Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Makam Qilla



Seperti yang dijanjikan kemarin malam, sekarang Runa tengah berdiri di depan gerbang menunggu kedatangan seseorang, gadis itu sedikit tersentak ketika klakson berbunyi cukup keras, membuat Runa sedikit menggeser kan tubuh mungilnya ke samping dan menoleh ke belakang.


Menatap Kania dan Shaka yang tengah berboncengan. Hingga suara klakson motor berbunyi. Motor Galang berhenti tepat di depan Runa, membuat gadis itu melengos membiarkan Shaka dan Kania, memilih pergi bersama Galang.


"Sorry lama," ujar Galang sembari membantu Runa naik ke atas motor.


"Gak masalah, ayo berangkat." Dengan beraninya Runa memeluk Galang dari belakang, gadis itu melirik ke arah samping, dimana motor Shaka berada.


Segaris senyum terpasang di bibir mungilnya. Kalau Shaka bisa, mengapa Runa tidak?


Perlahan motor yang Galang kendarai melaju membelah padatnya ibu kota Jakarta. Sebelum sampai ke tujuan mereka, Galang terlebih dahulu mengajak Runa ke toko bunga.


Membeli se buket bunga Lavender. "Lavender?" tanya Runa.


Galang mengangguk, sambil menatap bunga yang ada di tangan kanannya. "Iya, gue mau kasih ini ke dia." ujar Galang.


...


Berdiri di depan makam, makam Qilla cukup jauh, di bagian ujung lagi. Namun, tak membuat Runa lelah, gadis itu malah bersemangat untuk segera bertemu dengan Qilla.


Aqilla Salsabila


Nama yang terpampang di sana, jika dilihat dari tanggal lahir, Runa dan Qilla tak jauh berbeda hanya terpaut 7 bulan saja. Senyum Runa terbit, tak kala dia berhasil sampai di sini.


Tangan kanannya mengusap batu nisan. "Aqilla Salsabila," ujarnya membaca nama yang terpampang di batu nisan. "Hai Qilla, seneng deh akhirnya bisa ketemu kamu disini, mungkin emang aku gak tau kamu gimana tapi dilihat dari nama sama foto kemarin malam, kamu cantik juga."


Galang hanya berdiri di samping Runa, cowok itu memilih diam dan mendengarkan ocehan Runa yang sedari tadi mengajak Qilla mengobrol.


"Kamu yang tenang ya di sana. Kamu udah gak pernah mengalami kesakitan lagi. Semoga kita bisa ketemu suatu hari nanti." ujar Runa, sembari menaburkan bunga yang dia beli di depan.


Galang tersenyum, cowok itu ikut duduk di samping Runa, tangannya mengusap batu nisan. "Sorry Qil, udah lama gak ke sini." menghela napas sejenak. "Gue kangen sama lo, tapi semuanya udah terobati sama kehadiran cewek di samping gue." ujar Galang sesekali melirik ke arah Runa sekilas.


"Dia Runa, lo pasti udah tau karena tadi dia perkenalkan dirinya. Lo tau gak, Runa itu mirip sama lo, sampai-sampai gue mikir kalau lo hidup lagi," Galang tertawa garing. "Tenang aja, gue masih sayang kok sama lo. Gue ke sini juga gak lupa buat bawa bunga kesukaan lo," menaruh bunga lavender yang tadi dia beli di toko bunga di atas makam Qilla.


"Lavender, bunga yang paling Qilla suka. Dan dia juga suka dengan warna purple." jelas Galang pada Runa, seakan mengerti dengan apa yang tengah di pikirkan oleh gadis di sampingnya.


Runa mengangguk paham. "Oleh karena itu, hari ini kamu pakai jaket warna ungu? Dan hampir seluruh barang yang kamu pakai juga."


"Iya, dengan cara ini gue bisa mengobati kerinduan gue terhadap Qilla." balas Galang. "Kita balik sekarang, bentar lagi hujan, takutnya nanti di jalan kita kehujanan." sambung Galang yang perlahan bangkit dari jongkok nya.


Mendongakkan kepala ke atas, benar saja. Langit perlahan mulai mendung serta suara petir kecil terdengar. "Ayo, Qilla kita berdua pamit ya. Kamu yang tenang di sana, aku bakal selalu doain kamu disini," pamitnya pada Qilla.


...


Shaka baru memasuki rumahnya, setelah mengantarkan Kania pulang ke rumah gadis itu. Melangkah masuk ke dalam, dan berjalan menuju ke atas. Panggilan namanya terdengar, membuat Shaka mau tak mau harus menghentikan langkah kakinya dan membelokkan arah ke ruang keluarga.


Lea, wanita berumur 35 tahun itu duduk di atas sofa sembari menikmati teh hangat dan tak lupa beberapa kue kering. Menyuruh Shaka untuk duduk di sampingnya.


"Dari mana kamu?" tanya Lea, tanpa wanita itu tanya. Dirinya tau Shaka ada dimana dan lagi ngapain.


"Antar Kania," jawab Shaka.


"Punya pacar jalannya sama cewek lain, giliran pacarnya jalan sama cowok lain situ marah. Haduhh egoisnya tinggi bener!" Ale dengan kata-kata pedasnya, mencibir Shaka.


"Gak usah ikut campur lo,"


"Oh oke." balas Ale singkat. "Tapi kalau tentang kak Runa, gue gak akan diam." sambung Ale.


"Sadar dikit kek jadi orang. Begini nih, kebanyakan tawuran. Otak lo sampai-sampai gak ke pakai, sayang banget. Mending buat gue," Ale langsung menyemprotkan kata-kata kasarnya.


Tanpa memperdulikan di sana ada Lea atau gak, sekarang yang mau Ale lakukan adalah menyadarkan Abang satu-satunya itu. Agar sadar dengan apa yang Shaka lakukan selama ini.


"Mending urus sekolah deh, gak usah campur tangan ke urusan gue sama Runa."


"Terus kalau gini terus kapan masalah lo selesai bego!" umpat Ale, tepat di wajah Shaka.


"Ale!" tegur Lea, wanita itu menggelengkan kepala --menyuruh Ale untuk menjaga perkataan kasarnya.


Menatap Shaka lalu ke Lea. "Mama mau bela dia lagi?" tanya Ale. "Oke, Ale emang dari kemarin diam dan gak ikut campur. Tapi kali ini, Bang Shaka udah kelewatan batas Mama! Bang Shaka udah keterlaluan sama kak Runa."


Lea perlahan menghampiri Ale. "Mama tau, tapi Mama gak suka Ale ngomong kasar sama orang yang lebih tua dari kamu. Mama paham Ale marah, Tapi ingat, Mama gak pernah ajarin Ale buat ngomong kasar ke orang yang lebih tua dari kamu!" ujar Lea dengan tegas.


"Ale gak peduli, orang kayak dia harus dikasih kasar! Biar Bang Shaka sadar!" kembali menatap Shaka. "Sadar dikit napa, sadar! Lo itu cuma dimanfaatkan sama Kania, cewek yang gak tau asal usulnya itu, buat balas dendam ke keluarga kita." sambung Ale dengan nada naik se oktaf.


"ALE!" tangan Shaka melayang di udara, hampir, hampir saja Shaka melayangkan tamparan pada pipi Ale.


"APA? LO MAU TAMPAR GUE?" tanya Ale dengan tatapan kecewanya. "TAMPAR! KENAPA DIAM!" tantang Ale, kedua bola matanya sudah menahan sesuatu yang siap kapan saja jatuh.


Dengan cepat, Ale menarik kerah baju milik Shaka. "TAMPAR! KENAPA DIAM! TAKUT LO? LO NGERTI, SEMENJAK KEHADIRAN CEWEK ITU, LO BERUBAH, GUE GAK KENAL SAMA LO." Ale telah kehilangan kendalinya.


"I hate you!" kata Ale sambil mendorong Shaka ke belakang. Cewek itu lari ke atas dengan kencang, dan menutup pintu dengan keras.


Helaan napas terdengar berkali-kali, kali ini Lea memilih diam. Wanita itu hanya ingin Shaka dan Ale akur dengan sendirinya. Menepuk pundak Shaka dua kali, lantas berkata. "Pikirkan semuanya matang-matang, jangan sampai kamu menyesal untuk kesekian kalinya." bisik Lea dan melenggang pergi.


...


Arfan, Runa, Bunda dan Ayah baru saja menyelesaikan makan malam mereka bersama, sekarang giliran yang cowok lah yang membereskan piring sisa makan malam. Sedangkan untuk para wanita memilih menyapu.


"Sini biar Runa bantu," Runa menghampiri Arfan dan berdiri di samping kanan cowok itu. Menuangkan sabun ke dalam mangkok dan memberikan sedikit air.


"Biar gue aja yang cuci, lo kan baru selesai nyapu." Arfan mencoba mengambil alih piring kotor dari tangan adiknya, namun dengan cepat Runa mencegahnya,


"Ihh.. gak papa Abang Runa yang paling tampan. Runa lagi santai juga, lagian tuh piringnya juga banyak banget, kita sama-sama beresin aja." ujar Runa sembari tersenyum.


Menghela napas sejenak, Arfan menganggukkan kepala. Keduanya sama-sama membereskan piring kotor, tak lupa dengan sedikit candaan dan sesekali terdengar teguran dari Ayah akibat keduanya malah mainan air.


"Akhirnya selesai," gumam Runa. "Bang, Runa naik ya ke atas." pamit Runa pada Arfan.


Alis Arfan bertaut. "Tumben banget lo naik, ini masih jam 8 loh dek, gak biasanya lo naik. Lo sakit?" tangan Arfan terulur untuk mengecek suhu tubuh Runa, namun dengan cepat gadis itu tepis pelan.


"R-runa gak papa kok, cuma udah ngantuk aja. Runa naik ya Bang, good night." melangkah naik ke atas dengan buru-buru, sedikit menutup pintu dengan kencang.


Runa mengatur napasnya berkali-kali, tangannya memegang dada. Jantung nya terdengar berdetak begitu kencang. Keringat dingin mulai terasa.