
Al dan Lea saling lirik satu sama lain, keduanya sedang mengawasi Ale dari arah dapur, mereka berdua saling bertanya satu sama lain, ada apa dengan Ale hari ini? Karena tak biasanya anak kedua mereka diam dan merenung.
"Lea, coba kamu tanyain ke Ale. Mungkin aja mau cerita," suruh Al, karena Lea perempuan mungkin saja Ale lebih leluasa untuk berbagi cerita.
Lea mengganguk setuju. Wanita itu berjalan menuju ke ruang keluarga dan duduk tepat di samping Ale. "Ale ada masalah?" tanya Lea dengan lembut sambil mengusap surai panjang milik Ale.
Ale hanya menggeleng pelan. "Gak ada Ma," jawab Ale.
Giliran Al yang bertanya, cowok itu duduk tepat di depan Ale dan sang Istri. "Kamu berantem sama Shaka?" tanya Al mengintimidasi.
Lea ikut menyahuti. "Kamu gak berantem kan sama Abang? Mama lihat dari tadi kamu diam aja, biasanya juga jam segini ribut terus. Gak berantem kan sama Abang?" tanya Lea sekali lagi.
Ale menghembuskan napasnya perlahan, lalu berkata. "Ale sama Bang Shaka berantem, tadi Ale gak sengaja tanya-tanya tentang dia." lirih Ale pelan.
Lea langsung menatap ke arah Al, sedangkan yang ditatap hanya mengidikkan bahu tak acuh. "Yaudah, gini deh. Sekarang panggil Abang kamu turun ke bawah buat makan malam." perintah Lea.
"Ma tapi kan--"
Lea menggeleng cepat. "Gak ada kata tapi, sana panggil Mama mau lanjutin masak." lalu Lea bangkit dari duduknya dan kembali ke dapur.
Ale berdecak sebal, dalam hati tak berhenti misuh-misuh gak jelas. Cewek itu memilih naik ke atas untuk memanggil Shaka. Dirinya telah berdiri di depan pintu bercat coklat itu. Tangannya terangkat untuk mengetuk pintu beberapa kali.
"Bang Shaka!" panggil Ale, hingga panggilan ketiga pintu itu terbuka perlahan.
Shaka, baru saja bagun tidur, terlihat dari rambutnya yang masih berantakan. "Apa?" tanya Shaka lalu menguap.
"Turun ke bawah, bentar lagi makan malam." ujar Ale, selanjutnya pergi meninggalkan kamar Shaka dengan buru-buru.
Sedangkan Shaka menatap kepergian Ale dengan cengo. "Kenapa tuh bocah?" gumamnya bertanya-tanya.
"Gimana Ale, udah?" tanya Lea sambil menata piring-piring berisikan lauk makan malam.
Ale memilih duduk terlebih dahulu, sebelum menjawab pertanyaan Lea. "Udah Ma, baru bangun ternyata."
Tak berapa lama, Shaka turun ke bawah. Masih dengan rambut yang acak-acakan. Jangan salah, meski rambutnya berantakan tak membuat ketanpanan pada diri Arshaka Virendra Aldebaran berkurang.
Shaka menarik kursi tepat di samping Ale. "Shaka, kamu mau makan sama apa?" tanya Lea.
"Terserah Ma," jawab Shaka, cowok itu masih saja menguap. Ya, setelah ribut kecil dengan adik di sebelah nya ini, Shaka memutuskan untuk tidur.
Setelah itu mereka berempat sama-sama menikmati makan malam dengan tenang dan damai. Tak ada yang bersuara, hanya suara dentingan garpu dan sendok sebagai pengisi keheningan. Walaupun ada sedikit candaan.
Makan malam kali ini telah usai, Al dan Shaka memilih untuk ke ruang keluarga. Sedangkan Lea dan Ale memilih untuk membereskan piring kotor.
"Ma, kalau Bang Shaka gak maafin Ale gimana?" belum juga di coba namun gadis itu sudah takut saja.
"Gak bakal, Abang gak bakal dendam kok. Nanti kamu minta maaf aja, mungkin Bang Shaka lagi kurang mood jadi marah gitu." Jelas Lea.
"Mana ada gak dendam tuh sama kak Galang. Sampai sekarang masih aja berantem, ribut, tawuran." celetuk Ale.
Lea menyenggol pelan lengan Ale, wanita itu menggeleng kan kepala. Menyuruh Ale tak melanjutkan kembali. "Kalau itu beda cerita, tapi Mama yakin. Abang kamu gak bakal dendam. Kita berdo'a aja, semoga masalah mereka berdua segera usai.
"Aamiin, paling juga satu abad baru baikan mereka berdua." seru Ale, membuat Lea geleng-geleng kepala.
"Sana ke ruang tamu, bicara sama Bang Shaka." ujar Lea masih dengan membilas piring kotor.
"Ma Ale mau tanya dong, dulu Papa juga kayak gitu gak? Kata Bunda Runa sama Mama Amel hang Shaka mirip Papa terus Papa mirip Bunda. Emang bener ya?" Ale kadang bingung sendiri, kok bisa ya mereka bertiga pas gitu. Apakah semua nya terjadi karena turun temurun?
Lea hanya mengangkat bahu. "Dikata mirip gak banget, karena dari Bunda Rika, Papa kamu sama Bang Shaka. Itu yang paling pendiam dan datarnya gak ketuluanhan ya Abang kamu."
"Bang Shaka?" beo Ale.
"Hem, kalau dari Papa kamu emang dia datar tapi, jika dibandingkan sama Abang kamu. Kayaknya Shaka yang paling parah." Tutur Lea.
Sekedar info, mengapa Ale memanggil Rika dan Amel dengan sebutan Mama-Bunda? Karena itu kemauan mereka sendiri, meski di umurnya yang terbilang tak muda lagi, tepatnya telah menginjak setengah abad namun tak membuat kecantikan alami dari mereka berdua hilang.
Makanya, Ale dan Shaka memanggil mereka berdua dengan ssbuatan yang sama seperti Al dan Lea.
"Berarti paling parah--"
"Udah-udah, gak usah dilanjut. Sekarang kamu ke ruang keluarga. Ini bentar lagi selesai. Buruan sana, keburu malam nanti malah gak sempet minta maaf." Lea memotong ucapan Ale dengan cepat, sebelum Ale berucap panjang lebar.
Ale mengerucutkan bibirnya sebal. "Oke," dengan langkah malasnya, Ale meninggalkan dapur dan pergi ke ruang keluarga.
"Mama kamu mana?" tanya Al yang tak melihat kedatangan Lea.
"Ada masih di dapur," jawab Ale.
Tak berapa lama, Lea datang dengan nampan berisi susu coklat. Wanita itu menaruhnya di tengah-tengah. Agar mudah di ambil.
Lea menatap kedua anak mereka secara bergantian. "Shaka sama Ale pada kenapa? Kalian berdua ada masalah apa? Sampai diam-diam begini."
"Enak gak berantem nya, Diam-diam gini? Gak ribut?" Kini Al yang bertanya.
Shaka mengerutkan alisnya. "Berantem? Emang siapa yang berantem?" tanya Shaka.
"Kamu sama Ale kan?" tanya Lea.
Shaka terdiam beberapa detik, namun sedetik kemudian cowok itu mengangguk paham. "Oh, yang tadi?" Shaka beralih menatap Ale.
"Udah gini deh, sekarang gak peduli siapa yang salah atau siapa yang benar, kalian berdua minta maaf." kata Lea.
Dengan malas Ale berjalan ke arah Shaka, cewek itu mengulurkan tangannya dengan wajah juteknya. "Maafin gue yang buat lo marah."
Shaka menatap telapak tangan Ale yang masih terangkat. "Kalau minta maaf, itu yang ikhlas." cibir Shaka tak kalah jutek.
Ale memutar bola mata jengah, beginilah mempunyai abang yang sangat menyebalkan memang harus menguras tenaga. Cewek itu menghela napas sekejap. "Abang Shaka yang ganteng, yang baik dan tidak sombong. Adik mu yang cantik ini ingin meminta maaf akibat telah membuat mu marah. Mohon dengan hati yang tulus, dan hati yang bersih di maafkan kesalahan adik mu yang cantik ini."
"Lo mau pidato apa gimana?" seru Shaka.
Seketika Ale cengo, cewek itu mengeram kesal sedari tadi. Dalam hati Ale tak berhenti bersumpah serapah untuk orang di depannya. "Lo nyebelin banget sih, tadi minta yang ikhlas, sekarang gue udah ikhlas udah padat dan jelas. Dikatain pidato, lo mau kerjain gue ya!" ujar Ale sambil berkacak pinggang.
Shaka langsung mengangkat sebelah alisnya. "Emang iya," ujarnya tanpa dosa.
"Bang---" umpat Ale yang tertahan, lalu dia tersenyum paksa, andai saja tak ada Lea dan Ale, mungkin dirinya sudah mengeluarkan umpatan-umpatan miliknya.
Shaka tertawa geli. Menatap muka Ale yang menahan kesal. Cowok itu memilih bangkit dan pergi. Sebelumnya Shaka berkata. "Udah gue maafin, lain kali jangan diulang lagi."