Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Hampir saja



Shaka sudah berada di depan rumah gadisnya, cowok itu datang lebih awal dari biasanya, alasannya ya pingin lihat Runa.


Setelah kemarin lusa, tepatnya malam minggu keduanya memutuskan untuk pergi ke festival makanan.


Ternyata selama ini Runa salah kira, meskipun hubungan keduanya baik-baik saja tak ada masalah hanya masalah waktu itu dimana Runa kenal sama Galang.


Setelah kejadian itu hubungan keduanya membaik, Shaka yang mulai melupakan kejadian lampau nya. Perlahan Shaka dan Runa saling terbuka.


Walaupun harus Runa yang memulai topiknya. Tapi tak apa, bagi Runa ini adalah awal kisah bagi dirinya. Kisah awal cintanya dimulai.


Shaka memainkan kunci motor, menunggu Runa yang belum keluar juga. Cowok itu tersenyum melihat Runa yang berjalan menghampiri nya.


"Pagi kak Shaka," sapa Runa, tak lupa dengan senyum manis yang menghiasi bibir mungil itu.


"Pagi, nih helm kamu." baru semalam keduanya mengubah nama panggilan mereka, lebih tepatnya ke Shaka ya, dia mencoba untuk memanggil aku-kamu yang dari awal lo-gue.


Shaka membantu memasangkan helm itu pada Runa, cowok itu membantu gadisnya naik ke atas motor.


"Tante Yuna belum balik?" tanya Shaka.


"Belum, kayaknya lusa deh. Kata Bunda keadaan nenek udah lebih membaik, semoga aja lusa balik." Shaka hanya mengamini dalam hati, cowok itu kembali fokus ke jalanan hingga berhenti di sebuah warung bubur.


Runa menatap Shaka dengan bertanya-tanya. "Kok kesini?" tanyanya bingung.


"Kamu belum makan kan?" bukannya menjawab malah tanya balik.


"Belum sih, tapi kan-"


"Gak ada tapi-tapian, gue laper belum makan tadi. Kita sarapan disini aja," potong Shaka, menarik Runa masuk kedalam.


"Wait! Kalau kita telat gimana kak? Ini udah jam setengah tujuh lebih loh, dan nanti juga ada upacara, kalau telat gimana?" gadis itu udah kapok sama kejadian kemarin, udah kena hukum terus pingsan lagi.


"Tinggal jalanin,"


Akhirnya mau tak mau gadis itu menerima, sekalian deh buat sarapan juga, perutnya juga belum ke isi.


"Pak, buburnya sama teh anget nya dua!"


"Nggeh mas! ditunggu ya!" balas pak penjual.


"Bulan depan udah ulangan aja, terus Juni kita naik kelas. Cepat banget, padahal baru kemarin aku masuk. Eh tiga bulan lagi lulus." ternyata waktu begitu cepat, kemarin baru masuk dan menjadi murid pindahan, dan sekarang? udah mau naik kelas.


"Ini mas buburnya, silahkan dinikmati." ujar pak penjual sambil memberikan dua mangkok bubur ayam serta teh.


"Makasih pak,"



Runa dan Shaka berdiri tepat di depan gerbang Trisatya, ucapan Runa beneran terjadi, mereka berdua sekarang telat. Akibat tadi mampir makan bubur. Dan sekarang, malah telat.


Dapat dilihat, upacara telah usai yang artinya semua anak udah masuk ke kelas atau mungkin sebagian dari mereka terkena hukuman, dan terlihat di lapangan sana cukup banyak anak yang terkena hukuman.


Sepertinya mereka anak-anak yang tak memakai atribut sekolah serta terlambat masuk.


"Ikut aku," Shaka langsung menarik Runa dan membawanya ke gerbang belakang.


Di sana adalah tempat andalan anak-anak untuk kabur ataupun penyelamatan diri ketika telat.


"Kak kita ngapain kesini?" tanya Runa, menatap gerbang yang ada didepannya.


"Naik,"


"Maksudnya kita lompat gitu?" tanya Runa tak percaya.


Shaka mengangguk, cowok itu mencoba mencari bantuan seperti tangga, menoleh ke kanan dan ke kiri. Runa cukup kaget ketika Shaka berjongkok didepannya.


"Kak?"


Jelas Runa menolak, kalau dia naik ke pundak Shaka, bisa-bisa pakaian cowok itu yang kotor. "Gak, nanti baju kamu yang kotor, kita balik aja ya? Daripada manjat gini," gadis itu bergidik ngeri, menatap tembok yang lumayan tinggi.


"Emangnya kamu mau, dihukum lagi kayak waktu itu?" tanya Shaka masih dengan posisinya, berjongkok.


Ucapan Shaka membuat Runa berfikir sebentar, ada benarnya juga. Siapa sih yang mau dihukum? Masa harus manjat sih, gak ada yang lain gitu.


"Ayo naik, mau ketahuan sama guru kamu? Udah naik aja, aku pakai jaket." perintah Shaka.


Runa mengigit bibir bawahnya. "B-beneran nih kak?"


Shaka bergumam, cowok itu mengangguk yang artinya sudah memberikan izin. Perlahan Runa mengangkat kakinya, cewek itu mencoba naik ke atas.


Runa telah berada di atas hanya saja tinggal lompat nya. "Aku turun dulu, nanti kamu." Shaka lompat ke bawah terlebih dahulu, menatap ke atas dengan kedua tangan yang siap menerima Runa dari bawah.


"Turun!"


"Ini, ini tinggi masalahnya."


"Gak papa, ada aku. Ayo turun, takut ketahuan nanti."


Gadis itu menutup kedua matanya dan lompat ke bawah, akhirnya aman juga. Shaka langsung saja menarik Runa untuk bersembunyi ketika ada Bu Dayu yang sedang berpatroli sambil. membawa penggaris rotan.


"Shutt.." cowok itu menempelkan jari telunjuknya di bibir, menyuruh Runa untuk diam.


"Ada apa?" tanya Runa tanpa suara.


Shaka menunjuk dengan Dagunya, Runa yang penasaran menoleh ke samping, benar saja. Di sana sudah berdiri Bu Dayu yang sedang mengecek anak-anak.


Mereka bernafas lega, syukurlah Bu Dayu udah pergi. Untung aja gak ketahuan, kalau ketahuan gak tau lagi di hukum apa.


"Yaudah sana, masuk kelas." suruh Shaka, cowok itu tak lupa mengusap sekilas puncak Runa.


"Iya, kamu juga. Jangan sering bolos."



"Alhamdullilah, gue kira lo bolos dong, lo habis kena hukum ya? Tapi kok cepet banget, mereka aja baru ngerjain hukumannya." tunjuk Vanya keluar kelas, pada anak-anak yang terkena hukuman.


Hei! Tak tau aja, perjuangannya buat manjat gimana? Hampir saja dirinya ketahuan.


"Y-ya gitu," Runa bingung mau jawab apa, mau jujur juga kayak berdosa banget.


Seketika Vanya mengulurkan tangannya di depan Runa, Runa yang paham dengan maksud Vanya pun merogoh tas dan memberikan buku Sejarah miliknya pada Vanya.


"Ahh.. lo mah ngerti aja sih, uch makin sayang deh." namanya juga Vanya, ada maunya baru muji dia.



Bel istirahat berbunyi membuat semua siswa berlarian keluar untuk sekedar mengistirahatkan pikiran serta lapar dahaga. Vanya, yang dari tadi sudah lapar langsung menarik tangan Runa ke kantin.


"Eh pelan-pelan, nanti jatuh." Gadis itu lumayan kaget, belum selesai beresin buku udah ditarik keluar.


"Bodo amat, jatuhnya juga berdua nanti." Jatuh ngajak-ngajak.


"Gak bakal kehabisan juga, tenang aja. Pasti kebagian k-"


"Omong kosong, buktinya bakso cepat habisnya. Gedek gue, udah antri lama, gak dapat lagi."


Bakso Teh Mina, bakso ini cukup terkenal di Trisatya, udah murah enak lagi. Dan satu hal yang sungguh-sungguh menyebalkan, selalu habis padahal baru setengah jam buka udah habis duluan.


"Lo mau bakso gak? Biar sekalian gue yang pesankan." Tawar Vanya.


"Iya aku bakso, tapi kita antri berdua." ucap Runa.


Lama-lama tak enak juga titip orang terus, kayak aneh aja. Kita punya dua tangan dan dua kaki, tapi kenapa kita harus berharap ke seseorang. Padahal kita bisa melakukannya, kecuali memang benar-benar tak bisa.