
Langkah kakinya harus berhenti seketika, melihat kedua insan manusia tengah dimabuk asmara.
Seperti biasa, gadis dengan rambut yang dia ikat kuda, kini menatap dua insan yang tengah sibuk dengan dunia mereka masing-masing.
Runa, dia adalah Runa. Gadis yang tak jauh berdiri dari tempat Shaka dan -Kania, gadis pindahan yang baru kemarin menghebohkan dunia maya maksudnya medsos nya Trisatya semalam.
Runa menatap kotak obat yang ada di tangan kanannya, niat nya kesini ingin mengobati luka Shaka.
Tadi saat di kantin, Runa tak sengaja melihat luka yang berada di ujung bibir Shaka.
Dengan inisiatif yang seketika muncul di pikiran, Runa memutuskan untuk membeli obat di kantor koperasi, namun semuanya hanya sia-sia, dirinya lebih disalip oleh Kania.
"Telat sih," gumam Runa yang menyalahkan dirinya sendiri.
"Maaf, kalau sakit bilang ya." ujar Kania dengan lembut, gadis itu mengobati ujung bibir Shaka yang mengeluarkan darah.
Shaka hanya bergumam singkat, lelaki itu sedikit membungkukkan badan agar memudahkan Kania untuk mengobati dirinya.
"Kenapa kamu malah berdiri di sini?" tanya Runa terheran-heran.
Perlahan namun pasti, Runa memilih melangkahkan kakinya mundur ke belakang dan memilih untuk meninggalkan Shaka dan Kania.
"Runa!" seketika tubuh Runa menegang, apakah dia ketahuan?
Runa kembali membalikkan badannya, menatap Shaka dan Kania yang berdiri tak jauh 2 meter di tempatnya berdiri sekarang. Gadis itu menatap Shaka dan Kania bergantian.
"Iya? Ada apa?"
"Kamu yang ada apa. Ngapain ke sini?" tanya Shaka membuat Runa meringis pelan. Mau jawab apa coba?
"Mampus, jawab apa aku sekarang? Masa iya jawab kalau mau kasih obat?" batin Runa dalam hati.
"Ah, itu tadi ... mau ke toilet, tapi gak jadi." jawab Runa sambil terkekeh pelan.
Shaka hanya bisa mengerutkan dahi bingung. Menatap ke arah Runa, dan sesuatu yang Runa sembunyikan di balik badan mungilnya itu.
"Kamar mandi?" tanya Shaka ulang. "Kan arah kamar mandinya di belakang kamu." seru Shaka.
Seketika Runa merutuki kebodohan dirinya, ya ampun! Runa malu sekarang. Please, jadiin Runa semut biar gak malu.
Mengapa dirinya bisa lupa ya Tuhan! Jelas-jelas, kamar mandi wanita mengarah ke Selatan, terus mengapa Runa menyahut ke arah Utara.
Gadis itu menggaruk tengkuknya yang sama sekali tak gatal. "Iya, kelebihan jalannya, ini mau balik." jawab Runa, menahan gugup setengah mati.
"Yaudah, lanjutin gih. Aku mau ke kamar mandi dulu. Bye!" pamit Runa.
"Yang kamu bawa apa?" Shaka sudah penasaran sedari tadi, dengan kotak yang Runa sembunyikan di balik badan.
"Ini? Oh bukan apa-apa, ini buat biasa cewek. Duluan ya kak, duluan." dengan cepat Runa berlari kecil memasuki kamar mandi.
Meremas ujung wastafel dengan erat, Runa menatap dirinya di depan kaca. Lagi dan lagi, air matanya jatuh tanpa permisi, tanpa mengucapkan apapun dia jatuh begitu saja.
"Buat apa ya aku beli ini? Lagian kamu aneh juga sih Na! Kenapa tadi gak kamu tanya dulu, kalau gini kan sayang mau di apa kan." kata Runa pada dirinya sendiri.
Matanya tak sengaja menatap sekotak sampah yang tak ada di ujung sana. Dengan langkah pelan, Runa membuang sekotak obat itu ke dalam sampah.
"Buang aja, lagian kak Shaka udah di obati kan sama kak Kania." gumamnya.
"Mending aku masuk, udah bel masuk juga." tutur Runa dalam hati, memilih membasuh wajahnya di wastafel, setidaknya wajahnya lebih terlihat segar saat ini.
...
Shaka melangkah kakinya masuk ke dalam kelas, bersamaan dengan Kania di sampingnya. Cowok berbadan tegap itu mendudukkan pantatnya ke kursi miliknya.
"Wih balik juga lo, luka lo udah diobatin kan?" tanya Arthur.
Shaka mengangguk singkat. "Udah,"
"Udah balikan dong pastinya." Sahut Bram.
"Balikan? Sama siapa?" tanya Shaka balik, cowok itu menatap inti Alastair bergantian.
"Lah, luka lo siapa yang obati?" giliran Tara yang bertanya.
"Kania," balas Shaka dengan santainya.
"Kania?" kata Tara, Bram dan Arthur bersamaan.
Shaka kembali menganggukkan kepala. "Lo pada kenapa sih? Kayak kaget gitu,"
"Gimana gak kaget, orang tadi Runa ketemu kita-kita di koperasi buat beli obat. Katanya buat obati lo, eh malah diobati orang lain." perkataan itu berasal dari mulut Rasya, cowok itu sedari tadi masih sibuk dengan rumus-rumus matematika.
Seketika keadaan menjadi sunyi, pikiran Shaka seketika melayang pada kejadian di taman dekat kamar mandi tadi.
Apakah barang yang Runa sembunyikan tadi adalah obat? Lalu kenapa gadis itu tak menghampiri nya? Dan mengapa malah berbohong padanya.
"Jadi, barang yang dia sembunyikan tadi, adalah obat buat gue?" batin Shaka bertanya-tanya.
Shaka langsung bangkit dari duduknya, belum saja melangkahkan kakinya keluar. Pak Joko -guru mapel pelajaran Fisika datang.
"Mau kemana kamu?" tanya Pak Joko.
"Saya ada urusan Pak," balas Shaka.
Pak Joko hanya bisa menggelengkan kepala. "Gak ada alasan, kembali ke tempat duduk kamu. Sekarang kita ulangan fisika, keluarkan satu lembar kertas folio, gak ada buku di atas meja. Cepat!" perintah Pak Joko.
"Loh Pak! Kok dadakan!" protes Arthur, dalam hati cowok itu telah menyumpahi guru di depannya itu.
"Gak ada protes," ujar guru itu.
"Salah sendiri kenapa kalian gak belajar di rumah. Ada waktu juga, bukannya buat belajar malah buat yang lain. Keluarkan lembar kertas folio, sekarang juga!" perintah Pak Joko kembali sambil mendudukkan dirinya di kursi.