
..."Sayang dan Cinta adalah dua kata yang berbeda makna," -Aruna Priyanka Zoey....
.........
Menatap batu nisan yang ada didepannya, tangannya mengusap batu nisan. Sekuat tenaga dia tak menangis, namun nyatanya tak bisa.
Air matanya kembali mengalir saat mengingat flashback masa lalu.
"H-hai Qil," sapa Shaka dengan nada bergetar.
"Gimana kabar kamu?" tanya Shaka.
"Maaf udah jarang jenguk kesini. Oh iya aku lupa, aku bawain kamu bunga lavender, bunga kesukaan kamu." Shaka menaruh segenggam bunga lavender di atas gundukan tanah.
"Aku mau minta maaf karena nama kamu udah terganti sama sosok gadis lain. Pasti kamu tau dia siapa. Ya, dia Runa. Tetapi kayaknya bakal susah buat dapetin dia lagi. Karena sekarang Runa udah jadi milik orang," Shaka berceloteh panjang lebar.
Menceritakan seluruh keluh kesahnya pada sosok didepannya. Pasti sebagian orang yang ada di sana mengiranya gila.
Berceloteh panjang lebar, padahal dia tau kalau tak akan ada balasan.
Shaka menarik napasnya panjang-panjang. Lalu menghembuskan nya perlahan.
"Aku pamit ya, sampai ketemu dilain hari. Selamat beristirahat Qil," Shaka mengecup singkat batu nisan itu. Bangkit dari jongkok nya Shaka melangkah pergi.
Di kota lain, tepatnya di Jogja. Runa menarik rambutnya dengan kesal menatap tumpukan kertas hitam di atas putih itu dengan kesal.
Pasalnya banyak sekali coretan tinta merah di sana.
Pusing banget astaga, batin Runa menjerit.
"Sini aku bantu," seseorang datang dan langsung duduk di samping Runa, membantu merevisi skripsi Runa.
"Rama," beo Runa dengan polosnya.
"Ram, capek." Runa mengadu, gadis itu menidurkan kepalanya di atas tumpukan kertas.
Rama tersenyum, mengusap lembut kepala Runa lalu berkata. "Gak papa istirahat dulu. Jangan dipaksakan, nanti kamu sendiri yang sakit," kata Rama dengan nada yang begitu lembut.
"Udah makan belum?" Ruan menggeleng, alhasil membuat Rama berdecak kesal.
"Kenapa gak makan?" dengan nada kesal Rama bertanya.
"Udah kok," elak Runa.
"Makan apa?" pancing Rama.
"Roti,"
"Kapan?"
"Tadi pagi," Runa menyengir menampilkan gigi putih nya yang tersusun rapi.
"Kebiasaan!" cetus Rama lalu meninggalkan Runa, berjalan ke kasir Rama memesan makanan. Tak lama cowok itu datang dengan nampan berisikan makan siang.
"Makan," suruh Rama tanpa bantahan.
"Tapi Ram aku nggak---"
"Makan," tekan Rama. "Ingat Runa, aku gak suka ada bantahan. Apalagi dari pacar aku sendiri." Rama berkata dengan menekan perkataannya.
"I-ini makan," memilih mengalah adalah cara yang terbaik untuk tak ribut.
Dengan malas Runa memakan nasi goreng udang yang Rama pesan kan.
"Terus ini juga ucapan makasih nya jangan dikit banyakin nggak papa. Malah bagus," komentarnya lagi.
Runa mengangguk sambil menulis kembali kata-kata yang Rama ucapkan barusan. Kata demi kata Rama ucapkan, dari samping Runa tersenyum.
Dulu waktu pertama masuk kuliah Runa pernah berpikir.
Nantinya kalau mau skripsi ada yang nemenin gak ya? Lalu ada yang bantuin dia gak? Support gitu.
"Hey!" Rama menjentikkan jarinya, membuat Runa tersadar dari lamunan.
"Ah iya?" Runa mengerjapkan matanya berkali-kali. Mencoba untuk sadar.
"Ngelamun apaan sih? Shaka lagi?" dengan nada tak suka.
Runa menutup kedua matanya sejenak, sebelum melanjutkan perkataan nya.
"Rama," menatap lelah Rama. Beginilah jika sifat cemburu Rama keluar, menyebalkan!
"Na," panggil Rama.
"Aku mau tanya.." Rama berkata menggantung.
"Kamu sayang nggak sih sama aku?" tanya Rama tiba-tiba.
Terdiam, Runa diam. Tak menjawab pertanyaan yang Rama lontarkan. "Sayang dan cinta adalah dua kata yang berbeda makna," tegas Runa.
...
Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, selesai mandi Shaka memutuskan untuk turun ke bawah. Menatap layar lebar di depannya.
"Matinya seorang wanita di rumah kosong kini dalam penyelidikan polisi, diduga pelaku pembunuhan dilakukan berencana. Dan dari beberapa saksi yang melihat sosok pembunuh berjenis kelamin laki-laki. Berjumlah 2 orang," ujar sang reporter.
"Kini polisi sudah menangkap satu orang dari dua orang lainnya, mereka berdua berinisial K dan R. Sekarang polisi sedang mencari keberadaan sosok pria berinisial R." sambung sang reporter.
"Bang Shaka!"
Shaka terlonjak kaget, saat Ale datang tiba-tiba dan mengagetkan nya. "Bangsat!" umpat Shaka dengan kesal.
Sambil mengusap dada Shaka menatap Ale dengan tatapan tajamnya. "Ngapain sih lo?" sungut nya kesal.
"Lo lah yang kenapa, dipanggil juga dari tadi kagak noleh-noleh. Lo liat apaan sih? Serius amat," Ale mendudukkan diri di samping Shaka, manik matanya menatap layar televisi.
"Penangkapan pelaku pembunuhan di rumah kosong," ucap Ale membaca judul berita.
Melirik sosok disampingnya. "Tumben lo liat berita," cibir Ale. "Biasanya juga pantengin laptop," sambung Ale.
"Shut diam!" Shaka kembali fokus ke layar televisi. Tak menghiraukan ocehan yang tak berfaedah dari mulut Ale.
"Gue baru tau kalau ada pembunuhan di rumah kosong," cetus Ale tiba-tiba.
"Apa mereka gak takut ya, malem-malem bunuh orang. Mana di rumah kosong lagi." Ale tak henti-hentinya berkata panjang kali lebar kali tinggi.
"SHAKA, ALE AYO MAKAN!" teriak Lea dari arah dapur.
Shaka menyenggol lengan Ale. "Tuh panggil Mama," ujarnya dan langsung berdiri meninggalkan ruang keluarga.
...
Masih bingung sama season 2 ini, mau dipercepat kok aneh nanti nya tapi kalo gak dipercepat malah jadi beban 😔
Makasih ya buat yang sempetin baca episode kali ini <3