
Suara dentuman musik begitu keras terdengar, semakin malam tempat ini semakin ramai didatangi oleh orang yang ingin minum, hingga memuaskan ***** mereka.
Entah berapa banyak gelas wine yang dia teguk, masih dengan kesadaran yang masih ada Shaka mencoba menghubungi Runa berkali-kali.
Shaka memutuskan pergi ke bar sebagai rasa pelampiasan kemarahannya.
Dengan demikian, dia bisa melupakan masalahnya sejenak. Panggilan Shaka hingga sekarang tak dibalas oleh Runa.
Membuat cowok bertubuh tegap itu mengumpat dan melempar ponselnya ke arah lain, lalu melanjutkan kembali meminum wine yang baru saja dia pesan.
Begitupun dengan Bram, Arthur dan Tara. Ketiga cowok itu sudah tak sadarkan diri akibat minum beberapa gelas wine.
Bar ini adalah tempat miliki Papa Arthur, makanya mereka semua bisa masuk ke tempat ini tanpa pengecualian.
Shaka kembali meneguk wine itu dengan kasar, menikmati panas nya wine yang membuat tenggorokannya, membuat rasa panas yang begitu nikmat.
Rasya dan Rayn hanya berdiam diri di sana. Mereka tak minum, mereka berdua kan paling alim diantara yang lain. Rayn tadi juga minum namun hanya seteguk saja lalu tak mencobanya kembali.
Rasanya cukup aneh saja di lidahnya. Seperti terbakar. Rasya tak minum cowok itu memilih memainkan handphone sambil sesekali mengawasi teman-temannya yang mulai tepar di atas sofa.
"Shaka stop! Lo udah minum banyak, berhenti!" cegah Rayn saat Shaka meneguk kembali wine itu hingga tandas.
"Galang brengsek, berani-beraninya lo bongkar semua." ujar Shaka yang mulai tak sadarkan diri.
"Ya gue tau, yang diucapkan Galang semuanya benar. Gue emang gak suka lo, tapi gue gak mau kehilangan lo." Shaka tertawa tertahan, cowok itu bangkit dari sofa dan pergi entah kemana dengan berjalan tak seimbang.
Namun di saat bersamaan, wanita cantik dengan pakaian seksi dengan pakaian minimnya mendekati Shaka, wanita itu mencoba menggoda Shaka dengan menempelkan tubuhnya.
Wanita itu tau siapa lelaki di depannya, siapa yang tak mengenal Shaka? Rasanya mustahil sekali. Lumayan kan kalau dirinya kenapa-napa bisa meminta ganti rugi dengan biaya yang cukup mahal.
"Hai ganteng," goda wanita itu.
Shaka yang memang sudah tak sadarkan diri, mulai hilang kendali.
Di tambah lagi dengan pengaruh alkohol yang cukup tinggi, membuatnya mulai tak seimbang.
Rasya dan Rayn sama-sama membulatkan mata. "Eh itu Shaka, anjir tuh cowok cepet bener udah ke sana. Samperin!" Dengan cepat kedua cowok itu menghampiri Shaka dan mengusir wanita berpakaian minim.
"Jangan sentuh temen gue, atau lo bakal kena imbasnya." tunjuk Rasya.
Mendengarkan hal itu, membuat wanita yang ada di samping Shaka mendengus sebal.
Lagi-lagi dia gagal kali ini, dengan menghentakkan kakinya kesal. Wanita itu pergi meninggalkan Shaka, Rasya dan Rayn dengan perasaan sebal.
"Ras, udah yuk. Bawa pulang aja, kasihan Shaka sama yang lainnya udah gak sadar diri." Rayn menatap Shaka dan ketiga temannya secara bergantian dengan kasihan.
Akhirnya mereka mereka berdua memutuskan untuk sama-sama menggotong Bram, Arthur, Tara dan Shaka secara bergantian.
Mereka memutuskan untuk balik ke basecamp. Tak mungkin juga, jika mereka membawa mereka ke rumah masing-masing.
Bisa-bisa mereka terkena amukan massal serta ceramah 7 hari 7 malam. Apalagi Lea sudah dipastikan jika wanita itu akan menghukum Shaka.
…
Tangisan Runa baru mereda sekarang, gadis itu sesekali sesenggukan akibat terlalu malam menangis.
Kepalanya juga terasa pening sekarang. Tangannya terangkat untuk mengambil ponsel miliknya yang ada di atas nakas.
Sedari tadi ponsel miliknya bergetar, Runa mengerutkan dahinya menatap banyak sekali panggilan dan chat yang tak terbalas.
59 panggilan tak terjawab dari Shaka, serta 2 panggilan tak terjawab dari Bang Arfan.
Seketika handphone nya kembali berdering, kali ini Arfan kemabli menelponnya. Dengan cepat Runa menghapus air matanya dan menstabilkan napas.
"H-halo Bang?" Runa berusaha untuk menetralkan ucapannya seperti biasa.
"Halo dek, akhirnya lo angkat juga panggilan gue. Dari mana lo? ditelpon berdering mulu tapi gak lo jawab." tanya Arfan dari sebrang.
Runa mengigit pipi bagian dalam dengan gugup. "Maaf Bang, t-tadi HP nya aku silent, jadi gak kedengeran kalau ada panggilan masuk. Ini baru habis mandi juga." ujar Runa berbohong. Dia tak berhenti meminta maaf dalam hati, akibat telah membohongi Arfan.
"Syukur deh kalau gitu, gue kira lo kenapa-napa."
"Gak ada kok Bang, tenang aja. Oh iya Bang Arfan ada apa telpon Runa?" tanya Runa kembali.
"Gini dek, lo di rumah sendirian buat dua hari ke depan gak papa kan? Gue gak bisa balik malam ini, kayaknya gue balik lusa. Besok gue ada study tour dan malam ini gue harus lembur kerja biar besok gue bisa ambil cuti. Lo gak papa kan?" tutur Arfan panjang lebar.
"Oh gitu, gak papa kok, aku di rumah aja. Lagi pingin sendiri."
"Gak usah Bang, gak papa kok. Lagian ya udah jam segini juga. Pasti mereka berdua udah tidur. Aku aman kok di rumah, Abang kerja aja, gak usah mikirin Runa." tolak Runa secara halus.
"Yaudah kalau itu mau lo, jangan lagi deh di silent ponselnya. Nanti kalau ada apa-apa gak denger kan gue juga yang berabe." seru Arfan.
"Iya Abang maaf, gak lagi." katanya sambil terkekeh hambar.
"Dek,"
"Iya Bang?"
"Lo habis nangis ya?" apakah Arfan mengetahui nya.
Dalam hati Runa bersumpah. Apa Abangnya tau. "Hehe tau aja kalau Runa habis nangis. Iya tadi habis lihat film terus endingnya sad gitu. Kebawa deh sampai sekarang."
Terdengar helaan napas dari arah sebrang. "Syukurlah, gue kira lo nangis karena apa. Lo gak ribut kan sama Shaka?"
"Gak Runa baik-baik aja." entah berapa banyak gadis itu berbohong pada Arfan.
"Okelah, kalau gitu gue lanjut kerja ya. Ini lagi rame soalnya. Lo ati-ati di rumah. Udah makan kan?"
"Belum, ini Runa mau makan malam."
"Yaudah buruan makan. Gue gak mau lo sakit, gue tutup ya dek. Good night!"
"Night to!" Runa langsung memutuskan panggilan sepihak, akhirnya dia bisa bernapas lega. Mengembalikan ponselnya di atas nakas.
Runa menghela napas lelahnya. sambil memijit kepalanya yang masih berdenyut.
Runa menyibak selimutnya dan berjalan ke arah cermin, terlihat kedua bola matanya yang bengkak akibat terlalu banyak nangis, begitu juga dengan hidungnya yang sama-sama merah.
"Jelek banget ih," ujar Runa menatap dirinya di depan cermin.
…
Rasya dan Rayn mengangkat tubuh temannya dan membawanya masuk ke dalam kamar basecamp. Untungnya di basecamp masih ada orang, bisa membantu mereka berdua mengangkat yang lainnya.
"Gila berat banget Shaka," Rayn dan Rasya menidurkan Shaka di kasur, cowok itu telah tidur sepenuhnya, setelah merancau tak jelas di dalam mobil.
"Itu sebabnya gue gak nyuruh lo mabuk, nyusahin!" Rasya berkata, cowok itu menidurkan dirinya di sofa kamar. Sedangkan Rayn menatap jendela luar.
"Gue lagi yang lo salahin, eh btw. Keadaan Runa gimana ya?" Rayn cukup penasaran apalagi setelah mengetahui jika Runa mendengar semuanya.
"Gak tau," hanya itu balasan dari Rasya, cowok itu memilih tidur sekarang, udah jam satu malam dan dia belum tidur.
"Ras, buset! Gue di tinggal tidur." Rayn menghampiri kasur dan mengalihkan lengan Shaka, cowok itu juga lelah apalagi kepalanya cukup pusing.
"Maap Sa gue minggirin lo, gue ngantuk soalnya." ujar Rayn, dan ketiga cowok itu terlelap bersamaan.
Seketika Rayn sadar, tadi dia meninggalkan Oliv di rumah sendirian. Cowok itu buru-buru menelpon adiknya apa udah di rumah atau belum.
"Apaan bang?" terdengar suara khas orang bangun tidur dari sebrang.
"Lo dimana?"
"Rumah, nape emang? Lo dimana, kagak pulang-pulang. Mama marah tuh," ujar adik Rayn.
"Gue ada urusan, Oliv gimana? Dia udah balik ke rumah kan?" tanya Rayn. .
"Udah balik, nih tidur anaknya."
"Yaudah kalau gitu, lo buruan tidur, gak usah begadang, besok sekolah." Rayn. bernafas lega, dia takut jika adik perempuan nya itu kenapa-napa.
"Iye-iye," Rayn. langsung mematikan panggilan, cowok itu menyimpan ponselnya di atas nakas dan melanjutkan kembali tidurnya.
…
Jam telah menunjukkan pukul 2 dini hari, seketika perut Runa berbunyi. Gadis itu belum makan dari kemarin sore, tepatnya setelah Vanya memberikan spaghetti buatannya.
Runa memutuskan untuk turun ke bawah, takut gak takut sih, di rumah dia hanya sendiri dan sekarang sudah pukul 2 dini hari. Runa menyalakan kompornya, gadis itu mengecek bahan-bahan di dapur.
Gadis itu menatap kulkas cukup lama, sambil berpikir masak apa ya dia. "Masak apa ya aku? Udah deh mie kuah aja," final Runa, gadis itu mengambil sebungkus mie kuah, tak lupa sayur bayam serta sosis dan telur.
Mie rebus buatannya pun jadi, gadis itu memakannya sendirian di meja makan.
Tak berapa lama dia menyelesaikan makannya, Runa menaruh ke wastafel dan tak lupa mencucinya. Dan buru-buru naik ke atas.