
Beberapa bulan telah berlalu, hubungan Shaka dan Runa juga semakin hari semakin dekat.
Mereka berdua juga sering menghabiskan waktu berdua bersama, baik di kantor maupun di luar.
Dan Shaka juga telah memulai aksinya untuk mendapatkan kepercayaan kembali dari Arfan, meskipun dirinya harus mengorbankan diri.
Karena Arfan tak tanggung-tanggung untuk menghajar cowok itu jika masih tetap kekeuh untuk bersama.
Seperti hari-hari biasanya, Runa memulai aktivitas hari ini dengan bekerja dan melakukan beberapa proyek yang Shaka berikan langsung padanya.
Kali ini Runa berangkat ke kantor menggunakan motor, setelah berdebat cukup lama dengan Shaka dan Arfan. Akhirnya Runa diperbolehkan untuk mengendarai motor sendiri.
Sarapan telah usai, menyambar tote bag nya. Runa berjalan keluar rumah, dan menaiki motor nya, perlahan mulai meninggalkan pekarangan rumah.
Dengan bernyanyi kecil, Runa tiba di kantor. Memastikan bahwa dia telah memarkirkan dengan baik dan benar. Runa masuk ke dalam, dan mulai mengerjakan tugas kantor.
Sibuk dengan tumpukan map, Runa tak sadar jika ponselnya sedari tadi berdering. Ketika sadar, Runa segera mengangkat.
"Hai Vanya!"
"Hai Runa, kabar lo gimana hari ini? Oh iya lo nanti siang ada waktu gak?" tanya Vanya dari sebrang.
Terdiam sejenak, Runa menggelengkan kepala. "Nggak ada deh kayaknya, paling cuma kirim laporan aja. Kenapa Van?"
"Syukur deh kalo gitu. Ntar siang gue ke kantor ya buat jemput lo, bye Runa!"
"Nga--- kebiasaan belum juga di tanya main matiin aja," Runa menggerutu kesal.
Belum puas menggerutu, Runa kembali mendapat kan kabar kalau harus menyelesaikan proyek nya siang ini. Menahan kesal, Runa mencoba untuk tenang dan mengerjakan tugasnya hingga usai.
"Sabar Runa, sabar! Jangan marah-marah!" Runa bangkit dari duduknya, dan berjalan menuju ruang usaha.
Dan sekarang, Runa berdiri di depan ruangan Shaka. Setelah mendapat izin, gadis itu perlahan memutar gagang pintu lalu masuk ke dalam.
"Permisi pak ini laporan proyek nya," Runa memberikan map yang baru saja dia print kepada Shaka.
"Terima kasih!" balas Shaka. "Oh iya Runa, nanti siang saya mau kamu untuk datang di kafe Sutra, ada laporan yang harus kamu ambil."
"Laporan ya pak?" Aduh gimana dong, siang nanti Vanya ajak aku lagi. Batin Runa kebingungan.
"Baik Pak nanti akan saya ambil. Saya permisi keluar," pamitnya.
...
Seperti janji tadi pagi. Vanya benar-benar menjemput Runa. Bertepatan dengan waktu makan siang tiba.
Melihat Vanya di ruang tunggu, membuat Runa segera mempersiapkan diri menghampiri perempuan ber-dress unggu.
"Maaf Van buat kamu nunggu lama," ucap Runa tak enak.
Vanya berdiri dari duduknya. "Gak masalah. Yuk berangkat sekarang!" menggandeng Runa keluar kantor.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju parkiran mobil, masuk ke dalam mobil. Runa tak sengaja menatap koper besar yang ada di jok belakang mobil Vanya.
"Van itu koper apa? Kok gede banget?" tanya Runa pada Vanya, seraya melirik koper besar itu.
"Ah.. Itu koper bokap gue," balas Vanya.
"Semalam habis jemput dia dari luar kota, eh lupa buat turunin koper." Tutur Vanya membuat Runa mengangguk mengerti.
Tak ingin berpikir negatif Runa menatap jalanan depan. "Oh iya Van, kamu ajak aku keluar buat apa?" tanya Runa penasaran.
"Ada barang yang harus gue ambil," jawab Vanya. "Tapi kita makan siang dulu ya, mumpung udah jam makan siang soalnya."
"Okelah,"
Tak lama keduanya sampai di depan salah satu kafe yang tak jauh dari perusahaan. Membaca nama kafe yang terpasang di pintu masuk, membuat Runa mengerutkan dahi.
"Kafe Sutra? Ini kan kafe yang di suruh kak Shaka," gumam Runa pelan.
"Kenapa Na?" tanya Vanya ketika melihat Runa yang kebingungan.
"Nggak ada kok, cuma pas aja. Aku juga mau ambil laporan di kafe ini," jelas Runa membuat Vanya manggut-manggut paham.
Masuk ke dalam kafe, Vanya memutuskan untuk duduk di dekat pintu keluar karena hanya bangku itulah yang tersisa di sana.
Mengangkat tangannya untuk memanggil Western, Runa dan Vanya sama-sama memesan menu makan siang mereka masing-masing.
"Van tunggu disini bentar ya, aku mau ambil barang dulu." Runa bangkit dan pergi meninggalkan Vanya sebentar.
Menghampiri pria yang terduduk di ujung kafe, memicing kan matanya sebentar untuk memastikan pria itu adalah orang yang Shaka suruh.
"Iya dengan saya sendiri," balas pria bernama Rahmat itu.
Keduanya cukup lama berbincang, hingga pria di hadapannya pamit pergi. "Terima kasih atas waktu, dan ini laporannya." Pria berjas biru tersebut memberikan satu buah map coklat.
"Terima kasih kembali,"
...
Selesai melaksanakan makan siang, Vanya melanjutkan perjalanan menuju toko bunga. Runa sendiri menunggu di dalam mobil sembari mengecek laporan yang dirinya terima.
Menunggu Vanya cukup lama, perempuan ber-dress unggu itu masuk ke dalam mobil dengan sebuket bunga berukuran cukup besar. Menaruhnya di kursi belakang Vanya kembali menyalakan mobilnya.
"Gede banget bunganya," komen Runa.
Vanya memilih untuk diam dan menjawabnya dengan senyuman kecil. Tak sampai disitu, Vanya kembali menghentikan mobilnya di depan sebuah toko kue.
"Gue turun dulu ya. Mau ambil barang lagi, tungguin!" Vanya turun dan keluar mobil, dengan sedikit berlari perempuan itu masuk ke dalam toko.
Runa mengerutkan keningnya. "Ada apa ya? Ahh mungkin aja, Vanya lagi ada acara." Runa memilih untuk tak berpikir lebih panjang lagi.
Terdengar suara pintu terbuka, Vanya datang dengan membawa kardus, kembali menaruhnya ke belakang kursi.
"Sorry ya lama," ucap Vanya kembali memasang seatbelt.
Runa mengangguk paham. "Gak papa kok santai aja,"
...
Mobil yang mereka tumpangi kini berhenti tepat di depan sebuah bangunan yang menjulang ke atas. Tepatnya mobil Vanya berhenti di sebuah bangunan hotel.
Decak kagum terdengar dibibir mungilnya, Runa tau itu hotel apa. Hotel bintang enam dengan gaya klasiknya, tentu saja untuk masuk ke hotel ini memerlukan uang yang bisa membuat dompet menangis.
"Sini Van, biar Aku bantu!" Runa mengambil alih sebagian barang yang Vanya bawa.
Di dalam, Vanya langsung menuju lobi dan berbicara berdua pada salah satu karyawan di sana.
Tak lama Vanya balik kembali ke Runa, dan menyerahkan kunci kamar pada gadis di hadapannya itu.
"Kamu naik ke lantai 10 nomor 2189," suruh Vanya sambil menyerahkan kunci hotel pada Runa.
"Vanya tapi kan---"
"Udah gak papa, naik sana. Gue mau antar ini sebentar, ntar kalo udah selesai gue hampirin lo." Vanya mendorong pelan tubuh Runa untuk segera memasuki lift.
Menggaruk kepalanya tak gatal, Runa menuruti perintah Vanya untuk masuk ke dalam lift, tentunya juga dengan rasa kebingungan,
Lift itu mulai membawanya naik ke atas, tiba di lantai tujuan. Baru saja tiba di lorong, Runa sudah dibuat kagum dengan keindahan lorong. Runa mulai mencari nomor yang Vanya ucapkan tadi.
Sampai di depan kamar dengan nomor yang Vanya ucapkan tadi, ia menempel kartu itu pada pintu. Sebelum masuk, Runa mulai merasakan keganjilan di sana.
"Kok aneh, Vanya tau kuncinya dari mana ya?" heran Runa yang mulai merasakan keanehan.
Menggelengkan kecil, Runa mulai berjalan masuk. Kembali dikejutkan dengan indahnya kamar hotel, melangkah masuk lebih dalam Runa dibuat kaget kembali menatap jendela luar.
"Bagus banget," batinnya terharu.
Runa mulai mengelilingi sudut kamar, mulai dari sofa, kamar tidur, kamar mandi, tempat ganti. Suara decakan kagum terdengar berkali-kali, senyuman dibibirnya tak luntur sedikit pun.
Di sisi lain, Vanya tiba di sebuah ruangan besar. Dengan bantuan Arthur, Bram dan Tara. Vanya tiba ditempat ini juga.
"Persiapannya gimana?" tanya Vanya pada ketiga lelaki di hadapannya.
"Hampir selesai. Sudah 90% jadi," balas Arthur.
"Runa gimana?"
Vanya terkekeh kecil. "Udah ada di kamar, dia sempet kebingungan sih karena gue tiba-tiba kasih dia kunci."
"Syukur deh, bentar lagi Shaka juga datang. Katanya lagi di jalan," sahut Bram.
"Yaudah, kita lanjut lagi. Karena acaranya bakal dimulai sore nanti," Arthur berkata, membuat mereka berpencar.
...
Menurut kalian semua, Vanya sama yang lainnya lagi ngapain?
Jangan lupa buat tinggalkan jejak kalian ya!