." ujar Lea menggantung.
"Meminta maaf," lanjut Shaka.
"Dan yang terpenting?" tanyanya kembali.
"Berkata jujur," jawab Shaka.
"Good, berkata jujur lebih baik daripada diam, jangan sampai Runa mengetahui kebenarannya dari mulut orang lain, itu malah buat dua merasa kecewa besar sama kamu nantinya." ujar Lea.
"Jelasin baik-baik, pasti Runa paham kok. Pikirin semuanya baik-baik jangan sampai menyesal dikemudian hari. Mama ke kamar dulu, udah ditunggu papa kamu." Lea menepuk beberapa kali pundak Shaka, memberikan semangat pada anaknya.
Lea pergi meninggalkan Shaka yang terdiam, cowok itu mengusap wajahnya kasar, Shaka bingung dengan dirinya sekarang.
"Apa gue harus bilang ke Runa ya?" gumam cowok itu.
...
Keadaan basecamp begitu ramai, anak-anak berbondong-bondong datang ke basecamp sekedar berkumpul dan bermain bersama.
Shaka, lelaki itu lebih memilih berdiam diri di lantai dua, menatap para temannya yang asik bermain kartu di bawah. Anak-anak tadi sudah mengajaknya bermain, namun ditolak olehnya.
Alasannya tak berminat, mereka yang paham akhirnya tak ingin memaksa. Itu hak Shaka. Shaka menghirup rokok dan membuangnya bebas, entah berapa kali rokok yang di pakai hari ini. Tak bisa di hitung oleh jari.
Helaan napas berkali-kali terdengar, Shaka memejamkan mata, merasakan nyeri yang amat sakit. Nyeri yang selama. ini dia pendam sendiri
Shaka memang terlihat kuat, tegar dan tegas ketika berada di kerumunan. Namun semuanya berbanding terbalik jika lelaki itu di dalam kamar.
Menangis, seorang Shaka, sosok cowok yang terkenal kejam, tegas, pemberani, merelakan nyawanya demi orang tersayang nangis? Yakin.
Ya, itu memang beneran terjadi, menangis di kegelapan yang sunyi, ditemani suara jangkrik dan tokek. Kadang menangis di dalam kamar itu lebih menyenangkan, seperti kita bisa membuang semua masalah yang terjadi.
"Lo disini?" pertanyaan itu membuat Shaka reflek membuka mata. Cowok itu dengan cepat mengubah ekspresi datar.
Shaka hanya begumam singkat. "Sendiri aja lo, sana gabung sama anak-anak." kata Rasya.
"Gak minat," balas Shaka singkat.
Rasya terkekeh pelan. Benar-benar sifat Shaka sama seperti dulu. Tak pernah berubah. Rasya memilih duduk di samping Shaka. Lalu berkata. "Gak capek lo di kejar-kejar oleh penyesalan?"
"Ayolah Sa, berubah, berubah jadi Shaka yang gue kenal. Shaka yang lebih terbuka kayak dulu. Bukan Shaka yang pendam masalahnya sendiri begini. Lo punya kita-kita buat cerita." Rasya, cowok itu sangat sangat sangat merindukan seorang Shaka dahulu.
"Semalam gue mimpi dia lagi," lirih Shaka begitu pelan.
Rasya menatap Shaka serius. Rasya sudah tak asing lagi dengan pernyataan ini, karena nyatanya Shaka sering sharing kepadanya soal mimpi ini.
"Masih mimpi yang sama?" tanya Rasya.
Shaka hanya bisa mengangguk lemah. "Iya, masih mimpi yang sama, gak ada perubahan." kata Shaka.
"Kenapa ya, di saat gue mau buka hati sama seseorang, dia balik ke mimpi gue. yang ngebuat gue ragu buat membuka cinta gue." ujar Shaka.
Rasya mengangguk pelan. "Gue gak yakin deh Sa, kayaknya mimpi lo itu cuma sebagai patokan, supaya lo gak bisa buka hati lagi. Gue yakin, gue yakin Qilla pasti udah tenang kok di sana. Dia pasti udah bahagia di sana." Tutur Rasya.
"Gue gak tau Ras,"
Rasya menepuk pundak Shaka dua kali. "Pikirin semua baik-baik, inget jangan sampai menyesal untuk kedua kalinya. Gue tau lo bisa, gue dukung lo dari sini." setelah itu Rasya memilih pergi meninggalkan Shaka sendiri.
...
Ini adalah hari libur terakhir Runa, pasalnya esok masuk sekolah telah di mulai. Liburan kali ini, Runa habiskan dengan menonton film, belajar masak, dan membaca novel. Dan hari ini, Runa putuskan untuk membereskan kamar, sekalian mendekorasi kamarnya sedikit. Supaya tidak bosan.
"Runa!" teriak Arfan dari luar.
"Apa?!" Runa teriak tak kalah kencang.
Arfan berdiri di ambang pintu. "Lo lagi ngapain?" tanya Arfan.
Runa mengangkat lain lap. "Beres-beres, ada apa Bang?" tanya Runa balik.
Arfan manggut-manggut paham. "Ya udah, gue berangkat ke kampus dulu ya, ada kelas setengah jam lagi. Bunda udah berangkat ke ruko, katanya sih bakal lembur gara-gara banyak pesenan." Jelas Arfan.
"gue berangkat dulu ya, tuh tadi Bunda udah bikin makan siang di atas meja. Jangan lupa lo makan, awas aja kalau sampai geu denger telat makan, Siap-siap lo!" tunjuk Arfan sambil mengancam.
Memutar bola mata jengah, Runa berkata. "Awas apa? Iya nanti aku makan, abang semangat kelas nya, hari ini kerja gak?" tanya Runa.
"Kerja, nanti agak sorean. Gue berangkat dulu ya, dah dek!" pamit Arfan tak lupa memberi kecupan manis di kening Runa.
Runa membalas dengan mengecup tangan Arfan dengan punggung tangan. "Ati-ati ya Bang! Kerjanya harus semangat,"
"Pasti dong, assalamu'alaikum!" Arfan membalikkan badan, melangkah pergi meninggalkan kamar Runa.
Gadis itu kembali melanjutkan kegiatan yang tertunda, tak lupa juga Runa menata buku-buku dan menganti sprei dan sarung bantal. Hingga tak terasa satu jam sudah dirinya habiskan untuk membereskan kamar.
Runa memilih turun ke bawah untuk mengambil makan siang nya, namun langkahnya tertahan akibat suara bel yang berbunyi keras. Runa mengerutkan dahi, siapa ya yang bel siang-siang gini?
Yang awalnya ingin mengambil makan siang, Runa urungkan. Melangkahkan kakinya ke pintu. Pintu terbuka, Runa mendapatkan sebuah kotak paket.
Menatap lama kotak itu, Runa menoleh ke kanan ke kiri, memastikan siapa yang mengirimkan paket padanya. Tak ada orang, hanya suara motor yang lalu lalang di depan rumahnya.
Berjongkok, sambil menatap kotak itu, membolak-balikan kotak, melihat ada nama pengirim atau sejenisnya.
"Untuk Runa?" ujar Runa membaca tulisan yang terpampang di kotak itu.
"Buat aku? Apa ini pesanan aku ya? gak mungkin deh kayaknya, masa iya abang yang beli barang online buat aku, dia kan jarang buat beli online begini." Runa jadi terheran-heran.
Karena Runa penasaran dengan isi kotak itu. Runa putuskan buat membawanya masuk, perlahan namun pasti Runa membuka kotak itu dengan sabar. Runa melongo, menatap isi kotak itu.
Kosong.
Tak ada isinya.
Hanya sebuah kertas putih yang dilapisi oleh amplop berwarna coklat. Runa menyobek amplop itu perlahan, hingga sebuah foto terpampang jelas di sana.
Lagi-lagi Runa dibuat terheran-heran. Mengapa ada orang yang mengirimnya foto. "Foto? Foto siapa ya?" gumamnya bertanya-tanya.
Cukup lama Runa menatap foto yang ada di tangannya, membolak-balikan beberapa kali. Memastikan nya kembali. Karena cukup lama memikirkan foto itu, Runa putuskan untuk menyimpannya saja.
Lagian orang yang ada di dalam foto itu juga cantik, manis, dan sepertinya lebih muda dari Runa. Sekitar bocah SMP? Maybe.
Runa kembali menuju dapur, membuang kotak itu dan melanjutkan makan siang yang terpotong tadi. Dengan sayur sop dan ayam goreng.