
..."Semuanya udah terjadi, dan aku gak bisa menghalanginya." -Arshaka Virendra Aldebaran....
.......
.......
.......
Di ujung teras belakang rumah, Shaka seorang diri duduk sembari menikmati terpaan angin yang menyapu wajahnya. Tatapannya masih begitu kosong, setelah dua bulan lebih akhirnya ia memutuskan untuk balik ke rumah ini kembali, setelah satu bulan ia tinggal di kediaman Aldebaran untuk menenangkan dirinya sejenak.
Lamunan Shaka terhenti, tepat saat ponselnya berdering. Dengan cepat Shaka mengangkatnya begitu tau siapa sosok yang menelponnya di siang bolong seperti ini. Menggeser ikon hijau ke kanan Shaka mendekatkan ponselnya ke telinga.
"Halo Pa, ada apa?" tanya Shaka ketika panggilan telah tersambung.
"Kamu sekarang dimana? Papa sama mertua kamu mau ke rumah. Ada Arfan juga sekarang," ucap Al membuat Shaka mengerutkan dahinya bingung.
"Papa ngapain ke rumah?" tanya Shaka balik, lalu bangkit dari duduknya dan berjalan masuk ke dalam.
Terdengar hembusan napas panjang dari arah sebrang. "Pelaku utama dari kecelakaan Runa udah ketangkap. Rencananya Papa mau ajak kamu ke sana buat kasih lihat," jelas Al.
"Oke! Aku siap-siap," segaris senyum tipis terbit di bibirnya. Shaka mulai berjalan naik ke atas untuk ganti, saat ini hatinya senang. Penantian selama dua bulan lebih akhirnya terbalaskan.
"Kamu dengar kan? Pelakunya udah ketangkap," gumam Shaka. Tanpa membuang-buang waktu, ia melangkah ke lemari baju dan berganti pakaian.
Setelah selesai berganti Shaka lantas turun ke bawah. Al, Bima dan Arfan sudah berada di depan, kini tinggal menunggunya. Tanpa diduga, matanya tertuju pada sebuah foto yang terpasang di atas meja, teringat jelas di benakmu Shaka jika foto itu menjadi foto awal keduanya. Dimana di sana dirinya mengecap Runa sebagai pacarnya.
Segelintir kenangan bersama Runa perlahan kembali menghantui pikirannya.
"Selamat pagi by, ayo buruan bangun kamu telat nanti." Runa seperti biasa membangunkan Shaka untuk berangkat kerja.
"Morning kiss." Shaka bergumam masih dengan menutup kedua matanya. Runa tersenyum sambil menggelengkan kepala, perlahan ia mulai mendekat dan memberikan kecupan manis.
"Udah? Sana mandi, aku mau siapin sarapan buat kamu." Runa pun turun dari kasur dan keluar meninggalkan kamar, disisi lain Shaka yang sebenarnya telah bangun tersenyum.
Shaka pun segera bangkit dan bersiap, tak perlu waktu lama untuknya ganti lalu ia melangkah turun ke bawah. "Selamat pagi sayang," sapa nya sambil memeluk Runa dari belakang.
"Pagi by, pagi ini aku buatin sup ya? Gak sempet masak bahan makanan juga udah hampir habis," ujar Runa yang cowok itu balas dengan gumaman singkat.
Setelah itu keduanya mulai melaksanakan sarapan, selesai sarapan Runa seperti biasa mengantarkan Shaka hingga depan dan kembali masuk saat mobil suaminya tak terlihat.
Malam harinya Runa telah siap menyambut kehadiran Shaka, dengan tersenyum manis ia menyapa Shaka. "Malam by, gimana kantornya hari ini?" tanya Runa mengambil alih tas kerja Shaka dari tangannya.
"Seperti biasa,"
Ruang tersenyum maklum. "Kamu langsung mandi, aku udah siapin makan malam buat kamu." ujar Runa meninggalkan Shaka.
Shaka tersenyum mengingatnya, saat ini tak ada lagi yang membangunkannya untuk bekerja, menyambutnya ketika pulang, menghiburnya saat letih. "Enggak Sa! Lo gak boleh kayak gini!" tegas Shaka pada dirinya.
Tak ingin berlama-lama memikirkannya, Shaka langsung berjalan keluar menghampiri Al yang sudah ada di mobil. "Maaf Pa lama," ujarnya begitu masuk.
Al mengangguk dan tersenyum paham. "Gak masalah."
...
Berulang kali Shaka mengatur napasnya, hatinya masih ragu untuk masuk ke dalam. Arfan yang sadar pun mulai menghampiri Shaka yang diam di tempat. "Santai Sa, relaks."
"Gue masih ragu Bang. Gue belum siap buat semuanya," ungkap Shaka. "Gue takut kalau nantinya hal yang gak terjadi malah terjadi di dalam," lanjutnya.
"Ada gue di samping lo. Gue tau ini berat, tapi lo harus tetap masuk ke dalam demi bisa liat siapa pelakunya," Arfan tersenyum simpul sambil mengajak Shaka untuk masuk ke dalam, menyusul Bima dan Al yang sudah masuk terlebih dahulu.
Dan sekarang semuanya sedang duduk di kursi tunggu, menunggu polisi membawa si pelaku keluar. Tak berselang lama, terdengar suara langkah kaki mendekat, membuat keempat cowok itu kompak menoleh ke samping.
Deg!
Al terdiam cukup lama, tubuhnya menegang di tempat. Tatapan tajam tak lupa ia layangkan pada pria yang kini duduk di hadapannya. Sementara itu tak lama terdengar suara pukulan, pukulan itu berasal Arfan layangkan.
Niat hati ingin mengontrol emosi Shaka agar tak terbawa suasana, kini malah dirinya yang dilanda emosi.
"Brengsek lo! Berani-beraninya bunuh adik gue!" murka Arfan, wajahnya memerah menahan amarah.
Pria yang terkena pukulan dari Arfan hanya tersenyum tanpa dosa, tatapannya mengarah pada Al. Seraya melambaikan tangan pria itu menyapa Al. "Hai Al kita ketemu lagi," ujarnya tersenyum licik.
"Dendam gue udah terbalas," sambungnya lagi.
"BRENGSEK LO BARA!" umpat Al keras, ia lantas menarik kerah pakaian Bara dengan kasar. "Masalah lo ke gue bukan ke menantu gue!" teriaknya murka.
Shaka, Arfan dan Bima yang dari tadi diam kini mulai menatap Al dengan curiga. Ketiganya sama-sama bingung sekarang, mereka tak mengerti dengan ucapan yang dilontarkan oleh keduanya.
Masalah? Masalah apa?
Bara yang melihat Al murka tersenyum, wajahnya sama sekali tak terlihat menyesal bahkan pria itu terlihat senang. "Gue gak peduli, yang paling penting dendam gue selama 25 tahun terbalaskan sudah."
Bara Keinard, ada yang masih ingat dia siapa? Yang baca cerita Nana dari Awal pasti tau dia siapa. Bara adalah pelaku dari kecelakaan yang menewaskan Runa serta anaknya, semua itu Bara lakukan hanya untuk berbalas dendam. Ia hanya ingin Al merasakan apa yang dirinya rasakan selama ini.
"KALAU LO PUNYA DENDAM KE GUE, BILANG KE GUE! BUKAN LO KASIH KE ORANG LAIN!" teriak Al semakin murka, air matanya perlahan membasahi pipi.
Bara tertawa keras melihatnya. "Hahahaha Al, Al. Lemah! Gini doang nangis, mana sikap lo yang dulu, masa iya mantan ketua Alvarebos nangis." Bara mengejek tak ada rasa bersalah sedikit pun dari wajahnya.
"Dengerin gue, gue bersumpah setelah ini lo bakal di penjara seumur hidup atau bahkan lo kena hukuman mati. Camkan itu!" tekan Al lantas mendorong tubuh Bara hingga terjatuh.
Lagi dan lagi, Bara tertawa keras. "Gue gak peduli entah nantinya gue bakal dipenjara seumur hidup atau bahkan kena hukuman mati gue gak peduli Al. Yang penting dendam gue udah selesai,"
Al kembali maju menghampiri Bara, saat ia ingin menarik Bara kembali polisi datang dan mencegahnya kemudian menarik Bara masuk ke dalam. "Masa jenguk sudah habis, dipersilahkan untuk pergi." tegas salah satu polisi kemudian menarik Bara masuk.
Bara berjalan meninggalkan ruang, ia menoleh ke belakang sebelum kembali berjalan. "Lemah!" ejek nya tanpa suara.
...
Shaka terdiam menatap papanya kecewa, cowok itu masih tak mengerti dengan penjelasan Al barusan. Dan parahnya mengapa harus Runa yang menjadi korban?
Setelah dari penjara Shaka bersama Bima dan Arfan mengajak Al, lalu memintanya untuk menceritakan semuanya. Al yang memang salah dalam hal ini mulai menceritakan semuanya tanpa ia kurangi dan lebihi. Mulai dari awal pertemuan hingga akhir masalah.
"Jadi ini kenapa alasan Papa waktu itu tawarin diri buat gantikan Shaka?" Shaka bertanya setelah cukup lama terdiam.
"Maaf Sa, ini kesalahan Papa. Papa gak bilang jujur ke kamu dan malah diam sendiri," ujar Al menyesal.
"Kenapa sih Pa gak jujur dari awal," balas Shaka memberi jeda ucapannya. "Kalau Papa jujur, seenggaknya Shaka masih bisa menyelamatkan salah satu dari mereka." sambung Shaka.
"Papa kira kemarin ucapan Bara hanya sekedar ucapan, tapi Papa lupa kalau ucapan yang keluar dari mulutnya adalah nyata."
Al menatap putranya itu dengan tatapan tulus. "Kamu boleh benci sama Papa, kamu juga boleh kecewa sama Papa. Dan kamu juga boleh ... memenjarakan Papa jika kamu mau."
Shaka menggeleng tegas. "Enggak! Shaka emang kecewa sama Papa yang enggak jujur ke Shaka, tapi bukan berarti Shaka harus memenjarakan Papa."
Al tersenyum mendengarnya kemudian memeluk Shaka erat. "Maaf Nak," lalu tatapannya beralih ke Arfan dan Bima.
"Al, apa yang kamu lakukan?" Bima menarik Al untuk bangkit dari sujud nya. "Al bangun, saya tidak akan menyalahkan kamu."
"Maaf Bim, karena saya putri kamu harus pergi." Bima menggeleng, meski dalam hatinya tak percaya namun dirinya juga tak bisa menyalahkan Al sepenuhnya.
"Ini bukan salah Om, Arfan tau Om melakukan ini demi kebaikan kita semua." tegas Arfan.
"Semuanya udah kejadian dan aku gak bisa menghalanginya," balas Shaka tersenyum.
...
Terjawab sudah siapa dalang di balik itu semua, semoga kalian bisa tidur nyenyak setelah ini :)
Satu kata buat Bara?
Selesai juga akhirnya cerita ini, udah cukup buat nangisnya dari kemarin. Semoga matanya gak sembab ya gegara nangis :3
Makasih banyak buat kalian semua yang dukung dan menunggu sekian lama, perjalanan Arshaka Aruna telah usai sampai disini. Semoga dengan cerita ini ada hikmah yang dapat kalian ambil ❤
Sampai jumpa di cerita lainnya Vren 🙆🏻
Minta do'anya supaya ujian besok lancar! Dan do'ain juga semoga bisa cepat kembali kayak dulu yang update cerita terus 🙏🏻