
Sore sore begini, paling pas waktunya untuk bersantai. Runa sendiri hari ini sedang mengambil hari libur, bersamaan dengan beritanya Shaka yang masuk rumah sakit.
Leo sendiri lah yang bilang ke mereka semua, jika untuk beberapa hari ke depan, Al yang akan memegang kendali perusahaan untuk sementara waktu. Paling tidak, sampai keadaan Shaka yang mulai membaik.
Usai melaksanakan mandi sore nya, Runa berencana untuk keluar rumah dan sedikit berkeliling komplek.
Mengambil ponsel nya di atas nakas, gadis dengan jaket hitamnya menuruni anak tangga. Sampai anak tangga terakhir, matanya menatap penjuru rumah.
Dirinya lupa, bahwa sekarang hanya ada dirinya seorang di rumah.
Bang Arfan dan Kak Jihan harus ke Surabaya untuk mengurus berkas. Ayah dan Bunda berada di ruko. Jam segini pasti ramai-ramai nya pengunjung datang.
Tak ingin membuang waktu, Runa melangkah keluar rumah. Sebelumnya Runa mengunci seluruh kaca dan pintu. Membalikkan badan ke belakang, Runa teringat akan sesuatu.
Teror
Teror itu masih menghantuinya. Sudah hampir 2 minggu Runa mendapatkan kiriman, seketika itu Runa mengurungkan diri untuk keluar, tapi dirinya sudah dandan cantik begini. Masa iya harus batal, akibat masalah itu.
"Masa batal sih. Udah rapi gini juga," gumam Runa yang keheranan.
"Bismillah aja deh, semoga gak papa." Runa meramalkan doa-doa dalam hati.
Menutup gerbang, kakinya tak sengaja menginjak sesuatu, yang hampir membuatnya tersandung.
"Aduh.." ringis Runa, sedikit membungkukkan badannya. Dia mengambil kotak yang tak sengaja dia tabrak.
Detik itu juga, jantung Runa berdetak kencang. Dan langsung saja melemparkan kotak itu jauh jauh, Runa kembali lari ke dalam. Menutup pintu dengan buru-buru.
Tubuhnya merosot ke bawah, memegangi jantungnya yang berdetak dua kali lebih kencang. "Itu kotak apa?" seketika Runa dibuat penasaran untuk membuka kembali kotak tersebut.
Mengintip nya dari jendela, Runa menatap kotak tersebut lumayan lama setelah itu kembali menutup korden.
"Siapa sih yang kirim gituan, bikin orang takut aja!" Runa seketika kesal sendiri, dengan orang yang mengirimkan nya barang-barang aneh.
Cukup lama dirinya melamun, sampai-sampai tak sadar jika ponselnya berdering. "Halo," ujar Runa dengan ketus.
"Kamu kenapa? Kok ketus gitu jawabannya," Gadis itu menatap sekilas kontak nama, dan ternyata Rama lah yang menelponnya.
Berdehem singkat, Runa tertawa kecil. "Ahh.. Rama, aku kira siapa."
"Hayo ngaku, kamu lagi mikirin orang lain ya?"
"Ih enggak kok! Btw ada apa? Tumben jam segini telpon aku," biasanya jam segini itu, Rama masih sibuk dengan usahanya.
"Gak papa kangen kamu aja," sahut lelaki itu. "Oh iya, kamu udah terima paket kan?" tanya Rama yang berhasil membuat Runa bingung.
Lain tempat, Shaka menatap malas, sosok orang di hadapannya. Telinganya terasa pegang akibat banyak sekali pertanyaan yang keluar dari mulut cewek itu.
"Lo bisa diem gak sih? Berisik tau nggak!" sungut Shaka.
Niatnya tadi mau tidur siang biar bisa segera pulih walaupun sebenarnya sudah membaik. Cuma karena kedatangan adiknya yang minus akhlak itu membuat Shaka mengurungkan diri.
Shaka kira, Ale datang dengan membawa buat tangan. Bukannya membawa buah tangan, malah pertanyaan yang tak berfaedah cewek itu layangkan padanya.
"Sebagai adik yang baik, gue khawatir sama lo." Tiga hari terakhir Ale tak ada di Jakarta karena ada study tour di luar kota, yang membuat Ale tak bisa menjenguk Shaka beberapa hari kemarin.
"Lebay lo!" cibir Shaka.
"Kok kayak gak masuk akal gitu," imbuh Ale.
Hanya mengedikkan bahu tak peduli. Kemudian, suasana menjadi hening seketika. Kedua kakak adik itu sedang melawan pikiran mereka masing-masing.
Otak Shaka juga berpikir, memikirkan ucapan Ale barusan. Jika Ale dibuat bingung, bagaimana dengan dirinya?
"Bang, lo punya musuh gak sih?" tanya Ale tiba-tiba.
"Nggak,"
"Terus yang nyerang lo kemarin siapa? Coba deh lo ingat ingat, ciri-ciri orang yang nyerang lo. Mungkin aja bisa buat bantu cari identitasnya," Ale memberi usulan.
"Papa setuju!" sahut seseorang dari ambang pintu.
...
Runa melangkah keluar dengan ragu, menelan saliva nya berulang kali. Mencoba untuk membuang pikiran negatif yang menghantui pikiran nya.
Perlahan Runa berjalan keluar, melangkah mendekati kotak yang beberapa menit yang lalu dia buang.
"Kayaknya sih ini," ujar Runa ragu. Membawanya masuk ke dalam, dan kembali menelpon Rama.
Panggilan tersambung, Runa membenarkan ponselnya lalu mengangkat paket yang dia ambil barusan untuk diperlihatkan pada Rama.
"Ini paketnya?" meringis pelan, saat menatap kotak ditangannya, sebagian ujung paket sudah rusak akibat ia banting.
Rama mengangguk. "Iya itu,"
"Rama, maaf. Paketnya gak sengaja ke lempar tadi," cicit Runa merasa bersalah.
"Hah? Dilempar, maksudnya?" beo Rama.
"Jadi, tadi aku kira ini kiriman teror itu. Dan aku lempar sangking takutnya, eh ternyata ini paket kiriman kamu. Maaf ya,"
Rama tersenyum seraya menganggukkan kepala. "Gak masalah, buka gih. Aku mau lihat,"
Runa perlahan membuka paket tersebut, ia dibuat melongo dengan isi paket itu. "R-ram ini," ujar nya gugup.
"Suka?"
Runa mengangguk girang. Mengambil sepasang boneka beruang berukuran kecil dari dalam kotak. "Suka, tapi kok dua?" herannya, memperlihatkan dua pasangan boneka beruang itu pada Rama.
"Biar ada temennya, bentar!" Rama pergi sebentar tak lama kembali dengan sekantung papper bag. Mengeluarkan isi didalamnya.
"Sama?!" tunjuk Runa, kemudian keduanya tertawa bersama. Sore ini menjadi sore yang begitu menyenangkan baginya.
Seketika pikiran negatif yang menimpa nya hilang begitu saja, dan tergantikan dengan boneka beruang pemberian Rama.
Jujur, Runa mulai bisa perlahan-lahan untuk membukakan hatinya pada lelaki baru.
Walaupun masih ragu-ragu. Runa hanya takut, kejadian itu terulang kembali dalam hidupnya.
Entah apa yang terjadi nanti Runa hanya bisa berharap, untuk bisa menyembuhkan kembali luka hatinya. Bukan hanya hati saja mungkin, melainkan mentalnya juga.