
Runa baru saja selesai dengan shalatnya, gadis itu mengambil handphone yang berada di nakas. Tangannya menari-nari di atas keyboard, seketika dirinya panik karena jarinya tak sengaja memencet panggilan vidio terhadap seseorang.
Panggilan itu tersambung. "Halo?"
"Aduh, kok bisa kepencet sih? Aku harus bilang apa lagi?" Runa merutuki dirinya sendiri, memalukan.
"Hai kak," ucapnya gugup, menampakan wajahnya.
"Hm? Ada apa Run?" suara itu tak asing lagi bagi Runa, Shaka seseorang yang tak sengaja Runa pencet tombol telponnya.
"Cuma mau tanya aja, kak Shaka udah sampai Rumah belum?" ambigu sekali pertanyaannya.
"Jelas udah Runa, kamu mah. Dia udah pulang dari tadi juga." lanjutnya dalam hati.
"Udah, dari tadi. Baru selesai mandi doang, kenapa? Kangen? Tangan kamu gimana udah gak papa kan?"
"Hehe iya, udah kok kak udah gak papa, kak Shaka udah makan belum?"
"Ini mau makan, kamu udah makan? Jangan sampai gue denger lo gak makan ya? Awas aja sampai gue denger gak makan!" suara itu seketika berubah menjadi peringatan bagi Runa.
"Udah kok, tadi sebelum shalat udah makan. Kak Shaka makan gih pasti lapar."
"Gak, laper aku udah ilang."
Runa mengerutkan dahinya. "Kok bisa hilang?" tanyanya bingung.
"Iya, karena udah di kenyangin sama suara kamu." ujar Shaka yang membuat Runa terkekeh pelan.
"Ih bisa aja sih kamu,"
"Bisa dong, Na."
"Kenapa kak?"
"Jumat aku ajak keluar mau? sekalian jalan-jalan berdua, ada konser juga di sana," ajak Shaka.
"Gue gak terima penolakan, lo harus mau. Dan gak boleh nolak!" lanjutnya.
"Boleh, minta izin ke bunda ya biar anaknya dibolehin keluar," bunda Yuna sering melarang Runa untuk keluar malam, apalagi Runa masih gadis.
"Santai kalau itu, gimana kalau ke KUA aja sekalian izinnya?" makin kesini makin ngelantur aja pertanyaannya.
"Kalau itu bilang ke ayah dulu," balas Runa.
"Runa, kamu tuh cocok tau jadi calon."
"Iya, calon masa depanku."
"Kak Shaka!"
Shaka terkekeh pelan, melihat muka Runa yang merah bak tomat. Mereka berdua sama-sama melempar candaan serta gombalan satu sama lain.
Sampai tak sadar bahwa jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Satu setengah jam lebih keduanya ber-vidio call.
Runa menguap, kantuknya datang. "Sana tidur udah malam, besok aku jemput paginya."
"Iya kak, aku tidur duluan ya. Kak shaka juga jangan tidur malam-malam, good night kak."
"Too," balas Shaka yang langsung mematikan panggilan. Makan malamnya seketika lupa, cowok itu keluar kamar dan menuju ke dapur.
Mungkin hanya memakan sereal atau roti, udah malam juga soalnya. Tak baik makan berat malam-malam.
"Baru turun kamu?" tanya Al yang sama-sama mengambil air.
Shaka mengangguk singkat. "Siapa cewek itu?"
Alis Shaka terangkat. "Cewek?"
"Hem, cewek yang barusan kamu telpon. Cewek yang berhasil membuat cowok es leleh. Siapa dia? Kenalin lah ke papa sama mama, sekalian kalau mau tunangan." ujar Al lalu meneguk air itu habis.
"Papa bersyukur kalau kamu benar-benar bisa lupain dia," ujar Al seraya menepuk pundak Shaka.
"Bukan siapa-siapa, cuma temen." balas Shaka datar.
"Halah, kamu pikir papa bodoh gitu? Papa tau kamu itu 17 tahun lebih, papa kenal kamu gimana orang nya. Dan papa tau kamu gak akan pernah deket sama cewek lain selain mama kamu sama Ale," jelas saja Al tau sifat dan kelakuan Shaka seperti apa.
"Cuma temen pa,"
"Yakin temen? Kenalin ke papa sama mama secepatnya, papa gak terima alasan apapun dari kamu. Jadi cowok harus gantle bawa ke papa mama secepatnya." Al pergi meninggalkan Shaka setelah memberikan penjelasan.
Al dan Shaka itu sama, mereka gak suka dibantah apalagi dipotong ucapannya. Makanya jangan salahi Shaka kalau sifatnya kayak gini.
Salahkan bapaknya, oh sebelum itu salahkan bundanya.
Udahlah salahkan saja semuanya.
Shaka hanya. mengangkat bahunya acuh, kalau emang iya pun pasti bakal Shaka bawa. Tenang aja, tunggu waktu yang pas terlebih dahulu.