
Pagi yang cerah, namun tak secerah hati Runa. Pasalnya pagi ini, kesialan menimpa dirinya. Mulai bangun telat, atribut sekolah yang tak tau kemana. Sampai pagi ini tak melakukan sarapan.
Beginilah akibatnya jika begadang terlalu malam, sampai melupakan jika hari esok adalah hari Senin, hari yang paling tak di sukai kebanyakan para pelajar. Jika bukan upacara bendera, lalu apa.
Dengan buru-buru gadis itu menganti pakaian, sambil merutuki dirinya dalam hati. Sesekali Runa menatap jarum jam yang terus berputar.
"RUNA BURUAN TURUN, UDAH JAM TUJUH!" teriak bang Arfan dari bawah.
"IYA-IYA SEBENTAR!" teriak Runa tak kalah kencang, memasukkan beberapa buku dan tak melupakan handphone yang menjadi barang wajib bagi Runa untuk masuk ke dalam tas.
Dirinya berlari turun ke bawah, menghampiri Arfan yang tengah berdiri di atas motor sambil memainkan ponsel.
"Ayo Bang, cepetan!" Runa mengambil alih helm yang berada di atas spion.
"Sabar, tumben lo bangun jam segini. Biasanya lo bangun awal. Lo maraton lagi?" tanya Arfan, pasti kalian mengerti jika tak menjadi hal yang asing bahwa Runa begadang akibat maraton film.
"Iya itulah pokoknya, sekarang antar Runa, Runa udah telat!" kata Runa, sangking paniknya sampai salah pakai helm.
"Yang bener tuh helm nya," tegur Arfan, sambil membenarkan helm yang dipakai Runa.
Gadis itu hanya menurut saja, tak lama Arfan menyalakan motor dann mulai meninggalkan pekarangan Runa. Dirinya terpaksa hari menjalankan motor lebih cepat dari biasanya, akibat masuk Runa sudah sangat-sangat mepet sekali.
Di perjalanan Runa tak henti-hentinya berdoa dalam hati, batinnya berkata, semoga saja tak telat, namun pastinya itu tak akan terjadi, akibat upacara telah di mulai setengah jam yang lalu.
Biasanya Arfan menempuh waktu dri rumah ke sekolah Runa sekitar 30 menit,namun kali ini hanya sekitar 20 menit saja.
"Yah di tutup gerbangnya," dia mendesah kecewa menatap gerbang sekolah telah tertutup rapat, dan terlihat juga jika anak-anak tengah melaksanakan upacara bendera dengan khidmat.
Runa melirik sekilas ke ke jam tangan yang ada di pergelangan tangan, dia tersenyum masam, lagi dan lagi Runa merutuki kebodohan di dalam dirinya.
Bagaimana dia bisa masuk, sedangkan jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan kurang. Pantas saja di tutup.
Arfan melirik sekilas ke arah lapangan Trisatya, lalu berkata. "Di tutup tuh gerbang nya, lo mau nungguin di sini, apa pulang aja?" tanya Arfan.
"Tunggu sini aja, hari ini ada ulangan soalnya, males buat kerjain di ruang guru." kata Runa.
Arfan manggut-manggut paham. "Bolos aja kali, sekali-kali, jangan terlalu rajin jadi orang." Cibir Arfan.
Runa mengangkat bahunya tak peduli, semua yang dikatakan abangnya memang benar, dirinya memang rajin. "Emang Runa rajin masuk sekolah, gak kayak situ bolos kampus, alasannya buat beli bahan kerkel lagi." Cibir Runa tak mau kalah.
Arfan memutar bola mata jengah, Lagi-lagi mengingatkan kejadian itu, padahal sudah tiga bulan yang lalu, namun adik di depannya ini masih saja ingat.
Arfan menyahut. "Masih aja lo ingetin lagi."
Runa hanya tertawa ringan. "Kan fakta!" katanya sambil menaik turunkan alisnya.
Mendengus sebal. "Yakin lo mau masuk? Mending makan aja, sambil nunggu gerbang nya dibuka." ajak Arfan.
Runa hanya menatap Abangnya aneh, udah tau adiknya telat masih aja mikirin makanan. "Makanan aja yang dipikirin."
"Biar lo gak pingsan nantinya. Lo belum sarapan kan?" tanya Arfan dengan santainya.
Runa hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Aku masuk aja deh bang, tunggu di sini aja. Bentar lagi upacara nya selesai."
Sebelum melenggang pergi gadis itu tak lupa mengalami tangan Arfan. "Jangan bolos kelas, laporin Ayah nanti!" ancam Runa.
Arfan hanya bergumam, cowok itu menghela napas lelahnya. Lelah melihat adik kesayangan yang begitu rajin ini.
Jangan bilang kalau Arfan rajin, dia memang rajin, rajin bolos kelas. Meskipun dirinya mendapatkan beasiswa, namun tak membuat sifat bolos yang melekat pada diri Arfan menghilang.
Arfan juga sering keluar masuk BK waktu SMA. Dia juga nakal, sifatnya hampir sama seperti Shaka. Maka tak ayal jika Arfan terkenal di SMA nya dulu.
Menatap kepergian Runa, Arfan kembali menyalakan motor dan pergi meninggalkan Tristya dan menjalankan ke kampus, ada kelas pagi.
Runa menatap lapangan yang perlahan mulai sepi, Anak-anak mulai membubarkan barisan untuk masuk ke dalam kelas masing-masing.
Menatap ke kanan dan ke kiri, apakah ada yang telat juga, atau ada anak yang tak memakai atribut lengkap. Lumayan kan jika ada temannya, dirinya menjadi tak sendiri untuk menjalankan hukuman.
Gadis itu hanya bisa tersenyum masam. Keberuntungan tak perpijak padanya, pasalnya tak ada anak-anak yang berdiri dan terkena teguran sama sekali.
Lapangan telah sepi tak ada orang. Runa yang tadinya ingin cabut lewat pintu belakang hari sirna akibat, di panggil oleh Bu Suri -guru BK, dan menyuruhnya berduri di lapangan.
Runa meneguk saliva nya dengan kasar, tenggorokan seketika kering begitu saja. Tatapan tajam Bu Suri berhasil membuat Runa menciut seketika.
"K-kesiangan Bu," balas Runa terbata-bata, memegang erat ujung tali tas.
Bu Suri hanya menganggukkan kepala. "Berdiri di depan bendera, sampai waktu istirahat tiba." Perintah Bu Suri, sambil menunjuk tiang bendera.
Mata Runa membulat seketika. "Sampai istirahat Bu?" tanyanya tak percaya.
"Iya sampai istirahat, laksanakan sekarang. Saya mah keliling buat cek yang lainnya," paminya, lantas pergi meninggalkan Runa.
Menaruh tas di pinggir, Runa menagnhkat tangannya, lalu mendongak ke atas, menatap tiang bendera. Sungguh hari ini adalah hari yang paling menyebalkan bagi dirinya.
Di lain tempat, enam cowok sedang berbaris rapi. Siapa lagi kalau bukan inti Alastair, mereka semua terkena hukuman karena tak memakai dasi serta sabuk.
Bu Dayu -guru BK kelas 11. Dengan rambut yang di sanggul, menatap keenamnya dengan kacamata yang bertengger di hidung nya.
Bu Dayu hanya bisa menghela nafas sabar, menatap keenam muridnya ini. "Kalian ini ya, udah mau kelas 12 juga masih aja bikin masalah, gak capek apa. Saya aja yang ajar kalian capek."
"Itu kan ibu bukan kita, ya gak?" Celetuk Arthur yang membuat semuanya menatapnya tajam.
"ARTHUR!"
"Ya bu?" Dengan tampang tak berdosa nya, Arthur menjawab panggilan bu Dayu.
"Kamu!" Guru itu hanya bisa menghela nafas sabarnya, tak habis pikir dengan muridnya yang satu ini.
"Saya tau bu, saya tampan." Dengan kepercayaan diri yang ada, Arthur tersenyum bangga.
Hal itu membuat semuanya menepuk jidat berjamaah. Fix urat malu Arthur udah ilang. Tolong yang lagi butuh untuk pendonoran otak, Arthur maju!
"Bukan temen gue," cetus Tara menatap jijik Arthur.
"Angkat aje lah otaknya, ganti yang baru. Sekalian aja kagak ada otaknya, beuh itu seru." ucap Bram sambil menggelengkan kepalanya. Membayangkan jika Arthur benar-benar tak memiliki otak.
"Emang Arthur kagak punya otak," saut Rasya, cowok itu paling rapi diantara mereka. Walaupun tak memakai dasi.
"Bayangin aja dulu, kejadiannya ntar." Rayn ikut nimbrung.
Kelima cowok itu sibuk dengan membahas Arthur, berbeda dengan satu cowok ini. Shaka, cowok itu hanya diam. Tak berniat untuk nimbrung obrolan mereka.
Hingga mereka lupa, bahwa sepasang mata tajam menatap mereka. "Ehem, kalian semua berdiri di lapangan, hormat pada bendera, sekarang!" perintah bu Dayu.
"Sekarang bu?"
"BESOK! YA SEKARANG! BERDIRI SAMPAI BEL ISTIRAHAT BERBUNYI! CE-PAT!" Teriak bu Dayu, murka.
Untung bu Dayu gak punya riwayat darah tinggi, sama jantung. Andai punya, Lama-lama bu Dayu bakal mati berdiri, dengan ulah muridnya ini.
Di kelas Vanya menatap jam nya berkali-kali. Sambil melirik ke arah pintu, menunggu Runa yang tak kunjung datang. Padahal jam pertama adalah sejarah.
"Runa kemana ya? Apa dia bolos sekolah? Gak mungkin sih kalau Runa bolos, dia kan rajin. Apalagi kalau ada ulangan begini," heran Vanya.
Runa tuh rajin, rajin banget malah. Berbeda dengannya yang malas, tapi kalau masalah akting atau dunia ke haluan Vanya paling pertama.
Runa masih mendongak menatap bendera, walaupun keringat mulai membasahi pelipisnya. Runa berdoa, semoga istirahat segera berbunyi.
"Ck bu Dayu mah gak seru, gak bisa di ajak becanda." Ucap Arthur, cowok itu tak henti-hentinya berceloteh tak jelas.
"Kan gara-gara lo bambang! Udah tau bu Dayu gak suka bercanda lo malah candain." Sahut Rayn.
"Garing kali kalau kagak ada candaan."
"Nah ben- eh itu sapa?" Bram menunjuk ke arah lapangan, dimana ada anak yang sedang menerima hukumannya.
"Ntar-ntar." Tara menatap anak itu, lebih tepatnya gadis itu.
Semuanya menatap ke arah lapangan. "Lah itu bukannya Runa ye?" Tanya Bram.
"Lah iya, itu Runa. Sa pacar lo Sa, kena hukuman." ucap Arthur, heboh.
Shaka melangkah kan kakinya lebar menuju ke lapangan. Berdiri tepat di samping kanan Runa, Runa yang masih sibuk dengan hukumannya tak menyadari bahwa ada enam cowok tampan yang berada di sampingnya.