
Di lain tempat, Rama baru saja tiba di bandara, dirinya baru saja tiba setelah hampir satu jam lamanya. Akhirnya Rama tiba di Jakarta.
Lelaki itu tak bilang pada Runa jika pulang hari ini, Rama hanya bilang kalau dirinya akan pulang paling cepat besok.
"Sampai juga," gumam Rama tersenyum senang, melangkah ke parkiran setelah mengambil koper.
Rama masuk ke dalam mobil, mobil ini memang sudah disiapkan untuk nya jika sampai di Jakarta.
Di dalam mobil, Rama sudah tak sabar untuk bertemu dengan Runa. Cowok itu juga sudah menyiapkan hadiah yang akan dia berikan pada Runa.
"Semoga kamu suka," ujar Runa sembari melirik papper bag, yang dia taruh di kursi samping pengemudi.
Rama langsung saja menancap gas menuju ke rumah Runa, menatap jam yang sudah menunjukkan pukul 8 malam. Pastinya Runa sudah berada di rumah.
Sedikit menaikan kecepatan, agar bisa sampai ke rumah Runa. Padahal Rama bisa saja ke rumah Runa besok pagi, tapi karena sudah merindukan Runa. Rama tak ingin membuang-buang waktu nya.
Mobil Rama terpaksa mengerem mendadak, saat melihat dari kejauhan ada seorang gadis yang sedang ditarik paksa oleh tiga orang.
Rama yang sadar pun langsung keluar mobil, berlari keluar. Menghampiri orang tersebut dan langsung memberikan tendangan.
Bugh
Tendangan yang Rama layangkan berhasil membuat mereka terjatuh. Runa tersenyum senang ketika melihat Rama datang, tapi dirinya dibuat kebingungan dengan kedatangan Rama.
Bukannya Rama pulang besok?
Terus, mengapa ada disini?
Atau jangan-jangan Rama ingin memberikannya kejutan?
"Brengsek lo!" umpat Rama sambil menarik kerah preman tersebut.
"Berani-berani nya lo sentuh cewek gue sialan!" sungut Rama.
Rama langsung saja menendang mereka, memukuli nya, dan tak memberikan ampun ke mereka. Ditambah lagi mereka berhasil menyentuh miliknya.
Ingat, Rama benci ketika miliknya disentuh oleh orang lain.
Bugh
Dug
Krek
Runa meringis kencang, saat mendengar Rama berhasil menendang tulang belakang preman itu sampai berbunyi keras.
Semakin memeluk tubuhnya erat, Runa bersembunyi pada kedua lututnya. Menangis tersedu-sedu.
Rama seketika menghentikan pukulannya, ketika melihat Runa yang semakin ketakutan, dengan kasar dia menghempaskan tubuh preman itu.
Berlari menghampiri Runa dan memeluknya erat. "Shut, tenang. Mereka udah pergi," bisik Rama pada Runa.
Semakin mengeratkan pelukan, melihat Runa yang memeluknya erat. "Takut," lirih Runa.
"Ada aku, mereka udah pergi sekarang." Rama perlahan menguraikan pelukan, menangkup kedua pipi Runa, Rama menatap gadisnya dalam.
"M-mereka, jahat Ram. Mereka jahat," adu Runa pada Rama. Masih dengan tangisannya yang tersedu-sedu.
Rama mengangguk pelan. "Iya, mereka jahat." balas Rama. "Mereka udah pergi sekarang, kamu gak usah takut," sambung Rama.
Di rasa, Runa mulai tenang. Rama membawa Runa masuk ke dalam mobil. Di dalam, Rama masih diam. Cowok itu masih menenangkan Runa yang masih ketakutan.
Menatap penampilan Runa yang berantakan membuat Rama marah, sekaligus kesal. Melihat itu Rama langsung memutuskan untuk membawa Runa ke apartemen miliknya.
Yang ada nantinya, malah Rama yang dituduh berbuat apa-apa sama Runa.
"Tapi nanti kalau Bunda sama Ayah tanya gimana?" tanya Runa masih dengan tangisannya yang perlahan mereda.
"Nanti aku yang bilang ke mereka, mau kan aku bawa ke Apartemen?" ulang Rama kembali.
Runa mengangguk kecil. "Ikut aja,"
Perlahan Rama menyalahkan kembali mobilnya dan segera menuju ke apartemen dengan cepat. Karena apartemen miliknya tak jauh dari tempat itu, Rama menjalankan nya dengan santai.
...
Tak perlu waktu lama-lama untuk sampai ke apartemen, mobil yang Rama gunakan kini sudah berhenti tepat di parkiran apartemen.
Melirik ke samping dan mendapatkan Runa yang tertidur, membuat Rama tak tega membangunkan gadis itu.
Mengangkat pelan badan Runa, Rama melangkah naik ke atas. Sampai depan apartemen, Rama memasukkan sandi lalu masuk.
Menurunkan tubuh Runa pelan-pelan ke atas kasur, dan tan lupa menyelimuti gadis itu. Cukup lama Rama memandang wajah Runa hingga memutuskan untuk keluar kamar.
"Halo Bunda,"
"Halo sayang. Loh bentar kok suaranya beda," heran Bunda Yuna.
"Ini Rama tante," balas Rama terkekeh pelan.
"Loh Rama, kamu udah pulang? Terus ponsel Runa kenapa ada di kamu, Runa dimana?"
"Runa tidur Bun," sahut Rama.
"Emm.. Rama mau minta izin buat bawa Runa ke apartemen. Tadi gak sengaja ketiduran di mobil. Daripada putar balik. Rama akhirnya bawa Runa ke apart, gak papa kan tan?" tanya Rama pada Bunda Yuna.
"Ya ampun, maaf ya Ram. Jadi buat kamu repot," jawab Bunda tak enak.
"Gak papa nak, tapi tante mohon banget sama kamu. Jaga Runa ya, tante udah percaya ke kamu." Yuna malah sudah percaya dengan Rama, disaat Arfan mulai mengenalkan Rama pada dirinya.
"Iya Bunda, Bunda tenang aja. Runa bakal aman kok sama Rama," jawab Rama.
"Yaudah titip Runa ya, kalau ada apa-apa langsung telpon tante aja. Atau gak Arfan. Hati-hati ya, tante tutup telponnya ya. Assalamu'alaikum!" Yuna seketika mematikan panggil sepihak.
"Waalaikumsalam," balas Rama.
Shaka baru saja sampai rumah, mengucapkan salam Shaka lantas berjalan ke atas, tak menghiraukan teriakan Ale yang ada di bawah.
"Main nyelonong aja lo!" semprot Ale dengan kesal.
Memilih berjalan ke atas, kali ini Shaka mengabaikan panggilan Lea, dan masuk ke dalam kamar. Menghempas tubuhnya ke atas kasur, menatap langit kamar.
Tadi waktu pulang, Shaka tak sengaja menatap kejadian dimana Rama melawan beberapa orang dan mendapati Runa yang duduk ketakutan di sana.
Ingin sekali Shaka membantu, namun dia urungkan. Waktu melihat Rama yang begitu erat memeluk Runa serta memberikan perlindungan pada gadis itu.
Tapi ada hal yang membuat Shaka aneh, dia merasakan ada satu keanehan di sana. Dan Shaka tak tau itu apa.
Melihat Runa yang sudah tenang di pelukan Rama. Membuat Shaka melangkah pergi dari sana, dan memilih pulang ke rumah.
"Apa emang gak ada kesempatan buat gue balikan kayak dulu," gumam Shaka. Tak mau berpikir panjang lebar, Shaka mengubah posisinya yang tiduran menjadi duduk.
Masuk ke dalam kamar mandi, Shaka membersihkan diri lalu memilih tidur. Tubuhnya hari ini sudah lelah.