
"Kenapa kamu baik ke aku, kenapa gak jahat aja kayak kamu ke kak Shaka?" tanya Runa pada Galang.
Menghembuskan napas panjangnya. Galang berkata, "Gak tau, gue juga bingung. Ketika gue mau jahat ke lo, Qilla seketika datang ke pikiran gue, hal itu yang buat gue takut." ujar Galang. "Tepatnya lo baik, gue gak mau balas kebaikan lo sama kejahatan gue," sambung Galang.
"Gue tau, kalau gue brengsek, mantan napi, bajingan. Tapi, satu hal yang selalu gue ingat. Lo selalu bilang, kita gak boleh balas kejahatan dengan kejahatan," ujar Galang mengingat-ingat. "Lo mirip sama Qilla," ungkap nya.
Runa tersenyum, menatap Galang sekilas. "Boleh tanya gak?" cicitnya pelan. "Qilla meninggal karena apa? Dan kenapa kamu bisa di penjara?" tanya Runa pada Galang.
"Lo mau tau. Jadi gini ceritanya," Galang mulai menceritakan apa yang terjadi pada 4 tahun yang lalu.
Dengan rambut yang terurai, gadis remaja sedang duduk santai di atas kasur. Merasa kesepian, dan tak ada orang. Sudah menjadi hal biasa dalam hidupnya.
Ayahnya entah kemana, sang Mama kerja dan pulang hanya seminggu sekali, itupun tak pernah menyapa bahkan sekedar berbagi cerita saja tak mungkin.
Gadis itu tersadar dari lamunannya ketika ponsel miliknya bergetar, menandakan suatu pesan masuk.
...Galang...
Galang
Hai Qil, lo lagi apa?
^^^Qilla^^^
^^^Hai Lang, aku lagi santai aja. Ada apa?^^^
Galang
Jangan kebanyakan ngelamun gak baik!
^^^Qilla^^^
^^^Kok kamu tau kalau aku ngelamun? kamu cenayang ya? Hayo ngaku!^^^
Galang
Tau dong, dari sini udah tercium bau-bau kamu lagi ngelamun, qil dengerin gue ya! Jangan banyak ngelamun gak baik buat kesehatan.
^^^Qilla^^^
^^^Aduh perhatian banget sih, iya Lang, gak kok^^^
Galang
Gimana kalau gue ajak lo keluar?
Kemana gitu, mumpung hari ini malam minggu
Gimana kalau kita keluar?
^^^Qilla^^^
^^^Mau sih, tapi kan nanti Shaka marah kalau aku keluar sama kamu^^^
Galang
Gak usah bilang dia, tenang kalau dia marah. Gue yang bela lo duluan, gimana?
^^^Qilla^^^
^^^Boleh sih, mau kemana?^^^
Galang
Gimana kalau ke taman, atau gak ke pasar malam?
^^^Qilla^^^
^^^Boleh tuh, yuk aku juga udah lama gak ke sana^^^
Galang
Oke kalau gitu, jam 8 malam ya kita langsung ke sana
^^^Qilla^^^
^^^Siap, nanti kita ketemuan di sana. Ya udah aku cas HP ku dulu ya, baterainya mati. Bye galang!^^^
…
Tepat pukul 8 malam, Galang sudah berada di tempat. Tempat yang sudah mereka berdua janjikan. Menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan apakah gadis itu sudah sampai atau belum.
"Coba gue telpon Qilla," Galang langsung mencari kontak Qilla dan menelponnya.
Tiga kali panggilan serta beberapa pesan, namun tidak ada balasan sama sekali. Pesan yang Galang kirim pun hanya ber centang satu.
...Qilla...
^^^Galang^^^
^^^Lo dimana? Gue udah di depan parkiran^^^
^^^Qil, kalo ada apa-apa bilang sama gue^^^
^^^Jangan bikin gue takut gini, lo dimana?!^^^
Entah insting apa yang membuatnya merasakan sesuatu yang tak enak. Dengan cepat Galang pergi meninggalkan parkiran, mencoba mencari di depan atupun tempat dekat sekitar. Bisa saja Qilla sudah sampai.
"Qil, kenapa gue ngerasa gak enak gini?" tanya Galang pada dirinya.
Segaris senyum terlihat, matanya menangkap sosok gadis yang berjalan ke arahnya.
"QILLAAA!" pekik Galang sambil melambaikan tangan.
"Tunggu situ!" pekik Qilla berteriak.
Tak tau darimana, dari arah lain motor melaju kencang. Membuat tubuh Qilla terpental jauh.
Mata Galang membulat sempurna. Tubuhnya kaku, seolah dunia berhenti berputar. Menatap Qilla yang sudah bermandikan darah.
Qilla tersenyum simpul menatap Galang. "M-maafin aku ya. Aku, sayang, kalian," katanya terbata-bata. Setelah itu kedua bola mata indah kini tertutup rapat.
"LO HARUS BERTAHAN!" dengan cepat Galang membawa tubuh Qilla ke rumah sakit terdekat.
…
"Jadi dia meninggal karena kecelakaan? Terus kenapa kamu di penjara?" tanya Runa tak percaya.
"Bukan gue emang pelakunya, cuma semua bukti mengarah ke gue, dan berakhir penjara." ujar Galang tersenyum miris.
"Masa iya Gal, kamu gak punya bukti? Kenapa gak sewa aja pengacara?" tanya Runa.
Galang tertawa. "Jangankan pengacara Runa, gue aja yang makan masih numpang orang, nyewa pengacara yang jutaan. Mending buat gue hitung setahun," katanya.
"Gue sama Shaka, kayak lo sama dia. Keluarga gue pas-pasan, sedangkan dia anak terpandang, marga Aldebaran." Aldebaran nama yang tak asing, marga yang menjadi salah satu dari ribuan orang yang terpilih sebagai orang terkaya se-Asia.
"Aku tau dan aku sadar. Apa iya, gak ada satupun bukti buat bela kamu?" gak mungkin dong kalau kita di tuduh sama orang, terus kita gak punya bukti.
"Gak ada, percuma juga gue kasih bukti. Orang bukti semuanya mengarahkan ke diri gue. Hal itu yang membuat Shaka marah, karena cuma 2 tahun doang gue dipenjara,"
Runa menatap Galang lumayan lama. "Kok marah?"
"Iya dong, gini deh. Lo nih bunuh seseorang dan orangnya mati, terus lo hanya dipenjarakan 2 tahun. Itu gak bakal buat nyawa orang balik," ujar Galang.
Mengangguk paham, Runa tersenyum manis. "Tapi aku bangga sama kamu, kamu bisa bertahan sampai sini dan bisa angkat derajat keluarga kamu." ujar Runa dengan bangga.
"Bangga kok sama napi Runa," sahut Galang.
"Emangnya kenapa? Gak masalah kan. Lagian kamu udah berubah," ungkapnya. "Bunda selalu bilang, kalau mau berteman jangan pernah tanyakan akan masa lalu, karena kita gak tau gimana perjuangan dia di masa lalu sampai ke titik ini." tambah Runa dengan bijak.
Galang tersenyum dalam hati, menatap Runa dari samping. "Shaka beruntung punya lo, tapi sayang. Dia terlalu naif jadi bocah," batin Galang.
"Sekarang giliran gue yang tanya," ujar Galang. "Kenapa lo masih bertahan sama Shaka?"
Napas Runa terhenti sejenak. "Entah berapa kali kamu tanya ini, tanya yang lain aja. Apa gitu,"
"Gak ada, gue mau tanya ini. Dari kemarin jawaban lo itu terus, karena sayang, cinta, terus apa lagi? Lo mau rubah dia lah." Galang berkata sambil mengingat-ingat. "Gini ya, Shaka itu keras kepala. Kalau pilihannya A ya A, gak ada sejarahnya dia pilih A lo ganggu gugat B."
Seketika Runa terdiam, dia menunduk. "Berarti kalau kak Kania, bakal kak Kania dong?" tanya Runa sambil menahan tangisan.
Refleksi, Galang menepuk jidatnya lumayan keras. "Maksudnya bukan gitu," Galang lantas gugup.
Runa tertawa keras. "Bercanda Galang," lirih Runa, gadis itu menghapus air matanya yang terus menetes.
"Are you okay?" tanya Galang dengan khawatir.
"Yes, it's oke," Runa mendongakkan kepala ke atas, menahan air matanya yang siap jatuh kembali.
"Kenapa sih, lo masih bertahan ketika Shaka udah kelewatan sama lo?"
"Cuma mau pegang janji aku ke tante Lea," ujar Runa sejujurnya.
Galang hanya bisa menggelengkan kepala. "Gue tau lo udah gak kuat, lo boleh kok buat nyerah, lo boleh buat berhenti." ujar Galang.
Hanya bisa meringis dalam hati, apakah dia harus menyerah dan pergi begitu saja? Setelah semua pengorbanan yang ia lakukan. Runa harus menyerah?
"Gue ajak lo ketemu, karena ingin membahas Kania." kata Galang. "Kania ke sini makin kurang ajar, dan dia---"
Runa memotong dengan cepat, sebelum lelaki itu berkata lebih lanjut. "Aku tau semuanya,"
"Lo tau semuanya?" dengan raut wajah tak percaya nya Galang bertanya.
"Terus kenapa gak lo buktiin ke Shaka? Kan lo bisa bilang ke dia, apalagi sama inti Alastair." tanya Galang. "Gue yakin mereka akan bantu lo."
Runa menggeleng lemah. "Bukan kali ini waktunya, aku bakal buka semua kalau waktunya udah tepat." ujarnya pelan.
Galang tertawa ngakak. "Waktu yang tepat?! Kapan! Sampai mental lo terganggu baru lo buka?"
"Sampai kapan sih lo terus bohong ke semua orang, sampai kapan lo bilang baik-baik aja, padahal lo sedang menderita!" kata Galang.
Galang menghela napas perlahan. Laki-laki itu hanya bisa menggelengkan kepala, menatap kasihan Runa. Galang tau dan Galang mengerti jika Runa sekarang tak baik-baik saja, bahkan bisa dikatakan lebih dari tak baik-baik aja.
"Menderita? Aku baik-baik aja Lang."
"Mulut lo bisa berkata gak papa, tapi hati lo berkata sedang menderita. Gue sahabat lo Na, gue temen lo. Gue sayang sama lo, dan gue gak mau lo kenapa-napa." Galang menatap Runa dalam-dalam, lantas memeluk Runa dengan erat.
"Lo boleh nyerah, lo boleh berhenti, tapi lo gak boleh putus asa. Inget! Perjuangan lo selama ini bukan perjuangan yang biasa aja." Bisikan Galang pada Runa.
Senyum Runa mengembang, gadis itu membalas pelukan Galang dan menyandarkan pada dada Galang. Diantara semua orang yang memusuhinya, hanya Galang lah yang ada di sampingnya.
Hanya Galang dan Vanya lah yang ingin memberikan solusi padanya. Dan hanya mereka berdua lah yang selalu menyemangati Runa.
"Boleh kan aku sadar kamu sebentar?" Tanya Runa, menatap ke depan dengan tatapan kosong.
"Boleh, lama juga gak papa."
"Modus!"
Galang tertawa ngakak. "Siapa yang mau nolak coba di sandarin sama cewek cantik kayak lo." Kata Galang. "Na, kalau gue gak inget bahwa Shaka adalah sahabat gue, sorry mantan sahabat, gue yakin lo bakal jadi milik gue."
Runa hanya bisa tertawa kecil. "Ada ya mantan sahabat, aku kira cuma ada mantan pacar doang."
"Ada lah, buktinya gue." jawab Galang.
"Makasih ya Lang udah temenin aku selama ini, ya aku tau kita kenal belum satu tahun ini. But, aku ngerasa bahwa kita udah kenal lama." Ujar Runa.
"Sama-sama Run, gue juga makasih, lo mau terima gue jadi sahabat lo, gue juga makasih sama lo, karena lo gue jadi diri gue yang sekarang. Bukan diri gue yang pendendam."
Ternyata benar, kalau kita berteman dengan teman yang baik, kita juga akan ikutan baik, begitu sebaliknya. Kalau kita temanan sama orang jahat, kita akan ikut-ikutan jahat juga.
Dan laki-laki itu bersyukur bisa bertemu dengan Runa, karena gadis itulah Galang belajar menjadi dirinya sendiri, bukan dirinya yang pendendam.
...
Gue masih mikir buat kasih pelajaran apa yang enak buat Shaka? Ada solusi gak?
Jangan lupa buat tinggalkan jejaknya :)