
..."Kedewasaan bukan diukur dari umur, melainkan diukur dari pola pikir, bagaimana kita dapat menyelesaikan permasalahan." -Alexia Jude Aldebaran....
...…...
Ale menatap abangnya dari atas balkon. Cewek itu sedari tadi melihat Shaka yang dari tadi hanya melamun dan menatap kosong ke depan. Ale merasa bersalah telah berantem dengan abangnya beberapa hari kemarin.
Ale dengan cepat turun ke bawah menghampiri Shaka yang terdiam, seperti orang patah hati saja.
"Ngelamun mulu lo, kesambet entar!" tegur Ale, cewek itu duduk di samping Shaka.
"Masih mikirin yang kemarin?" tanya Ale, cewek itu ingin Shaka terbuka lagi dengannya seperti dulu, melihat sekarang membuat Ale merasa bahwa ini bukan Shaka tapi orang lain.
"Le, boleh gak sih gue egois." pertanyaan itu terlontar dari mulut Shaka.
"Egois?" Ale mengucapkan kembali ucapan Shaka. "Dalam hal apa dulu, kalau kebaikan ya boleh-boleh aja," lanjutnya kembali.
"Bang, lo tau gak. Mama selalu ajarin kita buat melupakan hal yang udah terjadi, entah hal itu sengaja atau gak sengaja." ujar Ale.
"Mama juga selalu ajarin kita buat memaafkan seseorang, mama selalu bilang kan ke kita, bahwa kita gak bisa diam ditempat doang, kita harus berjalan maju sampai di suatu titik dimana kita berhasil."
"Apasih bang yang ngebuat lo masih diam ditempat gini? Apa alasan lo buat gak mau lupain kak Qilla, lo sadar gak sih. Lo sekarang gak sama dia, ada kak Runa yang harus lo jaga dan lo perjuangkan."
"Lo sadar gak? Bahwa kita dan dia itu berbeda, beda alam, beda tempat, beda dunia. Semuanya beda! Lo tau gak, lo kayak gini terus itu malah buat diri lo sendiri sakit. Lo lupa, mama sering bilang masa lalu itu jangan lo buat sebagian patokan dimasa depan!"
"Susah Le! Gue juga udah berusaha mati-matian buat buka hati gue buat Runa. Tapi apa? Gue gak bisa," Shaka berucap dengan suara getirnya.
"Lo bisa bang, gue tau lo bisa! sekarang gue tanya lagi apa sih alasan lo buat gak bisa lupain kak Qilla? Baik? Cantik? Perhatian? Sopan santun? Apa?! Buka hati lo! buka mata lo! lo lihat kak Runa, lihat dia bahkan lo lihat bunda, mama sama mama Amel? Lo lihat mereka, mereka aja bisa nerima kak Runa."
"Apalagi bunda Rika sama mama Amel, lo tau kan mereka gimana sifatnya? mereka agak keras, dan apa kemarin saat gue ultah. Mereka malah seneng, padahal mereka baru ketemu sekali."
Shaka hanya terdiam mendengarkan bentakan dari Ale, dia tak marah cowok itu tak marah. Ucapan Ale benar adanya.
"Lebih baik lo jujur deh ke kak Runa, lo lihat kan udah dua kali kak Runa ke sini dan gue semakin lihat kalau dia tulus banget sama lo. Bahkan mama aja sampai seneng kemarin," Ale menceritakan kegiatan apa saja yang mereka lakukan kemarin minggu.
"Sekarang gini deh, lo cuma punya dua pilihan. Antara lupakan dan ikhlaskan." ujar Ale membuat Shaka menoleh dan menatap Ale serius.
"Maksud lo?" tanya Shaka balik.
"Maksud gue, lo lupakan. Dalam arti lo lupakan kak Qilla dan lo buka lembaran baru dan lo mulai lagi hidup baru lo sama kak Runa. Kalau ikhlaskan ya lo ikhlaskan kak Runa, biar dia cari orang yang bisa benar-benar sayang dan balas cinta dia." Ale memperjelas ucapannya.
"Gue gak bisa."
Ale terkekeh. "Emang dasarnya lo keras kepala, jangan terlalu egois jadi orang. Jangan sampai salahin kak Runa jika dia tau kebenaran semuanya dari mulut orang lain."
"Gue bilang gini itu bukan berarti gue puitis atau sok dewasa, gue kayak gini karena gue sayang sama lo. Gue gak mau lo ngelakuin kesalahan dan penyesalan untuk kedua kalinya, gue sayang sama lo bang." jelas cewek itu.
Ale tak berniat untuk sok berfikir dewasa, dia saja masih berumur 13 tahun artinya cewek itu masih menjadi gadis remaja.
Ale cuma ingin abangnya kembali menjadi seperti dulu, seperti Shaka yang dia kenal. Meskipun dulu abangnya cuek tapi dia banyak bicara, banyak menceritakan kegiatan sehari-harinya pada Ale.
"Gue balik dulu bang, udah malam. Lo juga jangan lupa istirahat, gue yakin kok di sana kak Qilla udah menemukan kebahagiaannya sendiri, dia udah gak ngerasa sakit." Ale bangkit dan pergi meninggalkan taman belakang. Jam sudah malam dan udara malam makin dingin membuatnya harus masuk ke dalam. Dan menonton film tentunya.
"Qil, gue gak tau sekarang harus gimana. Di saat gue emang benar-benar mau lupain lo, kenapa lo selalu hadir di bayangan gue." batin Shaka, dia bangkit dan masuk ke dalam dia ingin mandi sekarang menguyur kepalanya dengan air.
...…...
Runa duduk di balkon sambil menatap bintang-bintang malam, tak terasa saja liburan kali ini tak ada bedanya dengan tahun-tahun kemarin.
Ayah tak bisa pulang, ditambah lagi sekarang Arfan sibuk dengan kerjaannya semakin membuat Runa merasa kesepian. Gadis itu sesekali menyeruput susu hangat buatannya.
Handphone miliknya berdering membuat Runa buru-buru mengangkatnya. "Halo?"
"Runa, tolongin gue please!" terdengar di sebrang Vanya dengan suaranya yang habis menangis.
"Iya kenapa, ada apa? kamu gak papa kan?" tanya Runa, raut wajahnya berubah khawatir.
"Hiks.."
"Van, tenang dulu ya. Jangan nangis dulu, coba cerita baik-baik." ujar Runa pelan-pelan.
"Hiks.. l-lo tau gak sih? sedih banget, gue kan, gue kan bikin roti tepatnya cookies terus tadi gue tinggal bentar eh malah gosong, hiks! kesel banget tau mana ini gosong semua lagi gak ada yang bisa di makan."
Runa hanya bisa menghela nafas sabar, gadis itu mengelus dadanya. Dia kira Vanya kenapa-napa mana udah panik lagi, ternyata -cuma kue yang gosong!
"Ya ampun Vanya! Aku kira kenapa-napa kamu nya, kok bisa kue nya gosong. Kamu tinggal ngapain aja kok sampai gosong?" tanya Runa.
"Gue tinggal nonton," dengan entengnya dia menjawab seperti itu.
Runa tersenyum gemas g-gimana gak gosong coba ditinggal nonton. "Kamu tinggal berapa lama?"
"Satu jam sih, soalnya yang awal. itu belum jadi kan ya udah gue masukin lagi. Terus pas gue balik kok oven nya keluar Asep gitu. Ternyata gosong." Vanya mendesah kecewa.
"Na bantuin gue ya, mumpung masih ada waktu seminggu nih buat liburan, lo main ke rumah gue ya? Gue mau kasih cookies ini ke kak Rasya soalnya, mau ya?" dari arah sebrang Vanya memohon.
"Oke, aku nanti ke sana ya. Mungkin lusa aku ke sana. Udah ih jangan nangis lagi nanti aku bantu ajarin kamu buat cookies nya." ujar Runa sambil tersenyum.
"Serius?" tanya Vanya dengan girang.
"Serius dong, nanti kita buat bareng-bareng ya."
"Aaahh makasih Runa! Lo ya emang sahabat ter the best.. Uch makasih Runaa!"
Runa hanya bisa menggeleng kan kepalanya. "Sama-sama Van, yaudah ya. Aku tutup panggilannya ketemu lusa nanti, good night Van!"
"Night to Run, see you!"