Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Di- lamar?



Di liriknya jam dinding yang terpasang manis di ujung kamar, Runa menghembuskan napas panjang nya saat mengetahui jam sudah mulai sore.


14.55


"Vanya kemana sih?" gumam Runa bertanya-tanya. Menatap makanan yang setengah jam lalu diantar oleh salah satu pelayan, Runa mengambil salah satu roti dan memakannya.


Selesai menghabiskan roti, Runa melirik jam dinding kembali. Seketika teringat jika dirinya harus kembali ke kantor.


"Astaga lupa!" cukup keras Runa menepuk jidatnya. Dengan buru-buru, Runa melangkah keluar.


Belum juga gadis itu membuka pintu, salah satu pelayanan hotel datang menghampiri Runa. "Maaf Nona, mau kemana?" tanya pelayanan itu dengan sopan.


"Em mbak, maaf saya harus keluar sekarang. Kalo ada temen saya yang cari bilang aja udah pergi." Runa menyerahkan kunci tersebut pada pelayan itu.


Saat berbalik, ponselnya bergetar. Membuat Runa mengurungkan niatnya untuk melangkah maju.


Merogoh tas dan mengambil hapenya, Runa membaca pesan singkat yang Vanya kirim barusan.


...Vanya...


|Sorry buat nunggu lo lama


|Sekarang lo ke ballroom hotel ya, gue tunggu di atas! Kalo gak lo minta bantuan pelayan aja buat anterin lo


|Kalo udah sampe langsung masuk aja, gausah nunggu di luar


Mengernyit dahinya bingung. Melirik wanita di sampingnya dan kembali menatap layar ponsel. "Jangan bilang kalo nih pelayan, Vanya yang suruh lagi."


Tersenyum kecil, Runa menatap pelayan hotel tersebut. "Mbaknya ada apa ya?"


"Maaf Nona, saya hanya diutus untuk mengantarkan anda." Pelayan itu menjawabnya dengan sopan.


Manggut-manggut paham. "Mari saya antar," mempersilahkan Runa untuk berjalan di depan terlebih dahulu.


Berjalan melewati lorong-lorong hotel, dan masuk ke salah satu lift. Pelan-pelan lift itu membawanya naik ke atas, lebih atas lagi.


Tak lama sampai di lantai paling atas, pintu lift perlahan terbuka. Runa kembali melangkah ke depan, disusul oleh sang pelayan hotel di belakangnya.


Dan sekarang, dirinya berhenti di depan sebuah pintu kayu berukuran besar, yang Runa yakini adalah ballroom hotel.


"Apa ini---" saat menoleh ke belakang, Runa tak mendapatkan pelayan hotel tadi.


Menengok ke kanan dan ke kiri, mencari pelayan itu. "Mbak," Runa mencoba memanggilnya, tetapi sama sekali tak ada balasan.


Malahan suaranya lah yang menggema di lorong itu.


Membalikkan badannya kembali menghadap pintu itu, Runa yang masih belum berani masuk malah menelpon Vanya.


Hingga panggilan ketiga, Vanya tak membalas telponnya. Bahkan nomor ponselnya tak lagi aktif. Hal tersebut membuat Runa sedikit ragu masuk ke dalam.


Menggenggam gagang pintu, perlahan mulai membukanya. Seketika itu juga keadaan yang gelap berubah dengan hiasan lampu tumblr berwarna gold.


Menutup mulutnya kaget, Runa menatap sudut ballroom yang terpajang foto foto Runa dan Shaka saat masa SMA, dengan potongan kecil.


Reflek, Runa membalikkan badannya tak kala mendengar suara langkah kaki yang mendekat. "Kak Shaka," kagetnya. Sembari menatap penampilan Shaka dari atas sampai bawah.


"Astaga," desis Runa pelan. "Sudah kuduga," sambung Runa.


"Untuk Aruna Priyanka Zoey. Kamu tau hari apa yang paling istimewa buat kita? Yaitu pertemuan pertama kita di lorong kelas. Yang terjadi pada tanggal 28 Mei 2016,"


"Disitu aku masih belum mengenalmu, disitu juga aku masih berjuang untuk melawan cinta. Aku masih ingat, momen dimana aku mengecap mu sebagai seorang pacar dari berandalan sekolah. Disitu lah kita berdua semakin dekat,"


"Satu hal yang aku inginkan saat itu adalah, menahan mu pergi, dan meremehkan hal yang berisiko tinggi."


"Seiring waktu bergilir, rahasia yang tertutup rapat mulai terlihat, dan tiba waktunya kebenaran itu terungkap. Aku tau kalau aku menyebalkan dan egois banget,"


"Tapi satu hal yang ingin aku ucapkan, Terima kasih. Terima kasih telah bertahan pada waktu itu. Aku tau kita sama-sama tak sempurna, kita sama-sama memiliki kekurangan dan kelebihan kita masing-masing."


Tanpa sadar, Runa menangis. Mengibaskan kedua tangannya, mencoba untuk tak menangis. "Gak tau mau nangis apa seneng?"


"Tapi yang aku tau adalah, aku akan menjadi sosok yang sempurna ketika kita saling bersama."


"Hari ini, sore ini aku ingin mengubah semuanya menjadi hari spesial. Untuk itu... Maukah kamu menikah dengan ku?" Shaka bersimpuh dengan membawa se-kotak cincin.


Lampu berganti menjadi terang, Runa menatap sekeliling. Di sana, semuanya berdiri melingkari mereka.


"Terima dong!" teriak Vanya membuat yang lainnya mengangguk setuju.


"Terima!"


"Terima!"


"Terima!"


Sekarang, manik matanya menatap Ayah, Bunda dan Bang Arfan, meminta mereka jawaban. Tetapi Runa masih bingung, mengapa di sana ada Arfan?


Bukannya lelaki itu kekeuh untuk menjauhkan dirinya dan Shaka?


Yuna dan Bima mengangguk kompak sebagai balasan, membuat Runa bernapas lega. "Iyaa.. Aku mau," balas Runa.


Tepuk tangan meriah terdengar. Shaka mulai memakaikan cincin itu ke jari tengah Runa dan langsung memeluk gadisnya. "Makasih Runa," bisik Shaka.


Sedikit menguraikan pelukan. "Jangan nangis," Shaka menghapus air mata Runa yang terusan mengalir.


"Gak tau, mau nangis atau seneng!" ungkap Runa.


Para anggota keluarga dan teman-teman mulai mendekat, Yuna langsung memeluk putrinya dan memberikan selamat. "Selamat sayang,"


"Makasih Bunda," membalas pelukan Yuna.


"Udah aku duga dari awal," kata Runa. "Apalagi Vanya, kok aneh banget beli bunga sebanyak itu," sambung Runa membuat mereka semua tertawa.


"Tapi berhasil dong?" Vanya menyahut dan perlahan memeluk sahabatnya itu. "Congrats Na! Do'ain nyusul," sambung Vanya nyengir.


"AAMIIN!" sahut semuanya.


...


Finally akhirnya, yang kita semua tunggu-tunggu datang juga! Maaf ya kalo pendek episode nya, cuma Nana seneng banget bisa bikin episode ini.


Nulis episode ini, Nana dibuat merinding sendiri :)


Jangan lupa buat tinggalkan komen dan like nya ya, sama kasih hadiah juga biar semangat 😉