
Bel pulang sekolah telah berbunyi, di dalam kelas IPS 5. Kelas Runa berada, di dalam kelas hanya menyisakan dirinya seorang. Semua teman-temannya telah pulang, senyum Runa terbit ketika melihat barang yang dia cari ketemu.
"Syukurlah aku kira ilang tadi." gumam Runa, sambil memeluk buku diary miliknya.
Runa kembali melangkah keluar kelas, gadis itu memeluk erat buku diary miliknya. Sesekali Runa menjawab sapaan dari teman-temannya.
"Kenapa tadi bohong?" pertanyaan ini berhasil membuat Runa terjingkrak kaget, gadis itu menoleh ke samping. Ada Shaka yang berdiri tepat di sampingnya, cowok itu menyamakan langkah kakinya dengan langkah kaki milik Runa, sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.
Runa mengelus dada akibat kaget. "Kak Shaka?" beo Runa.
"Kenapa tadi bohong Runa," Shaka kembali melayangkan pertanyaan yang sama.
Seketika Runa dibuat bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan Shaka. "Bohong? Soal apa?" tanya Runa balik.
"Obat," balas Shaka singkat.
Runa berohria, dia mengangguk paham dan mengerti. "Tau dari mana?" bukannya menjawab gadis itu malah memberikan pertanyaan balik.
"Anak-anak, kenapa gak hampiri aku aja tadi. Kenapa malah bohong." kata Shaka.
"Gak bohong kok, niat nya mau obati kamu. Tapi ternyata udah di obati sama cewek tadi. Lagian aku juga gak mau ganggu kamu." jawab Runa dengan seadanya.
"Kok gitu? Kan kamu bisa buat bilang ke aku, biar aku suruh Kania pergi." tutur Shaka.
"Namanya Kania? Ya gak mau ganggu aja, lagian kan. Pasti kamu juga gak mau di ganggu, kamu kan sibuk." kata Runa sambil menekan kata akhir.
Pernyataan Runa berhasil membuat Shaka terdiam, cowok itu menghela napasnya kasar. "Maaf," ujar Shaka dengan pelan.
Runa tersenyum kecil, lalu menatap Shaka dengan intens. "Untuk apa minta maaf? Kamu gak ada salah apa-apa. Jadi, gak usah minta maaf."
Shaka hanya bergumam singkat. Cowok itu menarik kedua tangan Runa dan mengusapnya dengan lembut. "Na, kasih aku waktu ya buat ceritain semua masa lalu aku ke kamu." ujar Shaka sambil menatap Runa dalam-dalam.
"Kapan?" tanya Runa, sebenarnya Shaka tak harus bercerita tentang masa lalunya pada dirinya. Karena menurut Runa, jika tak bisa cerita, tak usah di paksakan.
Tapi, tak tau kenapa. Seketika Runa ingin mendengarkan masa lalu Shaka dari mulut cowok itu sendiri, tepatnya sehabis Galang mempertanyakan pertanyaan itu (baca episode 60).
Runa bisa saja meminta orang lain menceritakan tentang bagaimana masa lalu Shaka itu. Namun, jika dipikir-pikir itu tak sopan bukan? Lebih baik, menunggu Shaka berkata jujur padanya.
Entah itu kapan.
"Untuk itu---" belum lagi Shaka melanjutkan kata-kata nya, seseorang tak sengaja menabrak pundak Shaka yang hampir saja membuat tubuhnya menabrak tubuh mungil milik Runa.
"Aduh.. maafin aku, aku gak sengaja." ujar gadis itu sambil menundukkan kepala.
Shaka dan Runa saling tatap, kedua nya sama-sama bingung. Menatap gadis di depannya yang sedari tadi menundukkan kepala sambil memegang kepala.
"Lo kenapa?" Shaka bertanya pada gadis di depannya.
"Gak tau, kepala aku pusing banget. Kayaknya gula darah rendah aku kumat deh." kata nya, yang membuat Shaka dan Runa panik.
Gula darah rendah atau hipoglikemia adalah kondisi ketika kadar gula di dalam darah berada di bawah normal.
"Ini gimana?" Shaka bertanya pada Runa.
"Kak Shaka punya permen atau gak minuman soft drink gak?" tanya Runa, gadis itu juga panik melihat gadis di depannya dengan keadaan seperti ini.
Bagi penderita gula darah rendah disarankan untuk selalu membawa permen ke mana saja, karena dapat segera menaikkan kadar gula darah dengan cepat. Selain permen, penderita juga dapat mengonsumsi jus buah atau soft drink.
Shaka hanya bisa menggelengkan kepala. Seketika Runa menjadi panik, akibat wajah gadis di depannya terlihat pucat serta keringat dingin yang mulai berjatuhan. "Yaudah, kak Shaka bawa dia ke UKS gih, itu kakaknya udah pucat banget." saran Runa.
Shaka mengangguk setuju, cowok itu juga tak kalah panik nya, dengan sigap Shaka memegang kedua pundak gadis itu sambil membawanya pergi. "Pelan-pelan," ujar Shaka.
"Iya Run, itu Shaka sama Kania mau kemana?" Bram juga bertanya.
Gadis itu adalah Kania, Kania Anastasius. Gadis yang baru beberapa hari kemarin pindah ke Trisatya.
"Mau pergi bentar, mau beli permen sama jus buah buat kak Kania." ujar Runa.
Semua inti Alastair sama-sama menautkan alis mereka, bingung. "Buat Kania? Emang dia kenapa?" tanya Rayn.
"Gula darah kak Kania rendah, jadi aku harus buru-buru buat beli," kata Runa.
Arthur langsung mencegah Runa. "Gak usah, sini biar gue sama Bram yang beliin, lo hampiri Shaka sama Kania aja, sama yang lain." Lantas Arthur menarik tangan Bram untuk pergi.
"Kak gak ngerepotin kan?" tanya Runa.
"Gak santai aja, ntar di bayar sama Bram kok!" pekik Arthur.
"Enak aja lo, gue lagi yang kena." protes Bram, perasaan dia terus yang kena hari ini.
"Gak papa, biar rejeki lo gak seret. Udah, ayo! Kasihan anak orang nungguin." kata Arthur, semakin menarik lengan Bram.
"Sok perhatian lo!" ketus Bram.
Arthur mendengus sebal. "Sebagai manusia kita itu harus perhatian, gak boleh pilih-pilih."
"Sebagai manusia kita itu harus perhatian, gak boleh pilih-pilih." Bram berkata sambil menirukan suara Arthur. "Lambemu! gak boleh pilih-pilih, lihat yang bening dikit aja udah ke mana-mana tuh mata." cibir Bram.
"Iri bilang babi! Udah tuh bayar, gue duluan." Arthur membawa jus botolan serta beberapa permen dan meninggalkan Bram.
Bram melongo menatap kepergian Arthur. "Heh anjir! Kok gue ditinggal?"
"Bayarin lah, kan udah gue bilang tadi lo yang bayar." pekik Arthur tak tau malu.
"Bocah biadap! Gue lagi yang kena." Bram mendengus sebal namun tak ayal, bocah itu tetap membayarkan semuanya.
Arthur masuk ke dalam UKS setelah mengetuk nya. Di dalam UKS cukup banyak anak ternyata. Cowok itu memberikan sebotol jus buah serta permen pada Kania.
Kania menerima pemberian dari Arthur. "Makasih ya,"
"Sama-sama, makasih ke Bram ye! Dia yang bayarin soalnya. Sama Runa juga, dia yang saranin." ujar Arthur.
"Makasih ya Bram, nanti uangnya aku balikan. Makasih juga buat Runa," kata Kania.
Runa mengangguk kecil seraya tersenyum manis. "Iya, sama-sama. Lain kali, selalu bawa permen ya buat jaga-jaga." saran Runa.
"Em, aku pamit duluan ya. Udah sore juga," pamit Runa pada yang lain.
"Naik apa?" tanya Shaka. "Biar gue yang antar," ujar Shaka sambil memakai jaket.
Runa menggeleng dengan cepat. "Gak usah kak, aku pulang sendiri aja." tolak Runa.
"Gue gak nerima alasan!" kata Shaka dengan tegas, lalu menarik Runa pergi keluar. "Duluan!" pamit Shaka pada inti Alastair lainnya.
"Ati-ati Sa!"
...
Kalau ada kesalahan tentang penyakit di atas, kalian bisa koreksi ya. Cuma tau dikit-dikit doang, dan sisanya lihat internet.
Jangan lupa jejaknya prend! 😃