Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Permasalahan pertama dimulai



Satu minggu ini Runa begitu sibuk dengan dunia kerjaan. Tepat sekali, Runa sudah diterima di salah satu perusahaan terbaik di kota Jakarta.


Dia patut bersyukur karena bisa mendapatkan pekerjaan secepat ini, mungkin ini rejekinya. Karena sebagian orang harus berusaha dan mendaftarkan diri di perusahaan satu ke perusahaan lainnya untuk mencari kerja.


Pagi hari yang cerah, matahari perlahan menampakkan sinarnya. Udara pagi yang masih sejuk begitu terasa.


Runa dan Jihan baru saja Menyelesaikan joging pagi mereka, hanya mengelilingi komplek selama 30 menit.


"Kak, Runa naik ke atas ya. Mau mandi sekalian siap-siap buat berangkat kerja,"


Jihan mengangguk dirinya juga harus ber siap-siap untuk berangkat kuliah. "Iya dek, kakak juga mau berangkat kuliah,"


Mereka berdua berpisah diujung tangga, dengan perlahan Runa masuk ke dalam kamar dan langsung bersiap untuk berangkat kerja.


Kalau pagi begini, biasanya Runa dan Rama akan saling mengirim pesan atau paling tidak menghubungi satu sama lain.


Namun, rasanya untuk beberapa hari ini mungkin tidak.


Mereka berdua lagi dalam mode ribut.


Itu semua terjadi pada minggu kemarin, dimana Rama melarang Runa untuk bekerja di perusahaan dan menyuruh gadis itu untuk risen.


Siang ini Runa baru saja menyelesaikan seleksi ke-dua, tinggal menunggu saja informasi berikut nya, yaitu lolos atau tidak.


Mengingat Rama, seketika membuat Runa takut. Dia takut jika Rama tak setuju, ditambah dengan sifat posesif lelaki itu yang sangat sangat membuat Runa bertambah khawatir.


"Gimana ya sama Rama?" ujar Runa pada dirinya.


"Apa aku bilang aja ke dia. Kalau aku lulus interview. Tapi kalau aku bilang nanti Rama gak setuju, apalagi sama sifat dia yang kayak gitu."


Menghela napas sejenak, Runa memilih memijit pelipisnya. "Pusing," ungkap Runa.


"Tapi... kalau aku gak bilang, malah bahaya lagi." Di pikir-pikir benar juga, kalau Runa tak berkata jujur nanti nya malah panjang lagi urusannya.


"Kebanyakan tapi kamu mah. Udah telpon aje deh," putus Runa dengan segera merogoh tas dan mengambil ponsel.


Sebelum itu Runa masuk ke salah satu kafe untuk berteduh. "H-halo Rama,"


"Halo sayang, ada apa?" tanya Rama dari sebrang.


"Em Ram," suara Runa seketika mengecil.


Dalam hati berdoa, agar Rama bisa mengerti dengan apa yang dia jelaskan kali ini. Paling tidak, Rama mengerti dirinya untuk kali ini saja.


"Kamu lagi dimana?" tanya Runa, basa-basi.


"Rumah, habis olahraga. Kamu ada dimana? Kok rame gitu," balas Rama dengan nada curiga.


"Kamu keluar? Kok gak bilang aku? Kenapa gak izin dulu. Oh atau kamu keluar lagi sama mantan kamu itu? Iya,"


Runa mengumpat dalam hati, bagaimana caranya Runa bisa menjelaskan kalau begini caranya?


Belum juga Runa menjelaskan yang terjadi, namun begini saja sudah riuhnya. Astaga tolong Runa sekarang juga!


"Ram, tenang dulu." Runa mencoba menenangkan Rama.


"Kamu dimana sekarang?!" tanya Rama.


Memutar bola mata malas, sifat Rama mulai kumat. "Ram aku--"


"Kamu dimana Runa!" tanya Rama dengan nada marah. "Sekarang kasih tau aku, kamu dimana?!" tekan Rama sekali lagi.


"Rama tunggu dulu, aku belum selesai ngomong!" dengan kesal, Runa tak kalah membentak. Kalau begini terus. Bagaimana bisa Runa menjelaskan sebenarnya.


Mendesah kasar, Rama berkata. "Oke, kamu mau bicara apa." Rama mencoba untuk tak kehilangan kendali.


"Makanya dengerin dulu dong!" sungut Runa.


"Ram," Rama berdehem singkat sebagai balasan. "Aku mau ngomong. Tapi kamu jangan marah ya," mengigit jari-jari kukunya.


"Emang kamu mau bicara apa?" tanya Rama. "Kok kayak penting gitu? Ngomong aja, gak usah takut. Aku gak bakal kali gigit kamu," sambung Rama.


Runa sedikit meringis pelan, saat mendengar balasan dari sang kekasih. Mana mungkin ucapan Rama itu benar.


"Rama..." Runa mengigit pipi bagian dalam. "Aku, aku---"


"Aku, aku diterima kerja."


"Loh, bukannya bagus?" heran Rama. "Kamu gak perlu buat banyak-banyak kirim laporan biar ke terima kerja lagi," imbuh Rama.


"Sebentar...." kata Rama menggantung. "Kamu ke terima kerja dimana? Jangan bilang kamu sekarang keluar buat urus kerjaan kamu lagi,"


"Nggak kok, ini baru selesai seleksi."


"Bagus dong. Terus apa yang buat kamu khawatir," tanya Rama yang masih belum paham.


"Aku, diterima di salah satu perusahaan yang cukup terkenal,"


"Bentar, bukannya malah baik ya? Bukannya semakin terkenal perusahaan. Maka sulit juga masuknya, kamu harusnya seneng dong. Kok malah khawatir gini,"


Mengacak rambutnya kesal. "Kenapa gak paham-paham juga sih," batin Runa menangis.


"Iya bagus. Cuma aku di terima di perusahaan Aldebaran Group," balas Runa dengan sedikit memelankan kata akhiran.


Setelah itu tak ada balasan dari Rama. Cowok itu diam, Rama sama sekali tak menjawab. "Rama," panggil Runa ragu-ragu.


Sudah gadis itu pastikan bahwa, Rama akan marah.


"Keluar sekarang!" tegas Rama.


"Gak mau! Masa iya aku keluar," tolak Runa dengan mentah-mentah. Mencoba untuk tegas kali ini. Runa tak ingin selalu dalam kekangan Rama.


"Keluar Runa!" suruh nya.


"Gak mau Rama. Masa iya aku susah-susah buat daftar. Kamu suruh aku keluar gitu aja," tolak Runa.


"Sekarang kamu dimana?"


"Gak, nggak mau." Runa masih kekeuh pada pendirian nya.


Enak saja, tak tau seberapa kerasnya Runa mendaftarkan diri di sana. Masa iya harus keluar begitu saja. Dengan alasan yang tak jelas dari sang kekasih.


"Keluar Runa," tegas Rama sekali lagi.


"Alasannya? Kamu ngelarang aku karena di sana nantinya akan ada Kak Shaka. Ingat Ram, aku sama Shaka nanti nya akan menjadi rekan dan itu gak lebih," tutur Runa dengan tegas.


"Aku gak peduli, segera keluar atau kamu bakal tau apa yang----" belum lanjut Rama berkata. Dengan cepat Runa memutuskan panggilan sepihak dan langsung menyalakan mode silent.


"Mampus!" dengan segera Runa memakai kembali tas sling bag nya dan keluar.


Namun, ketika berbalik tubuhnya tak sengaja menabrak seseorang dan membuat minuman yang Runa pesan menumpahi kemeja sosok pria di depannya.


"M-maaf, maaf!" Runa langsung mencari tisu dan langsung menggelap tumpahan noda minuman.


"Nggak masalah," balas lelaki didepannya dengan nada serak. Seketika Runa menghentikan aktivitas menggelap nya, dan langsung mendongak ke atas.


Kak Shaka, batin Runa.


"Maaf, gak sengaja." Runa menatap ke arah jalanan luar. Tak sedikit pun manik matanya menatap sosok didepannya.


Tak peduli lagi dengan orang-orang kafe yang menatap mereka, sekeras mungkin Runa menahan gejolak hati.


"Runa," panggil Shaka dengan nada yang sangat lembut.


Nada ini, nada yang sangat amat Runa rindu kan tepat 3 tahun lalu. Nada dan pengucapan kata yang selalu membuat hati Runa bergetar ketika mendengar nya.


"Kamu apa kabar?" tanya Shaka.


Satu sisi Shaka senang bisa berdekatan kembali dengan Runa seperti ini. Namun saat mengingat kembali beberapa bulan lalu, tepat reuni terjadi.


Seketika harapan yang Shaka susun hancur seketika, mengingat bahwa Runa bukan kembali miliknya. Mengingat dimana Rama yang sangat menyayangi dan begitu posesif terhadap Runa.


Dan Shaka dapat melihat dari manik mata coklat Runa, bahwa tak ada beban di sana. Sangat berbeda jauh ketika dengan dirinya dulu.


"Sekali lagi maaf. Saya permisi," ujar Runa yang langsung melangkah keluar kafe, meninggalkan Shaka dan sang sekertaris, Leo.


...


Ramein komentar yuk, biar aku tau siapa aja yang baca episode ini :)