Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Koma



Mobil yang mereka gunakan tiba di depan rumah sakit, melihat kedatangan pasien membuat beberapa suster segera sigap menangani keadaan Runa.


Suara brankar terdengar menggema di rumah sakit, Vanya dan anggota inti Alastair membantu mendorong brankar berisikan Runa yang saat ini tak sadarkan diri.


"Mohon untuk menunggu di luar," ujar salah satu suster yang perlahan menutup pintu UGD.


Semuanya hanya bisa menatap kosong pintu UGD yang tertutup rapat. Suara tangisan terdengar memenuhi lorong, saat ini mereka semua masih begitu shock dengan kejadian yang baru saja menimpa.


Sungguh, terasa seperti mimpi.


Melihat Vanya yang mulai tak sadarkan diri, membuat Rayn dengan sigap membantunya untuk duduk di salah satu kursi rumah sakit.


"Runa gak bakal kenapa-napa kan? Dia bakal baik-baik aja kan? Dia bakal sadar kan kak?" dengan air mata yang membasahi pipi, Vanya menatap Rayn.


"Van, tenangin diri lo dulu. Jangan sampai emosi menguasai diri lo. Runa gak bakal kenapa-napa dia cewek yang kuat," balasan itu berasal dari mulut Arthur.


"Gue takut kak," cetus Vanya menundukkan kepala, menatap kedua tangan serta pakaiannya yang berlumuran darah.


"Enggak, Runa bakal baik-baik aja." kata Bram mencoba meyakinkan, meski ia dan yang lain masih ragu dengan jawaban mereka.


"Lo udah telpon keluarga Runa dan Shaka?" tanya Bram pada Rayn, yang cowok itu balas anggukan kecil.


"Udah, katanya masih di jalan."


Benar saja, tak berlangsung lama. Terdengar suara derap langkah kaki mendekat. Di sana seluruh keluarga mulai berdatangan, bahkan Yuna sudah menangis terlebih dahulu.


"Gimana keadaan Runa?" tanya Arfan to the poin, lalu menatap Vanya yang bersimbah darah.


"Van, Runa gimana?" tanya Arfan sekali lagi.


"Ada di dalam Bang, lagi ditangani." Arthur menjawab, dari mereka berempat yang mengantarkan Runa hanya pakaian Vanya lah yang bermandikan darah.


Mendengar balasan dari Arthur membuat yang lainnya mereka sedikit lebih tenang, semuanya tak berhenti berdo'a untuk kesembuhan Runa.


Sementara Ale masih terdiam di tempat, bersandar pada dinding rumah sakit. Otaknya masih berusaha mencerna dengan baik.


Ia masih sama-sama belum percaya dengan berita ini, padahal baru saja tadi pagi Ale mampir ke rumah untuk numpang sarapan. Dan siangnya malah terjadi seperti ini.


"Semoga kakak gak papa," ujarnya dalam hati.


Menatap Vanya yang menunduk, membuat Ale melangkah mendekatinya. Perempuan itu mengajak Vanya untuk segera berganti, untungnya tadi waktu mendapatkan kabar Ale sempat membawa pakaian.


"Kak, ayo ganti!" ajak Ale, mengiring Vanya ke kamar mandi.


"Kalian sudah menghubungi Shaka?" tanya Al pada ketiganya.


"Sudah Om, tapi belum ada balasan kita juga sudah kirim pesan ke Shaka. Kayaknya di sana lagi gak ada sinyal," balas Bram membuat semuanya saling tatap.


Sementara disisi lain, di sebuah ruangan Shaka dan Rasya tempati, keduanya baru saja tiba di Labuan bajo, cuaca disini juga kurang baik.


Rasya yang sedari tadi diam mulai membuka suara. "Lo kenapa?" tanya Rasya pada Shaka, cowok itu tau kalau Shaka tengah memikirkan suatu hal.


"Enggak, tiba-tiba aja kepikiran Runa." entah mengapa perasaan khawatir dan risau kini melanda pikirannya.


"Runa bakal aman, lagian sebelum kita kesini Vanya udah bilang ke gue. Kalau dia sama Runa bakal ketemuan siang ini," jelas Rasya mencoba menenangkan.


Rasya hanya mengangkat sebelah alisnya, menunggu ucapan lebih lanjut dari mulut sahabatnya itu.


"Tadi waktu gue mau berangkat, Runa tiba-tiba nangis dan minta maaf ke gue, terus juga dia minta foto bareng sebelum gue masuk mobil." ujar Shaka.


"Dan tadi waktu di bandara, cuaca langsung berubah dan kita terpaksa harus nunggu beberapa jam baru bisa sampai disini." lanjut Shaka lagi.


Sebelum tiba di tempat ini, tadinya mereka hampir gagal untuk berangkat karena cuaca buruk yang tiba-tiba datang dan membuat mereka harus menetap beberapa jam lagi di bandara.


Rasya tersenyum simpul. "Udahlah, berpikir positif adalah jalan terbaik. Gue yakin kok kalau Runa gak bakal kenapa-napa, mungkin dia gitu karena hormon. Namanya juga bumil, sekarang yang perlu kita lakukan cuma menyelesaikan masalah kantor!"


"Siap-siap, bentar lagi kita berangkat!" Rasya menepuk pundak Shaka beberapa kali, lalu memilih untuk melenggang pergi.


Menatap kepergian Rasya lalu beralih menatap layar ponselnya, yang menampilkan gambar fotonya dan Runa tadi pagi.


"Semoga kamu gak papa sayang," gumam Shaka.


...


Masih di rumah sakit, semuanya masih menunggu info tentang keadaan Runa. Vanya juga sudah kembali dari kamar mandi. Bersamaan dengan itu, pintu UGD akhirnya terbuka dan seorang suster keluar.


"Selamat sore, dengan keluarga pasien?" Bima mengangguk membuat suster itu tersenyum.


"Gimana keadaan putri saya sus?"


"Pasien mengalami koma, dan membutuhkan banyak darah. Saat ini rumah sakit masih tak ada stoknya, kami sedang membutuhkan donor darah secepatnya." jelas suster itu.


"Golongan darah AB- jika ada. Mari ikut saya," ujarnya lagi.


Bima selaku sang Ayah langsung mengangkat tangannya. "Ambil darah saya saja sus," ujar Ayah Bima.


"Ada lagi?" tanya suster itu, menatap semuanya.


Lea menyenggol pelan lengan putrinya. "Sana, golongan darah kamu kan sama."


"Ale takut Ma," balasnya. Meski kelakuan Ale yang selalu buat orang geleng-geleng kepala, perempuan itu juga memiliki ketakutan yaitu takut akan jarum suntik.


"Gak bakal, paling cuma digigit semut." cetus Al.


"Ma," dengan mimik wajah takutnya Ale kembali menggeleng.


"Le, kali ini aja. Kakak kamu butuh, gini deh kalau Ale mau donor kan darah kamu buat kak Runa. Mama janji bakal kasih apapun yang Ale mau, mau ya nak? Buat kakak sama ponakan kamu loh," kata Lea memohon.


Setelah cukup lama membujuk Ale untuk mau mendonorkan darahnya, akhirnya perempuan itu pun mau juga. Dengan berat hati Ale ikut serta dan berjalan meninggalkan yang lain.


"Gimana Van, udah bisa?" tanya Rayn pada Vanya, cowok itu bersama dengan Arthur dan Bram masih berusaha untuk menghubungi Shaka dan Rasya yang saat ini masih belum bisa dihubungi.


Vanya menggeleng pelan. "Belum, kak Rasya belum jawab panggilan gue."


...


...2 episode menuju tamat, tungguin ya! Tambah lagi jejaknya jangan lupa 🙆🏻 ...


...Buat yang bingung kenapa alurnya jadi begini, karena emang begitu :3 ...