Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Pembelaan



Happy Independence Day 🇮🇩


...


Hari ini, Trisatya di hebohkan oleh berita tentang gadis pindahan yang sudah melakukan aksi tak terpuji nya di sosial media.


...NovelToon news...


Malam ini, Trisatya tengah di hebohkan dengan aksi dari salah satu siswi pindahan. Aksi nya tersebut berhasil membuat semua orang penasaran.


Dapat terlihat di foto jika siswi SMA dengan seragam Trisatya tengah memasuki sebuah mini bar, dan dapat terlihat jika siswi itu sedang melakukan aksi tak terpuji nya dengan seseorang pria tua.


...[Send a pictures]...


...[Send a pictures]...


...[Send a pictures]...


Semua foto serta video beredar ke mana-mana, dan sekarang Trisatya menjadi omongan orang-orang, banyak yang bilang kalau ini kesalahan sekolah, ada juga yang bilang kalau ini kesalahan orang tuanya dan ada yang bilang kalau ini salah gadis itu akibat tak bisa memilih pergaulan.


"Cantik sih tapi sayang lont--"


"Sayang banget sih, cantik diluar eh busuk di dalem."


"Eh ada fotonya gak, bagi dong."


"Gue aja lagi nyari, lo malah minta ke gua."


"Jangan menghakimi seseorang terlebih dahulu, kalau gak ada buktinya. Sama aja kita fitnah."


"Kalau udah busuk ya busuk aja kali, gak udah dibela."


"Tau tuh, ****** kalau ditutup serapat apapun bakal tercium juga, sama kayak ini."


Dan masih banyak cibiran yang terdengar, gadis dengan rambut panjang yang ia biarkan begitu saja sambil menggenggam erat tali tas, melangkah ragu ke dalam.


"Eh yang diomongin datang juga."


"Gak malu apa habis ngelakuin gituan."


"Kayaknya emang urat malunya udah ilang sih."


"Ya ampun, cantik-cantik kok lon-- sih mbak."


"Malu-maluin sekolah aja neng-neng."


"Aduh, mukanya aja gak ada rasa bersalah loh."


"Huh udah pulang sono, malu-maluin sekolah aja lo. Sono pulang!"


Semua murid saling melempar kertas sampah pada gadis itu. Teriak, cacian, makian, umpatan serta ucapan yang tak pantas menggema di lorong kelas.


Mungkin sebagian dari kita bisa mengatakan bahwa ini pembullyan? Namun, coba kalian pikirkan, gadis cantik yang baru saja pindah belum menginjak 2 minggu, sudah melakukan aksi tak terpuji nya seperti ini.


Di tambah, korbannya bukan hanya gadis itu, tapi semua murid di SMA Trisatya ini terkena imbasnya dari kelakuan nya. Ya tepat semalam, Trisatya menjadi trending topic di twitter dan sebagian akun media sosial lainnya.


Hingga keadaan hening terjadi, suara pekikan yang berat itu membuat satu lorong terdiam seketika. Hening yang menyelimuti, membuat suara dentingan antara sepatu dan lantai terdengar. Semua murid yang ada di lorong dapat merasakan aura tak mengenakan.


"STOP!" seketika semuanya menghentikan kegiatan mereka, cowok berbadan tegap itu datang dan melindungi gadis itu, membiarkan punggungnya menjadi pelindung.


Gadis itu terdiam, sedikit mendongak kan kepala, ingin melihat siapa orang yang menolongnya. "Shaka?" batinnya bertanya-tanya.


Shaka berbalik, tatapan tajam nya mengitari seluruh murid,


mereka saling meneguk saliva dengan kasar.


"BUAT APA LO LEMPAR SAMPAH? TAPI KELAKUAN LO KAYAK SAMPAH!" Pekikan Shaka menggema di lorong kelas, bahkan para siswa-siswi yang ada di lantai dua saling bergerombol berdesakan untuk melihat apa yang terjadi.


"Emang dia sampah, sampah masyarakat." sahut salah satu dari mereka.


"Terus kalau dia sampah masyarakat lo apa?" senyum smirk tercetak jelas pada bibir Shaka, lelaki itu berdecih dalam hati menatap cewek yang baru saja menyahuti nya.


"Emang kalian yakin kalau foto yang ada di berita itu benar? Lo tau, menyebarkan berita yang gak benar sama aja lo fitnah." Shaka berkata dengan tegasnya.


Arthur, Bram, Tara, Rayn dan Rasya. Kelima lelaki tampan itu saling mengangkat bahu tak mengerti. Tak mengerti dengan pola pikir Shaka, sebenarnya ini otak mereka yang bermasalah atau tontonan ini hanya mimpi?


Oh God! Lagi dan lagi, Shaka membela Kania untuk kedua kalinya, dan kejadian ini adalah kejadian ketiga kalinya Shaka membantu Kania dalam masalah.


"Ada apa ini?!" Bu Dayu dan pak Sukar datang, kedua guru dengan membawa buku serta penggaris rotan yang panjangnya sekitar 1 meter itu menatap seluruh muridnya dengan tanda tanya.


"Kania! Kamu ikut saya." kata Bu Dayu, Kania yang mendengar kan itu menuruti saja, mengikuti langkah Bu Dayu dari belakang. Selanjutnya, di ikuti Pak Sukar dari belakang.


"Beresin semuanya." perintah Shaka, membuat semua nya mengangguk serentak. Keenam lelaki sama-sama memungut sampah kertas yang berserakan di lorong kelas.


Tak jauh dari tempat kejadian, seorang gadis meremas ujung rok seragam dengan erat, menahan mati-matian air mata yang siap jatuh kapan saja.


"Cuma segini doang kamu bertahan nya?" tanyanya pada dirinya sendiri. "Nangis berarti kamu siap-siap untuk kalah, lagian kan kak Shaka cuma bantu doang. Gak lebih." lanjut nya kembali.


...


"Baiklah, jika kamu gak mau menceritakan apa yang terjadi. Tapi hukuman tetap ditegakkan. Saya skor kamu untuk satu minggu ke depan." tegas Bu Dayu.


Kania mengangguk pelan. "Baik Bu," bangkit dari kursi dan pamit keluar. Dirinya di kaget kan dengan kehadiran Shaka dan kelima teman-temannya yang berdiri di depan ruang BK.


"Kalian ngapain?" Kania menatap keenam lelaki di depannya bergantian.


"Mau lihat lo," jawab Shaka dengan santainya. Lantas menarik Kania pergi.


Di sinilah kedua keduanya berada, di taman belakang. Kania dan Shaka sama-sama saling diam. Kania masih tak mengerti apa yang mau Shaka lakukan di tempat ini.


"Kamu ajak aku kesini, buat apa?" tanya Kania.


Shaka menoleh, dia menghela napasnya sejenak. "Gue yakin itu bukan lo lakuin." Kania hanya bisa menunduk. "Gue tanya ke lo, itu bukan lo kan yang lakuin?" tanya Shaka.


"I-itu aku yang lakuin." ujar Kania dengan pelan.


Mata Shaka membulat sempurna. "Kenapa?" Kali ini pertanyaan Shaka tak dihiraukan oleh Kania. "Lo gak papa kan?" Kania masih saja diam.


Shaka langsung menarik Kania ke dalam dekapannya. Dia mengusap lembut surai Kania. "Kalau lo mau nangis, nangis aja. Gak usah lo tahan," kata Shaka dengan lembut.


Tangisan Kania seketika terdengar, Shaka hanya bisa diam sambil mengusap lembut sambil mengusap punggung Kania dengan lembutnya.


"Aku capek Shaka," ujar Kania dengan sesenggukan.


"Lo bisa istirahat kalau lo capek," ujar Shaka.


Kania menggeleng pelan. "Gak bisa, kalau aku istirahat aku yang di siksa."


Shaka melonggarkan dekapan. "Siksa? Maksudnya?" Shaka menatap Kania dalam-dalam.


"Iya, kalau aku istirahat dan gak cari uang, aku bakal dipukulin sama papa."


Shaka cukup tersentak dengan perkataan yang Kania ucap. "Jangan bilang, lo lakuin hal ini karena bokap lo?"


Kania mengangguk. "Iya, aku dipaksa papa buat kerja kayak gini."


"Kenapa lo gak nolak?" Tanya Shaka, dengan suara yang naik se oktaf.


"Kalau aku nolak, sama aja aku mati. Lagian aku apa sih di dunia ini. Aku cuma anak yang lemah dan gak bisa apa-apa." ujar Kania dengan pilu.


"Terus lo mau, jual harga diri lo sebagai cewek ke mereka?"


Kania mengidikkan bahu acuh. "Ya begitu." balas Kania dengan singkat.


...


Shaka menatap sekeliling rumah itu dengan tatapan yang sulit di artikan. Sehabis pulang sekolah, Shaka memutuskan untuk ke tempat ini.


"Ini rumah lo?" Shaka menatap Kania dengan tanda tanya.


"Iya, ini rumah aku. Maaf ya kecil rumahnya." ujar Kania tak enak.


"Gak masalah, lo di rumah sendiri? Nyokap bokap lo kemana?" tanya Shaka.


"Mama udah gak ada, dan kalau Papa gak tau kemana. Dari semalam gak pulang-pulang." tutur Kania.


"Eh iya, duduk Sa, aku ambil minum dulu ya." Kania pamit pergi ke dapur, di dapur, Kania menghadang sang adik yang ingin keluar.


"Lo mau kemana?" tanyanya pada sang Adik.


"Keluar, kenapa sih?"


Kania menoleh ke belakang sekilas. "Masuk kamar sekarang." katanya sambil menekan setiap perkataan.


"Ngapain? Gak ah, gue bosen di kamar mulu. Gue mau keluar," belum juga dirinya melangkah maju, Kania dengan cepat mencegahnya.


"Dengerin gue, di depan ada Shaka. Jangan sampai dia lihat lo, ngerti?"


"Shaka? Ngapain lo ajak dia ke sini? Lo jangan aneh-aneh ya kak!" balas sang adik.


"Gue udah mulai semuanya, dan Shaka juga perlahan mulai termakan sama rencana gue. Lo masuk ke kamar. Gue gak mau dia lihat lo di sini, sana masuk!" Kania mendorong tubuh adiknya untuk masuk ke dalam kamar.


Kania tersenyum sinis, lalu dia berjalan keluar dapur sambil membawakan kedua botol air. "Shaka, maaf ya lama." Kania menyerahkan sebotol air mineral yang baru saja dia ambil dari kulkas.


"Makasih," Shaka menerima botol itu.


"Kalau kita berdua gini, kamu gak ada yang marah kan?" tanya Kania dengan pelan.


Shaka memiringkan kepalanya sedikit, menatap Kania dengan tanda tanya. "Maksud aku gini, takutnya nanti ada yang cemburu gitu." Jelas Kania.


Shaka mengangguk mengerti, lantas berkata. "Gak ada tenang aja." balas Shaka kembali dengan wajah datarnya.