Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Hari yang buruk



Runa berjalan menuju halte bis, pagi ini Arfan tak bisa mengantarnya, karena cowok itu masih tidur. Dan Runa sebagai adik tak tega untuk membangunkannya.


Sambil menunggu bis datang, Runa memasang earphone miliknya, mendengarkan musik di pagi hari, membuat mood Runa menjadi lebih baik lagi.


Sudah hampir 15 menit Runa menunggu kedatangan bis, namun hingga sekarang masih belum datang juga, sesekali Runa melirik jam di pergelangan tangan kirinya.


Sampai akhirnya, yang di tunggu datang juga. Runa menaiki bis itu dan menuju ke sekolah. Masih dengan mendengarkan musik, Runa menatap ke arah luar, menatap motor dan mobil yang menunggu lampu merah, sama seperti dirinya.


Runa tersenyum kecil, melihat anak SD yang menyebrang, melihat itu mengingatkan Runa tentang masa kecil, yang harus berangkat jalan kaki untuk tiba di sekolah.


Sampai akhirnya, bis Runa berhenti di halte bus yang tak jauh dari sekolahnya berada. "Makasih pak," ujarnya pada pak supir. Runa harus jalan beberapa langkah untuk sampai ke sekolah.


Runa tersenyum sesekali menjawab sapaan dari teman-temannya serta kakak kelas. Gadis itu melangkahkan kakinya memasuki kelas, dapat dilihat jika Vanya telah datang. Tapi kemana orangnya?


"Pagi semua," sapa Runa pada anak-anak kelas.


"Pagi Runa!" balas anak-anak yang lainnya.


"Dor!" Runa terjingkrak kaget, gadis itu membalikkan badannya, menatap Vanya yang tertawa. "Vanya! Kamu ya!" pekik Runa kesal.


"Haha, sorry-sorry. Becanda beb! Pagi ini sifat kejahilan gue meningkatkan seketika ketika ngelihat lo." Kata Vanya.


"Meningkat sih meningkat, tapi gak kagetin aku juga dong. Untung aku gak jantungan," ujar Runa yang masih kesal.


"Maaf, maaf. Jangan marah dong, gue kan becanda tadi. Eh nih gue kasih oleh-oleh buat lo, khusus buat sahabat gue." Vanya memberikan satu papper bag hitam pada Runa.


Runa mendongakkan kepala, menatap Vanya bingung. "Buat aku?" tanyanya heran.


"Iyalah, sahabat gue siapa lagi kalau bukan lo? Nih ambil, kemarin nyokap habis dari luar kota terus bawa oleh-oleh banyak banget, jadi gue kasih ke lo aja dari pada gak ke makan sama sekali. Sayang kan." Tutur Vanya.


Runa menerima papper bag itu perlahan. "Yaampun Van, makasih loh udah di kasih."


"Sama-sama, lagian ya. Nyokap gue juga belinya kemarin kebanyakan." ujar Vanya.


Shaka melangkahkan kakinya memasuki lorong sekolah, bersama dengan teman-temannya yang mengikutinya dari belakang. Namun langkahnya harus terhenti ketika seseorang memeluknya dari samping.


Shaka melirik sekilas, tanpa menghiraukan sapaannya. "Hai Shaka, selamat pagi." sapanya, seketika keadaan lorong menjadi sunyi.


Rasya dan yang lainnya yang berada di belakang Shaka terhenti, mereka hanya diam dan tak ingin ikut campur. Melihat reaksi Shaka yang diam saja membuat Tania merasa sebal, namun sebisa mungkin dia bisa menjaga imagenya.


"Pergi," satu kata yang mengekspresikan diri Shaka adalah dia tak ingin di ganggu untuk pagi ini.


Tania menggeleng pelan, gadis itu masih tetap sama memeluk lengan Shaka. Bukannya di lepas malah semakin erat memeluknya.


"Oh iya kamu udah sarapan belum?" tanya Tania, cewek itu menyamakan langkah kakinya dengan langkah lebar milik Shaka.


"Gila tuh cewek, gue yakin urat malunya udah putus." ujar Tara yang menatap kegiatan dua sejoli di depannya.


"Gak putus lagi, udah ilang." perkataan itu berasal dari mulut Rasya, seandainya jika Rasya tak punya hati seperti Shaka. Mungkin sudah dia ungkapkan semua unek-unek yang dia rasakan selama ini.


"Lo punya telinga kan?" tanya Shaka, benar-benar suara nya berubah drastis lebih dingin dari biasanya.


Tania tersenyum ketika Shaka menerima kotak itu, lalu memutar nya ke atas dan ke bawah Dan ... Shaka lempar ke dalam tong sampah, yang tepat berada di samping dirinya.


Dug


Kegiatan itu mampu membuat semua siswi melongo, begitupun dengan kelima sahabat Shaka lainnya. Shaka tersenyum miring melihat ekspresi kaget dari Tania, Laki-laki itu mendekat ke arah Tania.


"Gak usah sok baik dan ramah di depan gue, karena sejarahnya. Lo lebih busuk dari seorang pe-la-cur." kata Shaka sambil menekan kata akhirannya.


Ini bukan pertama kalinya Shaka berkata demikian, sebenarnya ini bukan sepenuhnya salah Shaka. Karena yang kalian lihat sendiri siapa yang mulai menganggunya? Kan sudah dibilang, jika Shaka tak suka di usik. Apalagi di pagi hari yang cerah ini.


Setelah berkata itu Shaka memilih pergi meninggalkan koridor kelas, dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


Sedangkan kelima sahabat Shaka menatap Shaka dan Tania bergantian. "Mau ketawa tapi takut dosa." cibiran itu berasal dari Bram.


"Kasihan banget sih yang udah manis-manis, eh di buang." Tara juga tak kalah mencibir Tania.


"Astaga Tan, kenapa gak lo kasih ke gue aja. Pasti gue makan kok." Kata Arthur, membuat Tara langsung menoyor kepala Arthur.


"Makan aja cepet lo," sahut Tara.


"Gak papa lah Tar, lumayan rejeki gak boleh di tolak." Beginilah anak holkay yang hanya mau gratisan.


"Udah Tan, mending besok-besok gak usah buat kasih Shaka begituan. Bukannya Shaka suka, malah benci sama lo. Mending sadar diri cepetan, dia udah punya." Tutur Rasya, lelaki blasteran itu memilih pergi setelah berkata demikian.


Di susul juga dengan yang lainnya. Meninggalkan Tania yang terdiam diri di Koridor kelas.


...


Bel istirahat telah berbunyi, Shaka bersama kelima temannya berjalan beriringan menuju ke kantin. Mungkin perkataan Shaka tadi pagi tak ada apa-apa nya. Buktinya, 'wanita itu' masih bisa berdiri di depan wajahnya.


"Hai Shaka," sapanya.


Lagi dan lagi, Shaka melangkah pergi tanpa menghiraukan sapaan menjijikan di telinganya. Memilih ke kantin untuk mengisi perutnya.


Tania mendegus sebal karena sapaannya tak di balas, jangankan di balas di lirik saja tidak. Tania yang ingin menghampiri Shaka terhenti ketika netra matanya menatap Shaka yang duduk di salah satu meja berisiskan ... Vanya dan Runa.


"Mau kemana lo? Jangan jadi perusak hubungan orang deh. Cantik-cantik kok jadi PHO." cegah Bram sambil menyindir.


"Mending sama gue Tan, gue jamin hidup lo bakal makmur dan sentausa." kata Arthur, cowok itu memulai aksi buaya di kantin.


"Tuh ada Arthur, lumayan daripada lo jomblo mending sama Arthur." sahut Tara.


Rayn ikut menyahuti. "Bener Tan, daripada lo jadi PHO."


Sudahlah, jangan ditanyakan gimana pedasnya mulut inti Alastair ini. Kalau soal sindir-menyindir jangan di ragukan lagi pokoknya.


...


Pfttt mau ketawa takut dosa - Bram 😭