Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Deket ribut jauhan kangen



Selesai melaksanakan sarapan, keduanya memutuskan untuk naik dan bersiap-siap untuk berangkat ke rumah Al. Ditambah lagi Shaka kerja pagi dan akan menitipkan ke sana. Lalu akan menginap ke sana beberapa hari.


Memasukkan beberapa barang yang mereka perlukan saja, karena untuk pakaian di sana sudah disediakan. Shaka sendiri yang menyediakan nya karena baginya jika nanti mereka menginap di sana tanpa persiapan. Mereka tak perlu khawatir soal pakaian.


"Sini biar aku bantu," sedikit berjinjit Runa membantu merapikan dasi dan jas yang digunakan Shaka.


Tersenyum manis saat ia berhasil memasang dasi dengan pas. "Ganteng banget," komen Runa merapikan jas Shaka.


"Makasih sayang," Shaka mengecup singkat bibir mungil Runa, lalu beralih menggandeng gadis itu untuk keluar kamar.


Keduanya berjalan beriringan turun ke bawah, dirasa semuanya telah aman dan tak ada barang yang tertinggal mereka memutuskan untuk masuk ke dalam mobil untuk segera tiba ke tujuan.


"Semuanya udah kan?" tanya Shaka sambil menyalakan mesin yang dibalas anggukan kecil dari Runa.


Tak perlu waktu lama untuk mereka sampai di kediaman Aldebaran, Shaka mulai memasuki kawasan rumah berwarna putih dengan desain yang sangat mewah.


Selesai memarkirkan mobil dengan tepat, Shaka turun terlebih dahulu. Cowok itu mengitari mobil membuka pintu untuk Runa keluar.


"Yuk masuk!" Shaka mengajak Runa masuk ke dalam, mereka memasukinya.


Rumah ini terlihat begitu sepi, seperti tak berpenghuni. Bayangkan saja, rumah sebesar ini hanya ditinggali eh 3 orang.


"Assalamu'alaikum, Shaka Runa datang!" ucap keduanya memasuki rumah.


Lea yang awalnya sibuk di dapur lantas berlari, menyambut keduanya. "Waalaikumsalam, Mama kira bakal datang sore." Lea perlahan menarik Runa dan memeluk menantu kesayangannya.


"Mama apa kabar?" tanya Runa tak lupa menyalami tangan wanita itu.


"Baik, harus baik. Kalian sehat kan?" Mereka kompak menggelengkan kepala.


Lea tersenyum lega melihatnya. Tak lama terdengar suara langkah kaki dari atas, membuat ketiganya beralih fokus menatap ke atas. Ale, perempuan itu baru saja turun dengan pakaian kampusnya.


"KAK RUNAAAA!" pekiknya berlari dari atas, dan langsung memeluk Runa. "Kakak apa kabar?" tanya Ale sedikit menguraikan pelukan.


"Baik dong! Kamu gimana? Tambah tinggi aja kamu," ungkap Runa.


"Kagak kangen gue lo?" pertanyaan itu terlontar dari mulut Shaka, membuat Ale melirik sekilas dan kembali menatap kakak iparnya.


"Gak! Kemarin kan udah," tolak Ale mentah-mentah.


Shaka mendengus kesal, memilih untuk menaruh barang-barang ke ruang tengah. "Papa udah berangkat Ma?"


"Udah dari tadi berangkatnya. Katanya mau bareng kamu, cuma kamu kelamaan."


Shaka mengangguk pelan, berbalik menghampiri Lea dan yang lain. "Kalau gitu Shaka berangkat sekarang. Ada rapat pagi,"


"Bentar!" cegah Ale. "Gue bareng ya? Males naik mobil sendiri,"


Mendengus pelan. "Gak! Kemarin kan udah," tolak Shaka mengulang kembali perkataan Ale beberapa menit yang lalu.


Ale memberengut. "Ma! Lihat tuh Bang Shaka!" tunjuk Ale mengadu.


Lea menggelengkan kepala. Wanita itu menghembuskan napasnya lelah. "Kalian berdua ya! Ribut aja kerjaannya, Sa antar Ale. Kalian kan searah,"


"Yaudah bareng gue aja," putus Shaka. "Ma, Shaka berangkat dulu." Shaka menyalami tangan Lea, dan beralih pada Runa. "Aku berangkat dulu, kamu di rumah aja sama Mama. Kalau ada apa-apa langsung telpon aku,"


"Bucin terus," cibir Ale.


"Syirik tanda tak mampu," ejek Shaka, membuat Ale mendengus.


"Sana berangkat, nanti kalian berdua telat lagi." Lea melerai, menggiring kedua anaknya keluar rumah.


"Kita berdua berangkat. Assalamu'alaikum!" pamit Ale dan Shaka, memeluk Ale dan menariknya ke mobil.


...


Shaka tiba di depan rumah begitu mobilnya terparkir di halaman rumah. Cowok itu melangkah masuk ke dalam dan segera naik ke atas. Namun belum lama melangkah, Lea memanggilnya dan menanyakan keberadaan Ale.


"Shaka!" panggil Lea, membuat Shaka menoleh sambil tersenyum, menghampiri Lea dan tak lupa mengalaminya.


"Kenapa Ma?" tanya Shaka sembari duduk di samping wanita itu.


"Ale mana? Bukannya sama kamu," heran Lea. Karena sebelumnya Ale memberi kabar jika nanti akan pulang bersama Shaka.


Shaka menautkan alisnya, lalu mengangkat bahu tak tau. "Gak tau tuh Ma, Shaka aja baru balik kantor."


"Terus Ale kemana? Tadi dia bilang kalau mau pulang sama kamu," dan saat itu juga, orang yang ditunggu akhirnya menampakan jati diri.


"Ale pulang!" ucap Ale memasuki rumah, perempuan itu datang dengan tumpukan buku di kedua tangannya.


"Balik juga kamu," Lea mengulas senyum begitu mendapati Ale tiba di rumah. Menghampiri Ale dan membantu membawakan tumpukan buku itu ke atas meja.


"Dari mana aja? Mama khawatir loh," terlihat jelas di wajah Lea jika wanita itu mengkhawatirkan Ale.


"Maaf Ma, ponsel Ale mati. Jadi gak sempet bilang," kata Ale


"Terus balik sama siapa?" pertanyaan itu terlontar dari mulut Shaka.


"Kepo lo!" ketus Ale.


"Bercanda Bang! Jangan serius gitu kek. Serem muka lo," Ale terkekeh kecil saat Shaka melayangkan tatapan tajamnya.


Lea hanya bisa geleng-geleng kepala, lalu menyuruh kedua anaknya untuk membersihkan diri.


"Sudah, gak usah berantem." Lea melerai.


"Gue juga mau naik, udah ditungguin Runa." Shaka pun ikutan pergi meninggalkan Ale sendiri.


"Derita sendiri," gumamnya sambil menggelengkan kepala.


"Nasib! Nasib! Kapan gue kayak begitu," lanjut Ale kemudian.


"MAKANYA CARI, JOMBLO SIH LO!"


"ABANGSAT, SIALAN LO!" sahut Ale berteriak, membuat Shaka tertawa puas.


"Ada apa?"


Runa bertanya saat mendapati Shaka di depan kamar dengan tertawa puas, hampir saja tubuhnya menabrak Shaka jika tidak berhenti mendadak.


"Eh sayang!" mengecup singkat kening Runa, Shaka menatapnya dalam.


"Tadi ribut bentar sama Ale," sambung Shaka menarik Runa masuk ke dalam.


"Awww.. Sakit," Shaka meringis pelan saat Runa melayangkan cubitan manis di lengan kirinya.


"Kebiasaan! Pulang pulang malah ribut. Udah sana mandi kamu bau," sambil menutup hidungnya. Runa mendorong Shaka untuk masuk ke dalam kamar mandi.


"Mandi berdua," dengan jahilnya Shaka menggoda Runa.


"Belum mandi kan ayo mandi!" tanpa aba-aba, cowok itu menarik Runa masuk ke dalam kamar mandi. Kemudian mereka mandi bersama.


"Astaga, by! By! Aku udah mandi," Runa hanya bisa bernapas pasrah saat air shower perlahan membasahi tubuhnya.


...


Meja makan terasa sunyi, hanya menyisakan suara sendok dan garpu yang beradu di atas piring. Sekarang ini, semuanya sedang melaksanakan makan malam bersama. Kecuali Al yang tak dapat ikut, karena lembur di kantor.


Setelah itu Runa, Ale dan Lea membereskan dapur, sementara Shaka memilih melangkah ke ruang tengah.


"Besok kak Runa sibuk gak? Ale mau ajak keluar nih," tanya Ale.


"Kayaknya sih gak ada. Emang mau keluar kemana dek?"


"Girls time, mumpung besok sabtu. Lumayan kak malmingan," ujar Ale girang.


"Kakak sih bisa aja. Cuma gak tau sama Abang kamu, dibolehin atau gak." Tentu Runa tak bisa seenak jidat untuk keluar begitu saja, karena saat ini tanggung jawabnya ada pada Shaka bukan pada Ayah.


"Kalau itu mah gampang, tenang aja. Aman sama Ale," katanya.


"Ke ruang tengah yuk kak!" menggiring Runa ke ruang tengah.


"Bang Shaka!" panggil Ale tersenyum manis.


Shaka sendiri menatapnya aneh, dengan nada ketus dia menjawab. "Apa?"


"Ketus banget jadi orang," ujar Ale memberi jeda. "Besok kan sabtu nih, kak Runa boleh--" belum selesai Ale bicara Shaka dengan cepat memotong ucapan Ale.


"Enggak!" potong Shaka dengan cepat.


"Gue belum selesai ngomong!" kesal Ale.


"Gak gue kasih izin," balas Shaka.


"Ayolah sekali-kali gitu istrinya dikasih izin. Gak kasihan apa di simpan terus," ujar Ale yang masih mencoba untuk merayu Shaka.


"Terserah gue, kan Runa istri gue!" jawab Shaka tanpa beban.


Skakmat! Kini Ale terdiam, dengan raut muka kesalnya dia kembali berucap. "Besok kan lo kerja, jadi gak masalah dong kalau gue ajak kak Runa keluarga, boleh ya?"


"Besok kalian mau kemana emangnya?"


"Keluar, gak usah tanya mau kemana!" tegas Shaka begitu mengetahui bila Ale akan bertanya demikian.


"Kak Runa," karena tak ada harapan lagi untuk membujuk Shaka, Ale memilih untuk meminta bantuan pada Runa.


Runa menutup kedua matanya, diiringi dengan helaan napas panjang. "Daripada ribut, mending keluar berubah besok. Ajak Papa sama Mama," Runa memberikan usulan.


Shaka bergumam singkat. "Besok gue kasih izin lo buat ajak Runa keluar! Ingat ya, sampai gue denger Runa kenapa-napa. Lo orang pertama yang gue interogasi," tunjuk Shaka kepada Ale.


"Tenang aja, sama gue aman terkendali. Besok lo tinggal kerja dengan tenang," kata Ale.


Shaka kembali bergumam, dan beralih menatap layar TV yang sedari tadi menyala.


"Besok kalau Ale lakuin hal yang aneh ke kamu. Bilang aja ke aku," bisik Shaka kepada Runa yang masih terdengar oleh Ale.


Memutar bola mata jengah, Ale mengumpat dalam hati. "Ck, seakan-akan gue penjahat anjir!"


Menghembuskan napas perlahan, dengan perasaan kesalnya Ale memilih untuk menonton televisi ketimbang melihat Shaka dan Runa yang sedang menyebar ke-uwuan di hadapannya.


"Kalian berdua bisa gak buat gak pamer ke-uwuan di depan gue?!" Lama-lama Ake dibuat kesal sendiri dengan aktivitas keduanya, pasalnya keduanya selalu tak melihat tempat untuk bermesraan.


Dan parahnya mengapa harus di hadapannya?


Shaka mengedikkan bahu tak peduli. Malahan Shaka memilih untuk lebih menyebar ke-uwuan nya di hadapan Ale.


Ake berdiri dengan raut kesal. "Mending gue naik dari pada jadi nyamuk disini," Ale memilih untuk naik dan tidur.