
Ujian kenaikan kelas telah tiba, hari ini adalah hari pertama ujian dimulai.
Sebagian anak habiskan dengan belajar, dan sebagian lagi dihabiskan dengan mengobrol bersama teman, ataupun pergi ke kantin.
Begitupun dengan Runa, gadis itu lebih memilih belajar di depan kelas yang tak ramai, agar tak menganggu konsentrasinya.
Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi, yang artinya masih ada waktu setengah jam untuk ia habiskan belajar.
"Runa!" teriakan itu membuatnya menoleh ke kanan, ada Vanya yang berlarian menghampirinya.
"Gue cari juga, ternyata ada disini." ujar Vanya, mendudukkan diri di samping Runa.
"Dari tadi juga di sini kok, kamu udah belajar belum?" tanya Runa seraya menghafalkan materi.
"Udah dikit doang sih, palingan nanti kalau gak bisa ya tinggal bismilah doang," gurau Vanya.
Runa hanya menggelengkan kepala lalu berkata. "Ini kenaikan kelas loh Van, masa iya kamu salah-salahin, sekarang belajar bareng yuk. Tenang aja, kalau kamu gak tau kamu bisa tanya ke aku kok." ujar Runa membantu Vanya menghafalkan materi.
"Mumpung ada waktu setengah jam, masih cukup sih buat beberapa materi yang belum kamu hafal, sekarang gini. Kamu lebih ke menghafal atau mengingat?" tanya Runa.
"Mengingat," seru Vanya.
"Oke, sekarang kamu ingat-ingat aja materi yang belum kamu pahami. Nanti kamu kasih deh nada lagu atau hal yang membuat kamu hafal gitu, aku pakai metode ini buat hafalan sih." Runa melakukan metode ini dari Arfan, bang Arfan bilang metode ini cukup mudah di hafal.
Karena tak hanya memudahkan saja, namun tak membosankan juga. Jadi belajarnya tambah seru.
"Oke kalau gitu," Vanya mencoba apa yang Runa ucapkan tadi.
Di kantin, keadaan lumayan ramai. Di pojok kanan seperti biasa tempat Alastair duduki cukup ramai anak. Tak hanya anak kelas 11 namun juga anak 12 yang sebentar lagi akan lulus.
Di sana ada Gaga, Ismail, Baron sama Junet, keempat cowok itu adalah inti Alastair angkatan 19.
"Lo mau kemana bang habis gini?" tanya Bram pada Gaga.
"Kagak tau gue, ntar aja sih mikirnya. Tapi gue mau lanjutin usaha bokap sih tepatnya," jelas Gaga.
"Kan lu pinter bang, ya kali gak kuliah." giliran Tara yang berkata.
"Kuliah, mungkin tahun depan dulu. Karena gue juga butuh modal buat kuliah, gak mungkin dong masuk gitu aja." ujar Gaga yang dibalas anggukan oleh Bram dan Tara.
"Eh bentar deh, Runa itu yang mana ya? Gue kerasa kek ketinggalan info nih." cowok itu Junet, entah mengapa cowok itu selalu ketinggalan berita-berita hot gitu. Padahal dia 24 jam memegang handphone.
"Anjir, lo belum tau bang Runa itu yang mana?" tanya Arthur.
Juned hanya menggelengkan kepala tak tau, kalau tau pun kenapa tanya kunyuk!. "Gak tau, emang yang mana sih. Yang bisa mengambil hati seorang Arshaka Virendra Aldebaran," gurau Junet.
Junet menatap Shaka, meminta jawaban. "Tuh dia," tunjuk nya pada kedua cewek yang sedang antri membeli minuman.
"Itu? Bukannya Vanya ya itu? cewek yang kejar-kejar Rasya?" heran Junet.
"Bukan itu pudung! Nih yang rambutnya diikat kuda," tunjuk Ismail pada gadis yang berada di samping Vanya.
Junet mengangguk paham. "Oh, cantik juga."
"Kagak lu ambil srepet bang," goda Bram, Junet tuh gak jauh beda sama Arthur 11 12 lah ya fakboi nya.
"Kagak lah masih sayang nyawa gue," ujar Junet yang membuat semua anak tertawa. Gini-gini Junet sayang nyawanya juga, jangan sampai besok tinggal nama.
...
Ujian pertama begitu lancar, Runa tersenyum bangga, ternyata belajarnya tak sia-sia semalam, semua materi yang ia pelajari hampir 80% keluar semua.
"Runa, gila lo ya! Astaga, gak nyangka gue. Lo tau gak yang lo ajarin ke gue tadi pagi keluar semua dong, gila seneng banget gue. Makasih ya udah bantu!" ujar Vanya menggebu-gebu.
"Sama-sama, alhamdullilah dong kalau gitu. Aku juga seneng bisa bantu kamu juga." gadis itu juga bangga bisa membantu orang.
"Ternyata gak sia-sia gue belajar semalem." Vanya menatap Runa.
"Gak ada yang sia-sia di dunia ini, selagi ada niat disitu ada jalan." ucapnya.
"Siap bu guru!" canda Vanya.
"Aku ke toilet bentar ya, kamu ke kantin aja dulu. Nanti aku susul," Runa langsung pergi begitu saja, sebelumnya gadis itu menitipkan tas nya pada Vanya.
...
Runa baru saja selesai buang air kecil, gadis itu merapikan seragamnya sebentar di depan wastafel.
Saat asik di depan kaca, pintu kamar mandi terbuka ada tiga orang wanita sepertinya kakak kelas terlihat dari badge, kakak kelas itu XI-IPS.
Runa menjadi sedikit khawatir ketika mengetahui siapa orangnya, dengan buru-buru gadis itu keluar dari kamar mandi.
"Permisi kak, saya mau keluar." Runa berusaha untuk sopan.
"Ya keluar aja, kenapa pakai izin segala." cibirnya.
Runa buru-buru keluar kamar mandi, namun belum juga tangannya menyentuh ganggang pintu, tangannya sudah di cekal terlebih dahulu.
"Sopan kah begitu?" cibir dia.
"Maaf kak, saya buru-buru." sebisa mungkin Runa berkata sopan dengan kakak kelasnya, mencoba untuk melepaskan cekalan itu. Bukannya di lepas malah dikencangkan yang semakin membuat Runa meringis.
"Aruna Priyanka Zoey, gadis pindahan yang baru beberapa bulan bisa memikat hati seorang Shaka -most wanted kita. Hebat juga lo, gue aja yang hampir tiga tahun sampai sekarang belum dapat-dapat." cewek itu Tania, sedang mencekal erat lengan Runa.
Runa menatap Tania was-was takut, apalagi Tania tak sendiri sekarang ada kedua temannya, yaitu Risa serta Lolly, dapat terlihat dari nametag.
"Hanya bermain sebentar," senyuman miring tercetak jelas di bibir Tania, cewek itu mendorong tubuh Runa hingga terbentur dinding kamar mandi.
"Kak, jangan main-main. A-aku bisa teriak!" ancam Runa, yang membuat ketiga wanita itu tertawa.
"Hahahaha! Apa? Teriak? Teriak sepuas lo, sampai urat suara lo putus pun, gak bakal ada yang bantuin lo beb, karena apa. Karena ulangan tiba dan beberapa kelas di sini, itu kosong. Jadi kalau lo teriak percuma." seru Tania seraya menekan kata diakhir kalimatnya.
Tania menarik kerah Runa. "Dengerin gue baik-baik, gue minta lo jauhin Shaka atau hidup lo gak bakal tenang. Ngerti?"
"Gak mau," balas Runa yang membuat Tania kesal.
Bugh
Cewek itu kembali mendorong tubuh Runa hingga terbentur dinding wastafel membuat gadis itu meringis akibat punggungnya yang begitu nyeri.
"Kenapa, sakit?" ejek Tania dan kedua teman Tania hanya tertawa saja.
"Kak jangan main-main atau.."
"Atau apa? lo mau ngadu lagi ke Shaka iya? gue gak takut, lo emang pacar dari Shaka tapi bukan berarti gue takut sama lo, ini peringatan pertama sekaligus pembalasan gue," ujar Tania.
"Dan satu lagi, lo hanya murid pindahan di sini. Dan lo masih junior gue, jadi gak usah belagu, gue cuma mau bilang. Kalau lo gak pantes buat Shaka, lo harusnya sadar diri. Lo sama dia beda, beda semuanya, dan satu lagi, Shaka itu gak suka sama lo, dia cuma kasihan sama lo. Lo harus sadar itu!" Jelas Tania pada Runa.
"Jangan sampai lo berniat buat ngaduin ini ke Shaka, atau gue bakal lebih parah buat siksa lo." ancam Tania.
"Cabut," mereka pergi meninggalkan Runa yang terduduk di atas lantai, Sebelum meninggalkan Runa, Tania mengambil sebotol air dan menumpahkannya pada Runa.
Runa menatap kepergian ketiga kakak kelasnya, gadis itu mencoba untuk bangkit walaupun cukup ngilu di bagian punggungnya. Runa menatap ke arah cermin.
Rambut yang berantakan, pakaian yang cukup basah, untung saja tak nerawang.
Runa segera membenarkan seragamnya dan menata rambutnya, setelah itu membasuh wajahnya agar terlihat segar.
Dengan cepat Runa keluar kamar mandi dan menyusul Vanya ke kantin, pasti sahabatnya itu sudah menunggunya dari tadi.
"Maaf Van, lama." ucapnya tak enak.
"Eh gue kira lo balik, kok baju lo basah kenapa?" tanya Vanya, yang membuat Runa bingung harus menjawab apa.
"Oh ini, tadi waktu cuci muka kena jadi basah deh hehe." untunglah Vanya tak menaruh curiga padanya.
"Ini bunga dari siapa?" tanya Runa mengambil bunga mawar putih tersebut. "Eh ada kertasnya,"
"Coba buka aja, gue gak tau sih itu punya siapa soalnya waktu gue balik dari pesen minuman udah ada." seru Vanya.
Runa membuka note itu, gadis itu tersenyum membaca tulisan yang tertulis di stiky notes.
"Selamat ujian cantik, semoga mendapatkan nilai yang memuaskan. Aku gak tau mau kasih kamu apa, tadi dijalan gak sengaja ada tukang penjual mawar ya udah aku beli dan aku kasih deh ke kamu."
Itu adalah tulisan yang tertulis di secarik kertas, namun Runa bingung ini dari siapa? Dan apakah bunga ini untuknya? Jangan sampai waktu dirinya bawa malah bukan miliknya lagi.
"Siapa?" Vanya menatap Runa dengan penasaran.
"Gak tau." hanya itu balasan Runa, yang membuat Vanya melotot tak mengerti. "Ini gak tau dari siapa sih, dan ini juga gak tau buat aku apa bukan." ujarnya.
"Dari kak Shaka kali," Vanya berucap lalu menyeruput jus mangga pesanannya.
…
"Kak Shaka!" teriakan itu membuat Shaka dan kelima temannya menghentikan langkah.
Shaka membalikkan badannya begitu juga dengan kelimanya. "Ada apa?" tanya Shaka yang mendapatkan Runa berlari ke arahnya.
"Makasih bunga nya." ucap Runa dengan senyum manisnya.
Shaka tersenyum tipis cowok itu mengangguk singkat, sedangkan kelima lainnya menatap tak percaya.
"Wah udah kasih bunga aja nih, gercep juga lo Sa." goda Arthur.
"Kok kamu masih ada disini, kenapa belum balik?"
"Buju busret, aku-kamu dong," ujar Bram, biasa menggoda juga sama kayak Arthur.
"Ini mau balik, tadi belajar sebentar sama Vanya." jelas gadis itu, Shaka mengangguk dan menarik Runa pergi.
"Gue duluan, lo semua berangkat aja dulu. Nanti gue susul belakangan." Shaka dan Runa pergi meninggalkan kelimanya.
"Woke Sa, santai aja." teriak Tara.
Bram terkekeh pelan, membuat semuanya menatap ke arah cowok itu. "Baru kali ini, gue lihat Shaka ngomong panjang lebar, biasanya cuma hal penting doang." ucap Bram yang di setujui semuanya.
"Bagus kalau gitu, dia bisa cepat lupain dia." ucap Rayn.
"Gue rasa gak," Rasya itu cukup tau dengan sifat Shaka, meski keduanya terkenal sama-sama cukup pendiam. Rasya adalah orang pertama yang Shaka percaya, entah untuk berbagi cerita.
Rasya itu cowoknya cukup dewasa, dia bisa memberikan masukan pada orang-orang.
Dan hal itu membuat Shaka enak berbagi cerita. Dan cowok itu mengerti kisah-kisah masa lalu kelam Shaka, namun cowok itu memilih diam dan tak mau ikut campur.
Baginya itu bukan hak nya, yang dia lakukan sekarang hanya bisa mendoakan yang terbaik.
"Maksud lo?" tanya Arthur, bingung.
Rasya hanya diam, cowok itu memilih pergi meninggalkan yang lain. Memilih diam adalah jalan yang tepat bagi cowok blasteran itu.