
..."Jangan lihat nominalnya, tapi lihatlah seberapa tulusnya dia memberikan dengan ikhlas." -Rayn Abimanyu....
..."Jangan pernah menganggap diri mu paling hebat. Karena sejarahnya banyak ribuan orang yang lebih hebat dari mu." -Rasya Adipati....
..."Selagi kau bisa membantu, mengapa tidak? Jangan membuat banyak skenario, kita tak akan tau kapan takdir Tuhan akan bertemu." Afgan Tara....
...…...
Runa sedang menyapu halaman depan, karena libur, dengan semangat gadis itu putuskan untuk membereskan rumah. Ia dan bunda sama-sama berbagi tugas.
Setelah tadi mengantarkan Arfan hingga depan pintu, Runa melanjutkan dengan menyirami tanaman serta menyapu, gadis itu terlonjak kaget ketika klakson berbunyi.
Sebuah mobil tepat terparkir rapi di depan rumahnya. Runa mengerutkan dahinya bingung. Mobil siapa? masa iya ayah pulang, ayah kan masih kerja di luar kota.
Perlahan kaca mobil itu turun, Runa terkekeh, ternyata oh ternyata mobil ini milik Shaka.
"Kak Shaka, ngapain kesini?" Runa terheran-heran, tumben Shaka kesini tanpa memberitahunya.
"Jemput kamu," ujar Shaka.
"Jemput aku?" gadis itu menunjuk dirinya sendiri. "Emang mau kemana kak?" tanya Runa lagi.
"Mama sama Ale kangen kamu, mereka mau ketemu kamu. Mumpung Mama gak ada jadwal hari ini," jelas Shaka.
Runa manggut-manggut paham, "Oke, tunggu sini bentar ya kak. Aku mau ambil tas sama pamit ke bunda,"
"Ada tante yuna?" tanya Shaka, cowok itu melirik jam yang melingkar di tangan kanannya.
"Iya, ada bunda di dalam. Tunggu ya kak," Shaka mengangguk singkat.
Sambil menunggu Runa datang, cowok itu membalas beberapa pesan WhatsApp dari para sahabatnya.
...Alastair A'20...
Arthur Margantra : Selamat pagi dunia!
Arthur Margantra : woi bangun, ngebo mulu. Semangat dong, ayo semangat gak boleh males-males, ya gak @rasya adipati
Afgan Tara : Gaya lo gak boleh males-males, lo aja baru bangun tidur
Arthur Margantra : Kok lo tau ngab?
Afgan Tara : Gue ada di depan bego, makanya kalau orang salam itu di jawab, ngebo mulu sih lo
Arthur Margantra : Kagak kedengaran, lagian lo nya masuk tinggal masuk susah amat
Afgan Tara : Pintunya lo kunci bambang! kalau pun gak, udah masuk duluan gue. Sekalian tuh rampokin harta lo!
Arthur Margantra : Ck, menyusahkan lo, ntar tunggu situ.
Bramanyu Pradipta : Gak ada yang berangkat nih? Ck, cuma gue doang yang rajin
Afgan Tara : Lo dimana?
Bramanyu Pradipta : Udah nyampe duluan gue, nih nungguin lo pada sampai jamuran gue
Arthur Margantra : Sekalian tepungin biar gurih bhwahaha
Bramanyu Pradipta : Arthur makin di diemin makin ngelunjak lo
Rayn Abimanyu : Bentar lagi gue sama Rasya nyampe, tunggu!
Arthur Margantra : Lho udah berangkat semua nih?
Afgan Tara : Buruan anjir, gimana mau cepet lo HP an mulu. Gue tinggal tau rasa lo
Arthur Margantra : Sabar kali belum juga sarapan
Afgan Tara : Serah lo dan Tur, capek gue
Bramanyu Adipati : Tara mengcapek
Rayn Abimanyu : Ini gue sama Rasya udah nyampe, @arshaka aldebaran lo dimana?
Arshaka Aldebaran : Gue agak telat, ntar lo semua berangkat dulu aja. Gue lagi ada urusan
Rayn Abimanyu : Oke, Tar hadiahnya udah lo bawa kan?
Afgan Tara : Tenang aja, udah ada di mobil semuanya
Shaka mematikan handphonenya ketika Runa berjalan menghampirinya bersama bunda Yuna. Cowok itu keluar mobil dan menyalami Yuna.
"Assalamualaikum tante," sapa Shaka dengan sopan.
"Waalaikumsalam, gimana kabarnya?"
"Baik tante,"
"Syukurlah, kalau begitu kalian berangkat aja. Bunda juga mau siap-siap berangkat ke ruko juga." ujar bunda Yuna.
"Tante mau berangkat ke Ruko?" Yuna mengangguk singkat. "Kalau gitu bareng Shaka aja tan, sekalian se-arah juga,"
"Gak usah, tante bisa naik ojek nantinya." tolak Yuna.
"Gak papa tan,"
"Kak gak ngerepotin?" tanya Runa, gadis itu tak enak jika nanti malah merepotkan Shaka.
"Gak ngerepotin sama sekali malah," ujar Shaka.
"Yaudah kalau gitu tante tutup pintu sebentar," Yuna kembali masuk sebentar untuk mengambil tas dan menutup pintu.
Ketiga orang itu sama-sama masuk ke dalam mobil. Tak ada pembicaraan diantara mereka bertiga, hingga mobil Shaka berhenti tepat di depan toko kue 'Yuna bakery'.
"Bunda masuk dulu, makasih ya udah anterin tante sampai sini." ujar bunda pada Shaka.
"Iya tante sama-sama." ujar Shaka.
…
Mobil Shaka berhenti tepat di depan sebuah rumah yang cukup besar, Runa menatap Rumah itu dengan kagum, apakah ini tempat tinggal Shaka?
"Yuk masuk," Shaka menggenggam tangan mungil itu dan menariknya masuk.
"Assalamu'alaikum," ucap keduanya memasuki rumah.
"Waalaikumsalam, Runa." Lea yang duduk santai di depan TV langsung menghampiri Runa dan memeluknya.
"Apa kabar kamu?" tanya Lea.
"Baik tan, alhamdullilah. Tante gimana kabarnya?" tanya Runa kembali.
"Baik, sini duduk," ajak Lea.
"Ma Shaka pamit keluar ya? ada urusan sama anak-anak. Udah di tunggu." pamit Shaka tak lupa menyalami Lea dan pergi.
"Ya! Hati-hati," teriak Lea ketika Shaka tak terlihat lagi.
"Runa udah makan belum?" tanya Lea. "Sebentar ya tante ke dapur sebentar, pasti kamu haus kan. Tunggu ya," Lea pergi sebentar meninggalkan Runa yang terdiam di ruang tamu.
Besar banget, batin Runa terkagum-kagum.
Gadis itu menatap sekeliling, ini ruang tamu nya aja gede banget, gimana yang lainnya? pikirnya bertanya-tanya. Mata Runa menatap ke sebuah foto yang cukup lebar itu.
Dilihat-lihat itu foto keluarga, ada Shaka, Ale, kedua orang tuanya serta kakek nenek Shaka.
"Ma! Mama lihat-- kak Runa!" teriak Ale dari atas, cewek itu berlari dan langsung memeluk Runa dengan erat.
"Ale, awas nanti jatuh,"
Ale mendongak "Kakak baru datang?" tanyanya.
"Iya baru aja datang, kamu ya hobi banget teriak-teriak." Runa mencubit hidung Ale dengan gemas.
"Udah jadi hobi hehe, lagian aku seneng banget sih akhirnya kak Runa datang juga. Setelah hampir beberapa menit ribut dulu sama bang Shaka." Ale mengadu dan menceritakan kejadian sebelum Shaka mau membawa Runa ke sini.
…
"Kita langsung berangkat apa gimana? Apa nunggu Shaka dulu?" tanya Rayn seraya mengelap keringatnya.
"Nunggu Shaka aje, entar masih capek gue." ujar Arthur sambil mengatur nafasnya. Cowok itu menyambar botol minum dan meneguk nya hingga tandas.
Tak berapa lama orang yang mereka tunggu akhirnya datang juga, Shaka datang cowok itu duduk di samping Rasya yang sibuk dengan handphone miliknya. Biasa membalas pekerjaan.
"Kalian semua udah latihan?" tanya Shaka tanpa basa-basi.
"Udah dari tadi. kita nungguin lo doang soalnya." ucap Tara yang dijawab anggukan kecil oleh Shaka.
"Kita berangkat sekarang!" ucap Shaka. Mereka semua telah berganti tadi, dan sekarang mereka berada di parkiran, sebelum berangkat mereka berenam sama-sama berdoa agar kegiatan kali ini lancar tak ada gangguan.
"Semoga dengan kegiatan ini, kita semakin sadar bahwa kita harus saling membantu sesama, dan semoga dengan ini solidaritas kita makin terjaga." ucap Rayn dengan senyum manisnya.
"Aamiin!" semuanya mengamini ber sama-sama.
Hari ini mereka akan pergi ke panti asuhan yang sudah menjadi kegiatan rutin anggota alastair, mereka akan ke tempat-tempat seperti ini setiap dua minggu sekali atau sebulan sekali. Tak menentu, karena aktivitas masing-masing anak beda-beda.
Shaka serta Bram menjalankan motor terlebih dahulu, sedangkan di kedua mobil, diisi oleh Rasya dan Rayn, Tara serta Arthur. Mereka tak bawa motor akibat harus membawa hadiah untuk dibagikan ke anak-anak.
Tak perlu waktu lama sekarang mereka, telah berdiri di depan panti asuhan "Kasih Sayang" panti asuhan ini sudah menjadi tempat yang cukup sering mereka temui.
"Assalamualaikum," ucap keenam cowok itu.
"Waalaikumsalam," balas ibu-ibu berjilbab.
Ibu itu bernama bu Intan, bu Intan termasuk salah satu pengurus panti asuhan. Ibu itu mempersilahkan keenam cowok itu masuk. Baru saja menginjakkan kaki mereka, semua anak-anak saling berhamburan memeluk mereka.
"Kak Arthur!" teriak bocah berumur lima tahun itu yang langsung berlari memeluk Arthur.
"Hei, apa kabar?" Arthur membalas pelukan bocah itu. Mereka sama-sama berbagi cerita dan bermain bersama.
Meskipun Shaka terlihat pendiam dan tak banyak bicara, namun lihatlah cowok itu sekarang sedang bermain masak-masakan dengan anak-anak. Semuanya saling menikmati permainan sama-sama.
"Hadiahnya bagi sekarang apa gimana? Kita harus ke tempat lain juga," ujar Tara membuat semuanya menatap ke arah Rayn dan Shaka.
"Sekarang aja," seru Shaka. Membuat Arthur dan Bram pamit keluar sebentar untuk mengambil hadiah yang mereka semua siapkan.
Jadi setiap minggu anak-anak Alastair akan membayar uang kas, setengahnya nanti akan mereka sumbangkan kepada orang yang membutuhkan dan sisanya kembali untuk keperluan mereka.
Seperti membayar obat, masuk rumah sakit atau keperluan basecamp lainnya. Jangan salah semua isi dari basecamp adalah hasil dari penjualan mereka. Jika ada bazar di sekolah, anggota alastair akan menjual karya mereka.
Entah foto, kerajinan tangan dan masih banyak lagi tentunya, dan uang itu nantinya akan mereka simpan untuk keperluan mereka juga tentunya.
Arthur dan Bram membawa dua kotak kardus, cukup besar ukurannya. Kedua kardus itu berisi peralatan sekolah, mainan serta snack-snack yang mereka bungkus di plastik lalu mereka hias dengan pita-pita berwarna.
"Yang rapi ya barisnya?" ucap Tara mengatur barisan anak-anak.
Shaka dan yang lainnya tersenyum, melihat mereka yang begitu antusias. Mereka membagikan semuanya secara merata, dan diakhiri dengan santunan.
"Ayo ucapkan makasih buat kakak-kakaknya," ujar Bu Intan.
"TERIMAKASIH KAKAK!" ujar mereka bersamaan.
"SAMA-SAMA!"
Lihatlah senyum kebahagian terbit di mata mereka, seulas senyum manis dan tulus mereka terbitkan membuat siapa saja merasakan ketenangan. Sebelum melanjutkan kembali ke tempat lain, mereka semua berpelukan secara bergantian.
"Kalau begitu kita pamit terlebih dahulu ya bu, Terima kasih sudah memberikan kita ruang untuk berbagi." pamit Rasya dengan sopan.
"Kami yang Terima kasih kepada kalian semua, semoga semuanya dibalas sama yang di atas. Ibu ucapkan Terima kasih sebanyak-banyaknya kepada kalian semua." ujar ibu itu dengan senyuman.
Selanjutnya mereka melanjutkan ke panti jompo, mereka membagikan pakaian serta hadiah-hadiah kecil yang bagi kita tak berarti, namun bagi mereka semua nya begitu berarti.
…
"Alhamdullilah, semuanya udah kelar." Rayn menghela nafas leganya, semuanya telah selesai. Tempat terakhir yang mereka kunjungi tadi mendapatkan banyak sekali apresiasi dan hikmah yang mereka dapat.
"Syukurlah, gue gak nyangka kita bisa berbagi sampai sejauh ini." Arthur tuh bangga karena dia bisa membantu sesama, meskipun tak seberapa namun bisa memberikan warna dan senyuman pada mereka.
"Jangan dilihat seberapa kita jauh berbagi, tapi lihatlah seberapa ikhlas kita berbagi." Rasya yang sedari tadi diam menyimak berkata. Mungkin kata-katanya terlihat biasa dan pendek namun dibalik semua banyak sekali arti yang mendalam.
"SIAP PAK BOSS!" ujar semuanya bersama-sama, dan semaunya tertawa bersama-sama.
…
Lea, Ale dan Runa sekarang berada di dapur. Ketiga cewek yang memiliki hobi memasak sama-sama bergelut dengan bumbu-bumbu serta bahan-bahan yang ada di dapur.
"Tante mau masak apa? Biar Runa bantu," ujar Runa, tangannya seketika gatal ingin memegang alat-alat yang ada di depannya.
"Boleh, mau masak sayur bayam sama kerang, ditambah ikan mujaer." ujar Lea, wanita itu sedang membersihkan ikan.
"Ma, Ale mau cookies," Ale menyandarkan dirinya di meja pantry, wanita itu ingin membuat kue sekarang bukan membuat makan siang. Lagian masih jam segini juga masih jam 11 lagi.
"Ya udah sana buat sama Runa juga, mama mau masak makan siang." suruh Lea, wanita itu membiarkan apapun yang diinginkan Ale, toh Ale juga paham sama bahan-bahannya.
Ale bersorak, wanita itu dibantu oleh Runa membuat cookies coklat. "Kak Runa bantu aku ya buat bikinnya."
Runa mengangguk, gadis itu sudah cukup lama tak membuat cookies. Keduanya sama-sama menyiapkan bahan-bahan. Ale menatap Runa takjub, wah ternyata Runa hebat juga.
Runa membuat semuanya dengan telaten, Ale hanya menambahkan apa yang perlu, ketika melihat Runa begitu ahli membuat cookies membuatnya tersenyum.
Tak perlu membutuhkan waktu yang lama, cookies pun telah siap untuk di oven. Sambil menunggu cookies itu jadi, Runa dan Ale mencuci semuanya hingga bersih.
Ting
Oven berbunyi, artinya cookies buatan mereka telah matang. Ale membuka oven itu dan mengangkat loyang, membiarkan cookies itu sebentar dan dia pindah kan di dalam toples.
"Kak cookies nya enak banget," puji Ale, cewek itu tak berhenti memakan cookies buatan Runa.
Ale menghampiri Runa dan Lea yang sedang menghidangkan makan siang, cewek itu memberikan cookies buatan Runa pada Lea. "Ma cobain deh, enak banget." Ale menyuapi cookies itu ke Lea.
"Kak Runa hebat ih, Ale jadi pingin." tak henti-hentinya Ale memuji Runa.
"Kamu juga hebat, kan kamu juga yang bantu buatin cookies nya." ujar Runa.
"Gak, aku kan bantu cuci doang. Sama masukin bahan-bahan yang kak Runa bilang," -Ale.
Lea mengangguk setuju. "Iya kue kamu enak loh, tapi kok tante gak asing ya sama kue nya." ujar Lea, wanita itu pernah mencoba kue ini tapi dimana?
"Emang mama pernah coba?" tanya Ale.
"Pernah, mama pernah beli kok. Tapi dimana ya," gumam Lea, wanita itu berpikir sebentar.
"Emang iya? aku dari bantuan bunda sih hehe, bunda selalu ajarin bikin kue sekalian dijual." jelas Runa.
"Bunda kamu jual kue?" tanya Lea. "Tokonya apa?"
Runa mengangguk kecil sambil tersenyum. "Iya bunda buka ruko, tokonya Yuna Bakery," ujar Runa membuat Lea kaget.
"Yuna bakery? yang ada di perumahan Merpati bukan?" tanya Lea kembali. Runa hanya mengangguk kecil sebagai jawabannya. "Astaga, kamu anaknya Yuna?" tanya Lea tak percaya.
"I-iya tante, kok tante kenal bunda?" tanya Runa heran, begitupun dengan Ale.
"Bunda kamu itu temen kuliah tante, kita sekelas dulu. Astaga ternyata kamu anaknya," tak menyangka ternyata orang yang dulu membantunya adalah bunda dari Runa.
"Wah cocok nih jadi mantu, fix kak Runa harus jadi kakak ipar Ale. Ya gak ma?" Ale memainkan alisnya naik turun, menggoda Runa tentunya.
"Iya dong harus itu," gurau Lea setelah itu ketiganya tertawa bersama.
Menunggu jam makan siang tiba, ketiga wanita itu memutuskan untuk bersantai sambil mengobrol, jam telah menunjukkan waktu setengah satu. Orang yang ditunggu datang juga Al dan Shaka datang bersamaan.
Al balik makan siang sekalian mengambil berkas yang tertinggal sedangkan Shaka telah balik dari berbagi nya tadi. Memang waktunya tak lama, namun dengan sedikitnya waktu itu membuat Shaka senang.
...
Pesan apa yang kalian dapat dari episode ini?
Jangan lupa bersyukur semua :) Dan jangan berhenti untuk berbagi.