Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Arfan tau semuanya



Minggu telah tiba, waktu yang tepat untuk bermalas-malasan. Runa baru saja bagun sembari menatap jam weker yang menunjukkan pukul 07.49 beginilah akibat begadang semalam.


Mengambil gelas dan meneguk nya hingga habis. Memilih langsung turun ke bawah untuk mengisi air dan sarapan. Runa yakin jika yang lainnya sudah menyelesaikan sarapan pagi mereka.


Sampai di bawah, Runa mendapatkan Arfan tengah asik dengan ponselnya. "Gak ke kampus Bang?"


"Libur," jawab Arfan pendek. Masih asik dengan layar ponselnya.


Runa mengangguk paham, menutup kembali botol minum, melangkah mendekati Arfan dan duduk di depan lelaki itu. "Bunda sama Ayah udah berangkat ya?" tanya Runa sambil mengoleskan selai coklat.


Arfan mendongak menatap Runa sekilas. "Baru juga berangkat, eh iya bentar." lelaki itu merogoh saku celana. "Bunda mau nanti siang kita belanja buat stok makanan bulan depan. Ntar siang kita belanja, nih barang yang Bunda suruh beli." memberikan secarik kertas berisikan daftar barang yang harus dibeli.


"Sekalian juga, lo cek, kali aja ada yang kurang." tambah Arfan kembali memasukkan nasi roti miliknya ke dalam mulut.


Runa mengangguk paham, tangannya mengambil kertas berisikan daftar barang yang harus di beli sambil membacanya dalam hati. "Yaudah, sekalian nanti anterin Runa ke toko buku bentar, buku Runa ada yang habis."


"Beli buku apaan?" tanya Arfan pada Runa.


"Buku tulis lah, sekalian sama beberapa buku novel yang baru terbit." ujar Runa.


"Kenapa gak ikutan PO, kan lo bisa dapat printilan nya juga." tanya Arfan pada Runa.


Runa menggeleng. "Gak mau, gak bisa lihat buku yang lainnya juga." ujar Runa menyengir. Meski lebih enak PO karena dapat diskon serta hadiah namun Runa memilih untuk menuju ke toko buku langsung, walaupun harganya sedikit lebih mahal.


Hanya bisa menggelengkan kepala. Arfan bangkit dari duduknya, cowok itu menaruh semua piring kotor ke dalam wastafel. "Gue naik dulu, mau mandi. Buruan mandi lo bau," ujar Arfan sembari mengecup singkat kepala Runa.


"Enak aja! Runa wangi ya," pekik Runa tak terima.


...


Siang hari tiba, Arfan berjalan menghampiri Runa yang asik dengan bermain ponsel. Lelaki itu mendudukkan pantatnya pada sofa ruang tamu. "Berangkat sekarang apa nanti?" tanya Arfan..


"Sekarang," ujar Runa, matanya masih asik pada layar ponsel hingga tak menyadari bahwa Arfan berada tepat di samping.


Helaan napas terdengar. "Nanti apa sekarang?"


"Sekarang Abang, ini udah siang." ungkap Runa.


Mendengus kesal. "Kalau gitu ngapain lo masih main handphone? Udah tau siang, bukannya berhenti dulu main HP." gerutu Arfan.


Runa segera menoleh ke samping, saat mendengarkan Arfan menggerutu kesal. Gadis itu tersenyum tanpa doa, lalu memasukkan ponsel nya ke dalam tas dan beranjak keluar meninggalkan Arfan.


Ditinggal nih, batin Arfan meringis.


"BANG ARFAN AYO! KATANYA UDAH SIANG, KOK MALAH DUDUK DI SANA!" teriak Runa memekik.


"Kenapa jadi gue yang kena marah dah?" tunjuk Arfan, melangkah mendekati mobil. "Iya-iya sabar kali," katanya ketika sudah berada di mobil.


"Buruan ya Bang, Runa udah lapar." ungkap Runa, perutnya sudah meminta jatah makan siang.


"Sabar, belum juga nyalain mesin. Yaudah, nanti kita makan dulu sebelum belanja." ajak Arfan membuat senyum Runa sumringah.


...


Shaka menyandarkan dirinya pada kursi, cowok itu tengah berada di depan rumah Kania. Kania tadi meminta bantuan untuk Shaka ikut dengannya ke rumah sakit, alasannya penyakitnya kambuh.


Tangannya mengetuk meja, menunggu Kania yang tak kunjung keluar. Menoleh ke kanan dan ke kiri, hingga akhirnya sosok yang dia tunggu datang juga.


Kania, dengan dress putih selutut dan sepatu sandal berwarna hitam. Berdiri tepat di depan matanya. Shaka tersenyum, lalu bangkit dari tempat duduk.


"Maaf lama," sesal Kania.


"Gak, ayo berangkat." ajak Shaka.


...


Sebagian pengunjung pasti mengira, bahwa Runa dan Arfan pacaran. Kelihatan nya sih emang romantis, tapi kalau udah di rumah beda cerita.


"Bang, lepas ih." rengek Runa, tangannya sedari tadi sudah di genggam erat oleh Arfan, katanya takut ilang.


"Gak, gini aja. Biar mereka ngira kita pacaran," ujar Arfan berhasil membuat Runa mendengus kesal. "Lo mau makan apa?" tanya Arfan, manik matanya menatap beberapa resto.


"Runa mah ngikut aja," yang penting bagi Runa kenyang aja, terserah mau dimana.


"Hadehh, gimana kalau di sana." tunjuk Arfan ke salah satu resto nasi padang. "Mau gak?" menatap Runa dengan tanda tanya.


"Boleh," sahutnya gembira, sudah lama juga Runa tak makan nasi padang, apalagi kalau ditambah sambal.


Di lain tempat, Shaka tengah menunggu Kania diluar ruangan pengecekan. Menyandarkan tubuhnya pada dinding rumah sakit, Shaka menelisik ke dalam ruangan sesekali. Tak lama, pintu itu terbuka, Kania dan satu dokter keluar.


"Gimana?" tanya Shaka pada Kania.


"Gak papa kok, kata dokter gak ada masalah. Cuma harus istirahat aja, gak boleh kecapean." tutur Kania.


"Keadaan pasien semakin membaik, namun ada satu hal yang harus di jaga. Jangan sampai stress ya, bisa-bisa nanti kambuh penyakit nya." saran dokter itu. "Kalau begitu saya pamit ya, jangan lupa untuk mengambil obat nya di apotek," tambah dokter dan berpamitan pergi, akibat harus mengobati pasien yang lainnya.


Mengulurkan tangan ke arah Kania. "Resep obatnya mana?" tanya Shaka, biar sekalian dia yang membelikan.


"A-ahh, gak usah, aku bisa ambil sendiri kok. Kamu tunggu di parkiran aja, buat nanti langsung cari makan siang. Aku ambil obat dulu ya!" Kania terlihat panik, gadis itu memilih melangkah menjauhi Shaka.


Sedangkan Shaka mengerutkan dahi bingung. Tak ingin berpikir yang aneh-aneh, dia melangkah keluar dan menuju ke dalam mobil.


...


Arfan dan Runa sedang mengelilingi supermarket, mereka lagi mencari bahan makanan yang mereka butuhkan untuk satu bulan ke depan. Keduanya membagi tugas, Arfan yang mendorong troli dan Runa yang men check list barang apa saja yang sudah masuk ke dalam troli.


"Mau yang ini apa yang ini?" Runa menunjukkan dua produk yang sama namun berbeda rasa.


"Yang kiri," tunjuk Arfan membuat Runa mengangguk, lalu memasukkan kembali ke dalam troli.


Hampir satu jam lamanya, kedua kakak adik itu berbelanja semua bahan. Untung saja, semuanya bisa terbeli hanya beberapa barang yang tak dapat mereka temukan.


Mengambil alih salah satu kardus dan membawanya ke dalam mobil.


...


"Jawab jujur ke gue sekarang, lo sama Shaka lagi ada masalah?" gertak Arfan. "Jawab Runa!" paksa nya.


Runa mengangguk lemah. "Iya, Runa sama kak Shaka lagi ada masalah."


Arfan lantas menjambak rambutnya kesal, menatap Runa tak percaya. "Oh, sekarang gue ngerti. Kenapa Shaka gak jemput lo lagi," kini Arfan mengetahui semuanya.


Tadi saat kembali dari parkiran untuk menjemput Runa, matanya tak sengaja menatap sosok yang Arfan kenal, semakin dekat Arfan melangkah semakin yakin bahwa cowok itu adalah --Shaka.


Arfan sebagai Abang yang melihat hal itu lantas marah besar, bahkan tak segan dia mengeroyok Shaka serta membabi-buta. Tak lama Runa yang datang langsung memisahkan keduanya, dan menarik Arfan balik ke parkiran.


"Ceritain semuanya ke gue sekarang!" desak Arfan, sebagai Abang pasti Arfan tak tinggal diam jika princess nya tersakiti.


Menghela napas sejenak, Runa mulai menceritakan seluruh masalah yang terjadi, mulai tentang kebenaran hingga kehadiran Kania. Kejadian itu berhasil membuat kemarahan Arfan memuncak.


"Putusin Shaka sekarang!" tunjuk Arfan, wajah lelaki itu sudah merah akibat menahan emosi, tangannya mengepal kuat serta dada yang naik turun.


Runa menggeleng, hal yang berhasil membuat emosi Arfan semakin memuncak. "NGAPAIN LO MEMPERTAHANKAN HUBUNGAN YANG EMANG GAK BISA LO TAHAN,"


"Gue aja, yang mau bentak lo itu mikir 2 kali, dan dia? yang hanya sebatas pacar, malah membuat lo kayak gini." ujar Arfan. "Putuskan dia sekarang, atau gue sendiri yang buat hubungan kalian berdua putus!" sambung Arfan dan memilih pergi.