
Aku baca di komen, ada beberapa orang yang gapaham sama episode kemarin ya?
Oke aku maklumin, dan kebingungan kalian bakal ke jawab di episode yang akan datang.
...
Satu minggu ini yang Runa lakukan adalah rebahan sepanjang hari, ingin kerja juga tak dibolehin, ingin keluar disuruh tidur, dan akhirnya Runa memilih untuk tidur di kamar seharian penuh.
Salahkan saja pada Rama, karena laki-laki itu. Bang Arfan menjadi setuju untuk tak memperbolehkan Runa berangkat kerja satu minggu ini.
Padahal perusahaan lagi naik-naiknya.
Hari ini, Runa akan masuk ke kantor setelah satu minggu berada di rumah. Kali ini, Runa akan masuk siang.
Semuanya sudah diatur oleh Arfan, katanya biar gak lama-lama di kantor. Alasan yang lumayan masuk akal, untungnya Shaka memberi izin.
"Lo yakin masuk kantor?" tanya Arfan, biasalah masih ada dendam pribadi yang belum lelaki itu selesaikan.
Menghela napas sabar. "Iya Bang Arfan. Runa bakal kerja, udah deh Runa gak mau denger larangan dari Abang Lagi." melanjutkan kembali sarapan pagi nya.
Selanjutnya Runa bangkit dan langsung pamit sama yang lain. "Runa pamit dulu Bun, Yah." tak lupa menyalami tangan ke-dua nya dan mengecup singkat pipi mereka.
"Di antar sama pak Bejo ya dek. Tuh udah ditungguin di luar," ujar Jihan pada Runa.
Mengangguk singkat, Runa langsung melangkah keluar. Sebelum kembali mendengarkan ocehan yang Arfan layangkan. "Runa berangkat! Assalamu'alaikum!" pekik Runa.
Mobil yang Runa tumpangi perlahan meninggalkan rumah. Tak perlu waktu lama, mobilnya sudah berhenti tepat di depan pintu utama.
Dengan segera Runa turun dan tak lupa mengucapkan terima kasih pada pak Bejo.
"Makasih Pak, Runa duluan ya!" Runa melambaikan tangannya sekejap, dan langsung masuk ke dalam.
Sesekali membalas sapaan dari beberapa orang yang menyapanya. "Siang kak Lia," sapa Runa. Mendudukkan pantatnya ke kursi kerja.
"Siang Runa, kamu kemana aja. Satu minggu gak masuk?" tanya Lia.
Dari seluruh karyawan yang bekerja di perusahaan ini, Runa hanya dekat dengan Lia saja. Sisanya hanya saling sapa.
"Ada urusan kak. Jadi gak bisa masuk sementara ini," balas Runa mulut mungilnya tak berhenti melayang kan senyuman.
Lia hanya berohria, membuat Runa bernapas lega. "Syukurlah gak tanya lebih," setelah itu Runa melanjutkan pekerjaan nya yang menumpuk akibat tak ia kerjakan seminggu ini.
"Runa, kamu mau makan siang bareng kita gak?" tanya Lia.
"Gak usah kak, aku udah makan tadi di rumah." tolak Runa secara halus.
"Yaudah, aku ke kantin dulu. Kalau ada apa-apa, langsung chat aku aja. Semangat!" Lia mengangkat kedua tangannya ke atas, memberikan semangat pada Runa --teman yang sudah dia anggap seperti adik sendiri.
Kembali melanjutkan pekerjaan, tanpa terasa waktu sore tiba. Menatap anak-anak kantor yang perlahan pergi meninggalkan kursi mereka masing-masing.
"Mereka pada kemana?" heran Runa. Kemudian sadar saat menatap jam pada layar komputer.
Matanya melotot sempurna. "Udah jam enam lebih," entah berapa lama dirinya berdiam diri di kursi.
Sampai-sampai, lupa akan jam yang sudah menunjukkan pukul 6 sore lebih. Beginilah akibatnya terlalu fokus pada kerjaan sampai lupa jam.
"Balik sekarang aja deh, sebagian laporan aku kerjakan di rumah." gumam Runa sambil melangkah keluar kantor.
Namun belum lagi langkahnya menjauh, tangannya tertahan. Yang membuat Runa harus serentak menghentikan langkahnya.
"Bisa bicara berdua?" tanya Shaka dengan nada yang begitu lembut. Permintaan Shaka membuat Runa membalikkan badan.
"Kalau mau bahas tentang lelucon yang kamu buat. Maaf gak ada waktu," tolak Runa mentah-mentah.
"Please, percaya sama aku." Shaka masih tetap memohon pada Runa. Untuk memberikan waktu baginya menjelaskan semua.
Runa melayangkan tatapan tajam, menatap manik mata Shaka lamat-lamat. "Percaya? Apa yang harus aku percaya dari kamu? Setelah semuanya yang terjadi. Aku harus percaya sama kamu," ujar Runa dengan nada bergetar.
Kepercayaan yang Runa berikan pada Shaka, sudah laki-laki itu sia-siakan dengan hal yang sampai detik ini tak Runa pahami.
"Kamu boleh gak percaya sama aku, terserah sampai kapan. Tapi aku mohon sama kamu, kali ini percaya sama aku. Rama bukan cowok baik-baik," kata Shaka. Tangannya tak berhenti untuk mengusap lembut tangan Runa.
Runa langsung menepis kasar tangan Shaka. Tatapannya semakin tajam menatap sosok lelaki di depannya.
"Stop!" pekik Runa menggema.
"Stop buat omong kosong!"
"Aku gak ngomong kosong! Percaya sama aku. Kali ini aja, aku mohon."
Runa tertawa dengan air mata yang perlahan membasahi pipinya. "Percaya? Iya aku percaya sama kamu. Sampai-sampai aku bodoh buat mikir, sampai aku terlalu percaya sama ucapan yang kamu katakan!"
Kali ini Shaka terdiam, cowok itu tak membalas. Dia sadar, Shaka sadar dengan apa yang dia lakukan pada Runa selama ini.
Terlalu memberikan kepercayaan yang sebenarnya, dirinya sendiri tak bisa menjalankannya.
"Apa emang kamu gak ada kerjaan? Sampai-sampai nuduh orang tanpa bukti gini?" tanya Runa dengan senyum remeh.
Shaka menggeleng tegas. "Gak! Buat apa aku bohong, percaya sama aku. Kalau Rama yang sekarang itu bukan Rama yang---" Shaka belum sempat menjelaskan ucapannya, bogeman mentah mendarat ke pipinya. Yang membuat Shaka terhuyung ke belakang.
Bugh
"Gue mau lo berhenti buat provokasi Runa!" tunjuk Rama.
Runa menutup mulutnya kaget, matanya melotot sempurna, menatap Shaka yang tersungkur di atas lantai dengan sudut ujung bibir yang robek. Menatap siapa pelaku yang berhasil membuat cowok itu terjatuh.
"R-rama?"
Bugh
Bugh
Rama kembali melayangkan pukulannya pada Shaka. Runa dengan keberaniannya, mulai mendekat dan berdiri diantara mereka berdua.
"STOP!" pekikan Runa menggema di penjuru kantor. "Kenapa kalian yang berantem sih?!" Runa menatap Rama dan Shaka secara bergantian.
"Rama stop!" Runa mencegah Rama yang ingin melayangkan pukulannya ke arah Shaka. "Udah Ram!!"
Beralih menatap Shaka, Runa berkata dengan menohok. "Dan buat anda Tuan Shaka yang terhormat, stop! Stop untuk ikut campur dalam masalah percintaan saya. Saya tegaskan kembali, anda tidak memiliki hak untuk melarang saya berdekatan dengan siapa pun!"
"Karena anda hanyalah atasan, saya mohon sekali lagi. Jangan pernah ikut campur dalam masalah saya, Terima kasih!" tegas Runa.
"Ayo Ram kita pergi," Runa menarik Rama untuk keluar kantor.
...
Bingung sama pembaca, giliran ditanyain mau berhenti apa ngga? jawabannya ngga. Dan giliran diminta hadiah dan support yang lain gak mau, mau kalian apa sihh