
Kini mereka semua duduk melingkari meja, Shaka baru saja melihat lokasi dimana keberadaan terakhir Runa.
Sekarang ia dan yang lainnya tengah berpikir, berpikir bagaimana cara mereka untuk menemukan keberadaan Runa.
"Kita bagi tim aja," usul Rayn sembari mencoba untuk memecahkan keheningan yang ada.
"Gue setuju!"
"Karena sebagian anak udah pada pulang, sekarang kita bagi aja buat anak-anak yang masih ada disini." Rayn berkata.
"Per kelompok kita bagi 3 sampai 5 orang," sambung Rayn lagi.
Dibantu oleh Rasya, mereka membagi kelompok. Kelompok yang ada sekitar 4 kelompok yang terdiri dari 5 orang, jadi total orang yang ikut serta dalam pencarian Runa sekitar 20 anak.
Selesai membagi kelompok, mereka bangkit satu persatu dan mulai keluar perlahan dari kafe.
"Aku ikut!" sahut Vanya.
Rasya menggeleng tegas. "Nggak! Kamu balik, dan diantar Ipul," tegas Rasya.
"Gak mau!"
"Vanya! Gak mungkin kamu ikut, sekarang nurut dan balik sama ipul!" ulang Rasya dengan menekan kata perkata.
"Bener Van kata Rasya. Lo balik aja, kita yang bakal cari Runa. Lo tenang aja, Runa bakal segera kita temukan!" sahut Tara mencoba memberi pengertian pada adik juniornya itu.
Vanya mengangguk ngerti, dan mengikuti ucapan Rasya. Kalau dipikirkan kembali, ucapan keduanya benar juga. Kalau sampai Vanya ikut, nantinya malah menambah masalah.
"Gue balik deh. Kalian hati-hati, kalau Runa udah ketemu kabarin gue," ujar Vanya.
"Ayo Pul kita balik," Vanya mengajak Ipul -salah satu anggota Alastair untuk pulang.
Setelah kepergian Vanya, seluruh anggota mulai menaiki motornya masing-masing. Kecuali Shaka, karena cowok itu sendiri yang memakai mobil.
Shaka perlahan mengeluarkan mobilnya, dan berjalan terlebih dahulu. Kemudian disusul oleh anggota Alastair lainnya dibelakang, membelah padatnya jalanan ibukota.
Dalam hati, Shaka berdoa agar Runa tak apa-apa. Tangan kirinya mengambil ponsel karena sedari tadi bergetar. "Halo Pa? Gimana?"
"Semuanya udah siap, Papa juga sudah menyuruh mereka untuk menyebarkan mencari keberadaan Runa. Kamu tenang aja,"
Menghela napas lega. "Iya Pa. Oh iya, Shaka mau Mama untuk gak tau soal ini, takutnya Mama kepikiran," pesannya pada Al.
"Pasti kalau itu, kamu tenang aja. Sekarang fokus untuk mencari keberadaan Runa," balas Al dari sana.
"Papa tutup dulu, nanti kalau udah sampai di tempat langsung hubungi Papa!" Al langsung mematikan panggilan sepihak.
Sebelumnya Shaka sudah menghubungi sang Papa untuk meminta bantuan, mencari keberadaan Runa. Sebetulnya Shaka tak perlu meminta Al untuk mengutus bawahannya untuk membantu dirinya.
Tetapi bukannya lebih baik lagi jika lebih banyak orang, akan lebih mudah mencari?
Mendesah berat, tak henti-hentinya Shaka berdoa agar Runa selamat. "Semoga kamu gak papa Na,"
Sampai di pertigaan pertama, Shaka menghentikan motornya tiba-tiba. Begitu juga dengan anak-anak yang ada di belakang. Melihat Shaka menghentikan mobilnya, membuat mereka juga ikutan.
Keluar dari mobil, Shaka menghampiri yang lain. "Kita mencar sekarang, sesuai pembagian kelompok tadi. Kalau kalian ketemu sedikit bukti keberadaan Runa. Langsung hubungi gue," perintah Shaka pada anggotanya.
"Siap!"
Kembali masuk ke dalam mobil, Shaka menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Kepalanya juga tak diam untuk menoleh ke kanan dan ke kiri, mungkin saja dirinya bisa menemukan seseorang yang bisa Shaka tanya.
Di sebuah rumah tua yang jauh dari padatnya orang-orang, tempatnya yang ada di ujung hutan membuat tempat ini sulit untuk di datangi. Terdapat seorang gadis dengan pakaian putihnya, duduk tak berdaya di atas kursi.
Gadis cantik tak lain tak buka adalah Runa itu terduduk lemas di atas kursi, dengan keadaan yang jauh dari baik-baik saja.
Berkali-kali Runa menjerit, meronta dan meringis kencang. Berusaha untuk meminta pertolongan. Tapi apa daya, hal itu malah membuat energinya terkuras habis.
Kini tubuhnya diikat kuat. Dengan kaki dan tangan yang di tali kencang, membuat Runa tak bisa untuk bergerak sedikit pun.
Mencoba untuk mengangkat kepalanya perlahan, kembali menutup kedua matanya saat kepala Runa kembali berputar.
"Shhh, pusing.." ringis Runa.
Menatap sekitar, Runa mengernyitkan keningnya, tempat ini benar-benar asing.
Sekarang dirinya dimana? Dan mengapa Runa ada disini?
Pikirannya kembali teringat pada waktu di kuburan, bukan hanya di kuburan melainkan di taman, kejadian itu seketika berputar di kelapanya. Kejadian dimana Runa jadi tau sifat asli dari pacarnya tersebut.
Hal yang semakin membuat Runa takut adalah, saat Rama mengajaknya dikuburkan dimana di sana terlihat jelas nama sosok yang begitu membekas di ingatan kepalanya.
Kania Anastasius
Nama itu sangat tercetak jelas, bahkan sangat jelas tertulis di atas batu nisan.
Kembali mencoba untuk membuka ikatan ditangannya. "Shhh.. Sakit," Runa yakin jika tangannya memerah akibat gesekan dari tali.
Tubuhnya menegang seketika, saat suara pintu terbuka dan suara kaki melangkah mendekat. Menelan kelu saliva nya, Runa dapat melihat seseorang berjalan mendekatinya.
Tap
Tap
Tap
Langkah kaki itu berhenti tepat di di depan Runa, menyisakan jarak beberapa centimeter. Perlahan tangan sosok di hadapannya menyentuh lembuh pipi Runa, dan mencengkram kuat dagu gadis itu.
Runa meringis, menatap sosok di hadapannya dengan takut. Runa memang tak bisa menatap wajah sosok di depannya, namun Runa tau manik mata itu milik siapa.
Sedikit menyipitkan matanya, Runa kini tau siapa sosok di hadapannya tersebut.
"R-rama," panggil Runa dengan ragu.
"Hai sayang," sapa Rama sambil mengusap lembut pipi Runa dan kembali mencengkram kuat dagu gadisnya.
"S-sakit," rintih Runa.
"Sakit?" tanya Rama, tersenyum sinis. "Maaf," Rama tertawa keras, tawanya bahkan memenuhi ruangan ini.
"Diam disini dan jangan berisik!" bisik Rama dengan wajahnya yang datar, dan tanpa melupakan tatapan seorang pembunuh.
"Siapkan diri untuk esok," Rama menjauhkan wajahnya dari Runa, peralahan cowok itu memundurkan langkah kakinya dan berbalik pergi.
"Kenapa kamu lakukan ini ke aku?" pertanyaan yang Runa ucap berhasil membuat langkah Rama terhenti.
"Karena kamu hanya gadis lugu yang bodoh," jawab Rama seadanya dan langsung memilih pergi, tak lupa untuk kembali mengunci pintu agar gadisnya tak kabur.
"Balas dendam akan dimulai," gumam Rama sambil melemparkan kunci ke arah lain.