Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Kembali



Liburan kenaikan kelas telah usai, hari ini adalah hari pertama tahun ajaran baru di mulai, tak terasa tahun depan dia akan memulai di bangku mahasiswa. Shaka, cowok itu baru saja menyelesaikan ritual mandinya.


Shaka mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, cowok itu hanya memakai celana saja, memperlihatkan roti sobek yang membuat siapa saja menatapnya dengan berbinar.


Tangannya terulur mengambil ponsel yang ada di atas nakas, tangannya memencet panggilan kepada sang gadis.


"Selamat pagi kak Shaka," sapa nya di sebrang.


"Pagi, hari ini aku jemput, jangan lupa sarapan!" ujar cowok itu.


"Siap paketu, aku sarapan dulu ya kak. Kamu juga jangan lupa sarapan," Runa memutuskan panggilan sepihak.


Shaka menaruh kembali ponsel miliknya, cowok itu berjalan menuju ke walk in closet miliknya. Dan mengambil seragam putih Abu-Abu miliknya. Pintu kamar terketuk membuat Shaka yang ingin menganti Pakaian terhenti.


tok.. tok.. tok..


"Bang, lo di dalam kan?" Ale bertanya dari luar.


"Apa?" pintu kamar Shaka terbuka Ale menampakan kepalanya saja. "Astagfirullah, pakai baju tuh yang bener kek, mata gue ternodai sama roti sobek lo!" ucap Ale menutup kedua matanya dengan telapak tangan, meskipun masih curi-curi pandang.


Shaka hanya berdecak, "ngapain lo?!" tanya Shaka dengan ketus.


"Pagi-pagi ketus bener jawaban lo bang!" cibir Ale. "Anterin gue ya ke sekolah, numpang." ujar Ale.


"Papa?"


"Papa kan ke luar kota semalem, lo sih di telpon gak jawab-jawab anak kurang ajar lo, papa nya kerja banting tulang buat hidupin keluarga, ini anaknya malah buat taruhan." Ale mencibir dengan pedasnya.


"Masih mending gue, lha lo? Minta album tiap bulan yang ujung-ujungnya cuma lo liat doang, mending gue lah." Ale tuh anak k-popers dia juga multifandom banyak banget idol yang dia suka, jadi tak jarang juga dia membeli sebanyak itu.


Walaupun sebenarnya, gak buat mereka miskin sih. Cuma album doang, sama aksesoris juga. Dan biasanya itu akan Al dan Lea turuti jika Ale mendapatkan peringkat ataupun menang lomba. Lebih tepatnya sebagai reward.


"Gue gak minta ya! Itu semua dari gue menang lomba." ucap Ale tak terima.


"Bacot! udah sono pergi lo!" usir Shaka.


Ale menghentakkan kaki kesal, cewek itu menutup kamar pintu Shaka dengan kasar. Shaka hanya mengidikkan bahu acuh, memilih untuk menganti pakaiannya.


Shaka turun dengan menenteng tas dan jaket miliknya, ada mama Lea dan Ale di bawah sedang melaksanakan sarapan. Shaka menarik bangku dan duduk di samping Ale.


"Ma, Ale sama bang Shaka berangkat dulu. Bye mama!" Ale menghampiri Shaka dengan berlari kecil, cewek itu memasang helm dan naik ke atas motor Shaka.


"Lo gak jemput kak Runa?" tanya Ale sedikit teriak.


"Jemput, gara-gara lo gue telat jemput dia." ketus Shaka.


"Lah kok gak bilang lo nya, kan tau gitu gue gak udah bareng lo."


"Lo aja yang kagak tau diri, naik ojek juga bisa berangkat kali."


"Kok gue sih, gue mulu yang lo- Abang!" Shaka melajukan motornya lebih cepat lagi membuat Ale hampir saja terjatuh jika tak cepat-cepat berpegangan.


Ale memukul pundak Shaka. "Kalau gue jatuh gimana? Lo ya jadi abang gak ada perhatiannya dikit sih."


"Berisik!"


"Udah-udah gue turun sini aja, males gue sama lo." sekian detik kemudian Shaka menghentikan motornya di pinggir jalan.


"Kok berhenti?" tanya Ale heran.


"Turun!"


"Hah?"


"Turun, lo tadi minta turunin kan. Udah turun sekarang, gue mau jemput Runa. Buruan!" ujar Shaka.


Ale melongo menatap abangnya bingung. "Bang tapi-"


Ale mengumpat dalam hati, cewek itu turun dengan muka cemberut nya. Begini nih kalau punya abang yang gak peka sama sekali jadi nya ya begini. Motor Shaka perlahan meninggalkan Ale yang sedari tadi menghentakkan kakinya kesal. Sebelumnya cowok itu mengambil helm milik Runa yang dipakai Ale.


"Anj- sial bener gue! Punya abangsat kayak Shaka ya gini. Peka dikit dong jadi abang bisa gak sih?!" kesal Ale. Gadis itu tak henti mengoceh sedari tadi. Tak peduli seberapa banyak orang yang menatapnya aneh.


Pasti orang-orang berpikir bahwa dia gila.


"Gue sumpahin motor lo yang nabrak! Biar tau rasa." sumpah Ale sampai tak sadar bahwa ada tiang yang berdiri tepat di depannya.


Bruk


"Aduh," ringis nya. "Ih sejak kapan nih tiang berdiri di sini? Gue pindahin juga lo, aw sakit." Ale mengelus jidatnya yang tertatap tadi.



Shaka telah ada di depan rumah gadis nya. Cowok itu menyandarkan dirinya di jok motor. Cowok itu menoleh ke kanan ke kiri untuk mengecek-ngecek saja. Tak lama Runa keluar, gadis itu berlari kecil menghampiri Shaka.


"Pagi kak Shaka,"


"Pagi, nih helm nya." Shaka memberikan helm yang di pakai Ale tadi pada Runa.


Keduanya sama-sama menaiki motor. Selama perjalanan Runa tak henti-hentinya bercerita, tentang liburannya selama ini. Shaka hanya mengangguk sesekali menjawabnya, cowok itu lebih memilih mendengar daripada menjawab ucapan Runa.


Hingga tak sadar keduanya sampai ke parkiran sekolah. Runa mengerutkan dahi, perasaan tadi masih di pertigaan.


"Cepat sekali," gumam Runa, tangannya hendak melepas helmnya. Namun dengan cepat Shaka dulu yang mengambil alih membukakan helm itu.


"Aku masuk dulu ya kak, kakak jangan bolos kelas." tunjuk Runa,


"Iya, sana masuk."



Karena masih tahun ajaran baru, pelajaran masih belum ada, Vanya dan Runa berada di kelas berdua, yang lain pada pergi keluar. Hari ini Vanya ingin memberikan cookies buatannya kepada Rasya.


"Run, gue takut kalau gak keterima gimana?" Vanya tiba-tiba merasa ragu untuk memberikan cookies buatannya.


Runa menatap Vanya. "Kok gitu?"


"Gimana ya, gue ragu kalau nanti cookies buatan gue gak keterima sama kak Rasya, lo tau sendiri kan gue hampir setengah tahun ngejar dia sampai sekarang gak di jawab sama sekali." ujar Vanya.


"Hei, dengerin aku ya. Gak bole patah semangat, ayo lakuin lagi, katanya mau jadian sama kak Rasya, kak Rasya aja bisa menjadi sosok sekarang pasti banyak banget rintangannya, sama kayak kamu." Runa memberikan semangat.


Vanya mengangguk malas. "Oke, semoga aja keterima kue nya."


Shaka memutuskan untuk pergi ke kantin, cowok itu memilih ke tempat ini kalau gak karena bolos ya jamkos. Lagian masih awal juga, dan pastinya belum ada pelajaran.


"Sa tugas kliping liburan lo udah buat?" tanya Rayn.


"Kliping?" ujar Shaka. "Belum, gak gue kerjain." lanjutnya dengan santai.


"Serius lo?" Shaka mengangguk saja.


"Gak gue kerjain, biarin lah, cuma kliping doang."


"Sa, masalahnya wali kelas kita B-bu Dayu!" ujar Bram membuat semuanya menatap ke arah Bram.


Bu Dayu? Guru BK itu? Guru yang galaknya masya Allah itu?


"Bu Dayu guru BK?" tanya Arthur tak percaya. Mati mereka kalau memang benar-benar di ajar bu Dayu, bisa-bisa di awasi setiap hari.


"Iyalah, bu Dayu siapa lagi? Guru sejarah? Ya kali dia ngajar orang udah pensiun," ujar Bram.


"Mampus!"