
Beberapa bulan kemudian
Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat, saat ini kandungan Runa sudah beranjak 5 bulan. Sejauh ini juga Runa belum melakukan hal aneh lainnya, hanya saja sifatnya yang kadang berubah-ubah.
Contohnya hari ini ia begitu rajin dan aktif melakukan segala hal, lalu besok kembali bermalas-malasan, rasanya ingin sekali memeluk kasur.
Lima bulan sudah Shaka menunggu momen dimana Runa meminta sesuatu, seperti ngidam begitu. Memang pernah tapi hanya awal saja, hingga kini cowok perempuan itu belum meminta hal apapun, padahal ia sudah menunggunya.
Cuaca siang ini begitu cerah, semalam turun hujan jadinya masih terasa dingin. Sekarang ini Runa bersantai di tepi kolam. Memasukkan kedua kalinya ke dalam kolam, menatap Shaka yang berenang.
"Sayang ayo masuk!"
Runa menggeleng. "Enggak mau, gak bisa berenang." ungkap Runa, saat ini Runa begitu malas melakukan apa-apa.
"Gak papa, aku ajari." Shaka perlahan berjalan mendekat, kemudian merentangkan kedua tangannya pada Runa -memintanya untuk ikutan berenang.
"Gak mau nanti kalau- kyaaa!" belum sempat menyahut kembali, Shaka lebih dulu menariknya. Runa yang terlambat merespon akhirnya masuk ke dalam kolam.
"HUBBY!" pekiknya kesal.
Sementara Shaka hanya tertawa, perlahan cowok itu mulai menarik Runa ke tengah kolam. Hal itu membuat Runa harus berpegangan pada Shaka. Terlihat jika gadis itu risau. "Kalau tenggelam gimana?"
"Makanya pegangan,"
"MODUS!" tak urung Runa tertawa dan menurut, meski awalnya harus dibuat kesal dulu dengan kelakuan Shaka yang tiba-tiba menariknya ke dalam kolam tanpa aba-aba.
...
Beberapa menit kemudian, Runa baru saja selesai mandi. Gadis itu terpaksa harus mending dua kali siang ini. Selesai mengganti pakaian Runa turun ke bawah untuk menyiapkan makan siang, dari tadi perutnya sudah meminta jatah makan.
Sambil berjalan keluar, Runa mengelus perutnya yang terlihat mulai membuncit. Gadis itu memilih untuk menghampiri Shaka terlebih dahulu, sambil menentukan ingin makan apa siang ini. Tubuhnya berbelok ke kiri berjalan ke kamar sebelah di mana ruangan itu menjadi tempat kerja Shaka saat di rumah.
Runa mengetuk pintu beberapa kali, lalu mulai menarik handle pintu untuk masuk. "Hubby," panggilnya.
"Sini," Shaka mendorong sedikit kursinya ke belakang, memerintahkan untuk mendekatinya.
"Ayo turun ke bawah, kita makan siang." Runa mengajak Shaka untuk beristirahat sejenak. "Nanti pekerjaannya di lanjut lagi."
Beberapa hari terakhir, Shaka memutuskan cuti dan menganti semua pekerjaannya di rumah untuk sementara waktu. Untuk pekerjaan yang ada di kantor, ia alihkan pada Ale dan Leo.
"Mau makan di luar atau masak sendiri?"
"Aku mau nasi goreng."
"Kita beli aja kalau gitu, dari pada aku yang masak."
"Emang siapa yang minta kamu masak?" Shaka terlihat kebingungan sekarang. "Aku mau nasi goreng tapi bukan kamu yang masak," imbuhnya.
"Berarti beli di luar,"
Runa perlahan mendekati Shaka dan membisikkan sesuatu. "Aku mau dimasakin sama...."
...
"Permisi paket!" Arthur seperti biasa tanpa permisi masuk begitu saja, mendahului teman-temannya. Anggap saja rumah sendiri.
"Silakan duduk, gak usah sungkan anggap aja rumah sendiri." Arthur mulai berulah.
"Sehari gak berulah bisa gak? Heran gue, malu-maluin lo!" celetuk Rayn.
"No rusuh no life," ujar Arthur. "Gede juga ya rumah lo." Arthur berdecak kagum menatap rumah Shaka yang begitu besar.
"Miskin sih lo," cetus Bram dengan pedasnya. Arthur yang kesal segera melemparkan bantal yang ada di sampingnya. Bram yang tau langsung menghindar.
"Gak kena," ejek nya.
"Sialan!" Arthur mengumpat pelan.
"Btw ada apaan kalian panggil kita semua kesini? Jangan bilang kalau mau pembagian black card lagi?"
"Tur!" Rasya memberikan teguran, Arthur yang ditegur hanyalah menyengir.
Shaka berdeham singkat, membuat semua mata tertuju padanya. "Jadi, kenapa gue minta kalian kesini. Karena gue mau minta tolong sama kalian semua,"
"Apa tuh?"
"Runa mau nasi goreng, dan dia minta buat kalian yang masakin." jelas Shaka.
Untuk pertama kalinya Runa meminta sesuatu padanya. Gadis itu ingin nasi goreng, untuk kali ini bukan Shaka yang masak dan beli di luar melainkan anggota Alastair lah yang akan memasaknya.
"Buset, ini beneran? Sorry aja nih, gue masak telur aja gosong gimana mau masak nasi goreng," sahut Bram.
"Tenang aja, udah gue siapin," ujar Shaka dengan tampang tanpa beban, tak masalah baginya untuk membayar teman-temannya itu, yang terpenting Runa senang.
"Yaudah sana masak."
Arthur, Rasya, Rayn dan Bram mereka berempat langsung melangkah ke dapur. Siang ini Tara tak bisa ikut bergabung bersama yang lainnya, karena saat ini cowok itu berada di Singapura dan sudah menetap di sana bersama keluarga kecilnya, maka tak heran jika nantinya akan kumpul seperti ini, cowok absurd bin aneh itu tak akan datang.
"Ide lo bagus juga Run," puji Vanya setengah berbisik, kemudian mereka berdua kompak tersenyum.
"Ini gimana dah pake nya?" tanya Bram, seraya memutar celemek.
"Elah ribet bener lo, gini nih." balas Arthur sambil membantu memasang celemek.
"Pinter juga otak lo," puji Bram yang mulai menuangkan minyak ke dalam wajah.
"Lo mau bikin nasi goreng atau bikin gorengan? Banyak bener tuh minyak," tegur Rayn yang mulai capek, melihat Bram yang memasukkan minyak ke dalam wajan dengan jumlah banyak.
"Lah kan bener? Harus dikasih minyak yang banyak biar gak lengket," ucapan Bram memang benar, tapi bukan berarti dengan minyak goreng yang sebanyak itu. Orang yang lihat pun pasti akan mengiranya memasak gorengan bukan membuat nasi goreng.
Arthur berdesis pelan, cowok itu mengacak-acak rambutnya kesal. "Tapi gak sebanyak itu juga dodol! Emosi gue," seru Arthur mulai terbawa emosi.
"Kalian bisa gak buat gak ribut berdua? Punya malu dikit kek," celetuk Rasya menatap keduanya jengah. Menghela napas sejenak, sebelum kembali melanjutkan ucapannya.
"Kita bagi tugas, lo berdua masak." Rasya menunjuk keduanya. "Gue sama Rayn yang cuci piring."
Arthur dan Bram mengangguk dan mulai mengerjakan tugasnya. Bagi mereka lebih baik memasak ketimbang mencuci piring.
Prang
Prang
Prang
Suara barang berjatuhan mulai terdengar dari arah dapur, Runa yang ngidam mulai meringis mendengarnya. Sementara itu Bram dan Arthur kembali ribut hanya karena masalah pisau.
Rayn dan Rasya yang duduk mulai memejamkan mata, tak mengerti lagi dengan tingkah laku mereka berdua. Sembari menatap kedua sahabatnya yang ribut, keduanya memilih untuk mengambil barang-barang yang berjatuhan ke lantai, akibat ulah Bram dan Arthur.
"Lama-lama nih dapur jadi kapal pecah," gumam Rayn yang masih terdengar oleh Rasya.
"Ya Allah, lo mau motong apa gimana? Pisaunya kebalik," nampaknya Arthur sudah mulai depresi dengan tingkah Bram. Andai saja membunuh teman tidak berdosa, yakinlah detik itu juga Arthur ingin membunuh temannya yang satu ini.
"Pakai yang ujungnya tajam bukan yang tumpul. Kalau begitu terus kapan selesainya?" imbuhnya Rayn yang ikutan kesal.
"Kena pelet apaan si Bilqis, sampai-sampai bisa nikahin nih cowok." gumam Rayn. Valencia Bilqis namanya, perempuan yang telah menjadi istri sah dari Bram.
"Pakai santet kali," cetus Rasya.
"UDAHLAH GUE MAU BALIK, SALAH MULU PERASAAN!" Bram yang kesal pun membanting pisau itu dari tangannya, tanpa nya sadari Bram menyenggol wajan berisikan minyak panas.
"BRAMANTYOOO SIALAN LO!" wajah Arthur nampak kesal, cowok itu berkacak pinggang menatap Bram.
...
Setelah setengah abad lamanya, nasi goreng buatan chef Arthur dan Bram jadi juga. Saat ini semuanya tengah berkumpul dan duduk berbaris di meja makan. Menatap ragu nasi goreng bikinan Arthur dan Bram itu.
"Nih Run, silakan di makan." Baginya rasa tak masalah yang terpenting pede dulu.
"Gak lo kasih racun kan nih nasgor?" tanya Shaka sambil memicingkan matanya, menatap Arthur curiga.
Arthur yang ditatap curiga hanya bisa mengelus dada sabar. "Astaghfirullah, ampuni hamba ya Allah." bibirnya tak berhenti mengucapkan istighfar.
Bukannya memakannya, Runa malah mengembalikan piring yang berisikan nasi goreng itu pada ke-empat cowok di hadapannya. "Kalian yang makan," ujar Runa.
"Hah?" mereka berempat saling melempar pandang.
Vanya yang dari tadi diam mencoba untuk menahan tawa, bahkan saat ini ia merasa jika wajahnya memerah. Ide yang bagus Runa, pikir Vanya.
"Ayo kak! Makan," kata Vanya menyemangati.
Dengan perasaan ragu, ke-empat cowok mulai memasukkan sesuap nasi goreng ke dalam mulut mereka. Baru saja ke-empat nya mengunyah, Arthur terlebih dahulu tersedak. Cowok itu lantas lari ke arah wastafel. "Gila! Itu nasi goreng atau apaan sih? Asin banget," bahkan Arthur sampai bergidik ngeri dibuatnya.
"Yang masak emangnya siapa?" tanya Rayn, menatap Arthur dan Bram bergantian.
"Hehehe, gue. Enak kan?" dengan tampang tanpa dosa, Bram menjawab.
"Definisi kagak pernah ke dapur nih pasti," kata Arthur yang telah kembali duduk. Berulang kali cowok itu meminum air untuk menetralisir mulutnya yang terasa aneh.
"Ngapain gue ke dapur, kalau gue punya istri dan pembantu?" balas Bram dengan sok belagu nya.