Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Teror



Keesokan pagi nya, Runa mendengus kesal ketika sinar matahari menerpa wajahnya. Dengan kesal, Runa menyibak selimut dan mengubah posisinya menjadi duduk.


Cukup lama dia mengumpulkan nyawanya, sambil menatap penjuru kamar. Keningnya mengkerut saat kamar yang dia pakai berbeda jauh dari kamarnya yang asli.


"Astaga," Runa langsung bangkit sambil meraba seluruh tubuhnya. Memastikan bahwa dirinya aman-aman saja.


Menghela napas lega. "Syukurlah," gumam Runa ketika pakaian yang dirinya pakai semalam aman.


Kemarin malam memang Rama tak melakukan apa-apa, dan untuk menganti pakaian gadis itu dirasa tidak.


Karena Rama tak ingin nantinya malah terjadi suatu hal yang tak mereka semua inginkan.


"Udah bangun?" tanya seseorang dari ambang pintu. Di sana terlihat Rama yang sudah fresh.


Runa mengangguk kecil sebagai balasan. "Kamu mandi gih, ini bajunya." Rama memberikan satu steel pakaian yang memang Rama siapkan jika Runa menginap.


"Makasih,"


"Nanti kalau udah langsung turun. Aku udah bikin sarapan buat kamu," setelah itu Rama menutup pintu rapat-rapat.


Melangkah menuju kamar mandi, Runa mulai melaksanakan ritual mandinya. Tanpa waktu lama, dirinya sudah menyelesaikan mandinya.


Mengeringkan rambutnya sebentar, Runa langsung turun ke bawah. Ketika mencium aroma masakan olahan Rama dari atas.


"Pagi Ram," sapa Runa menghampiri Rama.


"Pagi sayang," balas Rama. "Duduk dulu," Rama mempersilahkan Runa untuk duduk di sampingnya.


"Makasih Rama," menerima mangkuk berisikan sup ayam yang Rama buat barusan.


Ke-dua nya sama-sama memakan sarapan mereka dengan tenang. Hingga satu pertanyaan muncul dari Rama.


"Kamu kenal, sama orang-orang kemarin?" tanya Rama.


Seketika Runa menghentikan aktivitas makannya, menatap Rama sekilas dan menatap ke depan. "Gak tau. Tiba-tiba mereka datang terus mau lecehin aku," jawab Runa dengan nadan takut.


Rama yang sadar akan pertanyaannya barusan, langsung merutuki kebodohan nya. Dengan cepat Rama menarik Runa ke dalam dekapannya.


"Maaf," bisik Rama menyesal sembari mengusap lembut punggung Runa.


Runa menghapus kasar air matanya, bersamaan dengan ponselnya yang berdering. Mengambilnya lalu mengangkatnya.


"Halo Bang," ternyata Arfan lah yang menelponnya.


"Lo dimana sekarang?" tanya Arfan, membuat Runa mengerutkan dahi entah perasaan saja atau memang benar, Arfan terdengar seperti terburu-buru.


"Di apartemen Rama. Emangnya ada apa? Kok Bang Arfan kelihatan panik gitu,"


"Bunda pingsan, sekarang Bunda dibawa ke rumah sakit. Lo sekarang langsung ke RS. Di rumah gak ada orang," penjelasan dari Arfan langsung membuat Runa panik.


"Oke, Runa ke sana. Share lock langsung ke Runa," balas Runa dengan panik.


"Ada apa?" Rama dapat merasakan perubahan yang Runa alamai.


"B-bunda Ram. Bunda pingsan dan sekarang dibawa ke rumah sakit," tangisan Runa sudah membasahi pipinya.


"Ram antar aku sekarang please," mohon Runa. Seketika Runa takut, takut kehilangan kembali. Ditambah dengan keadaan Bunda yang memang akhir-akhir ini kurang sehat.


"Aku antar sekarang. Tunggu!" Rama naik ke atas meninggalkan Runa di dapur, mengambil kunci mobil dan turun kembali ke bawah.


"Ayo!" menggenggam tangan Runa dengan lembut. Ia mencoba memberikan ketenangan sekejap pada gadisnya.


Rama terpaksa harus menyalakan mobil dengan kecepatan tinggi, semuanya atas permintaan Runa. Tak perlu membutuhkan waktu yang lama, mobil milik Rama berhenti di depan pintu utama rumah sakit.


Runa langsung keluar mobil, menghiraukan teriakan Rama yang memperingati nya agar tak berlari. Tak peduli lagi dirinya harus berkali-kali menabrak orang.


Dengan napas terengah-engah, Runa berhasil menemukan ruang penanganan Yuna. Menghampiri Ayah, Bang Arfan dan kak Jihan yang berdiri di sana.


"Ayah," panggil Runa. Membuat ketiganya menoleh ke belakang dengan kompak.


Runa berlari memeluk Ayah Bima. "B-bunda gak papa kan Yah. Bunda baik-baik aja kan," tanya Runa dengan nangis sesenggukan.


"Bunda gak papa. Bunda bakal baik-baik aja di dalam. Kita sama-sama berdoa ya buat kesembuhan Bunda," bisik Ayah Bima pada putri nya.


Sedikit menguraikan pelukan, Ayah menatap lekat Runa. "Jangan nangis. Nanti kalau Bunda tau, Bunda bakal kepikiran!" ujar Ayah dan diangguki sama Runa.


Terdengar langkah kaki mendekati mereka. Rama, cowok itu baru tiba. Setelah cukup lama mencari tempat parkiran yang kosong.


Menyalami tangan Bima, Rama mengajak Runa duduk di kursi panjang rumah sakit. Di sampingnya juga ada Arfan yang menunduk.


"Bang Arfan," panggil Runa.


Arfan mendongakkan kepala, sedikit menggeser kan tubuh. Lalu memeluk erat Runa. "Bunda baik-baik aja," bisik Rama.


"Kenapa bunda bisa pingsan?" tanya Runa pada Arfan.


Mendapatkan pertanyaan itu, Arfan terdiam sejenak sambil menatap Runa dalam. "Teror itu datang lagi. Dan kali ini, Bunda korbannya." Arfan berbisik pada Runa.


Runa tercengang dengan penjelasan yang Arfan berikan. "Bang---" Arfan mengangguk. "Jadi---" belum sempat dia melanjutkan perkataannya pintu ruang penanganan Yuna terbuka.


Membuat mereka semua bangkit, Ayah Bima selaku sang suami segera menghampiri dokter muda yang baru saja keluar.


"Gimana dok, keadaan istri saya?" tanya Ayah Bima pada dokter itu.


"Pasien mengalami shock ringan, dan sekarang keadaan nya sudah cukup membaik. Tapi saya anjurkan untuk dirawat inap sehari untuk memastikan keadaan pasien membaik," jelas dokter itu.


Semuanya bernapas lega, untung saja tak parah. Dokter yang menangani Yuna pamit pergi, kembali duduk di kursi, kali ini sedikit lebih lega.


"Runa, bisa bicara berdua." Rama berbisik pelan.


Runa mengangguk. Sekalian dirinya ingin ke kantin, meminta izin pada Arfan dan Bima. Mereka menuju ke kantin.


Sampai kantin, mereka duduk di salah satu kursi kosong yang ada di ujung. Lumayan juga, tempat nya tak begitu ramai.


"Sekarang bilang ke aku. Maksud dari teror itu apa?" Rama tadi tak sengaja mendengar bisikan Arfan.


Terdiam sejenak, Runa berkata. "Seminggu ini aku di teror sama orang yang gak dikenal. Dan parahnya, sekarang Bunda yang jadi korban,"


"Teror?" kaget Rama. "Emangnya mereka kirim apa aja ke kamu,"


"Foto," singkat Runa. "Foto aku yang dicoret-coret sama tinta merah. Terus bangkai ikan dan masih banyak lagi."


Rama mendengarkan penjelasan yang Runa katakan. Tak ingin mengambil kesimpulan terlalu cepat.


"Kamu gak punya musuh kan?"


Runa menggeleng cepat. "Nggak! Nggak sama sekali,"


Rama tersenyum lalu mengangguk. Dirinya tau Runa seperti apa, jangankan untuk melukai perasaan orang. Runa saja yang membentak orang lain bisa dihitung sama tangan.


"Kamu masih simpan foto kiriman itu?" tanya Rama. Mungkin saja dirinya bisa membantu Runa untuk keluar dari masalah ini.


"Gak, sama Bang Arfan langsung dibakar kiriman itu." Arfan tak segan-segan untuk membakar atau merusak barang yang sekiranya tak masuk akal.


"Gak masalah, nanti aku bakal berusaha buat bantu kamu ya, semoga aja berhasil." Rama berucap sambil merapikan anak rambut Runa ke belakang telinga.


Runa tersenyum mendengarkan ucapan Rama. Tak tau berapa banyak lelaki itu membantu nya. "Makasih ya Ram. Kamu selalu bantu aku,"


Rama menggeleng kecil. "Ngomong apa sih, gak pernah buat bilang makasih. Karena emang ini tugas aku buat jaga kamu," sahut Rama.