Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Kekecewaan inti Alastair



TIDAK MENERIMA TANGGUNG JAWAB JIKA KALIAN KESAL!! SEKIAN TERIMA GAJI 🙏


...


Bel istirahat sudah berbunyi, di kelas IPS 5 tepatnya kelas Runa, hanya ada Runa seorang. Vanya tadi pamit ke kamar mandi sebentar untuk buang air kecil, tak lama Vanya datang dan langsung duduk di samping Runa.


"Runa, gue mau tanya sama lo." ujar Vanya dengan serius.


Runa yang tadinya sibuk dengan catatan di papan kini menyerong kan badan, menghadap ke arah Vanya. "Tanya apa?"


"Gue mau tanya, tapi please, gue mohon, kali ini aja lo jawab jujur. Bisa?" tanya Vanya memohon.


Runa menautkan alisnya bingung. "Pertanyaannya apa dulu," ujarnya.


"Okay! Tapi lo harus jujur, hubungan lo sama kak Shaka gimana?" Tanya Vanya, membuat Ruan terdiam sejenak.


"Van, kamu udah tanya hal ini gak sekali dua kali loh, aku sama kak Shaka gak ada masalah, kita baik-baik aja," jawab Runa.


"Dan lo gak sekali dua kali loh bohong ke gue," Vanya menirukan perkataan Runa barusan. "Gue tau, lo sama kak Shaka gak baik-baik aja."


Runa terdiam, mendengarkan pernyataan Vanya. "Sorry, gue tadi sengaja nguping pembicaraan lo sama kak Shaka, dan gue udah tau semua. Gue udah tau, kenapa beberapa minggu ini lo sama dia gak bareng lagi, itu semua karena lo berdua ribut kan?" Vanya menggenggam erat kedua tangan Runa. "Please jawab!"


Runa menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan. "I-iya aku ada masalah sama kak Shaka."


"Terus? Sekarang gimana?"


Runa hanya mengangkat bahu tak tau. "Gak tau Van aku juga bingung."


"Emang masalah lo apa, sampai-sampai belum terselesaikan sampai sekarang." Tanya Vanya.


Runa mengangguk kecil, lantas gadis itu menceritakan semua yang terjadi, mulai kebenaran itu terungkap hingga Shaka yang berubah menjadi seperti ini. Vanya mendengarkan dengan seksama, dia tak ingin perkataan Runa terbuang sia-sia.


"Jadi kak Shaka pacarin lo cuma buat pelampiasan?!" Vanya bertanya dengan menaikkan satu oktaf suaranya.


"Gila gue gak habis pikir sama jalan pikiran kak Shaka. Dan lo! Kenapa lo gak bilang ke gue sih Runa, kenapa lo pendam sendiri masalah lo?"


"Maaf Van, bukannya aku mau pendam sendiri atau gak percaya buat cerita ke kamu, aku cuma gak mau kamu ikutan masuk ke dalam masalah aku sama kak Shaka." Sesal Runa.


Vanya langsung bangkit dari tempat duduknya. "Ini gak bisa didiemin, kak Shaka udah kurang ajar sama lo."


Dengan cepat Runa mencegah Vanya, gadis itu mencekal lengan Vanya sambil menggelengkan kepala. "Van, aku gak papa, udah ya. Gak usah ribut."


"Oke! Kemarin mungkin gue bisa diem, tapi kali ini nggak, gue gak akan diem ketika temen gue di sakitin kayak gini!" bantah Vanya dengan keras lalu berlari keluar kelas dan tujuan nya sekarang adalah kantin.


"Vanya!" Runa langsung mengejar Vanya, dia tak ingin jika Vanya mencari ribut, apalagi dengan Shaka -Laki-laki yang benci ketika seseorang ikut campur dalam urusannya.


...


Mata Vanya menatap sekeliling kantin, cewek itu melangkahkan lebih dekat ke arah meja Shaka dan Kania serta inti Alastair.


Manik matanya melirik sebotol air mineral, lantas membukanya dan menyiramkan ke wajah Vanya, membuat satu kantin kaget, begitu dengan anggota Alastair sendiri.


Byur


"Akhh.." Kania basah kuyup sekarang.


Runa yang baru saja menginjakkan kakinya ke kantin, matanya membulat seketika, menatap kejadian itu, dengan cepat Runa berlari menghampiri Vanya. "Vanya stop!"


"Oh dia, cewek pindahan yang membuat nama Trisatya jelek di mata orang-orang. Punya nyali juga lo!" Tantang Vanya, tanpa dia peduli dengan tatapan anak-anak kantin yang menatap nya aneh.


Aneh, Vanya tiba-tiba datang dan langsung menguyur Kania dengan air, untungnya Vanya tak menguyur Kania dengan air jus atau yang lainnya.


Shaka langsung menoleh ke samping. "Vanya?"


"Kalau emang lo gak bisa jaga Runa, kenapa lo pacarin dia bodoh! Baru tau gue, ternyata se-brengsek ini seorang Shaka." Remeh Vanya dengan santainya.


"Maksud lo apa? Datang-datang main siram orang sembarangan."


"Siram orang sembarangan? Gak salah denger nih gue? Dia itu cewek yang jelas-jelas udah bikin nama sekolah kita di pandang rendah sama semua orang! Sadar gak lo!" Dengan suara yang tinggi Vanya berkata demikian.


"Van, udah yuk, gak enak tau dilihatin sama semua anak." Runa berusaha mencegah Vanya agar tak kehilangan kendali.


"Ngapain cowok kayak gini lo belain Runa! Cowok brengsek kayak dia emang pantes buat di giniin, biar dia sadar sama kesalahannya." Sahut Vanya.


Shaka beralih menatap Runa. "Bawa deh temen lo pergi, gak punya sopan santun sama kakak kelas." ujar Shaka dengan membentak.


Anggota Alastair yang sedari tadi melihat kini terlonjak kaget, apalagi dengan inti Alastair, mereka saling tatap satu sama lain.


"Kok kamu malah marahin aku sih." Tanya Runa yang tak tau apa kesalahan nya.


"Kan emang salah! Lo lihat kan, baju Kania basah kuyup gara-gara Vanya sahabat lo!" Kata Shaka dengan menekan kata akhiran.


Runa menatap Shaka dengan tatapan kecewa, untuk kali ini Shaka berkata berbeda, mana lagi dirinya di bentak di kantin yang benar-benar ditatap sama satu sekolahan.


Vanya lantas menarik Runa pergi sebelum meninggalkan Shaka, Vanya mengangkat jari tengah ke arah Shaka dan berkata. "Fu*k you!"


Shaka hanya mengidikkan bahu tak acuh. Cowok itu lebih memilih menatap Kania. "Lo gak papa kan?"


"Iya aku gak papa kok Sa." jawab Kania.


"Lo gila ya Sa!" Bentak Arthur, untuk pertama kalinya Arthur membentak Shaka.


"Gila lo, cuma karena tumpahan air lo bentak Runa di depan umum?!" tanya Arthur yang tak percaya.


"Ngapain lo belain dia?" Shaka malah tanya balik.


"Gak habis gue sama pikiran lo Sa, cuma karena cewek ini. Lo jadi berubah, gue gak kenal sama lo." Bram juga menatap Shaka dengan kecewa, namun dia tak menggunakan suara yang membentak.


"Lo berubah Sa, lo bukan Shaka yang gue kenal. Dan semua karena cewek ini." Rayn juga dapat merasakan kekecewaan yang amat luar biasa, sama seperti yang lainnya.


"Kenapa lo salahin gue? Yang jelas salah di sini itu Vanya!" Shaka masih belum sadar dengan apa yang dia buat.


Semua inti Alastair sama-sama menggelengkan kepala tak percaya, Arthur langsung pergi tanpa meninggalkan sepatah kata.


"Lo mau kemana Tur?" Tanya Shaka pada Arthur.


"Mau ke Runa, gue gak mau semeja sama orang yang gak gue kenal." Ujar Arthur.


"Lo juga Bram mau kemana?" Shaka menatap Bram yang sama-sama melangkah pergi.


"Temenin Runa sama Vanya, gue juga risih duduk sama orang yang kerjaannya tambah masalah udah gitu, perusak hubungan orang lagi." Jawab Bram, melangkah meninggalkan Shaka dan Kania.


"Lo mau kemana Ray?"


"Gue mau temenin adik kelas kesayangan gue, gue gak mau satu bangku sama orang yang bisanya main kasar sama cewek." Ujar Rayn sambil melirik sinis ke arah Kania.


"Lo Tar?"


"Sorry Sa, gue rasa ucapan anak-anak bener deh, gue mau gabung juga sama yang lain." Kata Tara yang ikut-ikutan pergi meninggalkan bangku Alastair.


"Lo Ras? Lo juga mau pergi." Shaka menatap Rasya, hanya cowok itulah yang terdiam dari tadi.


Rasya memilih tak menjawab pertanyaan dari Shaka, memilih membawa semangkuk mie ayam pesanannya ke meja Vanya dan Runa.