
"Kak Shaka!" pekik Runa, gadis itu berlari kecil menghampiri Shaka.
Shaka langsung menghentikan langkah kakinya ketika namanya terpanggil, lelaki itu memutar balikkan badan. Menatap Runa yang sudah berdiri manis di depannya. "Ada apa?"
"Pagi kak Shaka, kamu udah sarapan?" tanya Runa seperti biasa.
Hanya bisa mengulum senyuman, Shaka hanya membalas dengan gumaman miliknya. "Ada apa? Kalau gak penting aku pergi dulu, aku ada urusan pagi ini. Maaf," ujar Shaka ya, cowok itu perlahan membalikkan badannya dan melangkah menjauh meninggalkan Runa.
Runa hanya bisa menatap punggung Shaka yang perlahan menghilang akibat termakan tembok. Gadis itu meremas erat ujung dasi.
Kadang Runa berpikir, sekarang hubungannya dengan Shaka bagaimana? Apakah permasalahan seperti ini biasa terjadi di sebuah hubungan? Atau, masalah mereka masih biasa saja? Begitupun sebaliknya.
Jika boleh bicara, Runa sebenarnya tak mampu untuk menahan semuanya sendiri. Bisa dibilang Runa lemah. Ya! dia memang lemah. Bayangkan saja, gadis berusia 16 tahun, gadis yang tak pernah berjatuhan hati seperti ini, merasakan hal pertama permasalahan seperti ini.
"Runa!" panggilan itu berhasil membuat Runa tersadar dari lamunannya.
"Masih pagi juga, ngelamun aja lo. Awas kesambet lo," ujar Vanya yang membuat Runa tertawa garing. Cewek itu merangkul sahabat di sampingnya lalu mengajaknya masuk ke dalam kelas.
"Btw, lo udah tau belum murid baru itu?" tanya Vanya memulai obrolan.
Kening Runa berkerut. "Murid baru?" Runa menatap Vanya cukup lama. "Gak tau tuh, emang ada ya?"
Mendengus sebal, Vanya menatap Runa balik. "Ih lo mah kebiasaan, orang ramai banget tau semalam beritanya."
"Kemarin aku gak pegang HP sama sekali, jadi gak tau." ujar Runa dengan cengengesan.
"Yah sayang banget sih, eh tapi lo tau gak. Kalau ternyata murid baru itu sekelas dong sama kak Rasya. Ih gue takut deh nantinya kalau murid itu berhasil buat kak Rasya jatuh hati." Vanya mulai misuh-misuh gak jelas.
"Gak bakal Vanya! Aku yakin deh, kalau kak Rasya masih dengan pendiriannya buat jomblo." tutur Runa.
"Hem semoga deh," kata Vanya yang tak semangat.
"Udah, gak usah dipikirkan, masuk yuk." ujar Runa menyemangati.
...
Bel istirahat mulai berbunyi, membuat seluruh murid berhamburan keluar kelas mereka masing-masing. Vanya, cewek itu dengan cepat menarik Runa ke kantin. Perutnya sudah meminta jatah. Ditambah, mata pelajaran sejarah yang membuat energinya terkuras.
"Runa! Lo kenapa sih, dari tadi ngelamun mulu? Lo ada masalah ya?" mulai dari jam pelajaran pertama, Runa terlihat seperti banyak masalah saja, tentu saja hal itu membuat Vanya khawatir.
Runa hanya tersenyum masam. "Gak papa kok Van, lagi gak enak badan aja."
"Gak enak badan?" tanya Vanya. "Ke UKS aja gimana? Muka lo juga agak pucat tuh, ke UKS aja ya? Biar gak kenapa-napa." lanjut Vanya dengan khawatir.
"Gak usah, kita langsung ke kantin aja. Kamu pasti udah lapar kan? Yuk kantin," ajak Runa.
Hanya bisa menghela napas panjang, Vanya mengikuti langkah Runa dari belakang. Cewek itu sedari tadi tak henti-hentinya menatap kegiatan Runa.
Seperti ada yang di sembunyikan oleh Runa, namun entah apa. Karena sahabatnya itu sama sekali tak bercerita kepadanya.
Sampai kantin, kedua gadis remaja itu langsung mencari tempat duduk. Seperti biasa, Vanya yang memesan makanan untuk mereka berdua.
"Sama aja ya, biar gak antri." Dibalas anggukan setuju dari Runa, Vanya pun pergi memesan makanan dan tak lama kemudian cewek itu datang dengan dua mangkuk berisikan bakso dengan dua gelas es jeruk.
"Makasih Vanya!" Runa menerima bakso itu dengan senang.
"Sama-sama, selamat makan Runa."
Di lain meja, tak jauh dari tempat Vanya dan Runa tempati, tempat Alastair punya. Arthur, Tara, Rayn dan Bram tengah mengobrol santai. Sedangkan Shaka dan Rasya yang memesan makanan.
Di saat bersamaan, keadaan kantin yang awalnya kondusif kini berganti heboh. Akibat pertengkaran di tengah-tengah jam istirahat.
Megan memang terkenal sebagai cowok yang tak bisa mengontrol emosinya, cowok berwajah bule itu gampang sekali emosinya. Prinsipnya senggol dikit bacok!
"Maaf, aku gak sengaja. Tadi buru-buru, jadi kena seragam kamu."
"Gue gak peduli lo buru-buru apa gimana? Punya mata itu di pake yang bener!" cowok bernama Megan itu terus menyalahkan gadis di depannya, sudah dibilang jika emosinya tak bisa di kontrol. Jadi jangan salahkan Megan untuk berkata kasar.
"Dia udah minta maaf, masalah juga udah clear kan? Terus buat apa lo permasalahkan?" entah dari mana Shaka sudah berdiri di sana.
Semua anak di kantin saling pandang satu sama lain. Bagaimana tidak? Megan dan Shaka memang terkenal tak akrab apalagi keduanya selalu berantem jika bertemu.
Seperti Shaka dan Galang, kalau berada di luar. Namun, jika di dalam sekolah, tepatnya Trisatya mereka lah yang sering berkelahi.
"Gak usah ikut campur lo, ini bukan urusan lo."
"Tapi tempat ini masih kawasan gue, jadi gue berhak buat lakuin apapun terserah gue." Skakmat! Shaka berhasil mengeluarkan kata-kata andalannya.
"Kawasan? Sejak kapan? Bukannya ini sekolah tempat umum ya? Gak usah sok-sokan deh pake kawasan-kawasan, lo aja duit masih pakai orang tua. Belagu lagi!" remeh Megan, semua murid tau jika Megan sama seperti Rasya.
Shaka langsung melayangkan satu bogeman mentah yang berhasil membuat Megan tersungkur di atas tanah. "Duit ortu? Tau dari mana lo? Daripada lo, naik jabatan dari hasil korupsi. Makan duit rakyat lagi!" Shaka tak kalah meremehkan Megan dengan Kata-kata pedasnya.
Keadaan langsung tak baik-baik saja, Shaka dan Megan saling melemparkan pukulan mereka masing-masing. Sampai akhirnya keduanya sama-sama berhenti, ketika inti Alastair berhasil memisahkan keduanya.
"Stop! Lo berdua ngapain sih malah berantem." Rayn menatap Megan dan Shaka bergantian.
"Ketua lo tuh, sembarangan nuduh orang korupsi." ujar Megan.
"Tuduh lo? Kalau gue keluarin semua bukti gimana?" tantang Shaka, yang berhasil membuat Megan terdiam.
"Malah bahas korupsi lagi! Udah-udah, Meg lo pergi aja deh, sebelum Pak Sukar datang." Arthur dan Tara menyuruh lelaki bule itu pergi dari kantin.
"Lo juga Sa, udahlah. Udah tau Megan emosian, pake segala lo pancing lagi." kata Rayn kembali.
Shaka hanya mendengus sebal. Laki-laki itu menatap ke arah gadis yang tak jauh darinya. "Lo gak papa kan?" tanya Shaka dengan suara yang berbeda errr tepatnya dengan suara yang begitu lembut.
Gadis itu menganggukkan kepala. "I-iya aku gak papa. Makasih ya udah di tolongin."
"Hem gak masalah, lain kali jalan lihat-lihat. Di pakai matanya." ujar Shaka tak melupakan wajah datarnya, wajahnya memang datar, namun suaranya begitu berbeda.
Para inti Alastair saling mengidikkan bahu tak mengerti. Wait! mereka tak salah lihat kan? Atau mereka yang salah dengar?
"Kok Shaka beda?" tanya Tara dengan berbisik.
"Kok Shaka berubah? Gue kira gue doang." sahut Bram dengan berbisik.
"Kok samaan anjir! Gue kira gue juga tau." Arthur ikut menyahuti.
"Kak kok kak kok pada lo semua." Rayn berkata dengan sebalnya. "Tapi emang beneran, kok Shaka aneh ya." herannya juga.
Oke pasti kalian juga bingung! Jadi gini, Shaka kan terkenal dengan wajahnya yang datar dan tak peduli sama orang. Beda jauh dengan inti Alastair lainnya.
Tapi entah mengapa siang ini berbeda, terlihat dari awal jika Shaka dengan sigap membela sosok gadis yang terkena amukan dari seseorang, untuk kedua kalinya -setelah Runa.
Tak hanya anak Alastair saja, tak jauh dari sana. Runa dan Vanya saling lirik satu sama lain. Tentunya, mereka berdua juga melihat aksi tersebut.
Runa yang menatap itu hanya bisa terdiam diri di sana, tanpa menghampiri Shaka. Toh percuma juga, jika dirinya menghampiri Shaka, yang ada cowok itu malah menghindar kembali darinya.
"Runa, gue gak mimpi kan? Kok kak Shaka jadi sweet gitu sih ke cewek." Oke, baik! Ternyata tak hanya inti Alastair saja yang merasakan kejanggalan ini, namun Vanya juga.