Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
3 tahun yang lalu



..."Jauhi aku, dan cari kebahagiaan di sana." -Aruna Priyanka Zoey....


.........


Runa sedikit mempercepat langkah kakinya untuk segera meninggalkan kafe, ketika melangkah lebih jauh lagi. Tangannya dicekal, yang mampu membuat langkah kakinya terhenti.


"Maaf," kata itu tak berhenti terucap dari mulut Shaka. Kata yang dulu sangat Runa nantikan ketika Shaka melakukan kesalahan.


"Maaf untuk kemarin," ungkap Shaka dengan nada penyesalan.


Sebisa mungkin Runa menahan air matanya. Gadis itu berbalik menghadap Shaka. Dengan nada kecewa Runa berkata. "Cukup kak," hanya dua kata yang keluar dari mulutnya.


Shaka menggeleng pelan. "Gak, aku gak akan berhenti buat kamu. Please, kasih aku kesempatan." Shaka memohon, sambil menggenggam erat kedua tangan Runa yang ingin lepas.


"Aku udah punya Rama, aku udah ada dia, apa kamu lupa?" tanya Runa.


"Aku gak peduli, lagian kamu sama dia hanya pacaran doang kan. Gak lebih," mata Runa seketika melotot saat mendengar kan jawaban yang baru saja keluar dari mulut lelaki itu.


Plak


Satu tamparan berhasil mendarat mulus di pipi kiri nya. Shaka yang mendapat tamparan itu merasa kaget, sambil memegang tamparan Runa Shaka kembali menatap gadis itu.


"GILA KAMU YA!" teriak Runa, menatap Shaka dengan tatapan kecewa.


"Na--"


"Cukup kak! Cukup!" air matanya tak lagi terbendung, tubuhnya merosot ke bawah tanah.


Memegangi dadanya yang berdetak kencang, Runa kembali merasakan sakit yang amat dalam. Sakit yang dulu pernah Shaka coret dalam hatinya.


Menunggu tiga tahun bukanlah hal yang mudah bagi Runa. Sampai-sampai dia lupa bagaimana cara untuk membuka hati lagi pada orang baru.


Tiga tahun yang lalu


Di sebuah kota, gadis berbalut kemeja sedang menunggu kedatangan seseorang. Menatap taman yang perlahan orang tinggali, sambil sesekali menatap langit yang perlahan mulai menggelap.


Mengigit jarinya ragu, gadis itu mencoba menghubungi seseorang. Tangan mungilnya tak berhenti mengetik pesan.


Udara malam juga semakin menusuk tulang tulang. Dia berdecak kesal, menunggu dua jam lamanya di taman hingga keadaan taman perlahan sepi.


Sungguh tak manusiawi sekali.


"Kemana sih? Ditungguin juga," ujar gadis itu.


Dia Runa, tepatnya Aruna Priyanka Zoey. Gadis yang kini sedang duduk di bangku kuliah awal. Baru 1 semester dia kuliah.


Mendesah pelan, Runa kembali mengecek ponselnya. Semoga saja ada balasan. Namun tetap saja, pesan yang Runa kirim sama sekali tak di jawab, hanya centang dua saja.


Ting


Sebuah pesan masuk, Runa tersenyum bahagia saat sosok yang dia tunggu membalas pesan nya, dengan segera dia memencet nya.


Senyum yang awalnya ceria perlahan memudar, saat menatap balasan yang sudah dia tunggu nyatanya tak sesuai dengan pemikiran.


...Es Batu 🧊...


|Maaf Runa, aku gak bisa datang hari ini


|Aku lagi ada urusan, sekali lagi minta maaf :(


Menghapus air mata yang kembali mengalir, Runa dengan segera beranjak pergi. "Terus buat apa kamu ajak aku ketemu kak?!" dengan perasaan kesal Runa melangkah pergi meninggalkan taman.


Berjalan di gelapnya malam, dalam hati Runa menertawakan dirinya sendiri. "Bodoh!" umpat nya.


Runa benar-benar bodoh, mengapa dirinya sebegitu besar mempercayai laki-laki itu.


Yang jelas-jelas sudah memberikan harapan yang tak akan mungkin terjadi.


Sehabis pulang, Shaka kembali mengirimkan pesannya. Awalnya nya Runa tak menghiraukan, tak dia balas sama sekali pesan itu.


Sampai akhirnya hatinya kembali terketuk untuk kembali memberi kesempatan pada Shaka. Kembali ke taman waktu itu, Runa duduk di salah satu kursi besi.


"Semoga kali ini benar," batin Runa berdoa. Mulutnya tak berhenti meramalkan doa-doa.


Kembali mengirimkan pesan pada Shaka. Memberitahu bahwa dia sudah berada di taman, tempat mereka janjian.


Tiga jam lamanya duduk di kursi, membuat Runa bosan. Menatap sekeliling yang mulai sepi, tak ada orang hanya tinggal beberapa saja yang beristirahat.


"Kamu dimana?" gumam Runa, melirik jam pada layar ponsel.


Segera Runa bangkit, bertepatan dengan ponselnya yang kembali bergetar. Dengan segera Runa membukanya.


...Es Batu 🧊...


|Sorry baru ke balas, aku ada problem tadi


|Sekarang kamu ada dimana? Masih di taman?


Napasnya kembali memburuh, membaca pesan singkat yang Shaka kirim. Dengan kesal Runa membanting ponselnya, tubuhnya perlahan merosot ke bawah.


Memegangi ujung kursi, saat jantung Runa kembali berdetak kencang. Kepalanya kembali pusing, dan keringat dingin mulai membasahi wajahnya.


"Gak! Jangan nangis," Runa berusaha untuk menguatkan diri.


Mencoba bangkit dengan gemetar, Runa menutup ke-dua matanya, sebelum melangkah meninggalkan taman.


Dengan perasaan campur aduk. "Kamu bodoh Run, udah tau dia gak bakal datang. Masih aja nunggu," meringis sambil menertawakan kebodohannya.


Bayangkan menunggu seseorang dalam waktu tiga jam. "Sekiranya kalau emang kamu beneran ada problem. Seenggaknya kamu bilang ke aku kak. Biar aku gak nunggu lama," ujar Runa.


Menarik napasnya dalam-dalam lalu mengeluarkan nya perlahan.


Setelah kejadian itu, ke-dua nya tak lagi bertukar pesan. Dan disaat bersamaan Runa bertekad untuk tak membuka hati pada sosok lelaki baru.


Hatinya sudah benar -benar dibuat lelah


Awalnya Runa mengira bahwa dengan ini mereka akan kembali seperti dulu, namun kenyataan nya adalah semua hanya mimpi.


Mimpi yang tak tau kapan akan terkabul


"Runa," Shaka berjongkok. Menyamakan tinggi badannya dengan Runa, cowok itu perlahan menarik Runa ke dalam dekapannya.


"Maaf," bisik Shaka dengan pelan.


"Cukup kak! Cukup! Cukup berharap lebih ke aku," tangis Runa. Dengan sesenggukan Runa menangis dalam pelukan Shaka.


"Dan cukup untuk memberikan hal lebih ke aku," sambung Runa. Mendorong pelan tubuh Shaka agar lelaki itu menjauh.


"Gak usah!" tolak Runa, saat Shaka ingin membantunya bangkit.


"Aku tau aku salah, maaf juga gak tepati janji aku ke kamu. Tapi aku emang ada urusan yang gak bisa aku tinggal,"


"Apa? Urusan apa? Sampai sekarang pun aku minta kamu untuk jelasin semuanya, tapi apa? Kamu sama sekali gak menjelaskan apapun," gertak Runa.


Menatap Shaka dengan air mata yang terus mengalir, Runa berkata. "Kesempatan yang aku kasih ke kamu, nyatanya kamu sia-siakan gitu aja. Dan sekarang kamu mau minta kesempatan lagi?"


"Udah cukup aku nunggu kamu 3 tahun! Udah cukup aku untuk gak buka hati, demi nunggu perjuangan kamu kak!" murka Runa.


Shaka terdiam. "Gak bisa jawab kan? Aku tegaskan ke kamu, aku udah punya Rama. Dan jangan pernah berharap buat kita balikan lagi," tunjuk Runa.


Melangkah mendekati Shaka. "Jauhi aku, dan cari kebahagiaan di sana." Runa berbisik dengan nada bergetar.


Perlahan melangkah mundur, dan berbalik badan, Runa meninggalkan Shaka sendiri. Dengan tangisan yang belum mereda.