
Setelah 3 hari dua malam Runa berada di rumah sakit, akhirnya datang juga hari yang dia tunggu. Siang ini Runa sudah diperbolehkan pulang oleh dokter, meski harus terjadi keributan kecil.
Perlahan bangkit dari duduknya, dengan bantuan Ale. Runa melangkah ke kamar mandi untuk mengatur pakaian. "Ale bantu kak," kata Ale sambil menuntun Runa ke kamar mandi.
Tiba di depan kamar mandi, Runa langsung masuk ke dalam. Sedangkan Ale kembali menata baju milik Runa dan memasukkannya ke dalam tas.
Arfan dan Jihan sendiri sedang membayar tagihan rumah sakit. Sementara itu, Shaka tengah mengobral bersama dokter yang merawat Runa.
Ale menoleh ke samping, begitu mendengar suara pintu terbuka. Ada Shaka yang baru saja tiba, tak lama Jihan dan Arfan juga hadir.
"Runa mana?" tanya Shaka kepada Ale yang masih sibuk menata pakaian.
"Ada di dalam. Lagi ganti baju," jawab Ale membuat Shaka mengangguk mengerti.
"Nih Sa, biaya rumah sakit Runa." Arfan memberikan secarik kertas nota pembayaran.
"Makasih Bang!" Shaka menerimanya dan menyimpannya ke dalam saku.
"Udah datang semua? Ayah Bunda sama yang lain kemana?" tanya Runa, dengan kaos yang melekat pas di tubuhnya.
Semuanya kompak menoleh ke sumber suara, dan mengulas senyum. "Bunda sama Ayah bakal nyusul ke rumah," jelas Arfan.
Menganggukkan kepalanya, Runa mendekati Shaka. "Pulang sekarang!" ujarnya girang.
Shaka tersenyum tipis, lalu bangkit dari duduknya dan merangkul Runa. "Kita balik sekarang," katanya pada yang lain.
...
Suasana ramai saat ini tengah terjadi, Runa bersama anggota keluarga lainnya sedang berkumpul di kediaman Zoey. Setelah waktu itu di kediaman Aldebaran kini tiba saatnya berkumpul kembali bersama.
Dan sekarang, Runa lagi berbaring santai di kamar bawah bersama dengan Jihan. Menemani perempuan itu mengerjakan tugas kampus, tepatnya tugas skripsi.
"Kak Jihan kapan lulus?" tanya Runa sambil membaca buku catatan milik Jihan.
"Empat bulan lagi," balas Jihan melirik Runa sekilas dan kembali menatap layar laptop di hadapannya.
"Berarti awal tahun dong," Jihan hanya mengangguk kecil.
"Terus gimana sama program kehamilannya? Udah ada tanda belum?"
Jihan mengulas senyum dan menggeleng pelan. "Belum, baru juga satu bulan proses. Semoga aja bisa cepat,"
Runa hanya bisa mengamini dalam hati, kemudian terjadi keheningan sesaat diantara keduanya, sampai akhirnya Jihan yang bertanya.
"Kamu sendiri gimana? Udah ada belum?"
"Belum kak, masih proses." balas Runa setengah bergurau.
"Semoga kalian gak nunda ya? Biar gak kayak kakak, semangat!" Seperti yang kalian tau, jika Jihan dan Arfan harus menunda momongan selama beberapa tahun, akibat rasa ego yang tinggi.
Keduanya memang sama-sama salah. Mereka pikir dengan menunda adalah jalan terbaik, tapi nyatanya tidak. Dan kini tiba juga rasa penyesalan di hati Jihan dan Arfan.
"Kakak juga semangat kuliahnya, bentar lagi jadi S2!" balas Runa sambil mengubah posisi rebahan menjadi duduk.
"Runa pamit keluar dulu kalau gitu, daripada disini malah buat kakak gak fokus. Sekalian mau bantu yang lainnya juga," Runa berdiri dan mulai melangkah meninggalkan Jihan sendiri.
"Malahan kakak seneng kalau kamu disini, ada temennya." ujar Jihan. "Nanti aku nyusul ya. Mau selesaikan ini dulu, nanggung!" ujar Jihan lagi.
Runa hanya tersenyum kemudian tertawa renyah. "Gak usah buru-buru kak, yang lain pasti ngerti kok." sahut Runa sebelum akhirnya menutup pintu.
...
Perlahan hari berganti malam, suasana rumah juga bertambah ramai. Ditambah dengan kehadiran Ale yang membuat suasana rumah semakin meriah. Perempuan itu baru saja tiba karena harus mengurus beberapa berkas, maklum sudah masuk ke dalam dunia bisnis.
Di sudut taman ada Al, Shaka dan Ale yang sedang duduk santai sembari menikmati secangkir teh hangat, tak lupa juga dengan beberapa kue sebagai pelengkap. Sambil menunggu makan malam yang sebentar lagi siap, ketiganya memilih untuk bersantai di taman sembari mengobrol ringan.
Al menoleh pada Ale yang baru saja tiba, setelah mengambil teh. "Gimana, udah siap buat ambil alih seluruh perusahaan?" tanya Al mencoba memecahkan keheningan.
"Shaka siap aja kalau emang di kasih. Tapi gak mungkin juga kalau semuanya Shaka yang handel," jawab Shaka.
"Nggak mungkin juga kan kalau Shaka handel semuanya? Shaka aja yang ada di pusat masih kewalahan sendiri," ujar Shaka. "Kenapa gak ke Ale aja yang Papa suruh jaga kota?" tanya Shaka pada Al, meski tatapan mengarah pada Ale.
"Kenapa harus gue? Kalau bisa lo yang handel?" tanya Ale sambil menunjuk dirinya, membuat Shaka memutar bola matanya jengah.
"Gue masih kuliah Bang. Nanti juga ada waktunya gue pegang perusahaan," Ale menghela napasnya sejenak. "Sekarang ini yang gue lakukan cuma bantu lo selagi gue bisa. Buat urusan perusahaan bisa dipikirkan nanti," ujar Ale lagi.
Al tersenyum tipis melihat interaksi kedua anaknya. Walaupun mereka sering ribut ketika disatukan, namun dalam hal seperti ini keduanya tak bisa diragukan kembali. Dalam hati Al, ia bangga pada mereka berdua.
Al berdeham singkat. Pria paru bayar itu menoleh pada Shaka yang kini menoleh padanya juga. "Papa pingin punya cucu," ujarnya.
"Gue juga Bang! Mau jadi onty," sahut Ale antusias.
"Gak sekarang!"
"Jangan nunda momongan Bang! Nanti kayak Bang Arfan lagi. Liat tuh di luar sana banyak orang yang mau punya anak dari hasil dari pernikahan mereka tapi belum bisa sampai sekarang."
"Dan lo? Yang masih ada waktu malah di sia-siakan?" tegas Ale disambung dengan decakan beberapa kali dari mulutnya.
"Tinggal buat juga, apa susahnya? Atau kurang bahan buat bikinnya?" gurau Al.
Untuk kali ini Shaka tak menanggapi ucapan yang Al lontarkan, ia memilih menatap ke arah lain.
Al tersenyum menyadari sesuatu, pria itu melirik sekilas pada Shaka lalu kembali menatap ke depan. "Kamu takut?"
Shaka hanya mengangkat kedua bahunya tak tau. Hal itu berhasil membuat Al berdecak kesal, begitu juga dengan Ale.
"Terus kenapa? Kalau ngomong tuh yang jelas kek, jangan setengah-setengah. Gak paham sumpah," Ale mendengus kesal. Beginilah jadinya jika buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.
Shaka menutup kedua matanya sambil menghembuskan napas. "Shaka juga gak tau."
"Tapi dalam hati Shaka. Shaka gak mau kalau Runa hamil,"
Deg!
Tubuh Runa mendadak kaku seketika mendengarkan ucapan Shaka barusan. Gadis itu perlahan mundur ke belakang sambil membekap mulutnya, berusaha menahan tangisan.
Niatnya tadi ingin memanggil Shaka dan yang lainnya untuk makan karena makan malam sudah siap. Namun ketika ingin memanggil Shaka, Runa malah mendengar penjelasan Shaka yang sebenarnya tak harus dirinya dengar.
Runa berlari ke atas dan bersembunyi di balik bantal, hatinya semakin terasa sakit ketika ucapan Shaka sangat jelas membekas dipikirannya.
...
"Kamu kenapa dek? Habis nangis?" pertanyaan yang terlontar dari mulut Jihan berhasil membuat semuanya beralih menatap Runa.
"Kamu kenapa dek? Habis nangis?" pertanyaan yang terlontar dari mulut Jihan berhasil membuat semuanya beralih menatap Runa.
"Kak Runa kenapa?" Ale perlahan menghampiri Runa. "Pasti karena Bang Shaka lagi ya?"
Shaka berdecak dan tak menghiraukan ucapan Ale, ia memilih mendekati Runa. "Ada apa? Kenapa nangis?"
"Enggak, aku gak papa. Tadi habis baca cerita terus endingnya sedih. Jadi nangis deh," semuanya bernapas lega mendengar penuturan Runa.
"Bunda kira habis kenapa. Lebih baik kita makan sekarang. Makanannya udah siap," Yuna mengajak semuanya untuk segera makan malam.
Shaka menarik Runa ke meja makan, keduanya duduk bersebelahan. Melihat Shaka yang makan dengan tenang berhasil membuat hatinya kembali merasakan sesak.
Saat ini Runa tau mengapa Shaka jarang membahas soal kehamilan maupun keturunan. Padahal pernikahan mereka juga bukan pernikahan awal.
...
Gak mau ikutan ✌🏻
Next gak nih?
Btw aku mau kasih info kalau Nana buat cerita baru dengan judul Pernikahan Elvira & Madheva. Buat yang penasaran langsung klik profil aja :)