
Runa menggeliat pelan, gadis itu mendengus kesal, tidur nyenyak nya terganggu akibat suara dering dari handphonenya.
Dengan kondisi setengah sadar, tangannya terangkat mengambil ponsel miliknya yang berada di atas nakas.
"Halo?" kata Runa malas, masih dengan menutup kedua matanya. Runa mengangkat panggilan itu.
"Aku ada di depan rumah!" ucap seseorang dari sebrang sana.
"Antar paket ya? Perasaan paket aku masih di jalan deh," kata Runa ngelantur, mungkin efek bangun tidur.
"Udah siap?"
Dahi Runa berkerut, Runa masih setia dengan menutup kedua matanya. "Siap ke mana? Ini siapa sih?"
Terdengar decakan dari arah sebrang sana. "Shaka,"
Mata Runa langsung terbuka lebar, mengetahui siapa orang yang menelponnya. Gadis itu menatap sekilas kontak nama dan benar saja. Shaka menelponnya. "Kak Shaka? ng--ngapain?" tanya Runa bingung.
"Jemput kamu, sana ganti. Aku tunggu di bawah." Shaka langsung mematikan panggilan sepihak.
Untuk memastikan benar atau tidaknya, Runa langsung menyibak selimut, lantas berlari ke arah balkon. Benar, sebuah mobil BMW berwarna black terparkir rapi di depan rumahnya. Lengkap dengan sang pemiliknya yang sekarang menatap ke arahnya.
Runa menepuk jidatnya, aish kenapa ia bisa lupa begini. Semalam Shaka mengajaknya keluar entah kemana. Yang penting Shaka menyuruhnya siap-siap pada pukul 7 malam.
Dan sekarang sudah pukul 7 malam lebih. Akibat tadi membaca novel gadis itu sampai terlupa dengan janjinya.
Segera Runa berlari keluar kamar untuk mencari sang bunda, malam ini kesialan menimpanya, gadis itu hampir saja terjungkal akibat bunda nya yang sudah berdiri di depan pintu.
"Bunda-"
"Di luar ada nak Shaka, katanya dia udah nunggu dari tadi. Kamu ngapain aja dari tadi sampai janjian sama orang aja lupa," tanya bunda heran.
"Ketiduran bun, bunda temenin kak Shaka sebentar ya. Aku mau mandi dulu, oke? Makasih bunda," sebelum kembali menutup pintu gadis itu mengecup pipi Yuna singkat.
Yuna hanya bisa menggelengkan kepala, wanita itu memilih turun ke bawah menemani Shaka yang sendirian.
"Ini diminum dulu teh nya, sambil nungguin Runa." Yuna memberikan secangkir teh hangat serta kue kering buatannya.
"Makasih tante, maaf merepotkan." kata Shaka tak enak.
"Gak masalah, maaf ya harus tunggu Runa lama. Baru bangun tidur dia," ucap bunda yang diangguki santai oleh Shaka.
Tak ingin membuang waktu lama gadis itu dengan cepat mandi. Runa kalang kabut sekarang, gadis itu menatap lemari yang berisi dress miliknya. Mengambil satu persatu dress itu seraya menatap cermin.
"Pakai yang apa ya?" herannya sendiri. Mencoba sekali lagi hingga menemukan warna yang pas dengan dirinya.
Runa memilih dress cream selutut, yang dipadukan dengan sepatu sneaker berwarna putih. Dengan rambut yang ia kuncir kuda. Di tambah dengan anting berwarna coklat sebagai pelengkap.
"Oke, udah siap." buru-buru gadis itu mengambil tas kemudian memasukan dompet serta handphone dan turun ke bawah.
Dapat di lihat di ruang tengah bunda dan Shaka sedang mengobrol. Mengetahui Runa datang Shaka tersenyum tipis.
Oh god!!! kenapa bisa cowok itu terlihat tampan sekarang? Dengan kaos hitam dan jaket berwarna cream senada dengan pakaiannya. Terlihat begitu sopan sekali bukan? -padahal biasanya juga tidak.
"Nah ini dia," Yuna bangkit dari duduknya dan menghampiri Runa.
Shaka juga ikut bangkit, matanya tak terlepas dari Runa sekarang, dengan penampilan yang sederhana tak membuat kecantikan gadis itu terkurangi.
"Tante, Shaka izin bawa Runa keluar," izin Shaka dengan sopan.
Yuna tersenyum, "Iya, silahkan dibawa. Tapi ingat harus jaga batasan, jaga putri tante!" tegas Yuna. Wanita itu menoleh ke arah Runa, dengan menaik turunkan alisnya, menggoda Runa.
Shaka mengangguk singkat. "Pasti tante,"
"Bun, Runa pamit keluar ya, bunda di rumah aja jangan ke mana-mana. Tunggu abang pulang," pamit Runa, gadis itu mengalami Yuna dan tak lupa memeluknya.
"Iya sayang, hati-hati ya kalian berdua di jalannya." pesan Yuna yang dapat anggukan dari keduanya.
"Shaka izin bawa Runa ya tante," tak lupa cowok itu menyalami tangan Yuna.
Shaka mengulurkan tangan kanannya, menyambut tangan mungil Runa yang disambut hangat oleh Runa, tangan mungil ini membuat Shaka merasakan kenyamanan kembali.
Kedua remaja dengan pakaian serasi namun tak janjian itu, sama-sama keluar rumah Runa dengan bergandengan tangan.
Sampai di pekarangan rumah, mereka disambut dengan mobil BMW berwarna black milik Shaka.
Oke, Runa tak kaget dengan hal ini. Karena hampir setiap saat Shaka memakai pakaian yang cukup sederhana dengan nominal angka yang besar.
Cukup aneh saja, mobil semewah ini terparkir di depan rumahnya yang kecil ini. Untung tak ada tetangga, andai ada. Jadi bahan gosipan mak-mak komplek!
"Yuk masuk," ajak Shaka, membuyarkan lamunan Runa. Cowok itu memperlakukan Runa layaknya ratu hari ini.
Tangannya tergerak membuka pintu mobil, perlahan Runa masuk ke dalam. Cukup aneh baginya menaiki mobil semahal dan semewah ini. Shaka menutup pintu perlahan cowok itu mengitari mobil dan duduk di samping kemudi.
Perlahan mobil itu jalan meninggalkan pekarangan Runa. Sebelumnya cowok itu memasang seat belt pada Runa, "Cantik," komentar Shaka setelah memasangkan seat belt.
"Makasih, kamu juga tampan." kata Runa dengan jujur, memang malam ini Shaka terlihat sangat tampan.
"Kok bisa ya pakaian kita samaan?" heran Runa, gadis itu sedikit terkekeh. Padahal keduanya tak ada sama sekali untuk janjian.
"Gak tau, kamu kali yang ikutan." ujar Shaka.
"Gak, aku malah gak tau kamu pakai warna ini. Aku tadi lihatnya kamu cuma pakai kaos hitam doang, ga ada jaketnya." yang gadis itu lihat tadi Shaka hanya memakai jeans hitam serta kaos berwarna senada saja.
"Tadi gak ku pakai jaketnya." ucap cowok itu.
"Kak kita mau kemana?" tanya Runa yang menatap keluar jalanan, jalanan ini cukup membuatnya heran. Bukannya ini jalan menuju ke--perumahan elit?
"Nanti kamu juga tau sendiri," ujar Shaka, cowok itu menatap jalanan dengan fokus.
Runa mengatur nafasnya berkali-kali, entah mengapa jantungnya berdetak kencang sekarang. Oh Tuhan ada apa ini? gadis itu menatap jalanan luar dengan kedua tangan menggengam ujung rok.
"Kenapa?" tanya Shaka seakan tau apa yang sedang Runa pikirkan.
"Gak tau, gugup aja." ujar Runa dengan jujur.
"Gugup? aku gak makan orang kali," gurau Shaka.
Runa mencabik bibirnya kesal, tak tau apa jantungnya hampir copot dari tadi. Bahkan saat mengetahui jika Shaka mengajaknya keluar semalam.
"Bukan gitu! Deg-degan aja," Shaka hanya tersenyum tipis, cowok itu mengusap kepala Runa dengan sayang, Shaka tak munafik cowok itu memang terpukau dengan kecantikan Runa.
HUAAAA BUNDA! JANTUNG RUNA TAK AMAN!
"Na," panggil Shaka. "Sini," Shaka menyuruh gadis itu untuk mendekat.
Cup
Shaka mengecup singkat kening Runa, cowok itu kembali menjalankan mobil setelah lampu hijau berganti. Runa, gadis itu terdiam sesaat, apa ini? apa ini?!
Ingin sekali gadis itu menjerit, bunda kecupannya udah di curi! Gadis itu tersadar dan langsung saja menghadap keluar jendela, sambil menegang dadanya yang bergemuruh dari tadi.
"BUNDA HELP ME!" batin Runa berteriak.