Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Belum boleh pulang



Setelah menunggu hampir setengah jam kurang, akhirnya dokter yang menangani Runa keluar. Shaka yang sadar langsung bangkit dan menghampiri dokter itu, tanpa banyak tanya dia menanyakan keadaan Runa.


"Dengan saudara pasien?" tanya dokter muda itu, menatap semuanya.


Shaka mengangkat tangannya. "Saya dok! Saya suaminya. Bagaimana dengan keadaan istri saya?"


Dokter itu berdeham singkat, setelah itu mulai menjelaskan keadaan Runa. "Daya tahan tubuh pasien saat ini lemah. Untuk saat ini keadaannya mulai membaik, untuk itu saya mohon buat beberapa hari ke depan pasien harus di rawat inap di rumah sakit. Untuk memastikan lebih lanjut keadaan pasien," jelas dokter muda itu dengan rinci.


"Baiklah dokter, lakukan apapun untuk istri saya." kata Shaka. "Apakah saya boleh masuk ke dalam?" tanyanya pada sang dokter.


Dokter itu pun segera memberikan jalan untuk Shaka masuk ke dalam. "Silakan, mohon bergantian. Kalau begitu saya pamit untuk mengecek pasien lainnya,"


"Masuk dulu aja, nanti kita gantian." Al berkata begitu Shaka menatap mereka.


Tanpa menunggu lama, Shaka melangkah masuk ke dalam. Mengulas senyum begitu mendapati Runa yang telah sadar, dan kini sedang menyadarkan tubuhnya di sandaran brankar.


"Sayang," panggil Shaka dengan lembut.


Perlahan-lahan Runa membuka kedua matanya, dia tersenyum manis. Mendapati Shaka yang saat ini duduk di sampingnya. "Hubby?"


"Ini aku, ada yang pusing?" tangannya terulur untuk mengusap lembut rambut panjang milik Runa.


Runa menggeleng pelan. "Enggak, udah enakan. Maaf ya by," balas Runa dengan mengecilkan nada di akhir kata.


Alis Shaka terangkat sebelah, sambil menunggu ucapan lanjut dari mulut istrinya.


"Maaf udah buat kamu khawatir. Bukan kamu juga tapi yang lainnya," sambung Runa menunduk.


Shaka langsung bangkit dari duduknya, dia segera menarik Runa ke dalam pelukan. "Ini bukan salah kamu, ini udah musibah. Gak ada yang tau juga kan?"


"Memang aku tadi marah karena gak becus buat jagain kamu, tapi percuma juga kalau hal itu malah membuat semuanya jadi rumit." sambung Shaka.


"By aku mohon, jangan marahin Ale ya? Dia gak salah, disini aku yang salah karena gak bilang ke dia."


Namun kali ini Shaka diam, sama sekali tak menggubris ucapan Runa barusan. Melihat tak ada respon dari Shaka, membuat Runa menatapnya.


"Jangan bilang kalau kamu marahin Ale?"


Shaka memejamkan matanya, diiringi dengan hembusan napas panjang. "Iya tadi gak sengaja,"


"Tuh kan kebiasaan! Kamu mah orangnya emosian," Runa mengerucutkan bibirnya kesal.


"Ya maaf, tadi aku emosi. Aku takut kamu kenapa-napa," ungkap Shaka.


"Pokoknya habis ini kamu harus minta maaf ke Ale. Gak mau tau!" ujar Runa dengan melipat kedua tangannya di depan dada.


Menghela napas perlahan, Shaka menganggukkan kepala. "Iya sayang, setelah ini aku minta maaf sama Ale. Udah ya, jangan marah."


"Janji?" Runa mengarahkan jari kelingkingnya ke arah Shaka.


"Janji!" balas Shaka dan menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking milik Runa.


...


Dan sekarang, Runa telah dipindahkan ke ruang rawat inap. Semuanya juga sudah diperbolehkan masuk ke dalam untuk mengecek keadaan Runa.


Shaka mengedarkan pandangan ke penjuru kamar, cowok itu sama sekali tak menemukan keberadaan Ale. "Aku keluar sebentar, mau cari Ale." Dengan sedikit berbisik Shaka perlahan mundur ke belakang dan keluar ruangan.


Cowok itu mulai mengelilingi sekitar lorong rumah sakit, dan tak henti-hentinya untuk menghubungi Ale. "Lo kemana sih Le,"


Langkah Shaka terhenti seketika, begitu mendapati Ale yang sedang asik makan di kantin rumah sakit. Sedikit bernapas lega, Shaka memutuskan untuk menghampirinya.


"Di cari dari tadi ternyata disini,"


"Ale," panggil Shaka.


Ale menoleh sekilas, dan kembali memakan makanan pesanannya. "Iya? Ada apa Bang?"


Sedikit menggeser kan kursi, Shaka mendekati Ale. "Sorry udah bentak lo tadi," ujar Shaka seraya memeluk adik kesayangannya itu.


Ale mengulas senyum. "Ale ngerti, Abang khawatir tadi. Maafin Ale juga yang gak bisa jaga kak Runa,"


Menguraikan pelukan Shaka menatap Ale sejenak. "Bukan salah lo, ini musibah." Shaka berkata tegas.


"Oh iya keadaan kak Runa gimana?" tanya Ale sambil menyeruput minumannya.


"Udah mendingan. Udah dipindahin juga," jawab Shaka membuat Ale manggut-manggut ngerti.


"Mau kemana lo?" tanya Shaka, begitu melihat Ale yang bangkit dari duduknya.


"Lihat kak Runa," balas Ale kembali memakai tas sling bag nya. "Bayarin ya Bang! Dompet gue ketinggalan di mobil, makasih!" mengecup singkat pipi kanan Shaka sebelum melenggang pergi.


Shaka mendengus kesal, tak urung cowok itu membayar semua makanan yang Ale pesan, selanjutnya menyusul Ale yang mulai tak terlihat. "Baru juga minta maaf, udah ngelunjak aja." ujarnya kesal.


...


Runa terbangun dari tidurnya, saat mendengar suara pintu kamar terbuka cukup keras. Menggeliat pelan, Runa mulai membuka mata.


"Hubby?" dengan suara khas bangun tidur.


Shaka menoleh ke belakang. "Eh sayang! Aku bangunin kamu ya? Maaf ya,"


Runa menggeleng pelan dan perlahan mengubah posisi tiduran menjadi duduk, di tatap nya Shaka cukup lama. "Kamu kenapa? Mukanya kok bete gitu," heran Runa sedikit memiringkan kepala.


"Buat pulangnya gimana? Bisa hari ini," tanya Runa lagi.


"Heloooo! By, kamu kenapa?"


"Gak boleh, katanya lusa baru boleh pulang." Shaka menjawab dengan tak suka, sementara Runa menutup kedua matanya, berusaha menahan tawa.


"Jadi karena itu, kamu bete?" Shaka mengangguk. "Ututututu, anaknya bete." Runa tertawa meledek.


"Sini, sini peluk dulu." Runa merentangkan kedua tangannya, dan menyuruh Shaka untuk naik ke atas kasur.


"Enggak! Nanti kasur nya jebol gimana?"


Runa menggeleng cepat. "Rusak tinggal ganti rugi aja kan? Sini peluk? Gak mau peluk ya--" belum sempat Runa berucap lebih lanjut, Shaka dengan sendirinya naik ke atas dan memeluk Runa.


Runa terkekeh geli, sambil menyandarkan kepalanya pada lengan Shaka yang menjadi bantal. "Mau juga kan akhirnya,"


"Sayang," Shaka memanggil dengan nada serak.


"Hm?" Runa bergumam singkat. "Ada apa?"


"Jangan sakit lagi," kata Shaka. "Aku gak tega lihat kamu kayak gini. Harus terpasang alat-alat dan harus minum obat," sambung Shaka.


Malam tadi cowok itu dibuat frustasi oleh Runa, siapa yang tega melihat orang tersayang harus terbaring di atas kasur rumah sakit dengan infus yang tertancap di telapak tangan? Begitu juga dengan Shaka, semalam dia dibuat tak bisa tidur akibat memikirkan keadaan Runa.


Meski Shaka tau, kalau keadaan Runa sudah membaik. Tapi tetap saja, ada rasa khawatir yang menyelimuti hatinya. Ditambah lagi saat Runa harus meminum obat dengan jumlah banyak, tak bisa membayangkan seperti apa.


Runa tersenyum paham. "Iya, doain aja biar sehat terus."


...


...Yuk lah jejaknya ditambah lagi, kali ini maksa :( ...